Defisit: Memahami Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

defisit ekonomi

Apa itu defisit? Defisit adalah sebuah kondisi keuangan yang ditandai dengan pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan pemasukan.

Tidak hanya dialami oleh individu, kondisi tersebut juga sering terjadi dalam lingkup yang lebih besar, seperti perusahaan atau bahkan keuangan negara. Kondisi ini bisa dipahami juga sebagai suatu keadaan kekurangan keuangan dalam kas sebagai akibat pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan. 

Dalam lingkup negara, defisit berarti konsumsi pemerintah melebihi jumlah pendapatannya, sedangkan biaya kekurangannya itu diambil dari pendapatan individu. Artinya, total permintaan terhadap barang dan jasa lebih banyak dibandingkan dengan total penawaran dan konsumsi individu harus ditekan untuk memberi ruang bagi konsumsi pemerintah yang berlebih. Lawan kondisi dari defisit adalah surplus. 

Faktor-faktor penyebab defisit

Kondisi defisit sangat umum terjadi dalam keuangan negara, terutama pada negara-negara berkembang. Istilah yang digunakan untuk menggambarkannya adalah defisit anggaran. Apa penyebab defisit anggaran?

1. Pembiayaan pembangunan

Sebagai negara berkembang, dibutuhkan sebuah investasi besar untuk membiayai pembangunan. Pembangunan ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menjamin kesejahteraan masyarakat. Berikut ini berbagai jenis pembangunan yang biasanya diprioritaskan.

  • Pembangunan infrastruktur nasional.
  • Pengadaan sarana maupun prasarana pertahanan dan keamanan.
  • Pembangunan sarana pengadilan dan lembaga pemasyarakatan.
  • Pembangunan di bidang sosial (pendidikan dan kesehatan).
  • Program transmigrasi dan pembangunan daerah.
  • Program penanganan dan pengentasan kemiskinan (PPK dan P3DT).

2. Daya beli masyarakat rendah

Defisit juga dapat disebabkan karena rendahnya daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya terkait sembako, sarana pendidikan, transportasi, BBM, dan listrik.

Rendahnya daya beli masyarakat kemudian mendorong pemerintah memberikan subsidi terhadap berbagai kebutuhan agar masyarakat berpenghasilan rendah mampu membelinya. Pada jangka panjang, pemberian subsidi berisiko memicu terjadinya defisit kas negara karena besarnya pengeluaran.

3. Nilai tukar mata uang melemah

Negara-negara berkembang sering kali melakukan pinjaman luar negeri untuk membiayai kebutuhan pembangunan. Setiap kali ada perubahan nilai mata uang asing, negara peminjam akan terkena dampaknya sebab pinjaman uang dari luar negeri tersebut dihitung dengan valuta asing, sedangkan pembayaran utang dihitung dengan mata uang negara peminjam. 

Maka, ketika terjadi depresiasi mata uang negara peminjam, maka utang luar negeri akan meningkat.

4. Realisasi penerimaan negara tidak mencapai target

Setiap kali APBN disusun, pemerintah tentunya telah membuat rencana sumber keuangan negara. Namun, tidak jarang realisasi penerimaan negara tidak mencapai target sehingga banyak program yang terbengkalai.

Pemotongan bujet juga sering dilakukan pada beberapa program karena penerimaan negara tidak sesuai target. Hal tersebut mengakibatkan program tidak berjalan maksimal dan setiap tahun pemerintah harus menutup kekurangan tersebut sehingga berdampak kepada penyusunan APBN.

5. Pengeluaran saat inflasi

Dalam penyusunan APBN di awal tahun, pemerintah menggunakan standar harga yang telah ditetapkan. Namun, harga dapat mengalami perubahan dan biasanya meningkat setiap tahun akibat inflasi. 

Terutama saat terjadi inflasi yang tidak diperhitungkan sebelumnya, maka beban biaya untuk berbagai program pemerintah akan meningkat sedangkan anggaran tidak berubah karena sudah ditetapkan. Akibatnya, APBN mengalami revisi dan pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih besar.

Apa saja dampak dari terjadinya defisit?

pemecatan inflasi

Kondisi defisit yang menimpa suatu negara akan berdampak kepada beberapa variabel ekonomi makro nasional. Contoh sederhananya adalah ketika terjadi defisit akibat kurangnya penerimaan dari pajak. Ketika hal itu terjadi, pemerintah perlu penambahan modal untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang mana artinya permintaan terhadap uang akan meningkat. 

Selanjutnya sebagai dampak tambahan, ketika permintaan terhadap uang meningkat, maka tingkat suku bunga yang merupakan harga modal juga akan mengalami peningkatan. 

Selain itu, mari kita telaah dampak-dampak negatif lainnya saat negara mengalami defisit.

1. Tingkat inflasi

Adanya defisit anggaran bisa memunculkan kecenderungan kenaikan harga-harga secara umum atau biasa dikenal dengan inflasi

Hal tersebut dapat terjadi karena pengeluaran untuk biaya proyek dengan biaya besar dan berjangka lama nyatanya belum dapat menghasilkan keuntungan dalam waktu yang cepat, tetapi pemerintah sudah mengeluarkan biaya untuk upah buruh. 

Akibatnya daya beli masyarakat akan meningkat, tetapi di sisi lain hasilnya belum memenuhi permintaan sehingga mendorong terjadinya inflasi.

2. Konsumsi dan tabungan

Terjadinya inflasi karena adanya defisit anggaran akan mengurangi pendapatan riil masyarakat. Akibatnya, masyarakat akan mengurangi tingkat konsumsi dan tabungannya. Padahal tabungan memiliki peranan penting untuk mendorong investasi. Ketika tingkat tabungan menurun, maka tingkat investasi akan ikut turun.

3. Pengangguran

Saat investasi menurun, hal tersebut akan berdampak terhadap penurunan tingkat kesempatan kerja. Pasalnya, banyak proyek pembangunan yang sangat bergantung pada investasi. Ketika hal itu terjadi, banyak proyek atau perluasan proyek yang tidak dapat dilanjutkan. 

Sebagai salah satu akibatnya akan meningkatkan risiko terjadinya PHK atau pemecatan tenaga kerja. Dengan kata lain, tingkat pengangguran akan meningkat.

Tidak hanya berpengaruh pada negara dan masyarakat, penurunan tingkat investasi akan berdampak kepada dunia bisnis juga. Pasalnya, banyak perusahaan yang juga bergantung pada investasi untuk menjalankan roda bisnisnya. Jadi ketika terjadi defisit, banyak pihak yang akan merasakan dampaknya.

Bagaimana cara mengatasi defisit anggaran?

Keadaan defisit dapat diatasi dengan melakukan berbagai upaya, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran. Berikut ini cara mengatasi defisit anggaran yang bisa dilakukan.

1. Dari sisi penerimaan

  • Melakukan pinjaman dari bank, ini akan meningkatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat dan harus diikuti dengan peningkatan jumlah barang yang diproduksi.
  • Menerbitkan obligasi, ini akan meningkatkan penyerapan uang masyarakat dan menambah pemasukan negara.
  • Meminjam dari luar negeri, ini digunakan untuk merealisasikan proyek yang produktif dan efisien yang mana pembayaran cicilannya diambil dari pajak.
  • Meningkatkan penerimaan pajak, ini akan menambah pemasukan negara.

2. Dari sisi pengeluaran

  • Mengurangi subsidi, pengurangan subsidi tersebut dilakukan untuk mengurangi pengeluaran negara yang terlampau besar, misalnya subsidi BBM, listrik, dan lainnya.
  • Pengurangan pengeluaran rutin, misalnya biaya perjalanan dinas, rapat, seminar, listrik, dan pengeluaran rutin lainnya.
  • Pemerintah harus memprioritaskan pengeluaran produktif dengan cara mengutamakan program-program yang lebih cepat menghasilkan keuntungan. Sedangkan proyek jangka panjang dan dengan biaya besar akan ditunda.
  • Memotong biaya program tertentu, pembiayaan beberapa program pemerintah yang tidak mendorong pertumbuhan sektor riil, pajak, dan devisa harus dikurangi atau dipotong.

Defisit anggaran karena Covid-19

sri mulyani

Pandemi Covid-19 juga berpengaruh pada defisit anggaran, bahkan Kementerian Keuangan mencatat kebutuhan pembiayaan APBN 2020 mencapai Rp1.439,8 triliun, Rp 852,9 triliun di antaranya digunakan untuk pembiayaan defisit. 

Pembiayaan ini meningkat karena pemerintah melebarkan menjadi 5,07% terhadap produk domestik bruto (PDB) dari yang sebelumnya 1,76% guna menanggulangi dampak pandemi. Dari kebutuhan total tersebut, sebanyak Rp856,8 triliun akan dipenuhi dari penerbitan surat berharga negara (SBN) hingga akhir tahun. Penerbitan SBN tersebut akan dilakukan setiap dua minggu dari kuartal II sampai kuartal IV.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, melalui Perppu Nomor 1 Tahun 2020, Bank Indonesia akan menggelontorkan Rp125 triliun atau 25% dari total penerbitan SBN yang dilakukan pemerintah. Ini merupakan cara terakhir pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di tengah pandemi Covid-19. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyatakan pemerintah akan menjaga defisit di level 5% atau lebih rendah dengan melakukan disiplin pengelolaan anggaran. Sedangkan pada tahun depan, pihaknya menargetkan defisit bisa ditekan sebesar 3% hingga 4% dari PDB. Caranya dengan memfokuskan belanja pada sektor yang menjadi prioritas, yakni sektor kesehatan, bantuan sosial, pendidikan, transfer ke daerah dan dana desa (TKDD), serta transformasi ekonomi.

Pada praktiknya, kondisi defisit sangat terpengaruh oleh tingkat penerimaan negara dan investasi. Artinya, kita juga bisa berkontribusi untuk mencegahnya dengan taat membayar pajak dan meningkatkan nilai tabungan kita. Dengan demikian baik negara, kita sebagai masyarakat, maupun dunia bisnis dapat melanjutkan perputaran keuntungan dan merasakan manfaatnya.