Pengertian, Takaran, dan Cara Membayar Fidyah dengan Beras atau Uang

bayar fidyah

bayar fidyah

Di ajaran Agama Islam, ada istilah bayar fidyah. Istilah ini biasanya bakal sering muncul di kala bulan Ramadan tiba. 

Bagi muslim, berpuasa saat bulan Ramadan adalah suatu kewajiban. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa berpuasa dengan normal karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. 

Maklum saja, di dalam puasa kita diharuskan menahan makan dan minum selama kurang lebih 12 jam. Buat yang fisiknya bugar, mungkin itu bukan masalah, tapi buat mereka yang memiliki keterbatasan pasti sangat berat untuk menjalaninya. 

Nah mereka yang tidak bisa melaksanakan puasa dan tidak memungkinkan untuk menggantinya di hari lain, diharuskan untuk bayar fidyah. Apakah itu? 

Pengertian bayar fidyah 

bayar fidyah
Ilustrasi zakat. (Shutterstock)

Saat seseorang tidak bisa melaksanakan puasa di bulan Ramadan, diharuskan untuk menggantinya. Cara menggantinya bisa mengganti puasa di hari lain setelah Ramadan atau membayar fidyah. 

Dikutip dari situs Dompet Dhuafa, fidyah memiliki arti apabila seseorang memberikan tebusan kepada orang lain, maka orang tersebut akan menyelamatkannya. Secara umum, orang yang tidak bisa berpuasa karena beberapa hal, harus memberikan orang yang membutuhkan berupa makanan, atau bahan makanan sebagai pengganti karena meninggalkan puasa. 

Tapi bukan berarti semua orang yang gak berpuasa bisa mengganti puasa dengan fidyah. Berikut ini kategori orang-orang yang diharuskan membayar fidyah. 

Orang yang diharuskan membayar fidyah 

bayar fidyah
Orang tua jadi salah satu kalangan yang bisa bayar fidyah. (Shutterstock)

Setelah melihat penjelasan di atas, diketahui bahwa fidyah dilakukan oleh orang yang tidak mampu menjalankan puasa karena kondisinya. Berikut ini contoh-contoh mereka yang boleh meninggalkan puasa, namun dapat menggantinya dengan bayar fidyah. 

  • Orang tua yang sudah tidak mampu lagi menahan puasa seharian penuh.
  • Orang yang sakit bertahun-tahun sampai yang tidak memiliki harapan untuk sembuh. 
  • Wanita hamil yang membutuhkan gizi yang cukup untuk kesehatannya dan janin.
  • Ibu menyusui yang khawatir jika berpuasa dapat mempengaruhi kualitas ASI yang dibutuhkan anaknya. 
  • Orang yang sudah meninggal, tapi masih memiliki tanggungan utang puasa.
  • Orang yang mengundur-undur waktu untuk mengganti puasanya, sementara sudah masuk waktu Ramadan berikutnya. 

Dilihat dari situs resmi NU, bagi wanita yang hamil dan menyusui, apabila ia mampu melaksanakan puasa, namun khawatir akan kondisi kesehatannya, ia tetap diwajibkan untuk mengganti puasa yang bolong tersebut. 

Sementara itu, untuk orang yang sudah meninggal namun masih memiliki kewajiban untuk mengganti puasanya, bayar fidyah bisa diwakilkan oleh ahli warisnya. 

Yang berhak menerima fidyah 

bayar fidyah
Siapa yang berhak menerima fidyah? (Shutterstock)

Hati-hati, jangan sampai bayar fidyah ke orang yang salah. Golongan yang berhak menerima adalah mereka yang tergolong fakir, miskin, dan orang tua yang sakIt-sakitan. 

1. Orang fakir 

Kita mungkin sering mendengar kata fakir selalu disandingkan dengan kata miskin, atau fakir miskin, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Dari kondisi perekonomian, golongan fakir ini lebih tidak mampu ketimbang miskin. 

Mereka tidak memiliki penghasilan dan harta sama sekali. Harapannya untuk bertahan hidup adalah dari bantuan-bantuan yang diterimanya.

2. Orang miskin 

Berbeda dengan orang fakir, orang miskin masih memiliki harta dan penghasilan. Namun, harta tersebut tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhannya sehari-hari. Oleh karenanya, mereka juga membutuhkan uluran tangan untuk bisa hidup layak. 

3. Orang tua yang sakit dan tidak ada harapan sembuh 

Selain orang fakir dan miskin, orang tua yang sakit bertahun-tahun berhak menerima fidyah. Khususnya orang tua yang mengalami sakit parah namun dinyatakan tidak ada harapan untuk sembuh. 

Jika fidyah diberikan ke orang-orang selain tiga kelompok itu, maka fidyah yang dibayarkan tidak sah. 

Takaran membayar fidyah dengan beras, lauk pauk, dan uang 

bayar fidyah
Berapa banyak fidyah yang harus dibayar? (Shutterstock)

Mengenai besaran berapa ukuran yang tepat untuk bayar fidyah, beberapa ulama ada yang berpendapat 1 mud gandum dan 2 mud untuk yang membayar selain menggunakan gandum. Berhubung di Indonesia gandum bukanlah bahan makanan yang umum, maka bisa digantikan dengan beras. 

Sementara soal takaran, di Indonesia juga tidak familiar dengan takaran mud. Mud adalah ukuran volume yang setara dengan dua telapak tangan yang ditengadahkan ke atas. 

Untuk memudahkan dalam pembayaran, maka mud dikonversikan menjadi kilogram, yang setara dengan 0,75 kilogram. Jadi kalau umumnya di Indonesia membayar 2 mud artinya kamu harus memberikan 1,5 kilogram beras ke orang yang membutuhkan. 

Kualitas berasnya, harus sesuai dengan kualitas beras yang kamu konsumsi sehari-hari. Jangan memberikan yang kualitasnya di bawah. 

Lantas berapa jumlah yang harus dibayarkan? Tinggal dikalikan saja deh berapa kali kamu tidak berpuasa. Misalnya kamu meninggalkan 5 hari puasa, maka kamu harus memberikan 1,5 kilogram beras ke lima orang yang membutuhkan. 

Selain beras, kamu juga bisa menggantinya dengan makanan siap saji lengkap dengan lauk pauknya. Beberapa ulama bahkan ada yang berpendapat kalau bayar fidyah bisa digantikan dengan uang yang besarannya setara dengan satu porsi nasi lengkap dengan lauknya. 

Cara bayar fidyah 

bayar fidyah
Bagaimana cara bayar fidyah. (Shutterstock)

Berikut ini hal-hal yang perlu kamu perhatikan saat hendak mengganti puasa dengan fidyah. 

1. Waktu yang tepat membayar fidyah 

Untuk pembayaran fidyah, bisa dilakukan dalam dua waktu. Pertama, di hari puasa ditinggalkan, tapi dibayarkan saat berbuka puasa. Kedua, bisa dibayarkan setelah bulan Ramadan. 

2. Cara bayar fidyah dengan beras 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ukuran membayar fidyah adalah sekitar 1,5 kilogram beras untuk satu hari puasa yang ditinggalkan. Sehingga, untuk menentukan berapa banyak yang harus kamu bayarkan tinggal dikalikan 1,5 kilogram dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. 

Misalnya kamu meninggalkan 5 hari puasa, maka harus memberikan 1,5 kilogram beras ke lima orang fakir miskin. 

Kamu bisa langsung memberikan beras itu secara langsung ke orang yang membutuhkan, atau melewati jasa penyalur. Namun, pastikan kalau fidyah kamu sampai ke sasaran yang tepat, karena kalau tidak tepat, fidyah kamu tidak sah. 

3. Cara bayar fidyah dengan nasi siap saji atau lauk pauk

Selain beras, bisa juga memberikan makanan siap saji kepada fakir miskin sejumlah hari puasa yang ditinggalkannya. 

Kamu bisa memasak sendiri atau membeli di warung, kemudian memberikannya secara langsung. Agar lebih praktis, kamu bisa memasak di rumah, kemudian mengundang mereka untuk makan bersama di rumahmu. 

Ingat, fakir miskin yang diundang cukup disesuaikan dengan jumlah puasa yang tinggalkan ya. 

4. Berapa nominal dan bagaimana cara bayar fidyah dengan uang? 

Meskipun masih menjadi perdebatan, di Indonesia sudah marak praktek membayarkan fidyah dengan uang. Besaran uangnya itu sendiri disesuaikan dengan harga satu porsi nasi lengkap dengan lauknya yang berlaku di suatu daerah. 

Misalnya, kamu berada di Jakarta dan ingin membayarkan fidyah. Kira-kira, satu porsi nasi dan lauk di warteg sekitar Rp 25-50 ribu. Berarti uang senilai itulah yang harus kamu bayarkan. 

Cara bayarnya tidak harus memberikan secara langsung ke fakir miskin, tapi bisa disalurkan lewat lembaga zakat yang terpercaya. Contohnya adalah Dompet Dhuafa dan Badan Amil Zakat Nasional terdekat. 

Kamu tinggal menghitung berapa jumlah hari puasa yang ditinggalkan, kemudian mendatangi kantor penyalur zakat, meniatkan diri untuk bayar fidyah, memberikan uangnya ke penyalur, dan selesai deh. 

Itulah pengertian dan cara bayar fidyah yang benar. Perlu diingat kembali bahwa fidyah ini hanya ditunaikan oleh mereka-mereka yang benar-benar tidak mampu menjalankan puasa ya. Kalau kamu hanya sakit flu biasa sih diusahakan untuk tetap berpuasa atau mengganti puasa di masa setelah Ramadan. (Editor: Ruben Setiawan)