Cara Investasi Saham bagi Pemula [Plus Tips Belajar Saham]

Cara investasi saham di aplikasi

Masih banyak yang belum paham soal cara investasi saham yang baik. Padahal, investasi ini bisa sangat menguntungkan, meski risikonya tinggi.

Pernahkah kamu mendengar cerita tentang Lo Kheng Hong, seorang investor ternama yang kerap disapa Warren Buffettnya Indonesia? 

Di tahun 2005, Lo membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) dengan harga Rp 250 per lembar. Dia pun melakukan akumulasi saham pelan-pelan hingga akhirnya terkumpul 8,29 persen dari total saham MBAI di portofolionya. 

Setelah enam tahun dia menyimpan saham itu, saham MBAI pun terbang hingga jadi Rp 31.500 per lembar. Bayangin aja pak Lo untung 12.500 persen! 

Berhubung dia punya 75 juta lembar saham, maka kekayaannya langsung melonjak dari Rp 2 triliunan. 

Apakah kamu ingin berinvestasi dan mendapatkan keuntungan di atas 10 ribu persen? Bohong banget kalau sampai gak mau.

Investasi saham tentu bisa menjadi sarana untuk mewujudkan cita-citamu yang satu ini. Karena dengan membeli saham, kamu sama saja dengan membeli perusahaan yang bersangkutan.

Khusus buat pemula yang ingin memulai investasi saham, yuk kenalan lebih lanjut sama investasi ini.

Cara investasi saham bagi pemula secara online

Jangan hanya taruh dana investasimu di satu portofolio saham saja. Untuk bisa memulai investasi saham, ada langkah-langkah yang harus kamu tempuh. Berikut ini langkah-langkah cara investasi saham.

  • Pilih perusahaan sekuritas
  • Sertakan dokumen yang disyaratkan
  • Setor dana ke RDN
  • Unduh aplikasi untuk beli saham
  • Transaksi saham
  • Settlement

1. Pilih perusahaan sekuritas

Pilih perusahaan sekuritas untuk membuka rekening efek dan rekening dana nasabah (RDN).

Rekening efek atau rekening saham digunakan untuk menyimpan saham yang kamu miliki. Sementara itu, RDN digunakan sebagai rekening untuk menyimpan uang yang ditransaksikan untuk jual beli saham.

RDN dikelola oleh bank, dan sejauh ini ada 16 bank yang telah bekerja sama dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Pilihlah perusahaan sekuritas yang memiliki kinerja baik. Tapi ingat, kamu harus perhatikan perusahaan sekuritas tersebut sudah diawasi oleh OJK atau belum. 

2. Sertakan dokumen yang disyaratkan

Agar rekening saham jadi, kamu harus menyertakan dokumen-dokumen yang disyaratkan. Apa saja?

  • KTP
  • NPWP
  • Fotokopi Buku Tabungan
  • Materai 6 ribu 

Berkas-berkas ini harus dikirimkan beserta formulir pendaftaran ke kantor perusahaan sekuritas. Setelah itu, permohonan RDN dan rekening efekmu akan diproses.

3. Setor dana ke RDN

Setelah rekening jadi, kamu diharuskan untuk memasukkan dana. Dana itulah yang kemudian nanti kamu gunakan untuk membeli saham. 

4. Unduh aplikasi untuk beli saham

Selanjutnya, kamu bisa mengunduh aplikasi trading saham yang tersedia di Google Play Store atau Apple Store. Semua sekuritas pasti memiliki aplikasi ini yang memudahkan nasabahnya untuk membeli dan menjual saham. 

5. Transaksi saham

Perlu dicatat, pasar saham hanya melayani pembelian dan penjualan dari hari Senin-Jumat. Untuk sesi I berlangsung pada pukul 09.00 hingga 12.00.

Sementara itu sesi II berlangsung pada pukul 13.30 hingga 16.00, hanya saja ketika hari Jum’at dimulai pukul 14.00.

Jumlah minimal saham yang kamu beli adalah 1 lot atau 100 lembar. Jadi seandainya harga saham itu adalah Rp 300 perak per lembar, uang yang kamu gunakan untuk membelinya adalah Rp 300 x 100 = Rp 30 ribu (belum termasuk biaya transaksi sekuritas)

Ada beberapa istilah yang harus kamu ketahui seputar transaksi saham. Istilah ini bakal kamu temukan di aplikasi trading saham.

a. Buy dan sell

Jelas sekali, menu ini kamu gunakan untuk melakukan pembelian atau penjualan saham. Baik menjual atau membeli, kamu akan diminta memasukkan jumlah lot yang ingin kamu jual serta harganya.

Jika kamu ingin membeli di harga di bawah harga pasaran saat itu, masukkan saja nominal harganya di kolom. Begitu pula jika kamu ingin menjualnya di harga pasaran.

Ketika ada investor lain yang membeli atau menjual saham incaranmu dengan harga yang kamu masukkan, maka saham itu langsung masuk ke dalam portofoliomu.  

b. Bid dan Offer

Dalam transaksi saham ada istilah bid dan offer. Kedua tulisan ini terlihat tepat di bawah harga saham dari perusahaan, dan bentuknya seperti kolom.

Transaksi saham memang mirip dengan transaksi di pasar. Harga pasarannya tertera di atas, namun banyak penjual yang menetapkan harga tinggi, dan pembeli yang ingin menawar dengan harga murah.

Jika kamu memang ingin menunggu dan membeli di harga murah, harga penawaranmu akan masuk kolom bid. Sementara itu jika ingin langsung dapat sahamnya, beli saja dengan harga yang tertera di kolom offer.

6. Settlement

Penyelesaian transaksi di bursa adalah T+2. Apa maksudnya?

Artinya adalah ketika kamu menjual saham, dalam dua hari setelah transaksi berlangsung, pihak sekuritas akan mentransfer uangnya ke RDN. Jika uang sudah ada di RDN maka bisa ditarik ke rekening pribadi.

Buka rekening saham online di 8 perusahaan sekuritas terpercaya ini

Kamu bisa membuka rekening saham online di perusahaan-perusahaan sekuritas berikut ini.

Perusahaan Sekuritas Website Deposit Awal Biaya Transaksi
BNI Sekuritas www.bnisekuritas.co.id/onlinetrading/registrasi Rp1 Juta Buy: 0,17%

Sell: 0,27%

Indo Premier Sekuritas www.indopremier.com/lpregister Tidak ada minimum deposit Buy: 0,19%

Sell: 0,29%

Mirae Asset Sekuritas open.miraeasset.co.id/id Rp3 Juta – Rp10 Juta Buy: 0,15%

Sell: 0,25%

MNC Sekuritas www.mncsekuritas.id/opening_account/2 Rp100 Ribu – Rp2 Juta Buy: 0,18%

Sell: 0,28%

Mandiri Sekuritas register.most.co.id/ Rp5 Juta – Rp10 Juta Buy: 0,18%

Sell: 0,28%

Panin Sekuritas register.pans.co.id Rp10 Juta Buy: 0,20%

Sell: 0,30%

Philip Sekuritas Indonesia www.poems.co.id/Home/OpenAccount Rp100 Ribu – Rp1 Juta Buy: 0,18%

Sell: 0,28%

RHB Sekuritas Indonesia rhbtradesmart.co.id/e-form Rp200 Juta Buy: 0,15%

Sell: 0,25%

Apa itu saham?

Sebelum membahas soal cara investasi saham untuk pemula, ketahui dulu apa sih yang di namakan dengan saham.

Saham adalah surat berharga sebagai instrumen bukti kepemilikan atau penyertaan dari individu atau institusi dalam suatu perusahaan. Saham merupakan salah satu instrumen investasi di pasar modal. 

Itulah sebabnya, meski kamu memiliki saham sebuah perusahaan sebanyak satu lembar saja, kamu sudah bisa dikatakan sebagai pemilik perusahaan. Lantas apa perbedaan saham dan obligasi? Obligasi kan surat berharga juga? 

Perbedaan saham dan obligasi

Jika kamu pernah membaca artikel di media massa soal kekayaan pejabat, maka seringkali disebutkan bahwa pejabat itu memiliki surat berharga senilai ratusan juta atau miliaran Rupiah.

Aset keuangan itu tentu saja bisa berupa saham atau obligasi. Namun kedua aset itu sama sekali gak bisa disamakan. Berikut perbedaan saham dan obligasi.

Saham  Obligasi
Sifat Penyertaan  Utang
Jangka waktu Tak terbatas Terbatas (ada jatuh tempo)
Keuntungan Capital gain dan dividen Bunga dan capital gain
Hak suara Ada Tidak ada

Apakah investasi saham sama dengan asuransi investasi?

Pada dasarnya, asuransi dan investasi itu berbeda. Asuransi bertujuan memberikan proteksi keuangan sekaligus meminimalkan risiko yang dapat mengurangi nilai kekayaan.

Sementara investasi bertujuan mengakumulasikan kekayaan sekaligus menghasilkan keuntungan. Namun, ada asuransi yang ditawarkan sebagai proteksi sekaligus investasi, yaitu asuransi unit link.

Keuntungan investasi saham

Seperti dijelaskan di tabel di atas, keuntungan dari investasi saham adalah dividen dan capital gain. Apa maksudnya?

1. Dividen

Dividen adalah pembagian keuntungan atau laba kepada kita sebagai pemegang saham. 

Biasanya dividen dibagikan per kuartal, atau bisa dibagikan per tahun. Besarannya tergantung dari kebijakan perusahaan itu sendiri.

Ada dua jenis dividen, yaitu dividen tunai dan dividen saham:

  • Dividen tunai artinya perusahaan memberikan uang tunai untuk setiap lembar saham kepada pemegang saham.
  • Dividen saham artinya dividen yang diberikan perusahaan berupa saham, jadi jumlah saham yang dimiliki investor akan bertambah.

2. Capital gain

Capital gain adalah sebuah kenaikan dari nilai atau harga sebuah saham. Keuntungan ini baru bisa kamu dapatkan ketika saham yang kamu pegang dijual, dengan harga yang lebih tinggi dari harga waktu kamu membelinya. Selisih di antaranya dan itulah keuntunganmu.

3. Hak kepemilikan saham

Dengan berinvestasi saham, kamu dapat menjadi bagian dari salah satu pemilik bisnis. Pemegang saham juga punya hak untuk menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

4. Pelaporan informasi yang transparan

Pengelolaan dan pengaturan di pasar saham dilakukan dengan baik dan transparan. Mulai dari penilaian, penetapan harga, hingga laporan keuangan.

Kekurangan investasi saham

Investasi ini seringkali disebut sebagai investasi tinggi risiko. Kira-kira kerugian investasi saham itu apa aja ya?

1. Capital loss

Capital loss adalah kebalikan dari capital gain, yaitu nilai saham yang dipegang investor akan turun karena terjadi fluktuasi bursa. Kerugian ini baru akan dialami ketika investor menjual sahamnya yang sedang mengalami capital loss.

2. Suspend

Risiko lain dari investasi saham adalah, saham yang kita miliki terkena suspend atau diberhentikan perdagangannya oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penyebab suspend itu beragam, namun umumnya disebabkan karena adanya kasus yang cukup serius yang melibatkan perusahaan yang menerbitkan sahamnya di bursa.

Kondisi tersebut membuat investor tidak dapat menjual atau membeli saham saham tersebut sampai suspensi dicabut.

3. Delisting

Kalau yang ini adalah risiko di mana sebuah saham telah dihapuskan dalam pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Usai delisting, saham gak akan bisa ditransaksikan lagi. Status perusahaan yang telah delisting biasanya tetap menjadi perusahaan publik hanya saja sahamnya gak lagi tercatat di BEI.

4. Likuditas

Saham memang likuid, namun jangan salah lho ada juga yang gak likuid karena saham tersebut memang kurang diminati investor. 

Jenis saham beserta karakteristiknya

Di bawah ini jenis-jenis saham serta sifat dan karakteristiknya yang perlu kamu pahami agar tambah paham dalam berinvestasi.

  • Growth Stocks
  • Income stock
  • Growth (moderate) dan income stock
  • Defensive stock
  • Cyclical stock
  • Speculative stock
  • Small and middle caps stocks

1. Growth Stocks

Saham ini adalah saham dari perusahaan yang tingkat penjualan dan pendapatan yang lebih cepat atau tinggi. Mereka menitik beratkan fokusnya pada penelitian dan pengembangan produk, dan mengalokasikan hampir keseluruhan dari pendapatan perusahaan ke dalam ekspansi masa depan.

Umumnya, perusahaan yang sahamnya digolongkan sebagai growth stock jarang membayar dividen atau cuma membayarnya dalam jumlah kecil karena ketimbang bagi-bagi dividen, mending dimanfaatkan untuk pengembangan usaha di masa depan.

Investor melirik saham ini karena capital gainnya yang berpotensi meroket di masa depan.

2. Income stock

Income stock adalah kebalikan dari growth stock. Saham ini terkenal karena sering membagikan dividen ke pemegang sahamnya. 

3. Growth (moderate) dan income stock

Kalau yang ini adalah saham yang karakteristiknya gabungan antara nomor satu dan dua. Pertumbuhannya diprediksi signifikan, tapi gak pelit soal dividen.

4. Defensive stock

Saham ini sering diasumsikan sebagai saham yang aman dan nilainya stabil, khususnya ketika kondisi perekonomian sedang kurang baik. Saham industri makanan atau consumer goods sering dikategorikan sebagai defensive stock.

5. Cyclical stock

Saham ini nilainya cukup mengalami fluktuasi tajam karena mengikuti perkembangan siklus bisnis dan industrinya. Contohnya adalah saham perusahaan otomotif atau manufaktur.

6. Speculative stock

Speculative stock adalah saham yang memberikan peluang spekulatif pada pemegangnya.

Saham-saham jenis ini disinyalir bisa memberikan keuntungan yang besar pada saat saham-saham lain sedang menurun, tapi bisa juga memberikan hasil yang berlawanan hanya dalam waktu yang singkat. 

7. Small and middle caps stocks

Karakteristik saham ini mirip dengan speculative stocks yaitu memberi peluang spekulatif. Namun, saham ini diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil. 

Sejumlah studi menyatakan bahwa, saham-saham ini bisa saja memberikan imbal hasil yang sangat tinggi daripada saham dengan nilai kapitalisasi pasar yang lebih besar.

Apa itu indeks harga saham?

Dalam investasi saham, nilai indeks harga saham kerap menjadi suatu hal yang diperhatikan para investor setiap hari. 

Indeks harga saham adalah salah satu indikator yang menunjukkan kinerja harga saham-saham yang menjadi pembentuk indeks tersebut. Pernah dong dengar istilah IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan?

Nah, indeks itu digunakan sebagai indikator pergerakan seluruh harga saham di BEI. Berikut ini daftarnya.

  • Indeks Sektoral BEI
  • Indeks LQ45
  • Jakarta Islamic Index (JII)
  • Kompas100
  • Bisnis27
  • Pefindo25
  • SRI-KEHATI
  • IDX Value30
  • IDX Growth30
  • IDX High Dividend20
  • IDX BUMN20
  • JII70
  • IDX SMC Composite
  • IDX SMC Liquid
  • IDX30
  • MNC36
  • Investor33
  • Infobank15
  • Indeks Papan Utama
  • Indeks Papan Pengembangan
  • Indeks Pefindo i-Grade
  • ISSI
  • IDX80

1. Indeks Sektoral BEI

Selain IHSG ada pula indeks sektoral di BEI. Indeks ini bisa dikatakan sebagai sub-indeks dari IHSG. Jadi, BEI membuat indeks lagi dengan mengklasifikasikan saham-saham sesuai dengan industrinya. 

Secara garis besar, indeks sektoral ini dibagi dua, yaitu:

  • Sektor primer, terdiri dari Sektor 1 (pertanian), sektor 2 (pertambangan), sektor 3 (industri dasar dan kimia), sektor 4 (aneka industri), dan sektor 5 (barang konsumsi).
  • Sektor tersier, sektor 6 (properti dan real estate), sektor 7 (transportasi dan infrastruktur), sektor 8 (keuangan), dan sektor 9 (perdagangan, jasa, dan investasi)

2. Indeks LQ45

Indeks saham di BEI yang berisi 45 saham-saham yang dinilai likuid, yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria sahamnya cenderung baik dan tumbuh. 

3. Jakarta Islamic Index (JII)

Indeks yang berisi 30 emiten berkriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK), dan memiliki kapitalisasi besar serta likuiditas tinggi. 

4. Kompas100

Berisi 100 emiten yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar versi Harian Kompas.

5. Bisnis27

Berisi 27 emiten yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu dan merupakan kerja sama antara PT Bursa Efek Indonesia dengan Harian Bisnis Indonesia. 

6. Pefindo25

Indeks berisi emiten yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu dan merupakan kerja sama antara PT Bursa Efek Indonesia dengan lembaga rating PEFINDO. 

7. SRI-KEHATI

Berisi 25 emiten yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu dan merupakan kerja sama antara PT Bursa Efek Indonesia dengan Yayasan KEHATI. 

8. IDX Value30

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.

9. IDX Growth30

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki tren harga relatif terhadap pertumbuhan laba bersih dan pendapatan dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik

10. IDX High Dividend20

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham yang membagikan dividen tunai selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.

11. IDX BUMN20

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan tercatat yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan afiliasinya.

12. JII70

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 70 saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.

13. IDX SMC Composite

Indeks yang mengukur kinerja harga dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah.

14. IDX SMC Liquid

Indeks yang mengukur kinerja harga dari saham-saham dengan likuiditas tinggi yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah.

15. IDX30

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

16. MNC36

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 36 saham yang memiliki kinerja positif yang dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar, likuiditas transaksi, dan fundametal, hingga rasio keuangan. Indeks MNC36 diluncurkan dan dikelola bekerjasama dengan perusahaan Media Nusantara Citra (MNC) Group.

17. Investor33

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 33 saham yang dipilih dari 100 Perusahaan Tercatat terbaik, versi Majalah Investor. Dipilih berdasarkan nilai kapitalisasi pasar, likuiditas transaksi dan fundamental serta rasio keuangan. Indeks Investor33 diluncurkan dan dikelola bekerjasama dengan perusahaan Majalah Investor.

18. Infobank15

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 15 saham perbankan yang memiliki faktor fundamental yang baik dan likuiditas perdagangan yang tinggi. Indeks infobank15 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media Infobank.

19. Indeks Papan Utama

Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia.

20. Indeks Papan Pengembangan

Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia.

21. Indeks Pefindo i-Grade

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham perusahaan tercatat yang memiliki peringkat investment grade dari PEFINDO (idAAA hingga idBBB-) yang berkapitalisasi pasar paling besar.

Indeks PEFINDO i-Grade diluncurkan dan dikelola bekerja sama dengan perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).

22. ISSI

Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham di Papan Utama dan Papan Pengembangan yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK).

23. IDX80

Indeks yang mengukur kinerja harga dari 80 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Daftar Saham di Indeks LQ45

Indeks LQ45 terdiri dari 45 saham-saham yang dinilai likuid dan dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar. Berikut daftar-daftarnya.

Kode

Nama Stok

Sektor

ADHI Adhi Karya (Persero), Tbk.  Building Construction
ADRO Adaro Energy, Tbk. Coal Mining
AKRA AKR Corporindo, Tbk. Wholesale (Durable and Non-Durable Goods)
ANTM Aneka Tambang, Tbk. Metal and Mining
ASII Astra International, Tbk.  Automotive and Components
ASRI Alam Sutera Reality, Tbk. Property and Real Estate
BBCA Bank Central Asia Tbk. Bank
BBNI Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Bank
BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Bank
BBTN Bank Tabungan Indonesia (Persero), Tbk. Bank
BKSL Sentul City, Tbk. Property and Real Estate
BMRI Bank Mandiri (Persero), Tbk. Bank
BSDE Bumi Serpong Damai, Tbk. Property and Real Estate
CPIN Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. Animal Feed
ELSA Elnusa, Tbk. Crude Petroleum & Natural Gas Production
EXCL XL Axiata, Tbk. Telecommunication
GGRM Gudang Garam, Tbk. Tobacco Manufacturers
HMSP HM Sampoerna Tbk. Tobacco Manufacturers
ICBP Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk. Food and Beverages
INCO Vale Indonesia, Tbk. Metal and Mining
INDF Indofood Sukses Makmur, Tbk. Food and Beverages
INDY Indika Energy Tbk. Infrastructure, Utilities and Transportation
INKP Indah Kiat Pulp & Paper, Tbk. Basic Industry and Chemicals
INTP Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. Cement
ITMG Indo Tambangraya Megah, Tbk. Coal Mining
JSMR Jasa Marga (Persero), Tbk. Toll Road, Airport, Harbor and Allied Products
KLBF Kalbe Farma, Tbk. Pharmaceuticals
LPKR Lippo Karawaci, Tbk. Property and Real Estate
LPPF Matahari Department Store, Tbk. Retail Trade
MEDC Medco Energi Internasional, Tbk. Crude Petroleum & Natural Gas Production
MNCN Media Nusantara Citra, Tbk. Advertising, Printing and Media
PGAS Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk. Energy
PTBA Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk. Coal Mining
PTPP PP (Persero), Tbk. Building Construction
SCMA Surya Citra Media, Tbk. Advertising, Printing and Media
SMGR Semen Indonesia (Persero), Tbk. Cement
SRIL Sri Rejeki Isman, Tbk. Textile, Garment
SSMS Sawit Sumbermas Sarana, Tbk. Plantation
TLKM Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk. Telecommunication
TPIA Chandra Asri Petrochemical, Tbk. Basic Industry and Chemicals
UNTR United Tractors, Tbk. Wholesale (Durable and Non-Durable Goods)
UNVR Unilever Indonesia, Tbk. Cosmetics and Household
WIKA Wijaya Karya (Persero), Tbk. Building Construction
WSBP Waskita Beton Precast, Tbk. Basic Industry and Chemicals
WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk. Building Construction

Analisis saham sebagai cara memulai pilih saham sebelum dibeli

Sebelum memutuskan untuk membeli saham, investor wajib untuk melakukan analisis terlebih dulu. Bukan asal beli lho ya.

Terdapat dua analisis untuk menentukan apakah saham tersebut “layak beli” karena bisa mendatangkan keuntungan dalam jangka waktu panjang maupun pendek. Dua analisis itu adalah.

1. Analisis fundamental

Analisis fundamental dilakukan dengan cara meninjau laporan keuangan, kinerja bisnis perusahaan, faktor ekonomi global atau dalam negeri, dan lainnya.

Secara garis besar, analisis fundamental dibagi menjadi tiga. Analisis ekonomi, industri, dan perusahaan.

Bicara soal analisis ekonomi, analisis tersebut bergantung pada kondisi perekonomian global maupun nasional.

Sementara itu, analisis industri berfokus pada siklus perusahaan yang bersangkutan, sedangkan analisis perusahaan fokusnya adalah laporan keuangan, aset, dan liabilitas dari emiten.

Analisis fundamental tentu menjadi analisis yang wajib dilakukan para investor. Karena tanpa analisis ini, mustahil seorang investor bisa melakukan penilaian tentang perusahaan yang ingin dia beli.

Dalam analisis fundamental, terdapat pula analisis market value. Apa itu? 

Analisis market value

Pernah dengar istilah PER, PBV, Dividen Yield, dan lain sebagainya? Hal ini merupakan bagian dari analisis market value.

Market value bisa digunakan untuk menilai apakah suatu saham “murah atau tidak.” Selain itu, analisis ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui informasi tentang perusahaan itu.

Beberapa indikator yang kerap digunakan di analisis ini adalah.

  • Earning per share (EPS), untuk menilai kinerja  sebuah saham, maka akan digunakan perhitungan earning per share (EPS). EPS kerap disebut dengan istilah rasio laba per saham. Rumusnya: Laba bersih perusahaan / Jumlah Saham Beredar = EPS. Semakin besar nilai EPS maka makin bagus juga kinerjanya.
  • Dividend per share (DPS), rasio ini digunakan untuk menghitung berapa dividen yang diterima pemegang saham untuk setiap lembar. Semakin besar laba bersihnya semakin besar juga DPS yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Rumusnya: Total Nilai Dividen : Jumlah saham beredar = DPS.
  • Price earning ratio (PER), sering kali digunakan untuk menilai kinerja perusahaan. Atau sederhananya adalah untuk menilai fundamental keuangan perusahaan. Rumusnya: Harga saham : EPS = PER. Jika hasil dari PER adalah 10, itu berarti harga sahamnya 10 kali pendapatan bersih setahun. Makin tinggi makin mahal, begitu pun sebaliknya. Tapi pada saham blue chip, PER saham-saham itu justru tinggi. So, analisis PER yang tepat adalah dengan membandingkan PER satu saham terhadap saham lainnya.

2. Analisis teknikal

Ada dua fokus yang harus diperhatikan dalam analisis teknikal. Hal itu adalah data pasar dan grafis.

Analisis Data pasar adalah analisis tentang semua informasi dari hasil kegiatan transaksi saham yang ada di bursa. Termasuk harga pasar dari sebuah saham dan jumlah saham yang ditransaksikan.

Sementara itu, dalam analisis grafis hal yang patut diperhatikan adalah garis support dan resistance. Support dan resistance adalah dua indikator yang digunakan untuk menentukan “batas sebuah harga saham.”

Support adalah titik terendah harga sebuah saham. Logikanya, ketika menyentuh garis support maka harga saham akan melambung ke atas, namun jika garis support berhasil dijebol, maka harga saham tersebut akan turun hingga batas support selanjutnya.

Sementara itu, resistance adalah lawan dari support. Harga saham akan turun jika sudah menyentuh garis resistance, namun jika tembus, harga akan terus naik hingga batas resistance selanjutnya.

Analisis teknikal vs fundamental

Pada kesimpulannya, analisis fundamental memang seringkali bermanfaat bagi para investor yang ingin membeli saham dan menyimpannya dalam jangka waktu lama. 

Namun para trader justru memanfaatkan analisis teknikal karena mereka cenderung memandang saham sebagai komoditas. Yang harus mereka pahami dalam proses transaksi itu adalah riwayat harga sahamnya dan trennya dalam waktu ke waktu. 

Biar gak bingung, kita sajikan saja beberapa penjelasan soal kegunaan dua analisis ini lewat tabel.

Tahap dalam investasi saham

Setelah memahami seputar analisis hingga cara transaksi saham, langkah selanjutnya adalah berinvestasi. Nah, investasi itu juga ada tahapannya lho. Bukan cuma analisis, beli sahamnya, dan setelah itu tunggu harganya naik.  

1. Tentukan tujuan investasi

Pertama-tama adalah menentukan tujuan dari investasi saham ini. Keuntungannya buat apa? Apakah buat menabung dana pensiun, ngambil S2 di luar negeri, nambah uang buat dp rumah, menggelar pesta pernikahan buat anak, atau yang lain?

Ketika tujuan sudah diketahui, maka secara otomatis jangka waktu investasimu akan terlihat. Apakah investasinya untuk jangka panjang (10 sampai 20 tahun), jangka pendek (satu sampai tiga tahun, atau jangka menengah (tiga hingga lima tahun).

Selain jangka waktu, profil risikonya juga akan terlihat. Jika kebutuhannya adalah untuk jangka panjang, makin cocok pula saham sebagai instrumen investasimu. 

Sementara itu semakin pendeknya jangka waktu, maka pilihan investasinya juga harus yang minim risiko, mengingat fluktuasi harga saham di jangka pendek memang cukup tinggi.

2. Analisis performa saham

Setelah mengetahui tujuan, lakukan analisis terhadap saham-saham yang sudah kamu bidik sebelumnya. 

Lakukan analisis fundamental, gunakan juga pendekatan market value dengan membandingkan saham tersebut dengan kompetitornya di satu industri. 

Meski analisis teknikal memang erat kaitannya dengan trader, bukan berarti investor gak perlu melakukan analisis ini.

Analisis teknikal tentu bisa dimanfaatkan investor untuk mendapatkan saham dengan harga terbaik. Jangan malas-malas ya untuk melakukan analisis ini.

3. Bentuk portofolio saham

Aturlah seperti apa portofolio investasi saham kamu. Misalnya, 50 persen dari modal diinvestasikan ke sektor consumer goods, 30 persen perbankan, dan 20 persen komoditas. 

Usahakan untuk melakukan diversifikasi berdasarkan industri perusahaannya. Seperti contoh di atas. 

Namun pastikan juga bahwa kamu gak mengoleksi terlalu banyak atau terlalu sedikit emiten. Lima emiten sudah cukup besar.

Ketika terlalu sedikit, risiko investasinya pun besar. Namun jika terlalu banyak maka keuntungan yang kamu dapatkan gak akan maksimal.

4. Evaluasi performa portofolio

Lakukan evaluasi secara berkala terhadap saham-saham di portofoliomu. Rajin-rajin baca berita, agar bisa lebih update dalam menyikapi tren terkini di industri terkait.

Ketika ada pelemahan performa di beberapa saham yang kamu koleksi, lakukan analisis. Jika memungkinkan, gantilah sahamnya dengan saham di sektor lain. 

Tips dan strategi investasi saham untuk pemula

Berikut ini beberapa tips dan strategi bagi kamu yang baru pertama kali berinvestasi saham.

  • Sebelum investasi uang, investasikan waktumu dulu
  • Mulailah dari nominal terkecil dan dicicil
  • Mulai dari reksa dana atau saham blue chip?
  • Jadikan investasi jangka panjang
  • Lebih baik investasi saja atau trading?
  • Lakukan diversifikasi saham

1. Sebelum investasi uang, investasikan waktumu dulu

Salah satu kesalahan terbesar seorang investor pemula adalah langsung terjun ke dunia saham tanpa memahami terlebih dulu dasar-dasar dan esensi investasi saham. Ada banyak istilah yang saham yang sekilas tampak membingungkan. 

Belajarlah otodidak dari mana saja. Bisa dengan membeli buku-buku tentang investasi saham yang ditulis oleh para ahli atau bergabung dengan komunitas (grup di media sosial) yang khusus berdiskusi tentang saham. 

Membeli saham suatu perusahaan berarti kamu sudah memiliki perusahaan tersebut secara nyata, tidak lagi hanya dalam angan-angan. 

Yang perlu diingat adalah dunia bisnis erat kaitannya dengan perubahan yang terjadi setiap waktunya, terutama bidang ekonomi dan politik. Hal ini akan berpengaruh terhadap harga saham.

Berbicara harga saham sama juga berbicara soal persepsi investor. Maksudnya, kondisi politik kerap kali berpengaruh terhadap pergerakan harga saham. Rumor-rumor yang beredar bisa menjadi pemantiknya. 

Politik erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah yang terkadang bisa saja langsung berhubungan dengan perusahaan yang kamu miliki. Untuk itu rajin-rajinlah membaca berita tentang bisnis, ekonomi, dan politik. 

Saat akan berinvestasi, informasi memiliki peran yang sangat penting. Informasi bisa menjadi dasar-dasar membuat keputusan akankah saham dibeli atau dijual. Untuk itu, carilah informasi di tempat yang valid. Hindari membeli atau menjual saham hanya karna rumor atau opini orang lain.

Bursa Efek Indonesia memberikan akses informasi perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa secara cuma-cuma untuk masyarakat. 

Bahkan, untuk kamu pemula yang sama sekali belum memiliki saham pun tetap bisa mengaksesnya. Informasi yang berasal dari BEI merupakan informasi resmi yang dirilis perusahaan.

2. Mulailah dari nominal terkecil dan dicicil

Banyak pemula yang yang panik saat baru pertama kali berinvestasi saham. Pasalnya, mereka berharap keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi begitu harga saham jatuh, mereka panik dan menjual saham mereka yang harganya minus.

Sebut saja ketika modal investasimu adalah Rp 100 juta. Saat portofolio sahammu naik 1 persen, modal investasimu akan naik sebesar Rp 1 juta. 

Akan tetapi, risikonya juga cukup besar. Ketika portofolio saham minus 1 persen, minusnya juga Rp 1 juta.

Sekalipun kamu memiliki dana dengan nominal yang fantastis, ada baiknya untuk memulai berinvestasi saham dengan nominal yang kecil dulu.

Sebab semakin besar nominal investasi, kemungkinan ruginya pun semakin besar. Kehilangan 5 persen dari Rp 5 Juta dengan 5 persen dari Rp 50 juta tentu saja rasanya akan berbeda. Apakah kamu sudah siap menghadapinya?

Belum lagi jika stock market crash atau menurunnya harga saham melanda. Kepanikan semakin menjadi. 

Hal pertama yang harus diingat adalah seturun apa pun harga saham di pasar, harga tersebut akan kembali naik. Bahkan, gak jarang harganya pun naik berlipat ganda dibanding sebelum waktu kamu membelinya.

Karena itu, momen di mana stock market crash terjadi dijadikan momen oleh para investor besar untuk membeli beberapa saham dengan asumsi, mumpung harga saham lagi diskon

Jadi, gak ada salahnya untuk memulai membeli saham dari nominal terkecil. Sebab saham tersebut memiliki kemungkinan meningkat beberapa saat kemudian.

3. Mulai dari reksa dana atau saham blue chip?

Apabila terlalu sulit memilih saham, kamu bisa mengandalkan reksa dana saham yang dikelola manajer investasi. 

Manajer investasi akan memberikan rekomendasi portofolio Top 10 Saham. Kamu bisa mempelajari laporan bulanan dari tiap-tiap saham tersebut. Perhatikan bagian statistik kinerja bulanannya.

Untuk investasi jangka panjang, kamu bisa mengandalkan saham blue chip. Saham blue-chip merupakan saham dari perusahaan dengan kualitas dan kinerja terbaik yang dijual di bursa.

Jenis saham ini memberikan stabilitas keuntungan yang cukup menjanjikan dan dianggap paling aman. 

Misalnya, Bank BCA (BBCA), Unilever Indonesia (UNVR), dan Bank BRI (BBRI). Ketiga perusahaan tersebut merupakan saham blue chip yang direkomendasikan untuk pemula.

Baik reksa dana saham maupun saham blue chip, kamu bisa mengandalkan kedua jenis saham tersebut saat baru menginjakkan kaki di dunia investasi saham.

4. Jadikan investasi jangka panjang

Hal yang lumrah apabila saat kamu memulai investasi berharap bahwa investasi tersebut cepat menghasilkan untung. 

Ambisi ingin segera memiliki keuntungan yang maksimal dalam jangka waktu pendek sangat manusiawi. Namun, kamu harus memahami pula bahwa tidak ada hasil maksimal yang instan.

Dalam menjalankan bisnis, tentu dibutuhkan proses yang panjang dan waktu yang cukup panjang. Sebab investasi saham dikenal sebagai instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi, sering kali nilai saham mengalami fluktuasi tinggi dalam jangka waktu pendek. Sekalipun begitu, tetap saja investasi ini cukup menjanjikan dalam jangka waktu panjang.

5. Lebih baik investasi saja atau trading?

Sekalipun keduanya sama-sama aktif dalam bertransaksi jual beli saham, investor ataupun trader memiliki tujuan yang berbeda.

Investor membeli saham untuk selanjutnya disimpan dalam jangka waktu lama dan bertujuan untuk mencapai capital gain berlipat ganda. 

Sementara trader atau orang yang melakukan trading biasanya memanfaatkan fluktuasi harga saham dalam jangka waktu pendek untuk melakukan profit taking.

Menjadi seorang trader memiliki risiko yang besar. Memang dalam satu hari trader mampu meraup keuntungan lebih dari 3 persen. Akan tetapi, yang dilakukan para trader itu bersifat spekulatif.

Meskipun begitu, apabila kamu ingin mencobanya, kamu harus berhati-hati. Pertama, kamu harus menyediakan banyak waktu dan tenaga.

Jika orang yang berinvestasi akan menyerahkan perusahaan tersebut ke manajemen profesional untuk mengelola agar memberikan hasil maksimal dalam jangka waktu tertentu. Hal tersebut tidak berlaku saat kamu ingin mencoba trading saham.

Sekalipun teknologi semakin maju untuk mencoba online trading, kamu tetap harus fokus memantau setiap waktunya. Memantau apakah ada kenaikan nilai perusahaan di hari itu.

Esensi dari trading saham adalah meraih keuntungan maksimal sesegera mungkin. Itulah mengapa kamu harus menyediakan waktu dan tenaga saat memutuskan trading.

Kedua, melihat market timing yang tepat untuk menentukan kapan membeli atau menjual saham. Menentukan kapan harga saham murah hingga kamu bisa membelinya atau harga saham paling mahal agar bisa sesegera mungkin menjualnya.

Hal ini sangat sulit dilakukan. Sebab banyak sekali faktor yang saling berhubungan yang akan memengaruhi harga saham hingga kita sulit menentukan market timing.

6. Lakukan diversifikasi saham

Untuk meminimalkan kerugian, kamu bisa melakukan diversifikasi saham. Diversifikasi dilakukan tidak hanya untuk mengatur portofolio saham aja lho.

Andaikata kamu membeli saham perusahaan konstruksi dalam jumlah besar. Pada momen tertentu, ternyata sentimen buruk melanda industri tersebut hingga harga saham perusahaan yang kamu miliki langsung terjun bebas yang menyebabkan kerugian pada portofolio saham sebesar 50 persen.

Jika saja pada waktu dulu kamu menggunakan uangmu untuk membeli saham di tiga sektor yang berbeda, sebagai contoh konstruksi, consumer goods, dan perbankan. Mungkin saat ini kerugian yang kamu dapatkan tidak terlalu besar.

Memang sahammu di bidang konstruksi minus 50 persen, tapi sahammu di bidang consumer goods bisa saja malah cuan 30 persen dan bidang perbankan juga ikutan naik 30 persen.

Sebelum memulai diversifikasi, ada baiknya kamu juga turut memahami perusahaan yang akan kamu beli sahamnya.

Memahami betul bagaimana industri pada perusahaan tersebut berjalan, apakah lagi bagus atau lagi buruk. Juga penting memahami kinerja pengelolaan perusahaan.

Mengenal program Yuk Nabung Saham dari BEI

Kampanye Yuk Nabung Saham menjadi jawaban atas persoalan rendahnya tingkat pemahaman (literasi) masyarakat Indonesia terhadap pasar modal. Melalui Yuk Nabung Saham, BEI mengajak masyarakat  untuk berinvestasi saham secara rutin dan berkala. 

Tercatat per 2019, jumlah investor di pasar modal Indonesia mencapai 2,48 juta. Angka ini bertumbuh dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 1,6 juta investor.

Melihat situasi itu, BEI terus mengkampanyekan Yuk Nabung Saham. Kampanye dengan konsep industri pasar modal yang kuat dan berskala nasional ini bertujuan untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.

Demi mengembangkan industri pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memberikan edukasi dan mengembangkan industri menuju arah yang lebih baik. 

Hal tersebut dilakukan tidak semata-mata hanya untuk menambahkan jumlah investor baru, tetapi BEI selalu berupaya untuk menanamkan pada masyarakat akan rasa kebutuhkan berinvestasi di pasar modal. Secara tidak langsung, jumlah investor aktif pun kian meningkat di pasar modal Indonesia.

Setelah  Yuk Nabung Saham berjalan selama setahun, tercatat pada 2016 tingkat pemahaman (literasi) masyarakat Indonesia terhadap pasar modal naik meningkat hingga 4,40 persen.

Tingkat utilitas produk pasar modal pun ikut meningkat hingga 1,25 persen. Adapun pada September 2017 tercatat sebesar 16,26 persen dari total investor merupakan investor aktif tiap bulannya.

Pertanyaan-pertanyaan Khusus Seputar Investasi Saham

Inilah beberapa pertanyaan yang seringkali diajukan investor saham pemula.


Untuk diketahui, satuan pembelian saham adalah 1 Lot atau setara dengan 100 lembar.

Ada. Fee atau biaya transaksi saham dari satu perusahaan ke perusahaan sekuritas lainnya berbeda-beda. Meskipun begitu, umumnya biasanya sekitar 0,2 persen - 0,3 persen dari nilai transaksi pembelian saham (biaya ini sudah termasuk PPn). Ditambah lagi dengan PPh 0,1 persen khusus untuk transaksi penjualan saham.

Kamu akan dikenakan pajak sebesar 0,1 persen dari nilai bruto transaksi penjualan saham.

Pajak dividen merupakan pajak yang dikenakan sebesar 10 persen dari penghasilan bruto (NPWP).

Perusahaan sekuritas bisa juga disebut dengan perusahaan efek. Suatu perusahaan yang sudah mendapat izin usaha dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai perantara perdagangan efek (broker).

Dokumen yang dibutuhkan, di antaranya:
Fotokopi KTP
Fotokopi NPWP
Fotokopi halaman depan buku tabungan
Materai Rp6 Ribu minimal 2 buah

Perdagangan efek di bursa dilaksanakan menggunakan fasilitas JATS NEXT-G dan hanya anggota bursa (AB) yang juga menjadi anggota Kliring KPEI yang bisa melakukan perdagangan efek di bursa. Anggota bursa efek bertanggung jawab terhadap seluruh transaksi yang dilakukan di bursa.

Demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia, didirikanlah Dana Perlindungan Pemodal oleh Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF). Dana Perlindungan Pemodal berkewajiban untuk memberikan perlindungan pada setiap aset para investor Indonesia. Lembaga Dana Perlindungan Pemodal yang didirikan SIPF Indonesia ini diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).