Sering Ada Pengeluaran Tak Terduga di Kantor, Begini Cara Mengatasinya

Mengatur keuangan bagi pekerja kantoran adalah hal penting yang harus dilakukan, mengatur keuangan ini adalah cara yang paling efektif untuk mengontrol pengeluaran yang terjadi setiap harinya.

Pasalnya, pekerja kantoran harus menyiapkan dana untuk kebutuhan seperti makan, transportasi, komunikasi, hingga pengeluaran yang tidak terduga lainnya. 

Jika tidak diatur dan diberikan alokasi masing-masing pos pengeluaran, maka akan membuat keuangan semakin boros dan tidak terkendali.

Imbasnya, sebelum waktu gajian uang dalam rekening sudah menipis, dan bingung untuk menambal biaya kebutuhan sehari-hari. Dampak negatifnya membuatmu terpaksa memakai uang simpanan atau tabungan untuk kebutuhan.

Akan tetapi, terkadang sudah mengatur keuangan sedemikian rupa agar tidak boros, masih ada saja lubang pengeluaran yang tidak terduga.

Mungkin jumlahnya kecil, tetapi jika diakumulasi dan dihitung akan memakan porsi yang cukup signifikan. 

Daftar pengeluaran tak terduga

Berikut ini beberapa contoh kasus pengeluaran tidak terduga tetapi lumrah terjadi pada lingkungan kantor:

1. Uang duka

Salah satu pengeluaran tidak terduga dan sering terjadi dalam lingkungan kantor adalah pengeluaran untuk keperluan uang duka. Pengeluaran ini bisa terjadi karena ada keluarga teman kantor yang meninggal dunia atau wafat.

Sebab, di Indonesia memang sebagian besar masyarakatnya menganut budaya atau tradisi uang duka untuk membantu teman atau kerabat yang sedang berduka ditinggal anggota keluarganya atau orangtuanya.

2. Gift atau kado

Selain uang duka, hal yang sering terjadi pengeluaran tidak terduga di kantor adalah patungan untuk kado atau gift untuk teman yang resign atau mengundurkan diri. Biasanya ini terjadi bila ada rekan kerja atau atasan yang mengundurkan diri. 

Biasanya sulit untuk melakukan penolakan terhadap pengeluaran satu ini. Pasalnya, akan merasa tidak enak atau malah gengsi jika tidak ikut patungan.

Yang menjadi persoalan lain adalah nominalnya yang juga sulit diprediksi, karena sangat tergantung dengan jenis hadiah dan harganya.

3. Angpau pernikahan

Acara pernikahan teman atau rekan kerja juga kadang datang secara tiba-tiba, hal ini juga masuk  ke dalam pengeluaran yang tidak terduga.

Pasalnya, si pengundang atau yang punya acara berharap rekan kerja yang diundang hadir dan memberikan angpau atau amplop pernikahan. Untuk nominal atau jumlahnya pun juga tidak ada batasan apapun dalam hal ini.

Akan tetapi, biasanya besaran jumlah nominal uang amplop pernikahan dipertimbangkan berdasarkan  kedekatan pertemanan, hingga sesuai kemampuan. 

Karena, dinilai sebuah hal wajar jika seorang tamu undangan di Indonesia membawa amplop yang berisi uang sebagai kado pernikahan untuk pengantin.

4. Beli camilan

Mempersiapkan budget untuk makan sehari-hari mungkin sudah dipersiapkan banyak pekerja kantoran. Namun, yang menjadi pengeluaran tidak terduga adalah ketika patungan untuk jajan camilan di kantor.

Biasanya akan sulit menolak jika berada dalam hal ini. Pasalnya, banyak teman-teman kantor yang ikut patungan.

Terkadang jajan camilan juga memberikan dorongan produktivitas dalam bekerja. Karena itu, biasanya kebiasaan ini akan terjadi pada sore hari ketika produktivitas kerja mulai berkurang.

5. Traktiran

Ketika mendapat penghargaan atau sebuah prestasi maupun bonus dari perusahaan, biasanya kerabat dekat akan mengharapkan ditraktir makan atau ngopi

Mentraktir rekan kerja dan sahabat tentu saja tidak dilarang. Apalagi, bagi sebagian orang mentraktir adalah bagian dari mensyukuri sesuatu dengan berbagai. Kegiatan ini pun bisa memberikan dampak yang baik psikologis seseorang.

Akan tetapi, dalam perkara traktir makan, kegiatan ini merupakan kebutuhan yang tidak terduga dan membutuhkan biaya tidak sedikit. Apalagi, jika seseorang ulang tahun, sudah bukan rahasia umum lagi teman kerja pasti minta traktiran. 

Ada baiknya pos pengeluaran tidak terduga ini disiapkan dengan baik agar tidak mengganggu arus kas setiap bulan.

Bagaimana cara mengatasinya?

Dengan banyaknya pengeluaran tidak terduga yang sering terjadi dalam lingkup kantor, sebaiknya perlu dilakukan pengelolaan keuangan yang lebih baik lagi.

Ini dilakukan agar tidak mengganggu arus  keuangan setiap bulannya. Jangan sampai kejadian kehabisan uang karena patungan untuk beli kado teman jadi harus pusing mencari tambalan dana untuk mengatasi hal tersebut.

Siapkan bujet dari awal

Siapkan bujet pengeluaran dari awal

Sama seperti pos pengeluaran lainnya, pada pos pengeluaran tidak terduga ini memang seharusnya dilakukan persiapan bujet setiap bulan agar pengeluaran tidak terduga ini menjadi masalah keuangan.

Setiap mendapatkan gaji bulanan, sebaiknya dalam postur anggaran untuk ini disiapkan 5 sampai 10 persen dari total penghasilan.

Jumlah itu sebaiknya dipisahkan secara konsisten setiap bulan. Mungkin terlihat sepele dan tidak penting, tetapi pos anggaran ini akan sangat berguna jika dibutuhkan sewaktu-waktu dan demi keberlangsungan kelola keuangan pribadi yang sehat.

Untungnya, menyiapkan bujet ini adalah ketika dibutuhkan akan sangat berguna, dan ketika tidak digunakan bisa menjadi tambahan untuk dana darurat atau tabungan. 

Jika bingung mempersiapkan alokasi anggaran ini, sebaiknya terapkan skema alokasi gaji dengan perhitungan 50:30:20. 

50 persen pendapatan untuk kebutuhan utama, 30 persen untuk keperluan yang tidak mendesak, dan 20 persen itu untuk tabungan.

Nah, dari alokasi 20 persen inilah bujet pengeluaran tidak terduga bisa disiapkan. Yang jelas jangan boros dan harus disiplin ya jika mau pengelolaan keuangan ini berhasil.

Perhitungan

Andi, seorang kepala keluarga dengan satu anak berusia 35 tahun memiliki penghasilan Rp 20 juta per bulan.

Maka, pengaturan penghasilan Andi 50% dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari sebesar Rp 10 juta, kemudian kebutuhan tidak mendesak sebesar 30% yaitu Rp 6 juta, dan terakhir untuk investasi, tabungan, dana darurat, dan biaya tak terduga sebesar 20% atau sebesar Rp 4 juta.

Pos Pengeluaran 50 % Jumlah
Makan Rp 4.000.000
Transportasi Rp 800.000
Belanja Bulanan Rp 1.500.000
Asuransi Rp 350.000
Tagihan Air & Listrik RP 1.000.000
Pendidikan Anak Rp 2.000.000
Komunikasi Rp 350.000
TOTAL Rp 10.000.000

Kemudian, pada pos pengeluaran 30%, Andi mengalokasikan uangnya untuk belanja online, travel dan hangout, kredit rumah, dan hobi sebesar Rp 6 juta.

Pos Pengeluaran 30 % Jumlah
Belanja Online Rp 1.000.000
Travel dan Hangout Rp 1.500.000
KPR Rumah Rp 2.350.000
Hobi Rp 1.150.000
TOTAL Rp 6.000.000

Sedangkan pada pos terakhir, yaitu 20%, Andi mengalokasikan penghasilannya untuk investasi, dana darurat, dan kebutuhan biaya tak terduga sebanyak Rp 4 juta.

Pos Pengeluaran 20 % Jumlah
Investasi dan Tabungan Rp 2.000.000
Dana Darurat Rp 1.000.000
Biaya Tak Terduga Rp 1.000.000
TOTAL Rp 4.000.000

Dengan skema alokasi penghasilan ini, maka untuk kebutuhan biaya tak terduga setiap bulannya Andi menyiapkan sebesar Rp 1 juta.

Dana ini akan dipakai untuk kebutuhan yang tidak terduga. Namun, bila tidak ada kebutuhan tak terduga, maka alokasi ini akan masuk ke dalam dana darurat.

Pisahkan dana darurat

Pisahkan pengeluaran dengan dana darurat

Godaan menggunakan dana darurat kerap kali bisa timbul akibat tidak disiplinnya dalam mengatur keuangan. Sebab, dana darurat biasanya menjadi dana yang selalu tersedia yang bisa menambal cashflow jika sedang bermasalah.

Akan tetapi hal ini sangat tidak dianjurkan karena ketersediaan dana darurat menjadi hal sangat penting ketika mengalami musibah, kecelakaan, atau mendapatkan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hal yang harus dilakukan adalah dengan memisahkan dana darurat ini agar tidak tercampur dengan dana lainnya, kemudian kondisikan agar dana darurat ini tidak terlalu mudah ditarik atau diambil, tetapi tetap harus bisa diambil ketika sewaktu-waktu membutuhkannya.

Salah satu caranya adalah, menempatkan dana darurat dalam rekening bank terpisah, atau rekening yang memang khusus tabungan yang dijadikan tempat penyimpanan dana darurat.

Atur skala prioritas

Atur pengeluaran dan skala prioritas

Mengatur skala prioritas dalam hal keuangan pribadi juga menjadi hal yang penting guna menghindari over budget.

Skala prioritas ini bisa dibuat dengan menentukan empat bagian, mulai dari penting atau mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, dan tidak penting tidak mendesak. 

Dengan mengatur skala prioritas ini, maka bisa memberikan gambaran pasti berkaitan dengan pos keuangan yang harus disiapkan.

Cara mudahnya begini, skala prioritas ini adalah pemilihan kebutuhan yang diurutkan satu per satu dengan melihat kebutuhan sesungguhnya dan apa saja yang perlu didahulukan. 

Misalnya, pernah gak sih baru saja beli tas atau sepatu tetapi beberapa hari kemudian kuota internetan habis, akhirnya bingung gimana menutupi kebutuhan biaya untuk beli kuota internet.

Kejadian itu lah yang harus dihindari dengan menyusun skala prioritas. Sebab, dengan menyusunnya secara baik, maka akan menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran dengan baik. 

Gak cuma itu saja, dengan skala prioritas juga akan memberikan kemudahan untuk meraih financial goals yang diharapkan. Tetapi, perlu diingat, skala prioritas ini harus disusun dengan realistis yang tidak memberatkan. 

Itulah cara mengatasi pengeluaran tak terduga di kantor dan perhitungannya. Jadi, dengan perhitungan di atas kamu sudah ada gambaran kan alokasi biaya pengeluaran tak terduga di mana. (Editor: Chaerunnisa)