Apa Saham Syariah Lebih Aman Buat Investasi? Ini Kata Ahli!

saham-syariah

Mendengar kata saham syariah, umumnya masyarakat bakal langsung berpendapat kalau itu investasi yang lebih aman dari risiko. Tapi tunggu dulu deh, jangan langsung berkesimpulan seperti itu. Soalnya, para pakar punya pendapat yang beda-beda juga.

Sebelum kita masuk pada pendapat para analis, kamu harus tahu dulu nih apa sih yang membedakan antara saham syariah dan saham konvensional. Bedanya cuma satu: jenis usaha dari emiten yang bersangkutan.

Kalau emitennya adalah perusahaan seperti bank konvensional atau produsen minuman keras, ya udah pasti gak bisa dikatakan syariah. Pokoknya, ada sekitar 365 saham yang masuk ke Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Saham-saham itu juga tercatat di Daftar Efek Syariah, Otoritas Jasa Keuangan. Kamu bisa lihat daftar saham itu di Bursa Efek Indonesia.

Kinerja ISSI sejak awal tahun lalu sampai 4 April 2014 emang lagi mengalami penurunan sebesar 2,56 persen. Sementara itu Indeks Saham Gabungan atau IHSG juga mengalami penurunan 1,99 persen dalam periode yang sama.

Uniknya nih, walaupun persentase penurunan ISSI jauh lebih besar daripada IHSG, persentasenya gak sebesar indeks LQ45 dan IDX30 yang isinya adalah saham-saham pilihan dan Bluchip. Dari 1 Januari hingga 4 April 2018, LQ45 mengalami penurunan sampai 5,75 persen, sementara itu IDX30 sampai 6,36 persen!

Melihat penurunan ISSI yang gak parah-parah amat, apakah bisa dikatakan kalau saham syariah itu aman terutama buat investasi tahun ini? Mari kita simak pendapat para ahli di bawah ini.

1. Investasi saham syariah sama aja seperti investasi saham biasa

saham-syariah
Sama saja kok dengan saham biasa (Liputan 6)

Menurut analis dari Bina Artha Sekuritas, Reza Priyambada, berinvestasi di saham syariah sama aja seperti berinvestasi di saham konvensional. Cara mainnya sama, dan risikonya pun bisa dibilang sama.

Hampir sebagian besar saham yang dikategorikan syariah juga tergabung di IHSG. Jadi kalau dibilang aman atau gak ya jawabannya tergantung kamu beli sahamnya siapa.

Reza menambahkan, alangkah lebih baik buat membeli saham dari emiten yang kinerja operasionalnya baik. Sebut aja yang labanya sedang meningkat atau yang sedang ekspansi usaha.

Jadi, sebelum beli kamu harus tahu dulu nih emitennya seperti apa. Misal kalau emitennya perusahaan otomotif seperti Astra International, coba cari tahu update tentang mereka. Berapa labanya, gimana penjualan produk otomotif di Indonesia belakangan ini, dan gimana tren yang bakal terjadi di masa depan.

[Baca: Mau Investasi Saham? Ini 3 Sektor yang Diprediksi Menjanjikan Tahun 2018]

2. Pengin investasi saham syariah? beli saham Bluechip

Hal senada juga dikatakan oleh analis dari PT Recapital Asset Management, Kiswoyo Adi. Aman atau gaknya berinvestasi di saham berlabel syariah bakal ditentukan oleh kinerja emitennya itu sendiri. Dan jika indeks sedang melemah, otomatis saham-saham itu pun jadi gak perkasa.

Namun menurut Kiswoyo, syariah atau gak, yang penting saham yang kamu beli adalah saham Bluechip, alias saham dari perusahaan-perusahaan besar. Karena nilai saham Bluechip emang tergolong stabil.

Cuma aja, bila kamu tetap pengin yang syariah, maka saham bank konvensional gak jadi pilihan. Saham yang bisa kamu pilih cuma saham-saham consumer goods seperti Unilever.

Terkait saham consumer goods, Reza juga menyarankan kamu buat membeli saham di perusahaan yang satu ini. Unilever punya banyak produk yang cukup sering dipakai masyarakat Indonesia.

Nah, udah dapat referensi satu emiten tuh yang bisa kamu beli kalau pengin investasi saham syariah. Yuk buruan bikin rekening efek biar bisa beli saham.

3. Lirik juga saham syariah industri logistik dan energi

saham-syariah
Saham energi bisa dilirik juga lho (Liputan 6)

Selain consumer goods, Reza juga menyarankan kita buat melirik saham-saham perusahaan logistik. Contohnya seperti AKRA alias PT AKR Corporindo. AKRA emang masuk ke dalam daftar saham syariah, dan menurut pengamatan Reza saham ini bakal membuahkan kinerja yang baik.

Asal kamu tahu nih, AKR Corporindo itu punya anak perusahaan yang bergerak di bidang properti hingga infrastruktur. Di awal 2018, mereka dikabarkan bakal disibukkan dengan proyek pembangunan 350 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

AKR juga dipercaya oleh pemerintah buat menyalurkan solar selama lima tahun, yaitu dari 2018 hingga 2023. Mereka telah meneken kontrak buat penyaluran 205 ribu kilo liter solar lho!

Analis dari First Asia Capital, David Setyanto, mengatakan bahwa saham dari perusahaan energi emang patut dilirik. Banyak kok emiten yang bergerak di bidang energi yang sahamnya masuk ke daftar syariah. Adaro Energy salah satunya.

Wah, dari sini udah dapat tiga pilihan aja nih. Ada saham Unilever, ada AKR, dan saham perusahaan energi.

[Baca: Panduan Lengkap Cara Membeli Saham Buat Investor Pemula]

4. Hati hati beli saham syariah dari sektor pertambangan

Saham-saham di sektor komoditas terutama pertambangan emang lagi menguat di IHSG terhitung dari 4 April 2018. Tapi apakah itu tandanya saham pertambangan bakal kuat terus?

Reza berpendapat, saat ini industri tambang emang kerap jadi perhatian para analis. Jika dilihat dari kacamata global, kegiatan manufaktur di Amerika Serikat dan Cina juga udah membaik, oleh karena itu permintaan produk pertambangan seperti batu bara juga bakal meningkat.

“Yang harus jadi perhatian di sini adalah harga komoditas itu kayak harga saham yang rentan akan perubahan,” ujar Reza.

Itulah yang bikin kamu harus berhati-hati ketika membeli saham industri pertambangan atau komoditas. Reza menyarankan, jika kamu pengin membeli saham di sektor ini, manfaatkan aja buat jangka pendek atau trading.

Buat jangka panjangnya, pilih saham komoditas lain aja deh yang dividennya besar. Contohnya seperti Indo Tambangraya Megah (ITMG), atau Bukti Asam (PTBA).

5. Sebisa mungkin jangan beli saham syariah yang ini

saham-syariah
Ritel lagi gak baik, mending jangan investasi di sini dulu ya (Liputan 6)

Dari tadi kita udah membahas saham-saham syariah seperti apa yang bisa jadi pilihan. Nah sekarang kalau ditanya, apakah ada saham yang gak direkomendasikan buat kita beli tahun ini? Jawabannya ada.

David mengatakan, sebisa mungkin kamu gak beli saham Alfamart (AMRT) deh. Kenapa? Karena saat ini PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk kinerjanya lagi gak bagus. Menurut laporan dari Kompas, laba mereka anjlok sampai 50 persen.

Kok bisa anjlok ya? Coba kamu ingat-ingat tahun lalu deh, kan banyak tuh gerai milik perusahaan ritel berguguran. Sebut aja seperti 7-Eleven. Selain itu, biaya operasional juga ikutan naik. Kondisi inilah yang berefek sampai ke ritel lain seperti Alfa.

Yang kedua adalah saham milik Grup Astra (ASII). Lho kok Astra gak direkomendasikan? Bukannya anak perusahaannya banyak?

David berpendapat, kondisi nilai tukar rupiah dengan dolar AS masih belum stabil. Sementara saham ASII sangat tergantung pada itu.

So, alangkah lebih baik ditunda dulu kalau pengin beli saham Astra.

[Baca: Buat Lajang, UMP Jakarta 2018 Sih Cukup Banget. Ini Buktinya]

Itulah lima hal penting yang harus kamu tahu tentang investasi saham syariah khususnya untuk tahun ini. Bisa jadi sih tahun depan kondisinya bakal berubah. Jadi, udah menjawab rasa penasaran kamu belum?

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →