Simpel! Pahami Cara Mengatur Keuangan Pribadi di Sini

cara mengatur keuangan pribadi

Banyak di antara kamu yang pasti masih suka mikir, “Perasaan gaji saya sudah cukup besar, tapi kenapa ya, di pertengahan bulan, selalu aja sudah menipis? Malahan, kadang saya terpaksa ngutang sama rekan kerja, buat menyambung hidup sampai gajian selanjutnya datang lagi, gimana sih cara mengatur keuangan yang baik?” 

Biasanya, kondisi keuangan yang seperti ini terjadi akibat pengelolaan keuangan yang buruk. Pengeluaran yang tidak terkontrol biasanya jadi penyebab utama kacaunya keuangan. Bukan cuma itu, kebiasaan berutang secara ugal-ugalan juga kian memperburuk keadaan.

Apa jalan keluar dari masalah keuangan semacam ini? Jawabannya cuma satu, kita harus mempunyai pengelolaan keuangan yang baik. Lalu, bagaimana cara mengatur keuangan yang baik?

Ini memang bukan pekerjaan mudah, tapi akan semakin sulit kalau tidak dilakukan sejak saat ini. Kenapa bukan pekerjaan mudah? Karena ada langkah-langkah yang harus kamu lakukan satu per satu. 

Langkah pertama dalam pengelolaan keuangan adalah membuat anggaran. Sebab, anggaran yang baik akan membantu kamu mengelola keuangan dengan baik. Terdengar seperti pekerjaan yang merepotkan buat kamu? 

Bukan sesuatu yang sulit kok, dan layak dilakukan demi pengelolaan keuangan pribadi maupun keuangan keluarga yang lebih baik. Coba saja lakukan dulu dan kamu akan merasakan perbedaannya. 

Cara membuat anggaran keuangan

  1. Komponen apa saja yang dimasukkan dalam anggaran keuangan?
  2. Ketahui komponen-komponen yang merupakan pemasukan bulanan
  3. Ketahui komponen-komponen yang merupakan pengeluaran bulanan 
  4. Coba cara sederhana untuk menyusun anggaran keuangan!
  5. Bagaimana mengalokasikan 50% pemasukan untuk kebutuhan pokok?
  6. Bagaimana mengalokasikan 30% pemasukan untuk kebutuhan sekunder? 
  7. Bagaimana mengalokasikan 20% pemasukan untuk tabungan dan investasi?
  8. Bagaimana cara menghemat pengeluaran?

Komponen apa saja yang dimasukkan dalam anggaran keuangan?

Dalam anggaran keuangan, ada beberapa komponen yang harus kamu pahami. Yang pertama adalah komponen-komponen pemasukan atau penghasilan, dan yang kedua adalah komponen-komponen pengeluaran. Soal pemasukan dan pengeluaran ini bisa kamu simak di poin-poin penjelasan selanjutnya.

Ketahui komponen yang merupakan pemasukan bulanan

Komponen-komponen pemasukan ini adalah sumber-sumber penghasilanmu dalam suatu periode tertentu setelah dipotong pajak. Kalau kamu udah berkeluarga, berarti pemasukan bulananmu mencakup pemasukan istri/ suami. Komponen pemasukan bulanan ini ada dua jenisnya, yakni:

Pemasukan Tetap Minimal

Pemasukan ini mencakup gaji bulanan yang rutin didapatkan tiap bulan, setelah dipotong pajak tentunya. Keuntungan minimal dari bisnis yang kamu jalankan juga masuk ke dalam komponen ini. 

Pemasukan Tidak Tetap

Sesuai namanya, pemasukan ini tidak sama jumlahnya tiap bulan alias bervariasi naik dan turun. Komponen pemasukan tidak tetap ini datang dari sumber-sumber seperti bonus, komisi penjualan, keuntungan bisnis, kerja sampingan, imbal hasil investasi, dan lain sebagainya. 

Ketahui komponen yang merupakan pengeluaran bulanan

Kebalikan dari pemasukan, komponen pengeluaran bulanan merupakan pos-pos yang harus dipenuhi dengan uang pemasukan kamu. Ada dua jenis pengeluaran, yakni kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder

Pada dasarnya, kamu akan bisa memahami mana saja yang masuk kebutuhan primer dan mana saja yang masuk kebutuhan sekunder, kalau kamu bisa bedakan antara kebutuhan dan keinginan

Pengeluaran kebutuhan primer bulanan 

Ini mencakup komponen-komponen pengeluaran kebutuhan pokok (primer) yang sifatnya wajib dipenuhi, karena memang benar-benar “kebutuhan”, bukan “keinginan”. Beberapa hal yang termasuk dalam kebutuhan primer ini antara lain:

  • Pengeluaran makan dan minum sehari-hari. Bukan cuma biaya beli makan di luar untuk yang masih single, tapi juga biaya belanja bahan-bahan masakan, gas, air mineral galon, dan lain sebagainya yang termasuk konsumsi harian.
  • Pengeluaran rumah tangga. Ini mencakup biaya kos, sewa rumah, kontrakan, bayar listrik, bayar langganan air, laundry, biaya kebersihan lingkungan, keperluan sanitasi, dan lain-lain.
  • Pengeluaran transportasi.  Semua biaya untuk menunjang kebutuhan transportasi harian untuk beraktivitas, termasuk biaya bensin, ongkos transportasi umum, ongkos ojek online, dll.
  • Pengeluaran pendidikanIni mencakup bayar sekolah anak, biaya kuliah S1, kuliah S2, kursus, dan sertifikasi lainnya.
  • Pengeluaran asuransi kesehatan wajib (BPJS Kesehatan)

BPJS Kesehatan ini kini sifatnya wajib bagi seluruh warga negara Indonesia. Bagi para pekerja                       penerima upah, ada skema tersendiri di mana kewajiban pembayaran iurannya bersamaan dengan               perusahaan tempat mereka bekerja. Sementara itu, bagi para pekerja bukan penerima  upah,                        pembayaran iuran BPJS Kesehatan ditanggung secara mandiri.

Pengeluaran kebutuhan sekunder bulanan

Kebalikan dari kebutuhan, pengeluaran yang masuk kebutuhan sekunder ini bersifat sesuatu yang diinginkan, bukan dibutuhkan. Karena bukan suatu yang benar-benar “kebutuhan” maka pengeluaran-pengeluaran ini bersifat tidak melulu harus dipenuhi. 

Tujuan pengeluaran ini lebih kepada kebutuhan gaya hidup dan belanja yang sifatnya keinginan. Contoh pengeluarannya antara lain:

  • Pengeluaran belanja. Beli gadget, pakaian, outfit lain, produk kecantikan, barang-barang hobi dan koleksi, dll.
  • Pengeluaran hiburan.  Pengeluaran untuk berlibur, wisata kuliner, hangout, ngopi, nonton film di bioskop, langganan streaming musik dan film berbayar, dll.
  • Pengeluaran kebugaran.  Pengeluaran untuk olahraga, gym, spa, salon, perawatan kecantikan, vitamin, dll.
  • Pengeluaran asuransi. Ini termasuk asuransi swasta, yang tentunya bukan BPJS Kesehatan, seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi kendaraan, asuransi properti, dll.
  • Pengeluaran lain. Ini bisa apa saja yang sifatnya bukan kebutuhan pokok dan tidak termasuk dalam pengeluaran-pengeluaran di atas.

Pengeluaran cicilan dan kewajiban bulanan lainnya

Ada beberapa poin pengeluaran yang termasuk dalam cicilan utang atau kredit. Beberapa di antaranya adalah:

  • Cicilan properti dan aset investasi. Ini termasuk cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), apartemen (KPA), tanah (KPT) dan cicilan properti lainnya.
  • Cicilan kendaraan dan aset terdepresiasi. Ini mencakup cicilan mobil, cicilan motor, cicilan gadget dan perangkat elektronik lainnya.
  • Cicilan utang lain. Ini mencakup cicilan kartu kredit, cicilan kredit tanpa agunan, cicilan kredit multiguna, cicilan P2P lending, cicilan pinjaman online, dll.

Coba cara sederhana untuk menyusun anggaran keuangan!

Setelah memahami komponen-komponen apa saja yang akan dimasukkan dalam anggaran keuangan, langkah selanjutnya adalah menggunakan cara atau metode untuk menyusun alokasi anggaran keuangan. 

Ada beberapa metode yang bisa digunakan. Salah satu metode yang cukup populer adalah metode anggaran pengelolaan keuangan 50/30/20. Angka-angka tersebut mewakili persentase alokasi keuangan, di mana 50% dialokasikan untuk pengeluaran kebutuhan pokok (primer) bulanan, 30% dialokasikan untuk pengeluaran kebutuhan sekunder bulanan, dan 20% dialokasikan untuk menabung, investasi, dan membayar utang.

Kenapa metode pengelolaan keuangan 50/30/20 dianjurkan? Sebab, dengan mengikuti metode ini, seseorang bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, mengelola utang yang ditanggung, menikmati uang hasil jerih payah untuk memanjakan diri dengan wajar, dan di sisi lain memiliki proteksi asuransi, simpanan dana darurat yang bisa digunakan saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada diri sendiri dan keluarga, serta investasi untuk masa depan.

Namun, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, metode pengelolaan keuangan 50/30/20 belum tentu jadi metode paling tepat buat kamu yang mendapat pemasukan bulanan dengan range tertentu. Sebab, bisa jadi alokasi dana 30% untuk kebutuhan gaya hidup terlalu besar dan lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan pokok. 

Oleh karena itu, ada pula metode anggaran pengelolaan keuangan yang disebut metode 60/20/20 di mana 60% dialokasikan untuk pengeluaran kebutuhan primer, 20% untuk kebutuhan gaya hidup, dan 20% lainnya untuk menabung, berinvestasi dan membayar utang. Metode ini pun bisa dicoba.

Bagaimana mengalokasikan 50% pemasukan untuk kebutuhan pokok?

Upayakan pengeluaran kebutuhan pokok tidak lebih dari 50% pemasukan bulananmu. Caranya tentu saja dengan membuat daftar kebutuhan pokok dengan skala prioritas. Artinya, tempatkan kebutuhan pokok yang paling harus dipenuhi di urutan pertama, diikuti dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang skala prioritasnya lebih rendah.

Misalnya saja, kamu bisa membuat sesederhana ini:

  • Sewa rumah/ kost/ kontrakan/ apartemen, dan sewa properti lainnya.
  • Bayar listrik, air, biaya kebersihan dan pemeliharaan lingkungan, dll.
  • Belanja kebutuhan rumah tangga bulanan.
  • Belanja kebutuhan makan dan dapur bulanan.
  • Alokasi biaya transportasi.
  • Alokasi biaya komunikasi dan internet.
  • Alokasi biaya pendidikan, baik biaya sekolah anak, biaya kuliah S2 atau kursus untuk diri sendiri.
  • Bayar iuran BPJS.

Jika setelah ditotal, bujet pengeluaran kebutuhan pokok bulananmu melebihi 50% pemasukan, kamu harus melakukan improvisasi. Improvisasi artinya, kamu bisa mengorbankan sebagian dari 30% alokasi pengeluaran kebutuhan sekunder alias gaya hidup untuk menambal kekurangan di anggaran pengeluaran kebutuhan pokok. 

Contoh mudahnya, gak ada salahnya stop langganan streaming musik dan film untuk sebulan supaya kebutuhan transportasi tetap terpenuhi. Atau, tentu gak jadi masalah buatmu, mengurangi beli kopi kekinian supaya tagihan air dan listrik terbayarkan. 

Bagaimana mengalokasikan 30% pemasukan untuk kebutuhan sekunder?

Seperti sudah dijelaskan panjang lebar di atas, kebutuhan sekunder ini sifatnya gak wajib. Segala jenis pengeluaran yang paling mendasar untuk hidup sehari-hari dan beraktivitas adalah kebutuhan pokok, sementara yang tidak termasuk itu adalah kebutuhan sekunder. 

Intinya, kebutuhan sekunder ini memang dipenuhi untuk tujuan bersenang-senang, menikmati hidup. Buat apa kerja keras kalau semua uang kita dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokok tanpa ada yang dialokasikan untuk pengeluaran gaya hidup.

Tapi, karena gak wajib dipenuhi, kamu bisa mengalokasikan sebagian bujet ini atau seluruhnya untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. Contohnya saja untuk mempercepat pelunasan utang. Tentunya gak masalah kan, kalau kamu berkorban untuk gak hangout dua atau tiga bulan tapi utang lunas lebih cepat?

Jangan kaku-kaku amat sama bujet 30% ini. Selain buat melunasi utang, kamu juga bisa mengurangi alokasinya dan mengarahkannya untuk memperbesar porsi tabungan dan investasi. 

Bagaimana menyisihkan 20% pemasukan untuk tabungan, investasi, dan asuransi?

Tolong disimak yah, “sisihkan” bukan “sisakan”. Ya, saat kamu terima gaji bulananmu, segera sisihkan 20% untuk anggaran tabungan, investasi, dan asuransi. Sebab, kalau mindset-nya sisakan, percaya deh, kamu gak akan pernah bisa menyisakannya.

Tabungan

Sebelum menabung, tentukan dulu tujuanmu menabung, antara lain:

Kemudian, tentukan bagaimana cara kamu akan menabung. Ada banyak strategi menabung yang bisa kamu adopsi. Beberapa diantaranya adalah:

Investasi

Investasi pada dasarnya adalah mengakumulasi dana dalam bentuk instrumen-instrumen aset dengan harapan memperoleh keuntungan dalam periode tertentu. Keuntungan yang diperoleh dari investasi tentunya lebih besar dari bunga yang diberikan bank terhadap saldo tabunganmu.

Apakah kamu perlu investasi? Perlu banget, karena tujuan investasi ini sejatinya adalah mengamankan nilai uang yang kamu miliki saat ini agar tetap bernilai di masa depan. Sebab, jika tidak diinvestasikan, nilai uang yang dimiliki akan tergerus inflasi. 

Instrumen investasi ada banyak jenisnya. Selain investasi saham, ada investasi reksa dana, investasi emas, investasi P2P lending, hingga investasi properti. Lalu, investasi mana yang seharusnya dipilih?

Jangan dulu tergesa-gesa. Sama seperti menabung, tentukan dulu tujuan investasi. Setelah itu, pahami benar-benar profil risikomu, dan baru kemudian kamu bisa menentukan ke instrumen investasi apakah kamu akan mengalokasikan uangmu. 

Asuransi

Peran penting asuransi dalam pengelolaan keuangan yang baik adalah sebagai proteksi terhadap tujuan keuangan. Misalnya saja asuransi kesehatan, akan amat bermanfaat ketika kamu jatuh sakit dan butuh biaya rumah sakit, baik itu rawat jalan maupun rawat inap. 

Dengan memiliki asuransi kesehatan, kamu tidak perlu pusing memikirkan berapa anggaran kebutuhan pokok yang bisa dipotong untuk biaya berobat. Kamu pun bisa membiarkan dana daruratmu tetap utuh karena biaya pengobatan dan perawatan ditanggung asuransi.

Sama halnya dengan asuransi jiwa. Memiliki asuransi jiwa sama saja dengan mengantisipasi hal terburuk yang mungkin terjadi pada dirimu. Apalagi jika kamu adalah kepala keluarga yang jadi tulang punggung keluarga. Ketika keluargamu kehilangan kamu sebagai satu-satunya penopang hidup rumah tangga, asuransi jiwa akan memberikan uang pertanggungan kepada keluarga untuk melanjutkan hidup.

Berapa persen untuk masing-masing?

Gak ada patokan yang baku. Semuanya tergantung pada prioritasmu. Kalau prioritasmu adalah untuk memenuhi rekening dana darurat, maka gak ada salahnya untuk menggunakan 20% seluruhnya untuk mengisi rekening dana darurat. Toh, kamu sudah memiliki BPJS Kesehatan untuk menanggung biaya pengobatan kalau tiba-tiba kamu jatuh sakit. 

Setelah dana darurat terisi penuh, barulah kamu alokasikan 10% untuk investasi dan 10% untuk asuransi jiwa. Namun, lagi-lagi, angka ini gak baku. Semuanya tergantung dari preferensi investasi dan asuransimu. 

Kalau ternyata premi asuransi bulananmu gak sampai 10%, katakanlah hanya 5% dari pemasukan, gak ada salahnya alokasikan yang 5% lagi untuk investasi. Atau, kamu juga bisa gunakan 5% tersebut untuk membeli asuransi yang kamu perlukan, asuransi kendaraan misalnya. 

Bagaimana cara menghemat pengeluaran?

Komponen pengeluaran kebutuhan pokok yang sifatnya wajib memang udah gak bisa ditawar-tawar lagi. Andaikata gak dipenuhi, tentu saja akan menyebabkan terganggunya operasional rumah tangga. 

Harus dipenuhi bukan berarti gak bisa dihemat, bukan? Ya, ada banyak cara untuk menghemat pengeluaran kebutuhan pokok bulanan. Sebab, ada juga pengeluaran rumah tangga yang justru bikin boros. Beberapa komponen pengeluaran pokok yang bisa dihemat antara lain:

Kalau pengeluaran kebutuhan pokok saja bisa dihemat, kenapa pengeluaran kebutuhan sekunder gak bisa dihemat? Tentu saja bisa dong! Beberapa pengeluaran kebutuhan gaya hidup yang sangat-sangat bisa dipangkas antara lain:

Dengan sungguh-sungguh menghemat pengeluaran, kamu mendapat beberapa keuntungan. Yang pertama, kamu bisa benar-benar hanya menggunakan bujet 50% pemasukanmu untuk pengeluaran kebutuhan pokok tanpa harus mengusik pos pengeluaran lainnya. Yang kedua, kamu bisa mendapatkan dana lebih untuk dialokasikan ke pos tabungan dan investasi.

Oke, semuanya bisa dihemat, tapi balik lagi, kalau gak ada niat dan konsistensi buat berhemat, percuma aja kan. Soalnya, godaan untuk berlaku boros itu banyak banget.

Kesimpulannya, kalau kamu sudah membuat anggaran pengelolaan keuangan, yang harus dilakukan selanjutnya adalah disiplin dalam menjalankannya. Sekali lagi, kalau konsisten, kamu bisa memenuhi semua kebutuhan pokokmu, bersenang-senang, sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik, untuk dirimu sendiri, maupun keluarga.