Hartanya Sampai Rp 30 Triliun, Ini Kisah Inspiratif Bos Mayapada Group

Dato Sri Tahir [TEMPO/STR/Dwianto Wibowo]

Di luar negeri ada Bill Gates yang tercatat sebagai orang terkaya di dunia yang gemar banget beramal. Di Indonesia kita punya tokoh yang mirip, namanya Dato Sri Tahir.

Karena kegiatan kemanusiaannya, Tahir dianugerahi gelar doktor honoris causa (HC) di bidang hukum dan kemanusiaan dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

Baginya, kegiatannya tersebut adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan rasa syukurnya kepada Tuhan.

Dato Sri Tahir dikenal sebagai konglomerat dan bos dari Mayapada Group. Saking kayanya Tahir, ia masuk ke daftar 150 Orang Terkaya di Indonesia versi Globe Asia tahun 2018. Posisinya berada di urutan ke-10 dengan kekayaan mencapai Rp 30,7 triliun.

Kedermawanannya pun pernah beberapa kali diekspos media. Misalnya aja ketika dia mengucurkan dana Rp 1 triliun buat dana pendidikan dan pelatihan calon tenaga kerja wanita (TKW). Dia juga diketahui pernah menyumbang 10 unit bus tingkat ke Pemda DKI Jakarta dan pengobatan gratis buat anak-anak penderita kanker.

Di balik statusnya sebagai orang kaya sekaligus filantropis, ternyata ada kisah menarik dari sosok Dato Sri Tahir. Seperti apa kisahnya? Yuk simak ulasannya berikut ini.

1. Anak juragan becak yang dilatih berdagang sejak kecil

Lahir di Surabaya, 26 Maret 1952, Dato Sri Tahir berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Ayahnya bekerja sebagai pembuat becak, sedangkan ibunya punya toko pakaian.

Dari ibunya Tahir belajar gimana caranya berdagang. Tahir sering disuruh ibunya menjual barang ke Pasar Baru dan Mangga Dua di Jakarta.

Karena usaha orang tuanya makin berkembang, Tahir disuruh lagi menjual barang. Bukan ke Jakarta, melainkan ke Singapura.

Di samping itu, bimbingan ibunya yang keras bikin Tahir bisa menyelesaikan sekolahnya. Gak tanggung-tanggung kepedulian ibunya itu. Ia dibiayai ke sekolah terbaik hingga lulus.

Gak heran kalau selain dagang, Tahir banyak menghabiskan waktunya buat belajar.

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

2. Kuliah di Singapura biar bisa angkat derajat keluarga

Begitu lulus dari SMA Kristen Petra Kalianyar Surabaya tahun 1971, Dato Sri Tahir mengambil pendidikan bisnis di Nanyang University, Singapura. Ia bersekolah atas desakan orang tuanya.

Sama seperti waktu SMA dulu, di Singapura Tahir juga lebih sering menggunakan waktunya buat belajar. Ia merasa bahwa dirinya masih berada dalam situasi memperjuangkan ekonomi keluarga. Ditambah lagi harapan ibunya yang emang besar.

Tentu aja sikapnya itu amat kontras dibanding teman-teman seusianya yang lebih memilih bersenang-senang ketimbang belajar.

3. Dijodohkan dengan anak konglomerat

Mu’min Gunawan, bos Bank Panin, mempertemukan Dato Sri Tahir dengan Rosy Riady, anak Mochtar Riady. Saat itu Mu’min Gunawan yang beripar dengan Mochtar Riady sedang dalam misi mencarikan jodoh buat putri sang taipan.

Mu’min terkesan dengan Tahir karena menurutnya anak muda ini jauh dari kesan hura-hura.

Setelah pertemuan tersebut, Tahir pergi ke Surabaya dan bercerita kepada orang tuanya. Restu pun didapat Tahir buat melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Tahir pun pergi ke Jakarta dan menyatakan kesediaannya buat menikah. Ia pun diperkenalkan dengan Rosy. Gak butuh waktu lama buat Tahir terkesan dengan Rosy. Begitu Tahir lulus, pernikahan pun digelar di Surabaya. Saat itu Tahir masih berusia 22 tahun.

4. Jatuh bangun jalankan usaha

Pengaruh mertua terasa banget dalam kehidupan Dato Sri Tahir. Dalam urusan apa pun, ia menemui kemudahan, termasuk dalam urusan bisnis.

Namun, bukan berarti Tahir lantas bisa bekerja di bisnis keluarga Mochtar Riady. Mertuanya ini sama sekali gak mengizinkan Tahir buat bersentuhan dengan bisnisnya.

Tahir pun memilih menjalankan usahanya sendiri. Di sinilah ia merasakan pengaruh mertuanya karena ia leluasa menemui siapa pun. Sejumlah usaha dijalankannya mulai dari furnitur hingga showroom mobil.

Namanya menjalankan usaha, tentu aja gak selamanya mulus. Tahir pernah mengalami kebangkrutan. Tapi bantuan sang mertua dalam bentuk utang berhasil menyelamatkannya.

Mochtar Riady juga mempercayakan pengelolaan perusahaan garmen miliknya ke tangan Tahir. Kepercayaan ini tentu gak disia-siakan. Tahir sukses menjalankan perusahaan.

5. Mendirikan Mayapada

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

Mayapada pun lahir pada 7 September 1989. Di luar itu Tahir juga merambah ke bisnis-bisnis lainnya. Mulai dari jasa keuangan, kesehatan, properti, retail, hingga media.

Dengan pengalamannya dalam dunia usaha, ia berhasil menciptakan grup usaha dalam satu naungan Mayapada Group.

Beberapa nama usahanya pasti udah gak asing buat kamu. Misalnya aja asuransi Zurich, RS Mayapada, Mayapada Tower, resor Fairmont Sanur Bali, Topas TV, Forbes Indonesia, Elle Indonesia, hingga Rajawali Televisi (RTV).

Berkat Mayapada Group, Tahir menjadi konglomerat sama seperti mertuanya Mochtar Riady. Tahir pun kini lebih sering membaktikan hidupnya buat kegiatan sosial. Ia pun mendirikan Tahir Foundation sebagai lembaga yang bakal menyalurkan uangnya buat amal.

Lewat Tahir Foundation, ia pernah menyumbang hingga Rp 950 miliar buat membantu penanggulangan TBC, HIV, dan malaria di Indonesia. Ia juga pernah membantu nelayan dan petambak yang rugi akibat banjir sebesar Rp 100 miliar tahun 2014.

Itulah kisah Dato Sri Tahir, si anak juragan becak yang kini menjadi konglomerat merangkap filantropis. Salut deh!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →