Beli Apartemen Pertama, Begini Tips dan Alokasi Gaji yang Diperlukan

Gedung apartemen (Shutterstock)

Tingginya harga rumah di ibukota membuat sebagian generasi mengeluh. Belum lagi ketersediaan lahan yang semakin minim membuat lokasi perumahan tersebut berada di pinggiran. Hal itulah yang membuat masyarakat mulai mempertimbangkan beli apartemen.

Apalagi jika memiliki karir yang sudah cukup baik, gak ada salahnya kalau kamu mulai beli apartemen. Bisa dengan mencicilnya atau kalau memang kamu memiliki tabungan yang cukup beli secara cash juga gak masalah. Biar bagaimanapun memiliki hunian itu penting banget lho! Apalagi jika kamu berencana akan menikah, tentu keluarga kecilmu nanti sudah harus merasakan kehidupan mandiri yang sesungguhnya tanpa perlu menumpang di orangtua.

Kalau kamu rasa membeli rumah itu cukup sulit, mengingat lokasi yang cukup jauh dari tempatmu bekerja, ya gak ada salahnya memilih apartemen. Tapi perlu diingat, apartemen memiliki usia bangunan yang gak lebih dari 20 tahun. Kamu harus siap tidak bisa tinggal berlama-lama di apartemen. Tetapi lokasi apartemen dianggap selalu strategis bagi mereka yang bekerja di kota Jakarta.

Kelebihan tinggal di apartemen

Gedung apartemen (Shutterstock).
Gedung apartemen (Shutterstock).

Harga yang ditawarkan apartemen biasanya lebih murah ketimbang rumah tapak. Karena dari bentuknya saja apartemen gak butuh lahan banyak daripada membuat perumahan. Fasilitasnya juga lengkap, dekat dengan perkantoran, dekat dengan akses transportasi umum serta area terbuka lainnya.

Kekurangan tinggal di apartemen

Apartemen jenis studio (Shutterstock).
Apartemen jenis studio (Shutterstock).

Meski lebih efisien dan dekat dari banyak ruang publik, tinggal di apartemen juga memiliki kekurangan lho. Apartemen memiliki luas yang terbatas, meski memang ada beberapa yang luas seperti rumah tapak, tapi itu sangat mahal. Tinggal di apartemen, kamu harus melupakan mimpi seperti berkebun di tanah luas, atau sekedar memiliki kolam ikan. Meski kedua hal tersebut bisa diakali dengan cara lain, namun sebelum memutuskan tinggal di apartemen kamu wajib memikirkannya berkali-kali.

Selain kekurangan dan kelebihan yang telah disebutkan tadi, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan lainnya nih. Mengutip laman Realestate.com.au, berikut beberapa hal lainnya yang perlu kamu pertimbangkan sebelum beli apartemen.

1. Cari tahu status kepemilikan

Kalau kamu sudah merasa sreg dengan satu apartemen, jangan buru-buru membayarnya ya! Pastikan dulu kamu mengecek status kepemilikan apartemen tersebut. Status hunian vertikal yang perlu diketahui adalah Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) dan Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB).

2. Cari tahu latar belakang developer

Mencari tahu latar belakang developer juga penting. Bukan hanya rumah tapak saja yang kadang developernya nakal, tetapi apartemen juga perlu waspada. Gak ada jaminan developer apartemen baik-baik saja. Kamu perlu berhati-hati jika ada penawaran yang gak masuk akal. Banyak juga kejadian pembangunan apartemen mangkrak karena ulah developernya. Sebelum membeli, cari tahu dulu profil pengembang. Kamu hanya perlu mencarinya di internet.

3. Cari tahu fasilitas umum terdekat

Memilih tinggal di apartemen tentu karena ingin mendekatkan lokasi kantor dan hunian. Aspek penting lainnya adalah, cek apakah apartemen idaman tersebut dekat dengan transportasi umum, kafe, supermarket, mall dan lainnya. Karena hidup juga perlu santai bukan? Jangan sampai lokasi apartemen malah jauh dari keramaian.

4. Cari tahu berapa besar anggaran bulanan

Anggaran bulanan tinggal di apartemen hampir sama seperti komplek perumahan kok. Kamu wajib mencari tahu berapa iuran untuk membayar sampah, keamanan serta penggunaan fasilitas lain. Juga kamu harus tahu bagaimana sistem pembuangan sampah dan keamanannya. Jangan sampai kamu tinggal di apartemen yang pengamanannya kurang serta penumpukan sampah yang gak dibuang dari pihak pengembang.

5. Mengecek Struktur dan Bentuk Bangunan

Sebelum beli apartemen, cari tahu unit yang akan kamu tinggali berada di lantai berapa. Kamu bisa melihat kondisi bangunan. Selain itu, kamu harus mengetahui pintu keluar jika terjadi bencana kebakaran, gempa, dan lainnya. Pastikan kamu tahu segalanya untuk tindakan pencegahan jika suatu waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.

Menyiapkan dana untuk beli apartemen

Dana untuk membeli apartemen (Shutterstock).
Dana untuk membeli apartemen (Shutterstock).

Jika kelima hal diatas tadi sudah kamu perhatikan, langkah selanjutnya adalah menyiapkan dana untuk membeli apartemen tersebut. Hitung kembali apakah gaji yang kamu dapat cocok untuk membeli sebuah apartemen yang terletak di pusat kota atau malah sebaliknya.

Jumlah persentase penghasilan rata-rata yang dialokasikan untuk membeli hunian tergantung dari besar dana yang dibutuhkan. Kamu juga perlu mempertimbangkan uang muka agar meringankan biaya cicilan selama beberapa tahun ke depan. Hal ini juga masih bisa berubah karena tidak ada nilai yang pasti untuk biaya hunian. Dengan asumsi kenaikan biaya hunian per tahun adalah 15 – 20 persen, idealnya kamu wajib mengalokasikan 20 hingga 30 persen dari gaji.

 

Pemasukan Rp 17.000.000
30% dari Rp 17.000.000 Rp 5.100.000
Dalam satu tahun Rp 5.100.000 x 12 Rp 61.200.000

 

Jika kamu ingin membayar uang muka sebesar 30 persen dari harga apartemen, waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan uang tersebut bisa satu tahun setengah atau dua tahun. Hal ini tentunya akan menguntungkan dari segi cicilan. Tetapi biasanya uang muka tidak selalu 30 persen mengingat kebijakan developer berbeda-beda.

Jika kamu sudah mempersiapkan uang mukanya, maka langsunglah mencari apartemen yang sesuai dengan kebutuhan. Hindari menunda-nunda untuk memiliki hunian, pasalnya setiap tahun harga properti cenderung naik. Jangan sampai, uang muka yang sudah kamu kumpulkan malah gak cukup.

Sebetulnya, selain KPA, ada cara lain untuk memiliki apartemen dalam waktu cepat. Kamu bisa mengajukan kredit inhouse kepada developer langsung. Jadi, kamu tetap membayar secara angsuran, tetapi bukan ke pihak bank, nama lainnya adalah cash bertahap.

Kamu langsung berhubungan dengan developer tanpa harus melalui campur tangan pihak bank. Kredit inhouse bukan berarti tidak ada uang muka (DP), namun pembayaran uang mukanya dapat dicicil hingga beberapa kali ya. Selain itu tenornya bisa dibilang cukup fleksibel guys.

Keunggulan cash bertahap ini tidak ada bunga, prosedurnya lebih sederhana juga ringkas. Selain itu bebas biaya tambahan seperti biaya provisi, biaya administrasi, biaya appraisal, dan sebagainya. Juga, masa angsuran pada kredit inhouse atau cash keras ini juga fleksibel karena tidak melibatkan lembaga resmi seperti bank. Tentunya kamu jangan asal pilih ya. Tetap semuanya harus dipikirkan matang-matang.

Syarat dan ketentuan mengajukan KPA

Jika Anda merupakan pegawai atau karyawan di sebuah perusahaan, maka persyaratan yang harus dipenuhi meliputi:

1 Fotokopi KTP suami/istri

2. Fotokopi Kartu keluarga (C1) dan Surat Nikah

3. Fotokopi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)

4. Pas foto suami/istri ukuran 3×4 cm

5. Copy SK Terakhir/Surat keterangan kerja Asli

6. Copy Buku Tabungan/Rekening Koran 3 bulan terakhir

7. Slip Gaji (asli, dengan stempel kantor/perusahaan)

8. Surat Keterangan Penghasilan (jika diperlukan)

Lalu bagaimana kondisinya bila Anda bukan merupakan karyawan, melainkan wiraswasta atau profesional? Berikut ketentuannya:

1. Fotokopi KTP suami/istri

2. Fotokopi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)

3. Fotokopi Kartu Keluarga (C1) dan Surat Nikah

4. Copy Ijin Praktek/akte Pendirian

5. Copy SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan)

6. Laporan keuangan

7. Copy Buku Tabungan/Rekening Koran 3 bulan terakhir

8. Slip Gaji (Asli, dengan stempel kantor/perusahaan)

Di samping persyaratan dokumentasi di atas, kamu juga perlu mengetahui beberapa syarat khusus yang patut diwaspadai sebab akan berpengaruh terhadap diterima/ditolaknya pengajuan kredit oleh bank.

1. Tidak termasuk dalam daftar hitam Bank Indonesia (BI).

2. Memiliki track record yang baik dalam urusan kredit.

3. Bank lebih menyukai calon debitur yang memiliki tabungan atau rekening koran di bank tersebut. Ini memudahkan mereka menggali data keuangan calon nasabah.

4. Bank juga menyukai calon debitur yang transaksi masuk dan keluar uangnya menggunakan bank yang sama. Contoh, nasabah bank X mendapatkan gajinya lewat bank X, kemudian mentransfer ke rekening lain yang sama-sama bank X.

5. Bank menyukai calon debitur yang kooperatif dan tidak terlalu rewel.

6. Kandidat nasabah ideal bagi bank adalah yang usianya masih muda dan tingkat penghasilannya cenderung naik dari waktu ke waktu.

Saat hendak mengajukan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), ada baiknya kamu tidak terpaku pada satu bank saja. Buatlah perbandingan minimal tiga bank yang punya penawaran serupa. Hal-hal yang dibandingkan diantaranya persyaratan, suku bunga, penalti, biaya-biaya lain (provisi, asuransi, notaris, dan lain-lain), kedekatan Anda dengan bank-bank tersebut, serta fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh bank.

Biaya tambahan tinggal di apartemen

Tinggal di apartemen lebih private (Shutterstock).
Tinggal di apartemen lebih private (Shutterstock).

Keputusan untuk tinggal di apartemen tentu memiliki konsekuensi, seperti biaya tambahan. Biaya tersebut berupa parkir, sinking fund dan biaya pemeliharaan lainnya. Berikut ini biaya tambahan yang perlu kamu pertimbangkan sebelum memutuskan tinggal di apartemen. 

1. Biaya pemeliharaan

Biaya pemeliharaan atau kata lainnya adalah maintenance fee. Biaya ini diperuntukkan pengelolaan operasional gedung, kebersihan, keamanan, gaji petugas dan yang lainnya. 

2. Sinking fund

Hampir sama dengan biaya pemeliharaan, sinking fund ini lebih spesifik untuk pemeliharaan fasilitas misalnya lift, genset, saluran udara maupun air. Biaya akan semakin besar jika usia gedung sudah tua. 

3. Biaya listrik

Baik rumah tapak maupun apartemen, listrik sudah menjadi kebutuhan wajib. Biaya listrik di apartemen biasanya lebih besar 20 hingga 30 persen. Di apartemen kelas menengah, banyak penghuni yang membayar tagihan listrik hingga jutaan rupiah tergantung dari pemakaian sehari-hari. 

4. Biaya air

Biaya pemakaian air juga mengikuti tarif yang ditetapkan oleh PDAM setempat. Biasanya, di apartemen kelas menengah dikenakan biaya untuk air sekitar Rp 100 ribu kepada penghuni. 

5. Biaya parkir

Penentuan untuk jenis biaya yang satu ini berbeda-beda. Ada pengelola yang tidak menarik biaya jika hanya memarkirkan satu kendaraan. Namun, ada juga yang menagih biaya parkir bulanan ke penghuni. Biasanya untuk kendaraan roda empat ditaksir sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per bulan. Untuk sepeda motor sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu per bulan. 

Yakin tinggal di apartemen?

Keputusan untuk tinggal di apartemen maupun rumah tapak memang gak bisa diambil saat itu juga. Kamu perlu memikirkan bagaimana nantinya, terlebih jika memiliki niatan baik untuk menikah beberapa tahun ke depan, tentu ini juga harus dibahas bersama pasangan.

1. Sebagai hunian

Apartemen memang cocok buat kamu huni jika segala kelengkapan prasyaratan sudah dipenuhi. Apalagi dari aspek gaji sudah mendukung untuk memiliki hunian vertikal ini. Keuntungan tinggal di apartemen selain berada di pusat kota, kamu juga lebih fleksibel karena semua diatur oleh sistem yang dibuat pengembang.

2. Untuk investasi

Menurut hasil riset menunjukkan bahwa saat ini berinvestasi di bidang ini tidak begitu baik. Penjualan apartemen menurun karena faktor menurunya minat beli masyarakat saat ini. Ditambah lagi, harga yang cenderung naik terus menerus. Jadi lebih baik tidak berinvestasi di bidang ini dulu.

3. Untuk disewakan

Jual beli apartemen saat ini sedang tidak baik, menyewakannya pun juga bukan ide yang bagus. Akhir tahun 2019 lalu sewa apartemen menurun karena sepinya peminat. Untuk itu, ada baiknya memang tidak mengambil risiko untuk menginvestasikan uang ke properti ini.

 

Beli apartemen secara garis besar sama dengan rumah tapak. Jika memang kebutuhan hunian harus berdekatan dengan lokasi kantor, ada baiknya memang memilih apartemen ketimbang beli rumah di pinggiran Jakarta. Perlu diperhatikan juga kalau ini memang untuk ditempati ya, bukan sekedar investasi. (Editor: Winda Destiana Putri).