Cara Menghitung Iuran BPJS Ketenagakerjaan Per Bulannya

cara menghitung bpjs ketenagakerjaan

Iuran BPJS Ketenagakerjaan dipotong setiap bulan dari gaji kamu. Potongan setiap karyawan pun berbeda-beda, tergantung besaran gaji yang mereka peroleh.

Semakin besar gajimu, semakin besar pula potongan BPJS setiap bulannya. Tapi, gak masalah, toh BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK) memang bertujuan untuk memberi jaminan hari tua bagi para penerima upah dan bukan penerima upah.

Iuran yang kamu bayarkan setiap bulan itu nantinya dapat kamu cairkan dengan syarat jika sedang tidak bekerja atau menganggur.

Gak heran, banyak orang saat tidak bekerja mengurus BPJS untuk mencairkan dana. Namun, ada juga yang didiamkan untuk simpanan di hari tua nanti.

Untuk menikmati fasilitas tersebut, tentu kamu harus menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan terlebih dahulu yang memang biasanya sudah diurusi perusahaan tempatmu bekerja.

Meski begitu, iuran BPJS Ketenagakerjaan itu tidak semuanya ditanggung pekerja lho! Sebagian dipotong dari gaji karyawan, dan sebagiannya lagi dari perusahaan.

Nah, buat kamu yang penasaran berapa sih iuran BPJS Ketenagakerjaan yang harus dibayarkan setiap bulan dan bagaimana cara menghitungnya, langsung aja yuk simak ulasan lengkapnya di sini:

Besaran iuran BPJS Ketenagakerjaan setiap bulan

BPJS Ketenagakerjaan
Besaran iuran BPJS Ketenagakerjaan setiap bulan (Instagram/@bpjs.ketenagakerjaan)

Seperti yang sudah dijelaskan sekilas di atas, iuran BPJS setiap orang itu berbeda-beda, tergantung dari gaji yang didaftarkan pihak perusahaan ke BPJS.

Selain itu, BPJS TK memiliki empat program utama yang jumlah persentase iurannya juga berbeda. Berikut, besaran iuran BPJS dari empat program yang ditawarkan, seperti dikutip dari BPJS Ketenagakerjaan.

1. Jaminan Hari Tua (JHT)

  • Penerima upah: sebesar 5,7 persen per bulan dari upah yang dilaporkan dengan pembagian 2 persen dari upah pekerja dan 3,7 persen dari perusahaan.
  • Bukan penerima upah: sebesar 2 persen per bulan dari penghasilan yang dilaporkan.
  • Pekerja migran Indonesia: sebesar Rp 105 ribu hingga Rp 600 ribu per bulan.

2. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

  • Penerima upah: 0,24 persen hingga 1,74 persen. Buat fasilitas yang bakal dibayarkan oleh pemberi kerja atau perusahaan dengan persentasi yang berbeda-beda tergantung dari besarnya risiko, seperti:
    • Tingkat risiko rendah banget, sebesar 0,24 persen dari upah.
    • Tingkat risiko rendah, sebesar 0,54 persen dari upah.
    • Tingkat risiko sedang, sebesar 0,89 persen dari upah.
    • Tingkat risiko tinggi, sebesar 1,27 persen dari upah.
    • Tingkat risiko tinggi banget, sebesar 1,74 persen dari upah.
  • Bukan penerima upah: sebesar 1 persen dari penghasilan yang dilaporkan.
  • Jasa konstruksi: mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia: sebesar Rp 370 ribu.

3. Jaminan Kematian (JKM)

  • Penerima upah: 0,3 persen dari upah yang dilaporkan dan dibayarkan oleh pemberi kerja atau perusahaan.
  • Bukan penerima upah: Rp 6.800 per bulan.
  • Jasa konstruksi: mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia: Rp 370 ribu.

4. Jaminan Pensiun (JP)

Fasilitas yang satu ini cuma ditujukan untuk pekerja penerima upah dengan membayar iuran setiap bulan sebesar 1 persen dari pekerja, dan 2 persen dari perusahaan.

Kali ini, Lifepal ingin membahas lebih lanjut program Jaminan Pensiun BPJS TK yang belum banyak diketahui orang:

Seperti yang dikutip dari situs BPJS Ketenagakerjaan, jaminan pensiun merupakan salah satu jaminan sosial yang bertujuan agar peserta BPJS yang sudah memasuki usia pensiun maupun mengalami cacat tetap mendapatkan kehidupan yang layak.

Ada beberapa manfaat yang ditawarkan lewat program satu ini, yaitu:

  • Peserta yang sudah membayar iuran minimum 15 tahun atau 180 bulan akan mendapatkan uang tunai bulanan saat memasuki usia pensiun sampai meninggal dunia.
  • Ahli waris yang terdaftar juga akan mendapatkan uang tunai bulanan hingga meninggal dunia atau menikah lagi.
  • Peserta yang mengalami cacat karena kecelakaan kerja akan mendapatkan bantuan uang tunai bulanan dengan density rate minimal 80 persen.
  • Anak yang menjadi ahli waris peserta juga akan mendapatkan uang tunai bulanan sampai usia 23 tahun.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, peserta akan mendapatkan dana secara berkala setiap bulan dengan nilai maksimal mencapai 40 persen dari upah. Jadi, walaupun gak bekerja kamu tetap mendapat uang bulanan dari BPJS.

Simulasi cara menghitung iuran BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan
Simulasi perhitungan dana pensiun BPJS Ketenagakerjaan (Instagram/@bpjs.ketenagakerjaan)

Untuk menghitung iuran BPJS Ketenagakerjaan, gunakan rumus: persentase iuran program BPJSTK x upah (gaji) per bulan.

Contoh perhitungan iuran JHT BPJS Ketenagakerjaan:

Sinta memperoleh penghasilan setiap bulan sebesar Rp 10 juta. Iuran yang harus dibayarkan Sinta yaitu:

  • Iuran JHT: 5,7 persen x Rp 10.000.000 = Rp 570.000

Iuran JHT Sinta yang sebesar Rp 570 ribu berasal dari perusahaan sebesar 3,7 persen dan potongan dari gaji sebesar 2 persen dengan perincian:

  • Iuran JHT dari perusahaan Sinta: 3,7 persen x Rp 10.000.000 = Rp 370.000
  • Iuran JHT dari gaji Sinta: 2 persen x Rp 10.000.000 = Rp 200.000

Gimana, sekarang udah tahu kan bagaimana cara menghitung iuran BPJS Ketenagakerjaan tiap bulan untuk dapat menikmati program jaminan pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan? Semoga membantu! (Editor: Chaerunnisa)