Bos OVO Sebut Kurangi Promosi dan Bakar Uang hingga 50 Persen

President Director OVO Karaniya Dharmasaputra mengungkapkan, PT Visionet Internasional atau yang lebih dikenal dengan OVO, terus melakukan strategi marketing guna meningkatkan pengguna di Indonesia.

Tak hanya itu, OVO juga terus berupaya mendorong agar masyarakat Indonesia secara perlahan menggunakan uang digital dan digital payment sebagai salah satu metode pembayaran yang mudah, cepat, dan aman.

Menurut Karaniya, salah satu pangsa pasar digital payment yang sudah tumbuh subuh adalah sektor transportasi online atau ride hailing, dan e-commerce.

“Sekarang kita menyaksikan sebuah pasar sudah sangat mature. Tidak hanya didominasi oleh anak muda hingga yang berusia 40 tahun ke atas. Dengan basis konsumen yang semakin besar akan jadi basis yang baik untuk menjadikan perusahaan fintech memiliki bisnis yang berkesinambungan,” ujar Karaniya di Jakarta.

Namun demikina, Karaniya menegaskan, dalam mengejar pengguna digital payment di Indonesia tidaklah mudah, persaingan yang begitu ketat, membutuhkan strategi marketing yang tepat, salah satunya adalah promosi besar-besaran dengan membakar uang, dengan begitu kedepan pengguna meningkat, transaksi meningkat, dan perusahaan meraih profit.

“Perlahan kami percaya bisa hasilkan revenue ke tingkat profitability. Terus terang satu tahun ini kami potong budget marketing 50%. Apakah volume transaksi turun? Ternyata tidak. Budget marketing akan terus kami turuni. Tapi penggunanya terus tumbuh karena masyarakat sudah nyaman dan teredukasi,” paparnya.

Karaniya menambahkan, saat ini sudah terdapat 115 juta penggunduh di Indonesia, dan pengguna mencapai 87 juta orang, sdangkan aktif user mencapai 11 hingga 12 juta pengguna. Sedangkan dari sisi nilai transaksi terbesar dari e-commerce, kemudian ride hailing, dan food and beverage.

Baca juga: 4 Bos Startup Unicorn Tanah Air Ini Masuk Daftar Orang Terkaya RI

Bos OVO mengurangi bakar uang dan promosi

OVO
OVO memiliki banyak penikmatnya, (Ilustrasi/Shutterstock).

Sementara itu, sebelumnya  Pendiri sekaligus pemilik Lippo Group Mochtar Riady mengatakan, perusahaannya menjual dua pertiga saham. Sebab, perusahaannya tidak kuat jika harus memasok dana untuk strategi bakar uang secara berlebihan.

Menurut Mochtar, Lippo telah menjual dua pertiga dari kepemilikan sahamnya di perusahaan OVO. Saat ini, Lippo memiliki sisa sekitar 30 persen dari investasi awal yang telah disimpan perusahaan. 

“Bukan melepas, kami menjual sebagian. Sekarang mungkin tinggal 30 sekian persen, sepertiga. Jadi, dua pertiga(sahamnya) kami jual,” ucapnya.

Namun belakangan, Direktur Lippo Group, Adrian Suherman membantah kabar bahwa kemesraan OVO dan Lippo Group sedang berada di ujung tanduk.

“Berita-berita yang mengabarkan adanya rumor bahwa Lippo Group akan meninggalkan dan keluar dari OVO karena tidak sejalan dengan kebijakan marketing OVO. Hal tersebut sepenuhnya rumor sama sekali tidak benar dan tidak berdasarkan fakta,” ujar Adrian. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)