Bahaya Penyakit Jantung terhadap Kondisi Keuangan, Seberapa Parahkah?

Seorang pria terkena serangan jantung (Shutterstock).

Bahaya penyakit jantung pada kenyataannya emang menyasar ke kondisi kesehatan seseorang. Namun, penyakit ini juga dapat membahayakan kondisi keuangan si penderita lho.

World Health Organization (WHO) pada 2015 mengungkapkan 70 persen (39,5 juta) kematian di dunia disebabkan Penyakit Tidak Menular (PTM). Dari banyaknya kematian tersebut, 45 persennya (17,7 juta) disebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Di Indonesia tingkat prevalensi penyakit jantung menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencapai 1,5 persen. Prevalensi tertinggi (> 2 persen) berada di Kalimantan, Yogyakarta, dan Gorontalo. Sementara Jakarta memiliki prevalensi 1,9 persen.

Biaya pengobatan jantung di Indonesia ditotal tembus Rp 10 triliunan

Operasi jantung (Shutterstock).
Operasi jantung (Shutterstock).

Di balik bahaya penyakit jantung yang mengancam keselamatan jiwa, rupanya penyakit ini juga tergolong paling tinggi biaya pengobatannya. Data dari Kementerian Kesehatan tahun 2017 menyebut biaya pengobatan penyakit ini mencapai Rp 9,25 triliun.

Angka terbaru seperti yang diungkapkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bahkan lebih tinggi lagi, mencapai Rp 10,5 triliun. Data ini sendiri sesuai dengan data klaim BPJS Kesehatan buat penyakit ini.

Penyakit jantung adalah penyakit kronis dan ditanggung biaya pengobatannya oleh BPJS Kesehatan

Hipertensi
Hipertensi

Jaminan kesehatan nasional yang diselenggarakan Pemerintah lewat BPJS Kesehatan menjamin biaya pengobatan penyakit jantung. Itu berarti peserta BPJS Kesehatan bisa mendapat pengobatan jantung selama kepesertaannya masih aktif.

Dalam catatan BPJS Kesehatan, penyakit jantung digolongkan sebagai penyakit kronis. Apa itu penyakit kronis? Penyakit kronis adalah penyakit yang timbul dan berkembang dalam jangka waktu yang lama.

Sejauh ini BPJS Kesehatan menanggung biaya penyakit kronis, seperti:

  • penyakit diabetes melitus,

  • hipertensi,

  • penyakit jantung,

  • asma,

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK),

  • epilepsi,

  • schizophrenia,

  • stroke, dan

  • Systemic Lupus Erythematosus (SLE).

Asuransi menggolongkan penyakit jantung sebagai penyakit kritis dan di-cover

Serangan jantung (Shutterstock).
Serangan jantung (Shutterstock).

Selain BPJS Kesehatan, perusahaan asuransi juga menanggung (cover) biaya pengobatan penyakit jantung. Kalau BPJS menyebutnya sebagai penyakit kronis, perusahaan asuransi memasukkan penyakit jantung sebagai penyakit kritis (critical illness).

Namun, jangan lantas berpikir ketika telah memiliki asuransi kesehatan, pengobatan penyakit jantung otomatis di-cover. Dalam asuransi kesehatan, ada yang namanya asuransi tambahan (rider).

Penyakit-penyakit kritis ditanggung perusahaan asuransi kalau pemegang polis menambah rider ke asuransi kesehatan yang dimilikinya

Sejauh ini penyakit-penyakit kritis yang klaimnya bisa dilakukan pemegang polis asuransi kesehatan meliputi:

  • serangan jantung, 

  • stroke 

  • operasi jantung koroner, 

  • operasi penggantian katup jantung, 

  • kanker, 

  • gagal ginjal, 

  • kelumpuhan, 

  • multiple sclerosis

  • transplantasi organ, 

  • penyakit alzheimer, 

  • koma, 

  • penyakit parkinson, 

  • terminal illness

  • penyakit paru-paru kronis, 

  • penyakit hati kronis, 

  • penyakit motor neuron, 

  • muscular dystrophy

  • anemia aplastik,

  • operasi pembuluh aorta, 

  • hepatitis fulminant, dan masih banyak lagi.

 

Tanpa BPJS dan asuransi, ini bahaya-bahaya penyakit jantung terhadap keuangan

Stres banyak utang (Shutterstock).
Stres banyak utang (Shutterstock).

Biaya penyakit jantung sungguh luar biasa besarnya. Contohnya aja biaya pemasangan ring jantung yang kisarannya mulai dari Rp 40 jutaan – Rp 80 jutaan. Itu aja baru pemasangan satu ring jantung.

Contoh tersebut memberi gambaran kalau pengobatan penyakit jantung itu mahal banget. Tanpa jaminan dari BPJS Kesehatan ataupun asuransi kesehatan, ini bahaya-bahaya penyakit jantung terhadap kondisi keuangan.

1. Tabungan, dana investasi, hingga dana darurat terkuras habis demi biaya pengobatan

Uang yang disisihkan buat ditabung, dana yang dialokasikan buat investasi, dan dana darurat yang tiga kali penghasilan mau gak mau direlakan demi membayar pengobatan jantung.

Habisnya dana-dana tersebut berdampak negatif ke kondisi keuangan. Sebab ketahan keuangan berada dalam kondisi yang rapuh.

2. Penghasilan dialokasikan lebih banyak ke biaya pengobatan

Pengobatan jantung gak cukup sekali kemudian selesai. Pengobatannya yang berlangsung lama hingga wajib melakukan kontrol rutin tentu aja memerlukan biaya.

Penghasilan yang diperoleh tiap bulannya terpaksa dialokasikan dalam jumlah besar demi biaya pengobatan. Alokasi buat pemenuhan kebutuhan yang lain terpaksa dihentikan sebagai dampak biaya pengobatan yang tinggi.

3. Terpaksa menjual aset yang dimiliki buat menutupi kekurangan biaya

Aset yang dimiliki dengan hasil jerih payah selama bekerja terpaksa dijual seandainya kekurangan dana buat menutupi biaya pengobatan. Niat hati aset yang dimiliki buat diwariskan, kini aset tersebut harus dijual supaya bisa bertahan hidup.

4. Kekurangan dana ditutupi dengan utang

Kalau dana yang ada buat pengobatan masih kurang, utang pun menjadi jalan terakhir yang ditempuh. Padahal, meminjam uang bukanlah solusi yang sesungguhnya. Apalagi utang itu cuma mengatasi sementara waktu.

Setelahnya, tagihan bakal datang berikut bunganya. Syukur tagihan tersebut bisa dibayar. Kalau tagihannya di luar kemampuan bayar, masalah keuangan bertambah parah nantinya.

Menerapkan gaya hidup sehat adalah pencegahan yang efektif agar terhindar dari bahaya penyakit jantung. Namun, pencegahan sebaiknya juga dibarengi dengan langkah antisipatif.

Terdaftar sebagai peserta BPJS dan memiliki asuransi kesehatan merupakan antisipasi yang efektif dalam meminimalkan kerugian akibat sakit penyakit. Selama disiplin membayar iuran atau premi, selama itulah keuangan terlindungi dan terhindar dari bahaya-bahaya di atas. (Editor: Winda Destiana Putri).