Apa Itu Piutang dan Apa Saja Jenis-Jenisnya, Pahami di Sini

apa itu piutang

Apa itu piutang? Piutang adalah salah satu unsur dari aktiva lancar dalam neraca perusahaan yang timbul akibat adanya penjualan barang, jasa, atau pemberian kredit terhadap debitur.

Pada umumnya, debitur bersangkutan memiliki kewajiban untuk melunasi tagihan dalam jangka waktu antara 30-90 hari. Namun, ketentuan pelunasan piutang akan berbeda-beda berdasarkan ciri-ciri dan jenis-jenisnya. Berikut adalah informasi selengkapnya.

Apa yang menjadi ciri-ciri atas piutang?

Terdapat tiga ciri-ciri utama atas sesuatu yang bisa disebut sebagai piutang, yaitu adanya nilai jatuh tempo, tanggal jatuh tempo, dan adanya bunga yang diberlakukan. 

1. Nilai jatuh tempo

Nilai jatuh tempo adalah penjumlahan dari nilai transaksi utama ditambah dengan bunga yang dibebankan untuk dibayarkan pada tanggal jatuh tempo.

Misalnya, kamu membeli sebuah barang dengan sistem kredit. Maka, kamu harus membayarkan sejumlah harga barang yang dibeli tersebut beserta bunga yang sudah ditetapkan.

2. Tanggal jatuh tempo

Tanggal jatuh tempo bisa diketahui dari lamanya umur piutang. Umumnya, pengukuran umur piutang terbagi menjadi dua aturan pelunasan, yaitu harian dan bulanan. 

Jika berumur bulanan, maka tanggal jatuh tempo disamakan dengan tanggal transaksi, namun di bulan yang berbeda. Misalnya terdapat transaksi pada 19 Juli, maka tanggal jatuh tempo adalah 19 Agustus, 19 September, 19 Oktober, dan seterusnya.

Sedangkan jika piutang berumur harian, kamu wajib menentukan tanggal jatuh tempo secara harian dengan cermat. Misalnya, transaksi terjadi pada 19 Juli, jika jatuh tempo terjadi dalam 30 hari, maka kamu sudah harus melunasi pembayaran sebelum jenjang waktu tersebut berakhir.

3. Bunga yang berlaku

Bunga pada piutang terjadi akibat seseorang memutuskan melakukan sistem kredit. Dalam hal ini, bunga dianggap sebagai kompensasi karena meminta waktu dalam melunasi pembayaran dan sekaligus dinilai sebagai keuntungan atas kesabaran penjual dalam menunggu pelunasan.

Mengenai besaran suku bunga yang dikenakan akan bergantung kepada kebijakan setiap penjual.

Jenis-jenis piutang

Pada dasarnya, terdapat tiga jenis yang dapat menjelaskan apa itu piutang. Jenis-jenis tersebut meliputi piutang usaha, wesel tagih, dan piutang lain-lain. Untuk lebih jelasnya, mari simak selengkapnya di bawah ini.

1. Piutang usaha (account receivable)

Piutang usaha timbul sebagai akibat dari pembelian barang atau jasa secara kredit oleh pelanggan. Umumnya, masa pelunasannya berkisar pada 1-2 bulan.

Contoh piutang usaha

PT Sparepart Jaya adalah sebuah perusahan distributor sparepart motor yang menjual produknya kepada Toko Sukma Jaya senilai Rp150 juta. Pihak Toko Sukma Jaya baru membayarkan sebagiannya, yaitu senilai Rp25 juta, dan sisanya akan dilunasi pada bulan berikutnya. Maka jika dibuat dalam bentuk jurnal umum, piutang usaha tersebut akan menjadi seperti di bawah ini.

Kas Rp25 juta
Piutang Usaha Rp125 juta
Penjualan Rp150 juta

2. Wesel tagih (notes receivable)

Piutang ini memiliki bentuk fisik berupa surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk pengukuran utang

Berbeda dengan piutang usaha, piutang jenis ini memiliki waktu tagih antara 2-3 bulan. Pelunasan utang di dalam kurung waktu tersebut tidak akan dikenakan bunga.

Namun, jika debitur meminta perpanjangan masa pelunasan, maka akan dikenakanlah bunga sesuai masa perpanjangan per bulan yang diminta.

Contoh wesel tagih

Nilai jatuh tempo wesel adalah Rp100 juta. Debitur meminta perpanjangan sebulan untuk melunasinya sehingga baru akan lunas di bulan keempat. Maka dari itu dikenakan bunga sebesar 10 persen per bulan. Maka jumlah yang harus dibayarkan ketika wesel tagih jatuh tempo adalah:

nilai jatuh tempo + (nilai jatuh tempo x bunga x durasi hari / 365 hari)

Perhitungannya menjadi seperti berikut.

Rp100 juta + (Rp100 juta x 10% x 120/365) = Rp103.287.671,23 

Dengan demikian jumlah wesel tagih yang harus dibayarkan adalah Rp103.287.671,23.

3. Piutang lain-lain (other receivable)

Piutang ini adalah jenis yang lebih luas sebab mencakup piutang bunga, piutang gaji, uang muka karyawan, serta restitusi pajak. Dikarenakan sifatnya yang luas, maka catatannya bisa dilaporkan secara terpisah dalam neraca.

Adakah pajak atas piutang yang dimiliki?

Undang-Undang PPh Pasal 6 Ayat 1 Huruf H (UU Nomor 36 Tahun 2008) mengatur bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih (dan memenuhi syarat tertentu) dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak.

Adapun definisi dari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya, yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan beragam upaya penagihan yang maksimal oleh wajib pajak

Meskipun begitu, ternyata ada syaratnya agar biaya kerugian penghapusan piutang dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto yang aturannya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-57/PMK.03/2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 Tentang Piutang Yang Nyata-Nyata Tidak Dapat Ditagih Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto, sebagai berikut.

  • Dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial.
  • Wajib Pajak wajib membuat daftar piutang yang tidak dapat ditagih tersebut dan diserahkan kepada Kantor Pajak di mana wajib pajak terdaftar saat melakukan pelaporan SPT Tahunan PPh Badan.
  • Telah diserahkan perkara penagihan kepada Pengadilan Negeri, atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum, maksudnya dipublikasikan di dalam surat kabar; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.
  • Akan tetapi, untuk syarat nomor 3 ini tidak berlaku penghapusan kepada debitur kecil. Syarat batasan debitur kecil tidak lebih dari Rp5 juta.

Jadi, secara tidak langsung dapat diambil kesimpulan bahwa piutang tidak dapat dikenakan pajak. Selain itu, tidak ada hukum yang menyatakan pembayaran pajak atas piutang.

Tapi ada istilah piutang pajak, apa artinya?

Piutang pajak adalah istilah dengan penerapan yang berbeda. Piutang pajak muncul karena adanya pendapatan pajak sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perpajakan yang belum dilunasi sampai dengan akhir periode laporan keuangan.

Piutang pajak diakui saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak atau Surat Tagihan Pajak dan telah dilaksanakan proses penagihannya. Pengakuan ini disebabkan adanya potensi pendapatan negara yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan sesuai dengan UU KUP No. 29 tahun 2007. Sesuai kewenangannya, terdapat perbedaan jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Kegiatan penagihan piutang pajak secara umum meliputi:

  • Surat Teguran
  • Surat Paksa
  • Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
  • Lelang

Dengan demikian, itulah pengertian apa itu piutang, ciri-ciri, dan jenisnya. Mengelola piutang memang bukan hal yang mudah, namun jika dilakukan dengan baik, maka dapat memberikan manfaat dan mendorong tercapainya tujuan sebuah usaha. Semoga bermanfaat ya.