Buat Pasangan Muda, Jangan Malas Diskusi 6 Hal Tentang Keuangan Pengantin Baru

Keuangan Pengantin Baru

Selamat dulu deh yang barusan jadi pengantin. Seru kan? Sekarang udah ada yang nemenin bobo, suap-suapan pas makan, terus nonton teve sambil peluk-pelukan tanpa takut digeruduk hansip.

Eh tapiiii, masa-masa indah itu paling banter tiga bulan. Setelah itu mesti sadar masih hidup di dunia nyata. Mumpung masih anget suasana bulan madu-nya, buru-buru deh bahas keuangan pengantin baru.

[Baca: Jurus Kelola Keuangan Biar Makin Makmur Usai Menikah]

Maklum deh, masalah uang bisa jadi pemicu konflik sama pasangan. Makanya perlu dibahas. Enaknya bahas di tempat tidur dan sambil kelonan. Kan asyik tuh!

Kenapa masalah uang wajib dibahas pengantin baru? Ya pastinya setelah status berubah jadi tuan dan nyonya, praktis bakal ada transisi kebiasaan mengatur uang sendiri-sendiri jadi keroyokan bareng pasangan.

Ketika sudah menikah, hukumnya kudu blak-blakan soal uang. Semua mesti dibahas dengan rinci sampai akar-akarnya. utamanya diawali dengan kondisi keuangan masing-masing. Berapa gaji, utang, tabungan, atau aset yang dimiliki.

Enggak perlu kikuk bahas beginian. Istilah tiada dusta di antara kita wajib diterapkan di sini. Lagi pula keterbukaan soal keuangan kepada pasangan adalah indikator kualitas hubungan yang sehat.

Yang tak kalah penting, setelah menikah maka secara otomatis masa depan menjadi milik bersama. Termasuk juga mengambil keputusan keuangan pun dilakukan bersama-sama. Entah itu beli rumah, kendaraan, asuransi keluarga, sampai berinvestasi.

Biar ngobrol sama pasangan enak dan smooth, silakan ikuti daftar di bawah ini.

Keuangan Pengantin Baru
Mau ngopi ada yang bikinin, mau makan ada yang masakin. Duh, berasa jadi raja dan ratu ya…

1. Utang

‘Uang mu adalah uang ku’. Itu hukum tak tertulis pasangan yang menikah. Tapi jangan lupakan juga hukum ‘Utang mu adalah utang ku.’ Itu baru adil namanya.

Artinya, terus terang soal utang bisa jadi topik pertama yang dibahas. Meski utang itu terjadi sebelum menikah, tapi tetap saja menjadi beban berdua ketika sudah berkeluarga.

Pembahasan utang menjadi penting mengingat bakal berdampak pada keuangan keluarga. Jauhi niat untuk menyembunyikan karena bakal bermasalah di kemudian hari.

Utang di sini bisa bermacam-macam. Mulai dari kartu kredit, KTA (kredit tanpa agunan), sampai iuran arisan bulanan. Kemudian buatlah konsensus bersama untuk menyelesaikan utang tersebut.

[Baca: Biar Enggak Terjerembab ke Jurang Utang Kartu Kredit]

2. Beli rumah

Seorang istri tentunya ingin menjadi ratu di rumahnya sendiri. Tentu ini jadi isu krusial jika pasangan memutuskan ingin tinggal di rumah orangtua sementara waktu.

Alhasil, penting sejak awal untuk membahasnya. Pikirkan juga kemampuan keuangan ketika memutuskan beli rumah baik secara kredit maupun tunai.

Jangan lupa masukkan kemungkinan kehadiran buah hati. Dikalkulasi sejauh mana dampak kehadiran buah hati terhadap kemampuan keuangan.

Keuangan Pengantin Baru
Mau punya momongan berapa? Satu? Dua? Tiga? Rencanakan dengan matang ya!

3. Rencanakan jumlah buah hati

Program Keluarga Berencana (KB) esensinya bukan membatasi jumlah anak, tapi lebih pada tujuan agar kesejahteraan tercapai. Silakan saja punya anak banyak sepanjang ditopang dengan kemampuan finansial.

Sayangnya, tujuan finansial tak hanya berurusan dengan anak. Masih ada tujuan lain yang hendak dicapai yang menuntut uang dalam jumlah besar. Menentukan jumlah anak sejak dini pasti berpengaruh dengan tujuan finansial yang lain.

4. Berinvestasi

Ini bisa jadi topik yang paling panjang bahasnya. Bisa jadi berhari-hari atau berminggu-minggu. Wajarlah mengingat pandangan cowok sama cewek beda soal investasi.

Kalau cewek rata-rata sih yang rada aman-aman saja. Misalnya beli  emas, aset, atau investasi yang pasti-pasti tanpa risiko tinggi. Beda sama cowok yang mungkin suka dekat dengan risiko.

[Baca: Jangan Pernah Tunda Investasi Kalau Bisa Sekarang]

Jadi tinggal cari kesepakatan bersama saja soal ini. Ambil keputusan yang win-win solution. Toh hasil dan risiko dari investasi itu dinikmati dan ditanggung bersama.

Di samping itu, investasi ini juga bisa dimaksudkan sebagai modal menikmati hari tua nanti bersama pasangan. Ya enggak!

5. Siapa yang bekerja

Hidup di kota besar kaya Jakarta, mau enggak mau mesti ditopang ‘dua gardan.’ Maksudnya suami dan istri mesti sama-sama kerja kalau ingin hidup makmur.

Keuangan Pengantin Baru
Laki-laki jangan merasa tersaingi ya kalau sang Istri juga bekerja

Topik ini juga bisa panjang bahasnya. Urusannya bukan sekadar berapa duit yang bisa dibawa pulang sehingga memudahkan tercapainya tujuan keuangan, tapi juga menyangkut hak dan kewajiban di rumah.

Kebanyakan sih istri yang mengalah. Berhenti dari pekerjaan dan jadi stay at home. Cuma tuntutan ‘dua gardan’ bisa diakali dengan menjadi mompreneur. Bekerja di rumah juga bisa menghasilkan duit kok.

[Baca: 5 Strategi Tetap Produktif Kerja dari Rumah]

6. Pensiun

Setiap pasangan pasti ingin hidup bersama sampai kakek-nenek. Till dead do us apart, begitu kata judul lagu White Lion. So, pasangan yang cerdas sejak awal sudah bahas ini.

Dari mana sumber dana untuk living cost ketika anak-anak sudah mandiri, apa saja yang ingin dilakukan di hari tua, dan lain sebagainya. Semuanya itu tentu menjadi tujuan finansial yang mesti dibahas sejak dini.

Kira-kira itu topik yang mesti diobrolkan dengan pasangan. Jangan anggap ini obrolan berat. Santai dan tetap cair saja ketika berdiskusi. Ketika ada perdebatan wajar. Toh ini sama saja menyatukan dua kepala yang berbeda. Eh, disarankan tetap di tempat tidur ya bahasnya biar sambil beasyik-masyuk.

Image credit:

  • http://bersamadakwah.net/wp-content/uploads/2014/12/Muslimah-bekerja-onislam.jpg
  • http://pesta-pernikahan.com/Assets/upload/Untitled.jpg
  • http://cdn.klimg.com/fimela.com/resources/real/2015/06/09/10309/.jpg
Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →