Apa Itu Investasi dan Bagaimana Cara Berinvestasi?

apa itu investasi dan bagaimana cara berinvestasi

Sudah tahu bagaimana cara berinvestasi yang tepat? Eh tapi tunggu dulu deh, investasi itu apa sih, dan gunanya buat apa?

Sebelum kita membahas investasi lebih mendalam lagi, ketahui dulu bahwasannya dalam hidup kita memiliki tujuan yang berbeda-beda di masa depan.

Sebut saja, ada yang ingin pensiun dengan aset miliaran Rupiah, ada yang ingin bisa menyekolahkan anak ke jenjang lebih tinggi di luar negeri, ada yang ingin menggelar pesta pernikahan buat sang anak, dan lain sebagainya.

Investasi adalah cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di masa depan. Dalam ilmu ekonomi, investasi diartikan sebagai pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang.

Oleh karena itu, produk-produk investasi yang kita beli kerap dipandang sebagai barang-barang berharga. Sebut saja seperti logam mulia, saham, properti, dan lainnya. 

Anggap saja, kamu adalah seorang karyawan kantoran dengan gaji Rp 10 juta. Namun, gaji yang kamu terima sifatnya hanya “numpang lewat” di rekeningmu. Karena, setiap bulannya kamu harus mengeluarkan uang untuk cicilan rumah, cicilan mobil, transport, biaya makan sehari-hari, biaya sekolah anak, operasional rumah, dan lain sebagainya. 

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana cara berinvestasi dalam kondisi seperti ini? Menabung per bulan pun kadang susah karena gaji kita seringkali habis untuk hal-hal konsumtif lainnya.

Untuk tahu lebih lanjut, bagaimana kalau kita bahas lebih lanjut di bawah sini.

Apa tujuan hidupmu?

“Boro-boro mikir cara berinvestasi, wong gaji bulanan saja bisa benar-benar habis untuk kebutuhan per bulan dan kalau sudah kepepet, terpaksa pakai kartu kredit. Sementara itu jika uang yang tersisa, itupun ditabung di rekening untuk dana darurat.” 

Bagi kamu yang mengalami hal seperti ini, tenang saja kamu gak sendiri. Ketahuilah dulu bahwasannya, menabung itu beda sama investasi. 

Seperti yang dijelaskan di atas, investasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang. Nah, sekarang apa yang menjadi tujuanmu ke depan? Kapan hal itu akan kamu realisasikan hal itu?

Dengan mengetahui tujuan hidup kita, tentunya investasi akan jadi prioritas dalam hidup kita. 

Jika menyisihkan uang untuk berinvestasi dirasa sulit, tak perlu sungkan untuk memotong pengeluaran kita untuk kebutuhan sekunder. Sebut saja di pos-pos yang sifatnya cuma untuk menunjang kebutuhan gaya hidup.

Setiap investasi punya risiko

Produk investasi juga gak sedikit, dan setiap produk memiliki risiko dan keuntungan yang berbeda-beda. 

“Risiko” bisa diartikan sebagai sebuah peristiwa yang gak sesuai dengan harapan. Lantas kalau ini ada di dunia investasi, tentu hal tersebut bisa dibilang sebagai sebuah kondisi yang mungkin sama sekali gak diharapkan seperti kehilangan uang dan lain sebagainya.

Semakin besar risikonya, semakin besar pula imbal hasilnya, begitu pun sebaliknya.

Toleransi risiko juga ditentukan lewat berbagai faktor. Sebut saja seperti faktor usia, di mana yang muda dan produktif mungkin cocok dengan investasi tinggi risiko. Sementara itu, makin bertambahnya usia, mereka akan dianjurkan mengambil investasi dengan risiko kecil.

Selain usia, faktor ketersediaan dana darurat dan status, di mana mereka yang masih lajang tentu cocok berinvestasi di sektor tinggi risiko ketimbang yang sudah punya tanggungan. Hal itu disebabkan karena pengeluaran dan kebutuhan dana darurat seorang yang sudah berkeluarga tentu lebih besar ketimbang seorang lajang. 

Setelah mengetahui tujuan dan profil risiko investasi kita, maka kita pun bisa memilih produk yang tepat untuk kita. 

Mengetahui produk investasi yang pas buat kita

Pertanyaan pertama yang umum dilontarkan orang ketika ingin berinvestasi adalah, “apa sih investasi yang bagus?”

Bagus yang dimaksud tentunya adalah yang imbal hasilnya besar tapi risikonya kecil bukan? Kalau bisa malah gak ada risikonya sama sekali.

Pertanyaannya apakah ada investasi seperti itu? Dipastikan sih tidak ada. Pasalnya, sudah dijelaskan juga di atas bahwa gak ada satupun investasi yang gak ada risikonya.

Namun untuk memberikan pemahaman yang baik seputar cara berinvestasi, bagaimana kalau kita klasifikasikan saja produk investasi sesuai dengan risikonya.

Risiko kecil

Emas

Investasi emas batangan tetap menjadi primadona banyak orang secara lintas generasi. Memang bukan rahasia lagi bahwa, logam mulia yang satu ini kerap dipandang sebagai investasi teraman, pasalnya, ketika pasar modal hancur maka investor tentu akan memborong emas.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, investasi ini pun bisa dimulai dengan modal yang sangat kecil bahkan Rp 5 ribu saja. 

Deposito 

Sebagian orang mengatakan bahwa deposito adalah tabungan, namun beberapa orang lain menyebutnya sebagai investasi. Secara umum, produk simpanan di bank yang penyetorannya maupun penarikannya hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu saja.

Keuntungan dari deposito per tahun tergantung dari suku bunga acuan BI, namun umumnya berkisar antara 4,5 hingga 6 persenan. 

Reksa dana pasar uang

Reksa dana juga cocok untuk dijadikan investasi bagi para pemula. Terutama adalah reksa dana pasar uang. 

Pada dasarnya, reksa dana itu sendiri adalah dana yang dikumpulkan oleh para investor dalam mekanisme urunan. Kumpulan dana itupun diinvestasikan oleh perusahaan manajer investasi di berbagai produk. 

Khusus reksa dana pasar uang, produk investasinya adalah deposito dengan jangka waktu satu tahun. Imbal hasil dari reksa dana ini bervariasi, namun umumnya 7 persen per tahun. 

Saving Bond Ritel

Investasi ini dilakukan dalam bentuk pembelian surat berharga negara. Sederhananya adalah, Negara Indonesia akan berutang kepadamu, tentu saja keamanannya sangat terjamin. 

Utang itu ditujukan untuk berbagai proyek sebut saja seperti pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya. Keuntungannya pun mencapai 6 persen. 

Risiko menengah

Jika menurutmu keuntungan investasi risiko kecil masih kurang, maka cara berinvestasi kamu harus dimodifikasi ulang. Mungkin dengan cara memilih investasi lain yang risikonya sedikit lebih besar. 

Ingin tahu apa saja produk investasi yang dimaksud? Yuk cari tahu di bawah sini.

Reksa dana pendapatan tetap

Sama-sama reksa dana, tapi reksa dana ini alokasi dananya sebagian besar di obligasi atau surat utang. Sebagian kecilnya baru diinvestasikan di produk pasar uang. 

Keuntungan dari reksa dana pendapatan tetap bisa di atas 10 persen per tahun. Ketika suku bunga turun, umumnya obligasi cenderung menguat dan hal ini jadi sinyal baik bagi reksa dana pendapatan tetap, begitu pun jika pasar modal sedang goyang. 

Namun ada kalanya juga lho jika obligasi lagi turun, performa reksa dana ini juga ikut loyo. 

P2P Lending

Peer to Peer Lending atau P2P lending kini menjadi pilihan investasi yang diminati millenial. Investasi apa sih ini?

Platform P2P Lending sejatinya dibuat untuk mempertemukan orang yang ingin meminjam uang, dengan yang ingin mendanai. Penadana tentunya akan diperlakukan layaknya investor. Keuntungan dari P2P lending cukup beragam, namun umumnya mulai dari 15 hingga 20 persenan. 

Sementara itu risiko yang kemungkinan dihadapi pendana adalah gagal bayar dari si peminjam. 

Reksa dana campuran

Sesuai dengan namanya yaitu campuran, reksa dana ini menginvestasikan dana investor ke berbagai produk. Ada depositonya, ada obligasi atau surat utang, dan ada sahamnya juga.

Keuntungan reksa dana campuran tentu bisa di atas reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang yaitu di atas 12 persen. Namun berhubung risikonya juga lebih tinggi, maka kerugian yang didapat juga bisa lebih besar.

Kerugian ini bisa muncul di kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambyar atau harga obligasi menurun. 

Risiko tinggi

High risk high returns, inilah yang membuat investasi tinggi risiko tetap dilirik. Umumnya, investasi ini memang ditujukan untuk tujuan jangka panjang sebut saja seperti untuk menunjang kebutuhan di masa pensiun. 

Ingin tahu apa saja investasi tinggi risiko? Yuk simak ulasannya.

Saham

Membeli saham sama halnya dengan membeli sebuah perusahaan. Ketika perusahaan itu bertumbuh dengan baik di masa depan, tentunya para pemegang sahamnya bisa merasakan keuntungannya.

Saham pulalah yang bisa membuat seseorang menjadi miliuner. Namun, salah dalam membeli saham juga bisa membuat kita bangkrut alias miskin mendadak.

Pasalnya, pergerakan harga saham juga sulit diprediksi. Ada kalanya, munculnya berita buruk di media pun bisa menggoyang beberapa saham yang bergerak di industri tertentu.

Keuntungan dari investasi saham memang cukup tinggi, bahkan bisa di atas 100 persen. Akan tetapi, tidak ada satupun orang yang bisa memprediksi pergerakan di pasar modal. 

Oleh karena itulah, investasi ini memang cocok dijadikan investasi jangka panjang. Pasalnya, pertumbuhan suatu perusahaan dan industri memang tidak ada yang instan. 

Reksa dana saham

Cara berinvestasi seorang dalam produk tinggi risiko memang berbeda-beda. Gak semua orang berani untuk langsung terjun ke investasi saham.

Beberapa dari mereka pun lebih memilih reksa dana saham saja. 

Satu hal yang membedakan reksa dana saham dengan yang lain adalah penempatan investasinya yang 80 persen ada di saham. Sementara itu 20 persennya di produk pasar uang atau obligasi. 

Kerugian dari reksa dana saham tentu saja tidak sebesar investasi saham secara langsung. Begitu pula imbal hasilnya. Investor reksa dana saham juga tidak akan menerima keuntungan berupa pembagian dividen.

Masih bingung dengan cara berinvestasi?

Seperti itulah pemahaman yang kamu butuhkan seputar cara berinvestasi. Intinya, cari tahu apa yang ingin kamu capai dan berapa lama kamu akan mencapainya.

Setelah mengetahui hal itu, kenalilah profil risikomu. Apakah kamu tergolong seorang yang menghindari risiko, atau malah agresif dalam mencari keuntungan.

Jika dua hal di atas sudah diketahui, maka tugasmu selanjutnya adalah memilih instrumen investasi yang tersedia di pasaran. 

Jika pilihanmu adalah emas atau logam mulia, kamu bisa langsung membelinya di pedagang emas, PT Pegadaian Persero, Antam, atau dengan menggunakan aplikasi penjual emas digital. Namun jika deposito, tentu saja silahkan datangi bank terkait.

Akan tetapi jika pilihanmu adalah reksa dana, kamu bisa membelinya via smartphone secara online, dengan mengunduh aplikasi milik agen penjual reksa dana di Google PlayStore atau App Store.

Namun jika pilihanmu adalah saham, maka bukalah rekening dana efek di perusahaan sekuritas. Setelah itu, kamu akan mendapat rekening dana nasabah yang akan digunakan untuk bertransaksi saham. 

Semoga bermanfaat, dan selamat berinvestasi!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →