Apa Itu Derivatif dan Seperti Apa Cara Kerja Investasi Ini?

derivatif adalah

Dalam dunia keuangan, derivatif adalah kontrak bilateral atau sebuah perjanjian, tapi uniknya, derivatif itu ternyata bisa jadi alternatif investasi.  

Lantas apa hubungannya dengan investasi? Kok bisa sebuah perjanjian atau kontrak itu jadi investasi?

Gak dipungkiri bahwa masih banyak banget yang belum paham mengenai instrumen investasi derivatif. Instrumen ini merupakan salah satu instrumen yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia, selain saham, reksadana, dan surat utang.

Pada dasarnya, ini adalah “produk turunan” dari semua instrumen investasi yang tersedia di pasaran. Misalnya kamu pernah membeli logam mulia berupa emas. Nah tiba-tiba, seorang sales menawarimu produk turunan dari emas itu yaitu “kontrak perdagangan emas.” 

Yang kamu lihat tentu bukan emas batangan, melainkan grafik dari nilai kontraknya. 

Tertarik mengetahui lebih dalam seputar investasi yang satu ini? Seperti apa risikonya dan apa saja jenisnya? Yuk simak ulasannya.

Apa itu Derivatif?

derivatif adalah
Investasi berbasis kontrak? Apa ya maksudnya? (pixabay)

Seperti yang dijelaskan di atas, derivatif adalah kontrak finansial antara dua belah pihak atau lebih, untuk memenuhi janji dalam membeli atau menjual aset maupun komoditas. Kontrak itu lantas dijadikan sebuah obyek yang diperdagangkan dengan harga yang telah disepakati bersama antara pihak penjual maupun pembelinya.

Adapun harga atau nilai dari kontrak ini di masa depan bakal dipengaruhi dengan harga aset atau komoditas induknya itu sendiri. 

Perlu kamu tahu, instrumen ini sejatinya sudah ada sejak tahun 1848, di Chicago, Amerika Serikat. Kala itu, di tempat tersebut sedang musim panen gandum. 

Saat itu, setiap kali para petani melakukan panen, maka harga gandum selalu anjlok karena stok berlebih. Sementara itu pada saat mereka gak panen, harganya jadi melambung karena komoditas ini langka. Tentu saja, kondisi ini membuat para petani merugi.

Untuk menstabilkan harga, Chicago Mercantile Exchange menerbitkan produk derivatif pertama yang berupa kontrak pembelian gandum. Dengan adanya ini, para petani bisa menjual gandumnya di masa depan “dengan penentuan harga yang dilakukan saat ini.”

Jadi pada saat panen, mereka gak perlu membawa semua gandumnya ke Chicago dengan tujuan, agar pasokan gandum gak berlebih. Gandum-gandum itu mereka simpan di wilayahnya, untuk dijual di masa depan dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya. 

Di BEI, derivatif yang tersedia adalah derivatif produk keuangan. Variabel-variabel yang mendasarinya adalah saham, obligasi, indeks saham, indeks obligasi, mata uang (currency), tingkat suku bunga dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.

Sementara itu jika aset dasarnya adalah produk komoditas, maka pengawasnya tentu bukan di BEI melainkan di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, alias BAPPEBTI.

Jika derivatif adalah investasi berbentuk kontrak, Seperti apa tingkat risikonya?

derivatif adalah
Intinya, produk ini sejatinya bisa menciptakan lindung nilai terhadap aset atau komoditas (pixabay)

Mengingat derivatif adalah investasi yang berbasis kontrak perdagangan. Maka risikonya pun tergolong tinggi, namun imbal hasilnya tentu juga besar.

Ketika kita berinvestasi di sektor saham, proses capital gain tentu terjadi ketika suatu saham milik perusahaan itu diborong investor. Nah, alasan investor memborong juga cukup beragam, salah satunya karena mereka melihat adanya prospek cerah di perusahaan itu.

Hal ini berbeda dengan derivatif. Derivatif cenderung memanfaatkan spekulasi harga di masa depan. Oleh karena itu, wajar sekali jika investasi ini dikategorikan sebagai investasi tinggi risiko, bahkan lebih tinggi dari saham. 

Bicara soal risiko, orang terkaya di dunia, Warren Buffett pernah mengatakan bahwa investasi ini cukup berbahaya.

“Derivatif adalah senjata finansial, yang bisa berfungsi layaknya senjata pemusnah massal, sekarang bahayanya belum terlihat, tapi nanti akan berpotensi menjadi yang paling mematikan,” demikian pernyataan Buffett.

Misalkan kontraknya adalah kontrak pembelian emas, kamu bisa memperjual-belikan kontrak ini tanpa harus memegang emasnya terlebih dulu. Nah, harga kontraknya jelas fluktuatif dan sangat bergantung pada harga komoditas emas di pasaran.

Derivatif bisa menciptakan perlindungan terhadap suatu nilai komoditas

derivatif adalah
Risikonya jelas tinggi, karena derivatif ini penuh dengan spekulasi (pixabay)

Jika memang pendapat Buffett itu benar, maka semua produk derivatif berbahaya dong? Perspektif orang berbeda-beda, namun yang jelas, produk ini diciptakan untuk melindungi nilai sebuah komoditas atau aset di masa depan.

Melihat dari sejarah derivatif yang berawal dari petani gandum Chicago, sejatinya instrumen ini akan memunculkan nilai lindung dari harga sebuah komoditas. 

Di tahun 2017, Bank Indonesia sempat mendorong BUMN untuk menggunakan instrumen ini guna menghadapi fluktuasi nilai tukar Rupiah. 

Proses penilaian dari produk derivatif itu sendiri sama sekali gak sederhana. Walaupun tujuannya adalah sebagai alat lindung nilai, bukan berarti para perusahaan yang menggunakan instrumen ini terbebas dari risiko.

Jenis-jenis derivatif

derivatif adalah
Apa saja ya jenis-jenis instrumen ini? (Pixabay)

Secara umum, produk derivatif itu dibedakan menjadi dua. Pertama adalah produk investasi derivatif yang dijual di bursa atau pasar sekunder, dan yang di luar bursa atau over the counter, intinya langsung ke perusahaan yang bersangkutan.

Namun secara bentuknya, ada beberapa contoh kontrak perdagangan yang umum disebut. Mungkin beberapa di antara kamu pernah mendengar istilah ini: 

Kontrak berjangka (Futures)

Kontrak berjangka adalah kontrak yang lazim diperdagangkan di bursa berjangka, untuk membeli atau menjual suatu aset atau instrumen pada tanggal di masa yang akan datang dengan harga yang telah ditetapkan.

Misalnya, kamu membutuhkan 100 barel minyak mentah untuk enam bulan dari sekarang. Tapi kamu khawatir, harga beli minyak itu enam bulan ke depan bakal gak bagus.

Salah satu yang bisa kamu lakukan adalah dengan membuat perjanjian dengan penjual, di mana kamu bakal membeli dengan harga US$ 20 untuk per barelnya. Itu artinya kamu sudah berkomitmen untuk membayar US$ 2 ribu untuk 100 barel minyak mentah, alhasil perjanjian itulah yang akhirnya dinamakan “kontrak berjangka” atau future contract.

Ketika harga minyak mentah naik enam bulan ke depan, maka pemegang kontrak itu bisa untung. Tapi sebaliknya, si penjual tentu rugi karena dia sudah sepakat menjualnya di bawah harga pasaran saat ini.

Sebaliknya jika harga komoditasnya turun, maka pembelinya yang rugi sementara itu penjualnya yang untung. 

Ada dua pihak yang meramaikan proses perdagangan di pasar berjangka. Yang pertama  adalah spekulator, atau mereka yang membeli dan menjual kontrak berjangka dengan tujuan menghasilkan selisih dari harga terakhir di pasar dan harga awal dari kontrak tersebut. 

Selain spekulator, ada pula hedger alias para lindung nilai yang membeli dan menjual kontrak berjangka untuk mengurangi risiko mereka di pasar. Para lindung nilai itu adalah para produsen dan konsumen dari produk yang diperdagangkan di bursa tersebut. 

Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) adalah lembaga resmi yang menyediakan sarana perdagangan kontrak berjangka di Indonesia. Mereka punya empat macam produk yang aktif diperdagangkan yaitu, emas, minya sawit, kontrak gulir emas, dan kontrak gulir indeks emas.

Selain itu, masih ada juga kontrak indeks Hang Seng 33, Indeks Nikkei 224, Indeks Kospi 200, kontrak mata uang Dollar AS, Jepang, dan minyak sawit (CPO). 

Opsi (Option)

Opsi adalah instrumen yang akan memberikan “hak”  bagi pemegangnya untuk membeli atau menjual aset pada satuan harga tertentu, pada atau sebelum tanggal jatuh tempo.

Tunggu dulu deh, lantas apa bedanya opsi dengan kontrak berjangka?

Intinya, dalam kontrak berjangka, pembeli “wajib” membeli aset yang diperjualbelikan pada harga yang disepakati, begitu pun dengan penjual.

Sementara itu, mengingat opsi adalah memberikan sebuah “hak”. Maka pemegang opsi gak akan diwajibkan untuk menjual atau membeli seiring dengan dekatnya masa jatuh tempo. Jika dia gak mau ya udah gak apa-apa. 

Nah, opsi sendiri dibagi jadi dua. Apa saja? 

Call option

Call option adalah sebuah kontrak yang “memberikan hak pada pemiliknya untuk membeli” saham dalam jumlah tertentu, dari perusahaan penerbit option pada suatu harga dan periode tertentu. 

Satu hal yang memicu seseorang membeli call option adalah, adanya spekulasi bahwa harga pasaran saham ini bakal naik secara signifikan dalam jangka waktu tertentu. 

Nah daripada beli sahamnya dulu dan salah prediksi nantinya, lebih baik beli call option saja. Karena dengan membeli kontrak ini, jika harga saham itu nyatanya turun di periode yang kamu spekulasikan, maka kamu bisa membatalkan transaksi. Paling rugi karena beli kontraknya saja.

Contoh: 

Pak Boby membayar Rp 25 ribu untuk “tiga bulan” call option saham PT Segar Jaya di harga Rp 5 ribu per lembar sebanyak 100 lembar. 

Dengan ini, spekulasi pak Boby harus tepat bahwa saham PT Segar Jaya harus naik “minimal” Rp 250 per lembar jadi Rp 5.250. Hal itu disebabkan karena ada biaya berupa call option sebesar Rp 25 ribu yang harus ditutupi (100 lembar x Rp 250 = Rp 25 ribu).

Jika akhirnya saham itu terbang tinggi dalam tiga bulan jadi Rp 6 ribu per lembar, maka keuntungan bersih pak Boby adalah Rp 75 ribu. Rumusnya adalah:

[ – Rp 25.000] = Rp 75.000

Lantas apa jadinya jika saham itu malah turun atau cuma naik Rp 5.100 selama tiga bulan? Pak Boby bisa membatalkan pembelian, paling dia cuma rugi Rp 25 ribu saja karena harus membeli call option tersebut. 

Put option

Nah, put option adalah kebalikan dari call. Intinya, put adalah kontrak yang memberikan hak pada pemiliknya untuk “menjual saham” dalam jumlah tertentu dari perusahaan penerbit option. 

Pemicu seorang membeli ini adalah karena ada spekulasi dalam jangka waktu tertentu bahwa saham yang dia miliki bakal turun. Pembeli put option berupaya melindungi nilai keuntungannya, jadi, dia bisa menjual sahamnya di harga yang tinggi meski harga pasaran saat itu sedang anjlok.

Contoh:

Pak Boby membayar Rp 32.500 untuk kontrak put option terhadap 100 lembar saham PT Susu Tangerang dengan durasi enam bulan, di harga Rp 4 ribu per lembar.

Saham PT Susu Tangerang ini harus anjlok minimal Rp 325 perak per lembar untuk menutupi biaya kontrak put option yang dibeli pak Boby. 

Jika pada kenyataanya di enam bulan ke depan saham tersebut jatuh hingga menyentuh level Rp 3 ribu per lembar, pak Boby justru untung Rp 67.500 karena dia menjualnya dengan harga Rp 4 ribu. Rumusnya:

[ – Rp 32.500] = Rp 67.500.

Jika nyatanya, saham itu justru bullish atau naik, ya batalkan saja kontraknya. Pak Boby cuma rugi Rp 32.500 karena membeli kontrak ini. 

Swap

Swap juga masuk ke dalam transaksi derivatif. Untuk yang satu ini, kaitannya sangat erat dengan valuta asing.

Secara sederhana, swap diartikan sebagai transaksi dua arah atau sekaligus, atau langsung bersamaan di waktu yang sama, antara dua belah pihak, untuk membeli dan menjual sejumlah nominal mata uang dengan mata uang yang lain atau bisa juga terhadap suku bunga yang juga fluktuatif. Setelah itu diikuti pula dengan mempertukarkannya kembali di masa depan.

Transaksi ini kebanyakan dilakukan di luar bursa atau over the counter.

Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mendapat kepastian kurs atau suku bunga. Jadi, kurs atau suku bunga itu “akan tetap sama” selama kontrak ini berjalan. So, kerugian atas selisih kurs atau suku bunga itu bisa dihindari.

Contoh:

Perusahaan yang kamu dirikan memiliki pinjaman dengan nilai Rp 1 miliar yang saat ini bunganya adalah 8 persen. Seperti diketahui, akan ada fluktuasi bunga di masa yang akan datang. 

Kamu pun memutuskan untuk menggunakan kontrak swap yang mengakibatkan, kamu memiliki kewajiban untuk melakukan pembayaran saat suku bunga turun. 

Patut diketahui bahwa ketika kamu mengajukan kontrak swap, kamu bakal diminta membayar biaya jasa atau premi oleh “pihak lain.” Untuk interest rate swap, “pihak lain” yang dimaksud adalah bank penyedia layanan swap.

Itulah serba-serbi dari instrumen investasi derivatif yang bisa kamu ketahui. Kesimpulannya, derivatif adalah sebuah investasi yang berasal dari produk turunan, dan yang diperjualbelikan di sini adalah kontraknya.

Gak bisa dipungkiri, pemahaman masyarakat seputar derivatif memang masih sangat kurang. Sementara itu, banyak sekali perusahaan-perusahaan swasta di bawah BAPPEBTI yang menawarkan investasi ini ke investor retail.

Sayangnya, karena pemahaman terhadap produk ini masih minim, para calon investor ini mudah sekali untuk terbuai dengan imbal hasil tinggi dan mengabaikan risiko yang ada. Alhasil, bukannya untung tapi malah buntung.

Edukasi memang sangat penting dimiliki sebelum kita terjun ke investasi ini. Selain itu, pengalaman juga penting lho. Setidaknya, calon investor harus paham dulu seperti apa investasi saham atau obligasi, dan produk lainnya, agar mereka tidak kaget ketika ditawari instrumen derivatif.