Percaya Gak, Resto Bebek Legendaris Ini Dimulai dengan Duit Rp 10 Ribu?

bisnis rumahan modal kecil

Sebelum sukses dan punya banyak cabang, Bebek Slamet ternyata cuma bisnis rumahan modal kecil yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah. Bisnis ini didirikan pada 1986 dengan modal cuma Rp 10 ribu saja.

Adalah Slamet Rahardjo dan istrinya, Baryatin, yang bertindak selaku founder restoran bebek super enak ini. 

Keduanya menjadikan pekarangan rumahnya sendiri sebagai tempat usaha. Kini rumah tersebut telah jadi kantor pusat Bebek H Slamet.

Sebenarnya, niat Slamet dan Baryatin mendirikan usaha ini sebatas coba-coba. Tapi, hal itu malah berbuah manis lantaran Bebek H Slamet jadi restoran terfavorit hingga punya puluhan cabang hingga saat ini.

Saking terkenalnya, fakta-fakta tentang Bebek Slamet pun sudah banyak tersebar di pemberitaan. 

Berikut ini faktanya dikutip dari berbagai sumber: 

Fakta-fakta tentang Bebek Goreng H Slamet

Bebek Slamet
(Instagram/@bebek_goreng_solo)

1. Berawal dari bisnis sederhana yang dimulai dengan modal Rp 10.000

Seperti yang telah dijelaskan di atas Bebek Slamet ini dulunya didirikan hanya dengan modal yang minim yaitu Rp 10.000. 

Bahkan, usut punya usut dulunya cuma sebatas warung bebek kaki lima di dekat SMP Muhammadiyah Kartasura. 

Tapi, dia kemudian mulai membukanya jadi rumah makan kecil-kecilan di kediaman pribadinya di Jalan Sedahromo Lor, Kartasura. 

Saat ini rumah makan tersebut masih laris diburu oleh pengunjung, sekaligus menjadi pusat Bebek H Slamet. 

2. Kini punya cabang yang tersebar di berbagai kota 

Berkat kerja kerasnya, Bebek Slamet kini memiliki cabang di berbagai kota, gak cuma di Solo saja, tetapi juga ada di Bandung, Jogja, Malang, sampai Jakarta dengan jumlah total gerai mencapai ratusan. 

Saking suksesnya, banyak gerai-gerai lain yang mencoba untuk meniru Bebek Goreng H Slamet khas ini. 

3. Pak Slamet peduli terhadap lingkungan sekitar 

Meskipun kesulitan pernah menerpanya, Pak Slamet tidak pernah lupa untuk bersyukur. Dia kemudian mendirikan Yayasan Sunaran Kepanjangan Sudinoto Resike Lingkungan. 

Yayasan ini bergerak dibidang pengelolaan sampah lingkungan, yang keuntungannya dibagikan langsung ke anak yatim piatu dan janda tua. 

Sementara itu, Slamet juga memiliki Pondok Pesantren Tafidz Darussalam yang diisi oleh puluhan santri dari berbagai kalangan. Bagi santri yang tidak mampu, mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. 

Rahasia sukses Bebek Slamet 

Rahasia sukses Bebek Slamet
(Instagram/@bebek_goreng_solo)

Kira-kira, apa sih rahasianya pak Slamet dalam membangun bisnis rumahan modal kecil jadi besar seperti saat ini.

1. Gak asal pilih bahan baku

Cara pertama yang dilakukan pemilik bisnis rumahan modal kecil ini adalah menjaga kualitas produk. Jika produk andalan udah enak, maka orang-orang juga pasti suka.

Pak Slamet gak pernah meremehkan urusan yang satu ini. Daging yang dia pilih bukan bebek sembarangan. Kualitasnya harus yang bagus.

Kabarnya sih, pak Slamet menggunakan bebek yang sudah bertelur empat kali dalam rentang waktu kurang lebih dua tahun. Tekstur daging bebek seperti itu lebih lembut. Waktu digoreng rasanya bisa beda banget sama bebek lain.

Coba seandainya Pak Slamet memilih bebek muda, bisa-bisa dagingnya malah hancur saat direbus.

Kalau dagingnya saja sudah lembut dan enak, pengin dikasih bumbu apa saja pasti nikmat di lidah. 

Gitu juga sebaliknya. Kalau bebeknya aja alot atau keras, pengin seenak apa pun bumbunya, pasti gak bakal tuh disukai orang.

2. Bumbu yang konsisten

Pengin kulinernya dari Indonesia, Barat, Timur Tengah, atau bahkan Afrika sekali pun, kalau bumbunya gak konsisten, ya rasanya bakal berubah-ubah.

Nah, pak Slamet ini orang yang menjaga banget masalah bumbu. Dia gak mentolerir perubahan sedikit pun. Sambalnya saja ya gitu-gitu saja, tapi jelas enak. 

Bahan-bahannya cuma cabe rawit, bawang, garam, dan minyak jelantah. Sudah. Gak ada tambahan lain.

Meski terlihat sederhana dan aneh karena minyak jelantahnya, tapi malah itulah yang menjadi ciri khas dari Bebek Goreng H Slamet.

Coba seandainya Pak Slamet menambahkan rempah-rempah atau bahan lain. Bisa jadi lebih enak sih… tapi tetap aja itu bukan sambalnya Bebek Goreng H Slamet.

3. Gak usah buru-buru mewaralabakan bisnis

Banyak banget pengusaha bisnis rumahan modal kecil yang sukses karena mewaralabakan bisnisnya. Sebut aja Mbah Jingkrak, atau Ayam Bakar Mas Mono.

Menariknya, Bebek Slamet malah kurang “pro” sama ide ini. Jadi kalau kamu lihat outlet-outlet restoran ini di Rawamangun, Bintaro, atau wilayah-wilayah lain, mereka itu menggunakan sistem cabang.

Bapak tujuh anak itu pernah bilang kalau sistem waralaba alias franchise itu rumit. Daripada pusing-pusing mikirin sistemnya, ya mending buka cabang saja deh!

Namun, tentu saja perkara buka cabang juga gak bisa sembarangan. Harus ada bimbingan dulu dari kantor pusat ke cabang. 

Tujuannya, agar mereka bisa membikin menu-menu yang rasanya sama persis dengan restoran Bebek Goreng H Slamet di mana pun.

4. Punya pembeda dengan warung bebek lain

Seiring semakin populernya tempat makan ini, banyak yang kemudian membuka cabang abal-abal alias palsu. Mereka ngaku-ngaku restoran Bebek H Slamet, padahal ya gak ada hubungannya sama sekali.

Kok parah ya? Berani-beraninya pakai nama restoran lain biar dagangan mereka laris.

Tapi, ya itulah persaingan usaha yang berlangsung di Kartosuro pada saat itu. Mungkin saja mekanisme persaingan di Jakarta gak seperti ini, bisa jadi lebih parah atau njelimet.

Menanggapi itu, Slamet pun langsung mencantumkan kata “Asli” di kardus pembungkus dan di papan nama toko. 

Tentu saja warung-warung bebek goreng lainnya gak bakal kepikiran melakukan hal itu. Konsumen jadi gak bingung lagi soal mana yang asli dan palsu.

5. Harga sesuai dengan target pasar

Apakah ketika kita buka bisnis harganya harus murah biar cepet laris? Gak juga tuh. Ada kok yang murah tapi gak laku.

Bebek Goreng H Slamet mungkin harganya terjangkau karena mereka memang menargetkan segmen menengah. 

Bebek utuh saja harganya Rp 77 ribuan, lalu kalau pengin dada dan potongan daging lainnya bisa di bawah Rp 20 ribu.

Kalau pengin paketan juga bisa, paling cuma Rp 24 ribuan saja sudah cukup kenyang tuh. Murah gak menurutmu? Kalau menurutmu murah, enak, dan layak disambangi, ya berarti kamu adalah target pasar mereka.

Coba bandingin sama The Duck King. Ya bebeknya aja udah beda sih, bebek peking. Dan target pasarnya juga menengah ke atas.Kayak apa jadinya kalau The Duck King murah? Pasti orang bakalan ragu pengin beli bebek peking harga segitu.

Sementara itu, apa kabar kalau Bebek Goreng H Slamet harga menunya yang kecil saja Rp 80 ribu? Pasti gak ada yang pengin beli kan gara-gara kemahalan.

Itulah cara pak Slamet membesarkan bisnis rumahan modal kecil yang kini cabangnya udah di mana-mana.

Cerita Bebek Slamet membuktikan kalau sukses bisa diraih meski diawali dari bisnis rumahan modal kecil saja. Tentu, dengan menerapkan strategi yang mumpuni, bukan asal jualan. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →