Cara Mendaftarkan SNI, Biar Gak Kayak Kisah Perakit TV Ini

supplier bisnis online

Orang berbisnis pasti sebisa mungkin menghindari hambatan. Tapi kadang hambatan ada tanpa disadari.

Yang lebih parah, hambatan itu malah diciptakan sendiri. Kurang kerjaan banget, kan?

Kalau berniat membuka bisnis, sebaiknya ketahui dulu seluk-beluk bisnis yang akan digeluti. Jangan hanya asal punya modal.

Ketika usaha udah berjalan dan menghasilkan keuntungan lumayan, bisa saja timbul hambatan yang sebenarnya bisa dicegah sebelumnya. Kita ambil contoh dari Pak Kusrin yang pandai merakit televisi itu.

Kusrin sudah beberapa tahun buka usaha perakitan dan penjualan televisi. Awalnya, usahanya berjalan lancar. Bahkan ia bisa menjual hingga 150 unit TV dalam satu hari.

Namun akhirnya ia harus berurusan dengan hukum lantaran TV rakitannya belum punya sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Ia pun digerebek polisi dan TV dagangannya disita, bahkan dibakar.

Seandainya Kusrin tahu bahwa TV-nya wajib punya sertifikat SNI, masalah itu gak akan terjadi. Tapi tak apa.

Mungkin sosialisasi tentang SNI memang belum optimal sampai ke daerah. Toh, Kusrin akhirnya mengurus SNI dan bahkan diundang bertemu dengan Presiden Jokowi langsung karena bisnisnya itu.

Apa Itu SNI

SNI diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.72/M-DAG/PER/9/2015. Peraturan itu mewajibkan sederet barang produksi memiliki SNI. Daftar barang tersebut bisa dilihat di situs Kementerian Perdagangan.

SNI diwajibkan untuk melindungi konsumen. Sebab, stempel ini menjadi jaminan bahwa barang yang dibeli dan dipakai konsumen itu aman.

Barang yang ikut sertifikasi SNI akan diperiksa oleh ahlinya. Jika ditemukan ada hal yang membahayakan, misalnya TV rakitan Pak Kusrin gampang meleduk, SNI gak akan diberikan.

Karena itulah produsen wajib mendaftarkan barang produksinya untuk mendapatkan SNI. Pemerintah berkewajiban memastikan keamanan suatu produk sebelum dipakai masyarakat.

Kayak SIM dan STNK. Itu kan diterbitkan buat melindungi konsumen. Kalau gak ada STNK, kendaraan diragukan legalitasnya. Kalau gak ada SIM, keselamatan di jalan bisa terancam.

Cara Mendaftarkan SNI

Cara mendaftarkan SNI tergolong mudah. Pendaftaran SNI bisa dilakukan di Kementerian Perindustrian melalui Lembaga Sertifikasi Produk Pusat Standarisasi (LSPro-Pustan). Tahapnya ada di bawah ini:

1. Mengisi Formulir Permohonan SPPT SNI (biasanya 1 hari)

Formulir Sertifikat Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI membutuhkan lampiran :

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal
  • Fotokopi sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 yang dilegalisasi. Sertifikat ini bisa didapatkan di Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) yang diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).
  • Jika produk yang akan didaftarkan adalah impor, perlu ada sertifikat dari LSSM negeri asal yang sudah punya perjanjian saling pengakuan dengan KAN.

2. Verifikasi Permohonan (biasanya 1 hari)

Permohonan akan diverifikasi oleh LSPro-Pustan. Yang diverifikasi antara lain syarat untuk mendapat SPPT SNI, jangkauan lokasi audit, dan kemampuan memahami bahasa setempat. Setelah verifikasi, kita akan diberi invoice berisi rincian biaya yang harus dibayar.

3. Audit Sistem Manajemen Mutu Produsen (biasanya 5 hari)

Audit ini meliputi dua hal, yaitu kesesuaian dan kecukupan. Audit kesesuaian mengecek penerapan Sistem Manajemen Mutu.

Adapun audit kecukupan meninjau dokumen Sistem Manajemen Mutu.  Koreksi harus diberikan maksimal dalam 2 bulan jika ditemukan ketidaksesuaian.

4. Pengujian dan Penilaian Sampel Produk (minimal 20 hari)

Tim LSPro-Pustan akan datang ke tempat produksi dan mengambil sampel produk untuk diuji. Setelah itu, akan dilihat apakah hasil uji sesuai dengan SNI. Jika belum sesuai, kita akan disuruh menguji sendiri sampai sesuai untuk kemudian dicek lagi oleh tim LSPro-Pustan.

5. Keputusan Sertifikasi (biasanya 7+1 hari)

Tim akan merapatkan hasil audit dan pengujian. Penyiapan bahan rapat biasanya makan waktu 7 hari, sedangkan rapat panel 1 hari.

6. Pemberian SPPT-SNI (biasanya 4 hari)

Tim LSPro-Pustan akan mengklarifikasi usaha kita. Setelah itu, produk bisa mendapat sertifikat SNI.

Seluruh proses di atas memakan waktu sebulan lebih sedikit, tapi sertifikat berlaku selama 3 tahun. Adapun soal biayanya. Ehm, memang lumayan tinggi.

Tiap produk punya kisaran harga sendiri-sendiri menurut Peraturan Pemerintah RI No. 63 tahun 2007. Perkiraannya, Rp 10-40 juta.

Harus diketahui, SNI berlaku hanya untuk satu jenis produk. Misalnya Pak Kusrin punya produk TV dan radio. Maka SNI untuk TV dan radio harus diurus sendiri-sendiri dengan biaya lain.

Jika dilihat sekilas memang tampaknya ribet. Tapi jangan kalah sebelum bertanding. Coba datangi dinas perdagangan setempat dulu untuk cari tahu soal SNI.

Cari tahu juga syarat usaha selain SNI. Surat izin usaha harus ada biar gak ada masalah kelak. Jika sudah terkumpul semua syaratnya, bisa tenang deh buka usaha.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →