Asuransi Investasi Lebih Baik Terpisah atau Jadi Satu Produk?

agen asuransi jiwasraya memberi penjelasan kepada nasabah

agen asuransi jiwasraya memberi penjelasan kepada nasabah

Istilah asuransi investasi emang gak umum, tapi kalau asuransi unit link gimana? Sering mendengarnya? Asuransi unit link lebih dari sekadar proteksi karena perannya yang juga sebagai investasi. Itulah kenapa asuransi ini juga dikenal sebagai asuransi investasi.

Bicara asuransi investasi, kamu masih ingat dong dengan kasus Jiwasraya? Kegagalan BUMN asuransi tersebut dalam membayar polis nasabah usut punya usut ada kaitannya dengan produk asuransi sekaligus investasi yang ditawarkannya, yaitu JS Saving Plan.

JS Saving Plan adalah satu produk dari Jiwasraya yang menawarkan manfaat proteksi sekaligus investasi dengan tingkat pengembalian (return) 9 – 13 persen tiap tahunnya. Alih-alih kayak asuransi unit link, JS Saving Plan punya konsep yang berbeda.

Kalau asuransi unit link itu membebankan risiko investasi kepada nasabahnya, JS Saving Plan justru membebankan risiko investasi pada perusahaan asuransi itu sendiri, yaitu Jiwasraya.

Akhir cerita, manajemen yang bermasalah hingga penempatan dana dengan membeli saham yang salah menyebabkan pembayaran polis nasabah Jiwasraya tersendat hingga berakhir dengan gagal bayar.

Menjadi pertanyaaan, apakah asuransi dan investasi lebih baik terpisah atau jadi satu produk?

Karena kasus Jiwasraya, kamu pasti lebih memilih memisahkanya. Namun, gak ada salahnya menyimak lebih dulu ulasan berikut ini.

Sama-sama tujuan keuangan, asuransi dan investasi punya banyak perbedaan

agen asuransi memberikan penjelasan kepada nasabah
Sama-sama tujuan keuangan, asuransi dan investasi punya banyak perbedaan (Shutterstock)

Memiliki asuransi dan investasi sangat penting dalam mewujudkan kondisi keuangan yang sehat. Keduanya menjadi tujuan keuangan yang wajib dicapai dalam perencanaan keuangan.

Ada perbedaan di antara kedua tujuan keuangan ini yang semestinya telah dipahami banyak orang, di antaranya:

1. Asuransi memberi manfaat proteksi, sedangkan investasi bermanfaat dalam menumbuhkan kekayaan

Risiko-risiko yang gak terduga terjadi biasanya membawa kerugian materiil yang bikin kondisi keuangan menjadi gak stabil. Asuransi dihadirkan buat meminimalkan kerugian tersebut.

Kita diwajibkan rutin membayar premi dan kerugian dari risiko-risiko yang timbul nantinya ditanggung perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan.

Lain cerita dengan investasi. Tiap uang yang kita tempatkan, baik di deposito, Surat Berharga Negara (SBN), saham, maupun reksadana, membuat nilai uang tersebut bertumbuh. Pertumbuhan berupa return ini dari 6 persen hingga lebih dari 10 persen.

2. Proteksi asuransi diberikan berupa pertanggungan, sedangkan hasil investasi berupa bunga, capital gain, hingga dividen

Setiap nasabah asuransi yang terdampak risiko-risiko bakal mendapat pertanggungan sesuai jenis asuransi yang dipilih. Sebagai contoh, asuransi jiwa memberi uang pertanggungan (UP) kepada nasabahnya. Ingat, proteksi ini aktif ketika risiko terjadi.

Gimana dengan investasi? Hasil investasi berbeda-beda, tergantung dari pilihan investasinya. Berinvestasi di deposito atau SBN menghasilkan bunga. 

Berinvestasi di saham ataupun reksadana menghasilkan selisih harga jual (capital gain). Ditambah dengan keuntungan lainnya dalam bentuk dividen (bagian laba yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham).

3. Premi asuransi gak bisa diminta kembali, sedangkan dana investasi bisa diambil kembali berikut untungnya, tapi bisa juga “hilang”

Konsekuensi yang sebenarnya harus diketahui betul oleh nasabah asuransi adalah premi yang rutin dibayarkan gak bisa diminta kembali karena gak adanya risiko yang terjadi.

Namun, jangan lantas menganggap asuransi itu gak penting. Justru asuransi seperti yang telah dijelaskan di atas menjadi tujuan keuangan yang harus dicapai agar keuangan mapan. 

Lagi pula, mengeluarkan biaya buat menanggung kerugian dari risiko-risiko yang terjadi lebih besar ketimbang membayar premi asuransi.

Berbeda dengan investasi, ada dua situasi yang bisa kamu hadapi. Pertama, mendapatkan kembali uang investasi plus keuntungannya. Kedua, kehilangan seluruh dana investasi. Semuanya bergantung dari pilihan investasinya.

Berinvestasi di deposito atau Surat Berharga Negara (SBN) jelas lebih aman, tapi keuntungannya kalah besar dengan investasi di saham ataupun reksadana saham. 

Sekalipun besar, investasi saham atau reksadana saham bisa bikin kamu kehilangan dana investasi dalam jumlah besar. Bahkan, bisa gak kembali.

4. Premi asuransi itu tetap besarannya, sedangkan dana investasi bisa diatur besarannya sesuai kemauan

Polis asuransi mewajibkan nasabah membayar premi sesuai kesepakatan hingga masa berlaku polis berakhir. Selama masa tersebut, nasabah gak bisa mengurangi besaran premi.

Sementara pengalokasian dana investasi bisa diatur sesuai dengan keinginanmu. Misalnya, Rp 100 ribu per bulan yang bisa dilakukan di saham atau reksadana saham. Meski begitu, alokasi dana investasi itu idealnya minimal 10 persen dari penghasilan.

Asuransi investasi lebih baik terpisah atau jadi satu produk?

seorang pria tengah mengecek bagan pekerjaannya
Asuransi investasi lebih baik terpisah atau jadi satu produk? (Shutterstock)

Boleh saja memilih asuransi jenis ini semisal unit link dengan alasan lebih simpel dan praktis. Namun, menyadari konsekuensinya lebih dulu sebelum memutuskan buat mengambilnya jauh lebih penting.

Perlu dicatat, dana yang disetor untuk asuransi jenis ini terbagi menjadi dua, yaitu dana buat asuransi dan dana buat investasi. Alih-alih mendapat manfaat maksimal di keduanya, ternyata pemberian manfaatnya jauh dari ekspektasi.

Manfaat asuransi jiwa dalam asuransi investasi bisa kalah maksimal dibandingkan asuransi jiwa murni. Begitu pun dengan manfaat investasi yang juga gak mungkin optimal.

Tapi kan ada tawaran kalau sudah 10 tahun gak perlu bayar premi? Ya, itu benar. Konsekuensinya, dana investasi yang nantinya dijadikan sebagai ganti premi. Alhasil, hasil investasi yang diterima kecil nilainya.

Sudah paling aman membeli asuransi jiwa murni sendiri dan berinvestasi sendiri alias terpisah-pisah. Kamu bisa mendapat asuransi jiwa murni dengan uang perlindungan yang besar dan tentunya dengan premi yang kompetitif.

Sementara pilihan investasi bisa kamu sesuaikan dengan profil risiko. Kalau mau aman, tapi untung kecil, pilihlah deposito, SBN, ataupun reksa dana pasar uang. Kalau mau untung besar, tapi berisiko, pilihan saham atau reksa dana saham.

Lebih baik lagi kalau kamu berinvestasi di banyak instrumen sebagai bentuk diversifikasi. Ini sangat dianjurkan buat meminimalkan kerugian.

Dengan memisahkan asuransi dan investasi, kamu dapat meraih keuntungan maksimal dari keduanya. Semoga informasi di atas bermanfaat! (Editor: Chaerunnisa)