Cara Menghitung BPJS Ketenagakerjaan [Plus Simulasinya]

Cara menghitung BPJS Ketenagakerjaan

Cara menghitung BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK) bergantung pada besaran gaji karyawan. Semakin besar gaji karyawan, semakin besar pula potongan BPJS setiap bulannya. Nah, sebelum bahas lebih lanjut soal perhitungan iurannya, perlu dipahami bahwa BPJSTK bersifat wajib. 

Selain BPJSTK, jangan lupa untuk sisihkan sebagian gaji untuk asuransi ya. Salah satunya kamu bisa alokasikan untuk asuransi jiwa dengan pengembalian premi. Sebab, dana tersebut tidak hanya dapat dijadikan warisan tetapi juga dapat ditarik saat pensiun layaknya BPJSTK.

Pasalnya, sesuai Peraturan Pemerintah No.84 Tahun 2013 terkait Penyelenggaraan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), setiap perusahaan yang mempekerjakan 10 orang atau lebih atau membayarkan upah minimal Rp1 juta per bulan, wajib mendaftarkan pekerjanya dalam Program BPJS Ketenagakerjaan. 

Berikut ini besaran iuran dan cara menghitung BPJS Ketenagakerjaan 2020 berdasarkan jenis program yang tersedia: 

1. Jaminan Hari Tua (JHT)

Manfaat yang diberikan JHT berupa uang tunai yang berasal dari akumulasi iuran BPJS Ketenagakerjaan disertai bunga hasil pengembangan dana. Hasil ini tentunya diberikan secara sekaligus ketika peserta sudah memasuki usia pensiun (56 tahun), meninggal dunia, atau cacat total tetap. 

Besaran iuran Jaminan Hari Tua yang harus dibayarkan adalah 

  • Pekerja penerima upah 5,7 persen dari gaji
    • 2 persen dibayarkan oleh pekerja 
    • 3,7 persen dibayarkan oleh perusahaan
  • Pekerja bukan penerima upah 2 persen dari penghasilan yang dilaporkan
  • Pekerja migran Indonesia sebesar Rp105-600 ribu per bulan

Sinta memperoleh penghasilan setiap bulan sebesar Rp6 juta. Iuran yang harus dibayarkannya, yaitu:

Pekerja penerima upah

  • Perusahaan Sinta membayarkan: 3,7% x Rp6 juta = Rp222 ribu
  • Sinta membayarkan (potong gaji): 1% x Rp6 juta = Rp60 ribu

Pekerja bukan penerima upah:

  • Sinta membayarkan: 2% x Rp6 juta = Rp120 ribu

2. Jaminan Pensiun (JP)

Manfaat jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan diberikan secara berkala setiap bulannya seperti gaji. Hal inilah salah satu i perbedaan JHT dengan Jaminan Pensiun. Adapun fungsinya sudah memberikan jaminan pensiun agar tetap memiliki kehidupan yang layak ketika peserta memasuki usia pensiun atau mengalami cacat tetap total. 

Besaran iuran Jaminan Pensiun yang harus dibayarkan adalah 

  • Pekerja penerima upah 3 persen dari gaji
    • 1 persen dibayarkan oleh pekerja 
    • 2 persen dibayarkan oleh perusahaan

Sinta memperoleh penghasilan setiap bulan sebesar Rp6 juta. Maka, cara menghitung jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan untuk iurannya yaitu:

  • Perusahaan Sinta membayarkan: 2% x Rp6 juta = Rp120 ribu
  • Sinta membayarkan (potong gaji): 1% x Rp6 juta = Rp60 ribu

3. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Sesuai dengan namanya, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) memberikan santunan tunai jika peserta mengalami risiko kecelakaan kerja. Sementara untuk iuran JKK disesuaikan dengan risiko kerja. 

Besaran iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yang harus dibayarkan adalah 

  • Pekerja penerima upah 0,24 – 1,74 persen dibayarkan perusahaan. Sementara persentasenya tergantung dari besarnya risiko, seperti:
    • Tingkat risiko sangat rendah, sebesar 0,24 persen dari upah.
    • Tingkat risiko rendah, sebesar 0,54 persen dari upah.
    • Tingkat risiko sedang, sebesar 0,89 persen dari upah.
    • Tingkat risiko tinggi, sebesar 1,27 persen dari upah.
    • Tingkat risiko tinggi banget, sebesar 1,74 persen dari upah.
  • Pekerja bukan penerima upah 1 persen dari penghasilan yang dilaporkan.
  • Jasa konstruksi mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia sebesar Rp370 ribu.

Sinta memperoleh penghasilan setiap bulan sebesar Rp6 juta. Pekerjaan yang dijalankan oleh Sinta terhitung risiko rendah. Maka iuran yang harus dibayarkannya:

Pekerja penerima upah

  • Perusahaan Sinta membayarkan: 0,54% x Rp6 juta = Rp32.400

Pekerja bukan penerima upah

  • Sinta membayarkan: 1% x Rp6 juta = Rp60 ribu

Sementara cara menghitung BPJS Proyek jika nilai proyek Rp2 miliar

  • Jasa konstruksi harus membayarkan: 0,21% x Rp2 miliar = Rp4,2 juta

5. Jaminan Kematian (JK)

Manfaat Jaminan Kematian (JK) dari BPJS Ketenagakerjaan adalah memberikan santunan meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Santunan tunai atas jaminan kematian diberikan secara sekaligus kepada ahli waris. 

Besaran iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yang harus dibayarkan adalah 

  • Pekerja penerima upah 0,3 persen dari gaji yang dilaporkan dan dibayarkan perusahaan.
  • Bukan penerima upah Rp 6.800 per bulan.
  • Jasa konstruksi mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia Rp370 ribu.

Sinta memperoleh penghasilan setiap bulan sebesar Rp6 juta. Maka iuran yang harus dibayarkan setiap bulannya

Pekerja penerima upah:

  • Perusahaan Sinta membayarkan: 0,3% x Rp6 juta = Rp18 ribu

Sementara cara menghitung BPJS Proyek jika nilai proyek Rp2 miliar:

  • Jasa konstruksi harus membayarkan: 0,21% x Rp2 miliar = Rp4,2 juta

Pertanyaan Terkait BPJS Ketenagakerjaan

Pencairan dana JHT bisa dilakukan dengan memenuhi beberapa syarat. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 60 Tahun 2015. Berikut syarat pencairan dana untuk layanan JHT.

  • Pencairan JHT sebesar 10 persen dan 30 persen hanya bisa dilakukan untuk peserta yang masih bekerja, dengan syarat usia kepesertaan sudah menginjak 10 tahun. Sebanyak 10 persen untuk dana persiapan pensiun, sedangkan 30 persen untuk biaya perumahan.
  • Sementara pencairan hingga 100 persen hanya diperuntukan bagi peserta yang sudah resign atau PHK dengan memenuhi hal berikut ini.
    • Peserta harus menunggu minimal 1 bulan sejak keluar dari pekerjaan.
    • Harus memiliki paklaring.
    • Memiliki kartu BPJS Ketenagakerjaan.
    • Kepesertaan harus dalam keadaan nonaktif.
    • Membawa dokumen persyaratan pencairan.

  • Peserta yang sudah membayar iuran minimum 15 tahun atau 180 bulan akan mendapatkan uang tunai bulanan saat memasuki usia pensiun sampai meninggal dunia.
  • Ahli waris yang terdaftar juga akan mendapatkan uang tunai bulanan hingga meninggal dunia atau menikah lagi.
  • Peserta yang mengalami cacat karena kecelakaan kerja akan mendapatkan bantuan uang tunai bulanan dengan density rate minimal 80 persen.
  • Anak yang menjadi ahli waris peserta juga akan mendapatkan uang tunai bulanan sampai usia 23 tahun.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, peserta akan mendapatkan dana secara berkala setiap bulan dengan nilai maksimal mencapai 40 persen dari upah. Jadi, walaupun gak bekerja kamu tetap mendapat uang bulanan dari BPJS.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor. 82 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian:

  • Bantuan perawatan sesuai dengan kebutuhan medis dengan nilai tanpa batas.
  • Mendapat 48 kali upah untuk santunan kematian.
  • Ahli waris (anak) juga mendapatkan bantuan beasiswa sebesar Rp 12 juta untuk satu orang anak.
  • Jika terjadi kecelakaan kerja, perusahaan wajib membuat laporan kecelakaan dan mengirimnya kepada pihak BPJS Ketenagakerjaan tidak lebih dari 2x24 jam sejak terjadinya kecelakaan.

  • Mendapat bantuan biaya pemakaman senilai Rp3 juta
  • Diberikan dana senilai Rp4,8 juta selama 24 bulan yang diberikan sekaligus.
  • Ahli waris mendapatkan uang tunai senilai Rp36 juta.
  • Sama seperti JKK, satu orang anak sebagai ahli waris akan mendapat beasiswa sebesar Rp12 juta.
  • Terakhir ahli waris mendapatkan santunan senilai Rp6,2 juta.

Cara menghitung saldo BPJS Ketenagakerjaan terbagi menjadi dua kategori, yaitu Jaminan Pensiun (JP) dan Jaminan Hari Tua (JHT).

Untuk Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan adalah maksimal sebesar 40 persen dari gaji. Jadi, perhitungan pencairan BPJS Ketenagakerjaan jika gaji yang dilaporkan Rp6 juta maka, jaminan pensiun yang bisa kamu dapatkan maksimal Rp2,4 juta per bulan.

Sementara untuk cek saldo Jaminan Hari Tua (JHT), ada beberapa metode yang bisa kamu pilih. Di antaranya, yaitu:

  • Lewat situs resmi BPJS Ketenagakerjaan
  • Lewat aplikasi BPJSTKU Mobile
  • Lewat SMS
  • Lewat ATM
  • Datang langsung ke kantor BPJS Ketenagakerjaan

  • Datang langsung ke kantor pusat/cabang BPJS Ketenagakerjaan
  • Melalui ATM Bank Mandiri, BRI, dan BNI

Cara bayar iuran melalui ATM yang telah bekerjasama dengan BPJSTKU:

  1. Lakukan pendaftaran EPS BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan kode iuran
  2. Kunjungi ATM Mandiri, BNI, atau BRI terdekat
  3. Masukkan kartu ATM dan PIN
  4. Pilih Bayar/Beli
  5. Pilih BPJS → BPJS Ketenagakerjaan
  6. Pilih e-Payment (EPS BPJS Ketenagakerjaan)
  7. Masukkan kode iuran yang berstatus UNPAID dan pilih Benar
  8. Pastikan kode iuran, nama perusahaan, dividi, npp, bulan iuran, dan total iuran sudah benar
  9. Pilih nomor 1 → Ya/Yes
  10. Jika sukses layar ATM akan menunjukkan BPJS Ketenagakerjaan kamu berstatus PAID
  11. Untuk memastikan pembayaran berhasil dilakukan, lakukan Log In di akun EPS kamu. Kemudian cek, apakah status BPJSTKU berganti menjadi PAID.

Pembayaran BPJS Ketenagakerjaan harus dilakukan setiap bulannya paling lambat tanggal 15 oleh perusahaan. Jika terlambat makan akan dikenakan denda dua persen pada setiap bulan keterlambatan.

Jadi, misal kamu memiliki gaji Rp5 juta nett kemudian perusahaan terlambat membayarkan iuran selama 2 bulan. Maka, denda yang dikenakan

2% x Rp5 juta x 2 bulan = Rp200 ribu

Ada sanksi tersendiri bagi perusahaan yang tidak mendaftarkan pekerjanya ke BPJS Ketenagakerjaan. Begitupun dengan peserta yang tidak membayarkan atau memungut iuran BPJS Ketenagakerjaan.

Bagi perusahaan, sanksinya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 86 tahun 2013 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administrasi Kepada Pemberi Kerja.

Sanksinya berupa teguran tertulis, denda tidak mendapat pelayanan publik, tidak dapat perizinan usaha, tidak bisa ikut tender proyek, sampai tidak diizinkan mempekerjakan tenaga kerja asing.

Sementara untuk individu yang tidak membayarkan atau memungut iuran BPJS Ketenagakerjaan, bisa dikenai pidana penjara paling lama delapan tahun atau pidana denda paling tinggi sebesar Rp 1 Miliar sesuai UU No. 24 tahun 2011 pasal 55.

Sekarang udah tahu kan bagaimana cara menghitung BPJS Ketenagakerjaan tiap bulan untuk dapat menikmati program dari BPJS Ketenagakerjaan? Jadi tentu saja berbeda dengan cara menghitung BPJS Kesehatan.

Untuk mendapatkan proteksi maksimal, kamu juga bisa melengkapi jaminan hari tua atau pensiun dengan asuransi orang tua. Dengan begitu, santunan yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan tidak akan terganggu ketika mengalami risiko kesehatan sekalipun.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →