Omzet Rp 1,5 M Sebulan! Ini Kisah Rumah Makan Marannu Kelapa Gading

Coto-Makassar-blog

Siapa di sini yang doyan konro atau Coto Makassar? Kuliner asal Sulawesi Coto Makassar memang sangat digemari orang Jakarta, dan bisa dibilang resto-resto otentik Makassar pun sering penuh saat jam makan siang.

Bagi kamu yang hobi kulineran, gak salah untuk mencicipi salah satu restoran yang terletak di Jl. Boulevard Kelapa Gading. Kira-kira kebayang gak nama restonya apa?

Resto yang dimaksud adalah, Rumah Makan Marannu. Asal kamu tahu, resto ini sudah berdiri lebih dari 70 tahun! 

Lifepal berkesempatan mampir ke Rumah Makan Marannu dan ngobrol bersama pemiliknya, Christian Yudhi alias Samson, belum lama ini. 

Pria 32 tahun ini merupakan Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Jakarta Utara. 

Samson merupakan cucu Daeng Rannu, sang pendiri Rumah Makan Marannu. Jadi, kesimpulannya, dia merupakan generasi ketiga penerus bisnis keluarganya.

Mau tahu bagaimana cerita berdirinya resto khas Makassar ini hingga akhirnya sanggup cuan hingga Rp 1,5 miliar sebulan? 

Cuan hingga Rp 1,5 miliar baru cabang Kelapa Gading saja, belum termasuk cabang di Bandung dan Dewi Sartika, Jakarta Timur.

Penasaran sama ceritanya? Yuk, simak ulasannya di sini:

1. Sudah ada sejak tahun 1984

coto makassar
Sudah ada sejak tahun 1984 (Instagram/@marannu.resto)

 “Usaha ini didirikan almarhum kakek-nenek pertama kali di Ujung Pandang, Makassar, tahun 1970setelah waktu berjalan di tahun 1984 kita pindah ke Jakarta,” ujar Samson saat ditemui di Rumah Makan Marannu, 23 Desember 2019.

“Progress-nya bagus dan Kelapa Gading ini (tempat cabang pertama) adalah daerah yang saat itu sedang berkembang, akhirnya kita juga ikut berkembang,” samsungnya.

Mendiang Daeng Rannu sudah jualan Coto Makassar sejak tahun 1970. Tapi, dia memutuskan membuka Jakarta tahun 1984, dan ternyata sukses.

Lantas, gimana kabarnya resto asli mereka yang di Ujung Pandang? Samson mengungkapkan, rumah makannya di daerah itu ternyata sudah ditutup.

Penutupan itu disebabkan kesuksesan mereka di Ibu Kota. Pelanggannya bertambah dengan drastis, dan tentunya keluarga Daeng Rannu juga harus lebih fokus mengelola restorannya di Jakarta.

Baca juga: Ada Wisata Alam dan Sejarah, Ini 11 Spot di Makassar yang Wajib Dikunjungi

2. Konsep super tradisional

coto makassar
Konsep super tradisional (Instagram/@marannu.resto)

Samson mengungkapkan, konsep restoran Makassar miliknya masih dipertahankan dengan gaya super tradisional.

“Kita ini masih masuk ke kategori resto super tradisional, beda dengan yang semi-cafe atau ada live music-nya. Kita tetap tradisional, tapi otentik. Makanya, gak ada yang berubah dari dulu sampai sekarang,” ungkapnya. 

Secara turun temurun, konsep ini dipertahankan. Sepeninggal sang ayah, Samson mengelola resto ini bersama ibunya.

Selain sang bunda, alumni Universitas Moestopo Beragama ini juga dibantu oleh sepupu-sepupunya.

Baca juga: Ngidam Makanan Makassar? Ini 5 Resto dengan Bujet Terjangkau di Jakarta

3. Modernisasi manajemen adalah tantangan berat

coto makassar
Modernisasi manajemen adalah tantangan berat (Instagram/@marannu.resto)

Sebelum Samson terjun ke bisnis keluarganya, rumah makan penjual Coto Makassar ini menggunakan sistem manajemen yang juga super tradisional. Gajian pun mereka bayarkan secara tunai keras.

Namun, ketika Samson mulai terjun ke manajemen tahun 2012, manajemen restoran kerap dimodernisasi. 

“Dulu itu semuanya serba ditulis tangan, kita pakai buku tebal untuk pembukan, gajian bayar tunai, tapi akhirnya kita ubah jadi computerize. Kita ajari mereka Microsoft Excel dan teman-temannya,” ungkapnya.

Samson juga menjelaskan, sebagai owner, dia harus turun tangan langsung. Mulai dari belanja bahan baku, pembukuan, dan lainnya.

Saat masih kuliah antara tahun 2006 hingga 2010, Samson mengurus kegiatan pembelanjaan untuk Rumah Makan Marannu. 

Alhasil, pria yang juga menjabat sebagai ketua RT setempat inipun sadar. Mau sampai kapan begini terus, sebagai owner harusnya tidak mengurus perintilan seperti ini.

“Ketika mau diubah manajemennya, banyak yang meragukan. Tapi kita percayakan saja sama yang di Atas, kalau mau berkembang ya kita harus coba itu, dan kita pun memperbaharui sistem ini,” imbuhnya.

Baca juga: Wow, 7 Restoran Sukses di Jakarta Ini Berawal dari Modal Kecil Lho

4. Bisa masak daging sampai 6 ton dalam sebulan!

coto makassar
Bisa masak daging sampai 6 ton dalam sebulan! (Instagram/@marannu.resto)

Ketika ditanya soal jumlah pengunjung restoran, Samson mengaku memang sulit memastikannya. Namun, dia bisa menghitungnya lewat berapa jumlah daging yang dipakai.

“Untuk menu konro itu 150 kg daging bisa jadi 300 porsi, kalau untuk Coto Makassar, kita biasa pakai 20 sampai 25 kilogram, sebanyak 1 kg dari 20an kg itu bisa jadi 10 porsi, itu konsumsi kita sehari,” paparnya.

Kalau dalam sehari sudah ada ratusan kilogram daging yang mereka olah jadi menu-menu lezat, kira-kira berapa kilogram daging ya yang mereka habiskan dalam sebulan?

“Kalau sebulan, untuk menu konro saja kita bisa sekitar 6 sampai 7 ton daging. Itu daging plus tulang lho, tulang kan berat. Beda sama daging saja,” katanya.

Umumnya, saat Weekend produksi di Rumah Makan Marannu bisa naik. Wajar saja, orang libur memang berniat wisata kuliner. Selain itu, dalam beberapa hari juga seringkali ada pesanan katering dadakan.

Begitulah kehidupan bos-bos usaha kuliner ya, jangan harap bisa tenang saat Weekend dan tanggal merah!

5. Terbantu dengan layanan pesan antar

coto makassar
Terbantu dengan layanan pesan antar (Instagram/@marannu.resto)

Layanan pesan antar memakai Gofood maupun Grabfood sangat membantu usaha kuliner, termasuk Coto Makassar Marannu milik Samson.

“Amat sangat membantu, kebetulan kita pakai Gofood dan Grabfood, itu membantu omzet dan memudahkan pelanggan yang memesan makanan,” tutur Samson.

Ketika ditanya soal pemetaan pelanggan, Samson mangatakan, peminat Coto Makassar dan Konro buatan Rumah Makan Marannu itu sampai ke Tangerang dan BSD. 

Bicara soal omzet, seperti yang dijelaskan sebelumnya, Samson meraih omzet hingga Rp 1,5 miliar hanya dari laba kotor cabang utama, yaitu Kelapa Gading. Belum lagi di dua cabang sebelumnya.

“Per bulan, to be fair dan gak bohong ya, dari angka Rp 1 miliar sampai Rp 1,5 miliar. Tapi kalau lebih pandai bersyukur, ya bisa di atas itu ya,” ujarnya sambil berkelakar. 

6. Percaya rezeki gak ke mana

coto makassar
Percaya rezeki gak ke mana (Instagram/@marannu.resto)

Rumah Makan Marannu ini berlokasi tak jauh dengan kompetitornya, Sop Konro Karebosi. Lantas, gimana tanggapan Samson dengan fakta satu ini yang juga dipertanyakan banyak orang?

“Tetangga kita juga ada yang jual menu serta produk yang sama. Tapi ajaran orangtua kita begini saja, percaya rezeki gak kemana. Kalau itu milik kita, gak akan jadi milik orang lain,” imbuh Samson.

Dengan wisdom ini, Samson menekuni usaha warisan keluarganya yang sudah berjalan selama lebih dari 30 tahun. 

“Intinya kita itu jualan mau tidur enak, dan mau untung aja. Gak usah mikirin orang lain, dengan kita gak nyinyir saja kita sudah untung,” tegasnya.

7. Bercita-cita ekspansi ke Australia

coto makassar
Bercita-cita ekspansi ke Australia (Instagram/@marannu.resto)

“Kebetulan saya bergabung di HIPMI, dan saya sering diskusi juga sama teman yang punya usaha frozen food dan pernah kuliah di Aussie. Kebetulan, kita memang sering pakai daging impor yang berasal dari Australia, kita pikir kalau dari sana bisa kirim ke sini, kenapa gak buka saja di sana?” ungkap Samson.

Dari segi bahan baku, tentunya lebih mudah bukan? Tapi apakah dari segi perbumbuan juga mudah? Belum tentu!

Sampai saat ini, Samson masih melakukan analisa satu ini. Mengingat bumbu Coto Makassar dan Konro Rumah Makan Marannu ini tradisional, proses pengiriman bumbu ke sana juga gak semudah membalikkan telapak tangan. 

“Untuk go internasional ada, kita lagi mikirin. Tapi untuk sekarang kita fokuskan untuk di sini dulu. Target selanjutnya kita memang lagi mencoba untuk buka cabang di BSD atau Tangsel mengingat kawasan itu juga sedang mengalami perkembangan,” tandasnya. 

Itulah cerita singkat Rumah Makan Marannu salah satu resto penyaji konro dan Coto Makassar terenak di Jakarta. Gak nyangka ya, ternyata sudah ada dari tahun 1984 dan ingin ekspansi. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →