Buat Sebagian Orang, Sistem Komisi Lebih Menarik daripada Gaji. Ini Dia Alasannya

sistem komisi lebih menarik

Yang bikin semangat kerja apa sih? Jawabnya bisa banyak. Ada yang berharap naik pangkat, naik gaji, karir melejit, sampai demi passion. Dari sekian itu, ada pula yang jawabnya flat-flat aja. ”Buat bayar cicilan ama tagihan bulanan.”

Tapi kerja dengan semangat gak selalu jadi jaminan kalau semua tujuan di atas tercapai. Ujung dari kerja keras di kantor baru sebatas ekspektasi. Iya kalau bos baik atau ada belas kasih, dikasih persetujuan naik pangkat atau gaji.

Cuma, itu semua kan masih ilusi. Belum ada yang bisa kasih jaminan 100 persen bekerja dengan semangat bakal menghasilkan pendapatan yang diinginkan.

Mengapa? Karena kerja di kantoran itu menerapkan sistem gaji. Yang namanya sistem gaji, nominalnya sudah diatur sama kepala sumber daya manusia. Di mata sebagian orang, sistem gaji yang berlaku di kantor gak menarik.

Gimana mau menarik, wong sistem gaji itu ada limit maksimalnya. Contoh, gaji maksimal untuk jabatan staf di kisaran Rp 5 juta. Mau kerja sekeras apa pun tapi masih di level staf, ya mesti ikhlas menerima Rp 5 juta.

Mungkin sebagian orang senang dengan sistem gaji ini. Alasannya bikin di posisi ada di zona nyaman karena mendapat penghasilan yang pasti. Terus yang lain gak perlu kerja keras. Toh, kerja keras atau nyantai tetep digaji sama aja.

Sistem komisi lebih menarik
gaji kedean nih nyampe gak muat di dompet (Kegedean duit/Gambar Lucune)

Beda sama yang lain yang kurang suka sama sistem gaji. Mereka ini lebih menyukai sistem komisi. Prinsipnya, dibayar sesuai dengan performa kerja dan skill yang dipunya.

Bagi kelompok ini, sistem gaji ala kantoran merugikan. Sebab sudah memberikan usaha keras dalam menyelesaikan tugas, tapi upah yang diterima standar. Kalau pun nanti diimingi naik jabatan, tapi waktunya gak jelas. Keburu masuk usia pensiun nanti. Sama aja boong kan!

Maka itu kerja sistem komisi jadi jalan keluarnya. Model kerja begini memotivasi orang bekerja dengan perfoma tinggi. iya dong, besaran income sesuai performa. Adil kan?

Plus lainnya adalah kerja suka-suka. Misalnya kalau lagi malas garap kerjaan dan gak begitu perlu duit banyak, tinggal santai-santai saja. Tapi ketika lagi butuh uang, baru deh kerjaan digeber.

Sistem komisi tidak mengenal batas atas pendapatan. Pokoknya selama mau berusaha keras dan disertai performa tinggi, pendapatan besar tinggal di depan mata. Pendapatan di bulan depan dipengaruhi oleh kualitas pekerjaan bulan ini. Simpel kan?

Menggugat alasan sistem gaji masih disukai

Mesti diakui sih, masih banyak orang yang berpikir sistem gaji membuat hidup lebih terjamin. Tiap bulan dapat penghasilan secara konstan. Benarkah pemikiran itu? Siapa yang menjamin? Bos?

Satu hal yang perlu ditekankan, gak ada satu pun di dunia ini yang pasti. Masa depan itu masih abstrak dan abu-abu. Manusia boleh saja berencana, tetap saja tak bisa menentukan hasilnya.

Mau perusahaan skala multinasional pun tetap terbuka lebar peluang “merumahkan” karyawan. Tengok saja Nokia, Yahoo, dan Blackberry. Yang dalam negeri pun banyak. Paling aktual adalah rencana PT Freeport Indonesia yang hendak mem-PHK karyawannya.

sistem komisi lebih menarik
Gimana rasanya kalau tiba-tiba kamu diPHK? (ancaman phk/moola)

Bandingkan dengan sistem komisi yang memberi banyak latihan dalam urusan perencanaan keuangan. Sebut saja membangun kesadaran untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk. Katakanlah bayaran gak lancar, proyek lagi seret, dan lain sebagainya.

Lantaran dibayang-bayangi ketidakpastian inilah, pekerja dengan sistem komisi bakal lihai mengatur keuangan. Mereka “dipaksa” untuk menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung atau diinvestasikan. Tujuannya sebagai benteng jika ada masalah di kemudian hari.

Benefit lainnya dari sistem komisi adalah menekan angka demo pekerja. Pemerintah pun hepi. Enggak perlu lagi media-media mainstream memberitakan demo pekerja yang anarkis, pengusaha jadi takut, dan lain-lain.

Dengan sistem komisi, besaran pendapatan yang menentukan adalah pekerja itu sendiri. Malas ya siap-siap gak dapat apa-apa. Sebaliknya, rajin sudah pasti diganjar dengan bayaran tinggi.

Kapan mulai?

Gak usah ekstrem dan langsung resign dari kerjaan demi meninggalkan sistem gaji. Tetap pakai strategi. Kecuali memang ingin merasakan “sakit” di awal. Maklumlah, sistem komisi ini menuntut banyak hal.

Sistem komisi lebih menarik
Jangan galau kamu harus siap memilih mana yang lebih baik (komisi atau gaji ya? Wikihow)

Contohnya, kesiapan mental gak dapat lagi pendapatan rutin, belum ada pekerjaan yang menerapkan sistem komisi, dan lain sebagainya. Solusi tengahnya adalah melakoni pekerjaan sampingan dulu yang menawarkan sistem komisi.

Kemudian berakselerasilah dengan meningkatkan keterampilan diri dan kemampuan mengelola waktu. Daya kreativitas akan terasah terus kalau dikondisikan demikian. Makin tinggi ilmu dan keterampilan, maka bayaran pun mengikuti.

Bila sudah “tune in” dan yakin pendapatan dari sistem komisi itu melebihi pekerjaan utama, barulah berpikir untuk banting setir.

Ingat ya, bayaran sistem komisi itu berdasarkan output pekerjaan, bukan dari proses atau pun lamanya bekerja. Ini beda sama sistem gaji yang mensyaratkan kerja minimal 40 jam per pekan seperti aturan main ketenagakerjaan.

Lantas kesimpulannya membuat sistem gaji itu jelek? Gak bisa disebut begitu juga. Seperti disebut di awal, sistem gaji ini banyak peminat, khususnya yang kurang suka berspekulasi terhadap masa depan. Pendeknya, sistem gaji jadi favorit mereka yang ingin menikmati zona nyaman.

Tetap pilihan ada di masing-masing orang. Jika ingin dapat bayaran yang sesuai dengan performa kerja, sistem komisi lebih cocok. Tapi ketika sudah kerja keras di kantor tapi kenaikan gaji hanya sebatas angan-angan, ya jangan menimpakan kesalahan pada kantor atau kasak-kusuk kiri kanan.

 

 

Artikel terkait:

[Baca: Jurus Atur Gaji Kecil Biar Enggak Kembang Kempis di Akhir Bulan]

[Baca: Penghasilan Pas-pasan tapi Ingin Berinvestasi, Ini Caranya]

[Baca: Gak Usah Kebelet Resign Bila Pekerjaan Kurang Sesuai Passion]