Bank BUKU 4 – Pengertian dan Daftar Banknya [Update 2020]

Bank BUKU 4

Bank BUKU 4 adalah bank dengan modal inti tertinggi minimal Rp30.000.000.000.000 atau tiga puluh triliun rupiah.

Klasifikasi bank ini berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 6/POJK.03/2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank. Selain Bank BUKU 4, ada Bank BUKU 1, Bank BUKU 2, dan Bank BUKU 3.

Lalu, apa itu Bank BUKU? Bank BUKU adalah singkatan dari Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha yang disingkat BUKU.

Dari POJK di atas, kelas Bank BUKU ditentukan berdasarkan modal inti minimal suatu bank, baik konvensional maupun syariah. 

Nantinya klasifikasi itu menentukan kegiatan usaha, terkait kegiatan layanan di luar negeri hingga unit bisnis termasuk asuransi.

Bank apa saja yang masuk kategori “modal besar” ini? Apakah bank tempat kamu menabung termasuk?

Simak ulasan lengkapnya termasuk daftar Bank BUKU 1, 2, 3, 4!

Bank-bank kategori BUKU 4

Kategori Bank BUKU 4 awalnya hanya diduduki lima bank terbesar di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan BRI, BNI, Bank Mandiri, BCA, dan CIMB Niaga.

Namun, sejak 2019, ada dua tambahan bank yang masuk bank BUKU 4, yaitu Bank Panin dan Bank Danamon. Berikut daftar bank kategori BUKU 4.

Bank BUKU 4 Modal inti
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rp159 triliun (2017)
Bank Negara Indonesia (BNI) Rp139,35 triliun
Bank Mandiri Rp179,16 triliun
Bank Central Asia (BCA) Rp148,7 triliun
CIMB Niaga Rp40,2 triliun
Bank Panin Rp35,51 triliun
Bank Danamon Rp32,18 triliun

1. BRI

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk alias BRI adalah salah satu bank pelat merah atau BUMN terbesar di Tanah Air. 

Didirikan pada Desember 1895 di Purwokerto, saham emiten berkode BBRI ini dimiliki pemerintah sebesar 46,75 persen.

BRI merupakan Bank BUKU 4 yang mencetak laba terbesar. Setidaknya, ini tercermin pada laporan keuangan 2019.

BRI memimpin perolehan laba sepanjang tahun yaitu sebesar Rp34,41 triliun (naik 6,15%). Bank yang fokus pada pembiayaan UMKM ini membagikan dividen sebesar 60 persen dari laba bersih.

2. BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk adalah bank pemerintah lainnya yang menduduki bank bermodal besar. Didirikan pada 1946, emiten berkode BBNI ini berhasil mencetak keuntungan Rp4,46 triliun dalam waktu 6 bulan, tepatnya semester I 2020.

Sayangnya, bank pelat merah yang tercatat memiliki modal inti Rp139,35 triliun (per Maret 2019) ini mencatatkan penurunan laba pada 6 bulan pertama 2020. 

Tercatat BNI adalah bank kedua setelah Bank Danamon yang mencatatkan penurunan laba terbesar. 

Pada 6 bulan pertama tahun ini, laba bank yang punya cabang di Amerika, Inggris, Hong Kong, Singapura, dan Jepang tersebut secara persentase turun 41,6 persen.

3. Bank Mandiri

Bank Mandiri adalah contoh bank paling berhasil dalam hal konsolidasi. Empat bank yang dilebur jadi satu saat krisis moneter 1999, melahirkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Bank pelat merah yang masuk jajaran Bank BUKU 4 ini tersebar dan terbesar di Indonesia dengan modal inti tier 1 sekitar Rp179,16 triliun (per Desember 2019). Bank berkode emiten BMRI ini mencatatkan laba Rp10,2 triliun pada semester I 2020.

Sayangnya, laba sebesar itu turun 23,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, modal inti ratusan triliun rupiah bakal mempertahankan Bank Mandiri dalam kategori Bank BUKU 4.

4. BCA

PT Bank Central Asia Tbk adalah salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Didirikan pada 1957, emiten berkode BBCA ini mencatatkan modal inti Rp148,7 triliun (per Maret 2019).

Saking besarnya, BCA juga merambah mancanegara lho! Bank yang dipimpin Jahja Setiaatmadja ini punya anak perusahaan di Hong Kong.

Jika BRI terbesar dalam hal persentase perolehan laba pada semester I 2020, BCA unggul dari nominal. Pada periode itu, BBCA berhasil membukukan kenaikan laba Rp28,6 triliun atau 10,5 persen.

5. CIMB Niaga

PT Bank CIMB Niaga Tbk adalah salah satu bank swasta dalam jajaran lama Bank BUKU 4. Per Maret 2019, modal intinya tercatat sebesar Rp38,2 triliun dan menjadi Rp40,2 triliun pada Desember 2019.

Selain BCA, emiten berkode BNGA ini merupakan salah satu bank swasta dengan reputasi baik. 

Pada 1987, perusahaan menjadi bank pertama di Indonesia yang memberikan fasilitas ATM bagi nasabah.

CIMB Niaga juga menjadi bank pertama di Indonesia yang menyediakan layanan perbankan secara online

Prestasinya gak sampai di situ lho! CIMB Niaga bahkan menjadi bank pertama se-Asia yang meluncurkan rekening bank di handphone alias Rekening Ponsel.

6. Bank Panin

PT Bank Pan Indonesia Tbk alias Bank Panin adalah salah satu anggota baru dalam kasta tertinggi Bank BUKU ini. 

Bank Panin merupakan bank swasta ketiga yang masuk Bank BUKU 4, tepatnya pada Maret 2019. Kala itu, modal inti Bank Panin mencapai Rp32,6 triliun. Dan menjadi Rp35,51 triliun pada Desember 2019.

Pada semester I 2020, laba emiten berkode PNBN ini lumayan terseret pandemi sedunia. Yap, laba perusahaan turun 18,49 persen menjadi Rp1,29 triliun. Namun, pendapatan bunga bersihnya naih 2,43 persen menjadi Rp4,45 triliun.

7. Bank Danamon

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) adalah bank swasta keempat yang masuk jajaran Bank BUKU 4. Setelah sukses merger dengan BNP Bank, Danamon resmi masuk kelas bank tertinggi pada Mei 2020.

Meski cara mendongkrak modal intinya gak organik, alias lewat suntikan dana dan penggabungan, modal inti Danamon tercatat mencapai Rp32,18 triliun pada Desember 2019.

Kandidat baru Bank BUKU 4

Berdasarkan laporan keuangan dan rencana perusahaan mengembangkan bisnis, terdapat sejumlah bank yang menjadi kandidat baru anggota Bank BUKU 4. Bahkan, salah satu bank swasta disebut siap masuk kasta tertinggi menyusul Bank Danamon.

Bank apa saja dan bagaimana rencana meningkatkan modal inti biar masuk klub prestisius ini? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

1. Bank Mayapada bersiap masuk kategori tertinggi

 PT Bank Mayapada Tbk bersiap masuk jajaran kelompok BUKU 4. Bank milik pengusaha Sri Dato Sri Tahir ini berhasil membukukan modal inti di atas Rp30 triliun.

Emiten berkode MAYA ini mendapatkan tambahan modal dari salah satu grup institusi keuangan terbesar Taiwan, Cathay Life Insurance Co. Ltd. Lewat cara ekspres alias suntikan modal ini, Cathay menguasai hampir 40 persen saham Mayapada.

Mengutip Medcom.id, pihak OJK senada Mayapada. OJK membenarkan bahwa Bank Mayapada dalam proses due diligence untuk menambah persentase kepemilikannya.

Disebutkan oleh OJK, suntikan modal Cathay dilakukan lewat aksi korporasi Bank Mayapada dengan menerbitkan saham baru alias right issue.

So, welcome to the club buat Bank Mayapada.

2. Bank Permata

Cara instan lain diikuti PT Bank Permata Tbk. Bank yang masih satu grup dengan PT Astra International ini akan naik kelas setelah diakuisisi Bangkok Bank.

Saham emiten berkode BNLI ini akan dikuasai bank asal Thailand setidaknya 89,12 persen. Dalam ringkasan pengambilalihan saham, Bangkok Bank akan berinvestasi terhadap nasabah, karyawan, mitra usaha, dan infrastruktur Bank Permata, serta mengubah bank ini menjadi bank BUKU IV di Indonesia.

Per 31 Desember 2019, Bank Permata punya modal inti sebesar Rp21,79 triliun. Dengan demikian, Bank Permata setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp9 triliun untuk menjadi BUKU IV.

3. Bank Mega

PT Bank Mega Tbk menargetkan naik kelas ke kelompok BUKU 4 pada 2025 dengan cara organik. 

Bank milik pengusaha dan mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian ini baru punya modal inti Rp14,68 triliun per Desember 2019.

Sekadar informasi, bank yang menjadi bagian dari CT Corpora milik “Anak Singkong” ini berencana meningkatkan modal inti secara bertahap hingga 2025 sebesar Rp16 triliun. 

Emiten berkode MEGA ini memproyeksikan modal inti perseroan lebih dari Rp30 triliun pada 2025 berdasarkan akumulasi profit.

4. BTN

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk diproyeksikan naik kelas pada 2024 secara organik. Kerap dianggap “anak tiri” perbankan pelat merah, bank yang fokus bisnisnya di bidang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ini optimistis masuk Bank BUKU 4 jika laba stabil di kisaran Rp3 triliun tiap tahun.

Berdasarkan laporan publikasi Desember 2019, modal inti Bank BTN tercatat Rp21,04 triliun. Meski masih berada pada BUKU 3, aset milik emiten berkode BBTN tersebut mencapai Rp311,77 triliun, atau terbesar kelima di Indonesia.

5. BTPN

PT Bank BTPN Tbk adalah salah satu bank yang punya kans buat naik ke kasta tertinggi. Emiten berkode BTPN ini tercatat memiliki modal inti Rp27,29 triliun per September 2019.

Tentunya dengan nominal tersebut, BTPN gak perlu kerja keras buat nambahin modal intinya sekira Rp2,7 triliun. Namun, BTPN ternyata gak tergesa-gesa masuk kasta tertinggi.

Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati bilang kalau perseroan mau masuk BUKU 4 secara organik. Makanya, target BTPN dalam tiga tahun mendatang baru naik kelas.

Namun, gak bisa dipungkiri kalau modal perseroan saat ini merupakan hasil penggabungan usaha dengan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).

6. Bank OCBC NISP

PT Bank OCBC NISP Tbk menjadi kandidat terakhir yang bakal masuk BUKU 4. Pasalnya, emiten berkode NISP ini tercatat udah punya modal inti yang mendekati angka minimal yaitu Ro26,81 triliun per akhir 2019.

Jika sepanjang 2020 OCBC NISP berhasil menambahkan modal inti setidaknya Rp3,2 triliun, langsung deh masuk jajaran BUKU 4.

Presiden Direktur NISP Parwati Surdaudaja menyatakan, target tersebut sesuai pertumbuhan organik perseroan. Rencana masuk Bank BUKU 4 memang diinginkan organik, tanpa menerbitkan saham atau suntikan modal alias cara instan. Target perseroan untuk masuk kasta tertinggi ini selambat-lambatnya 2021.

Jenis Bank BUKU 1, 2, 3

Selain bank umum yang masuk jajaran teratas, ada klasifikasi lain yaitu Bank BUKU 1, 2, dan 3. Apa aja kegiatan usahanya?

Yuk simak ulasan jenis-jenis Bank BUKU lainnya.

1. Bank BUKU 1

Dari jenis-jenis Bank BUKU yang lain, Bank BUKU 1 menjadi jenis bank yang punya modal inti atau modal minimal yang paling kecil. Bank BUKU 1 adalah bank yang modal intinya sampai atau kurang dari Rp 1 triliun.

Namun, lewat POJK terbaru, modal inti bank kategori ini minimal Rp1 triliun pada 2020, Rp2 triliun pada 2021, dan wajib Rp3 triliun pada 2022.

Karena modalnya paling kecil, maka kegiatan usaha yang boleh dilakukan perbankan kategori ini yaitu:

  • Penghimpunan dana.
  • Penyaluran dana.
  • Pembiayaan perdagangan (trade finance).
  • Kegiatan dengan cakupan terbatas buat keagenan dan kerja sama.
  • Melayani sistem pembayaran dan electronic banking dengan cakupan terbatas.
  • Penyertaan modal sementara dalam rangka penyelamatan kredit.
  • Perdagangan valuta asing.
  • Kegiatan lainnya yang lazim dilakukan bank dan gak bertentangan dengan aturan yang ada.

2. Bank BUKU 2

Pada kategori Bank BUKU 2, tentu modal inti yang dimiliki lebih besar dari BUKU 1. Pada kategori ini, modal inti suatu bank antara Rp3-5 triliun.

Dengan modal yang lebih besar, kegiatan usaha Bank BUKU 2 yaitu:

  • Kegiatan penghimpunan dana.
  • Kegiatan penyaluran dana.
  • Kegiatan pembiayaan perdagangan (trade finance).
  • Kegiatan treasury secara terbatas.
  • Keagenan dan kerja sama.
  • Kegiatan sistem pembayaran dan electronic banking.
  • Kegiatan penyertaan modal.
  • Kegiatan penyertaan modal sementara.
  • Kegiatan lainnya yang lazim dilakukan bank dan gak bertentangan dengan aturan yang ada.

3. Bank Buku 3

Setelah dua level bank tadi, adan Bank BUKU 3 yang punya modal inti antara Rp5-30 triliun. Dengan modal yang lebih besar, tetapi masih di bawah Bank BUKU 4, kategori ini udah boleh melakukan kegiatan di luar negeri.

Namun, luar negerinya belom bisa mendunia banget. Layanan perbankan yang diberikan Bank BUKU 3 hanya sebatas wilayah Asia. Kalau udah naik menjadi Bank BUKU 4, baru bisa mendunia.

Jaga nilai tabungan dengan memiliki proteksi

Kamu punya tabungan di salah satu anggota Bank BUKU 4? Tentunya kamu ngerasa lebih aman karena rata-rata modal yang dimiliki bank-bank tersebut mencapai ratusan triliun rupiah.

Tapi, kamu tetap harus punya proteksi untuk melindungi nilai tabungan lho!

Proteksi ini bakal menjaga semua uang dalam tabungan kamu ketika terjadi risiko yang tidak diinginkan. Nah, proteksi ini berbentuk asuransi.

Lalu, asuransi seperti apa yang kamu butuhkan? Salah satunya adalah asuransi kesehatan yang bakal menjamin biaya rawat inap hingga pembedahan.

Selain itu, kamu yang memiliki aset seperti rumah atau properti lain juga butuh nih proteksi aset tersebut. Lewat asuransi properti, kamu bakal mendapatkan jaminan ganti rugi untuk semua musibah atau tindak kriminal yang tidak terduga.

Masih bingung dengan topik seputar tabungan, perbankan, atau asuransi? Atau, kamu justru punya pertanyaan atau pengalaman terkait keuangan hingga asuransi? Jangan ragu untuk mengirim pertanyaan kamu yang bakal dijawab para expert lewat Tanya Lifepal.

Tanya jawab seputar Bank BUKU 4

Bank BUKU 4 adalah kategori bank dengan modal paling tinggi dibanding Bank BUKU lainnya yang modal intinya minimal Rp30 triliun.

Aturan terkait Bank BUKU terdapat pada POJK Nomor 6/POJK.03/2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank yaitu:

  • Modal inti Bank BUKU 1: di bawah Rp1 triliun
  • Modal inti Bank BUKU 2: Rp1 triliun-5 triliun
  • Modal inti Bank BUKU 3: Rp5 triliun-30 triliun
  • Modal inti Bank BUKU 4: minimal Rp30 triliun

Dalam aturan terbaru POJK Nomor 12/2020 mengubah modal inti Bank BUKU 1, yaitu minimal Rp3 triliun pada 2022.

Aturan ini diterapkan bertahap yaitu minimal Rp1 triliun pada 2020, Rp2 triliun pada 2021, dan Rp3 triliun pada 2022.

Berdasarkan laporan keuangan 2019, Bank BRI dengan kode emiten BBRI memimpin perolehan laba sepanjang tahun dengan perolehan sebesar Rp34,41 triliun (naik 6,15%). Bank yang fokus pada pembiayaan UMKM ini membagikan dividen sebesar 60% dari laba bersih.

Namun, dari sisi pertumbuhan laba, BCA lebih unggul dengan kenaikan double digit, yaitu 10,5% atau sebesar Rp28,6 triliun.Tahun sebelumnya bank berkode emiten BBCA ini membukukan laba Rp25,9 triliun.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →