Pengertian Divestasi dan Beragam Hal di Seputarnya

divestasi

Divestasi adalah kebalikan dari investasi. Investasi diartikan sebagai penambahan aset yang dilakukan seseorang atau perusahaan dengan harapan memberikan keuntungan lebih besar.

Sedangkan divestasi dapat dipahami sebagai pengurangan jenis aset yang dimiliki seseorang atau perusahaan. Namun, jangan dianggap divestasi berarti seseorang atau perusahaan mengalami kerugian atau kebangkrutan, ya!

Pasalnya, divestasi ini bisa dibilang bertujuan untuk menambah keuntungan bagi orang atau perusahaan. Misalnya saja ketika seseorang yang berinvestasi di saham menjual sejumlah lot saham saat harga tinggi. Divestasi yang dilakukan ini akan menambah pendapatan investor tersebut.

Motif Divestasi

motif divestasi

Perusahaan atau seseorang yang melakukan divestasi didukung oleh berbagai motif, salah satunya mengurangi beban aset dan menambah pendapatan. Beban aset yang dimaksud contohnya adalah kepemilikan properti yang berarti ada pajak, biaya perawatan, dan lain-lain.

Selain keuntungan dan mengurangi beban, terdapat motif lain yang biasanya menjadi alasan perusahaan atau investor melakukan divestasi. Berikut beberapa motif tersebut.

  1. Perusahaan atau investor ingin fokus pada bisnis terbaik yang memberikan keuntungan tertinggi. Itu sebabnya kebanyakan divestasi dilakukan bukan pada aset utama.
  2. Menghasilkan keuntungan besar di saat yang tepat, seperti menjual bisnis, instrumen investasi saat harga tinggi, dan lainnya.
  3. Mengurangi potensi kerugian atau kegagalan yang lebih besar karena aset yang dijual tidak lagi menguntungkan.

Selain motif di atas ada juga motif lain seperti yang diungkapkan Abdul Moin dalam bukunya Merger, Akuisisi & Divestasi. Menurut dia ada dua alasan utama yang menyebabkan sebuah perusahaan melakukan divestasi. Berikut penjelasannya.

1. Alasan internal perusahaan yang terdiri atas beberapa motif, yaitu:

  • Ingin kembali ke kompetensi inti.
  • Menghindari sinergi negatif.
  • Melepas bisnis usaha yang tidak menguntungkan lagi.
  • Kesulitan keuangan.
  • Perubahan strategi atau prioritas.
  • Mencari tambahan dana segar untuk bisnis utama atau kebutuhan tertentu.
  • Melepas unit bisnis agar bisa berdiri sendiri.

2. Alasan eksternal perusahaan melakukan divestasi adalah adanya paksaan dari pemerintah, permintaan kreditur, atau investor.

Metode Divestasi

metode divestasi

Dalam melakukan divestasi ada berbagai metode atau cara. Paling umum dilakukan investor atau perusahaan adalah melalui penjualan aset. Namun, masih ada cara lain yang harus kita ketahui. Secara umum, metode divestasi dibagi dalam empat jenis. Berikut penjelasannya.

1. Metode penjualan

Penjualan menjadi tipe paling umum dari kegiatan pengurangan aset. Divestasi yang paling sering dilakukan sebuah perusahaan adalah penjualan divisi, unit bisnis, atau penjualan segmen atau sekelompok aset ke perusahaan lain.

Pembeli pada umumnya tidak selalu membayar tunai. Nah, untuk alasan melakukan metode ini adalah:

  • Penjualan aset menjadi pertahanan terhadap pengambilalihan yang tidak bersahabat.
  • Penjualan aset memberikan dana tunai untuk perusahaan yang dilikuidasi.

2. Metode spin-off

Dalam metode ini perusahaan induk mengubah sebuah divisi menjadi entitas (unit usaha lain yang masih satu buku akuntansi dengan perusahaan induk) yang terpisah. Lewat spin-off, saham entitas akan dibagikan kepada pemegang saham perusahaan induk.

Meski masuk kategori divestasi, spin-off dan metode penjualan berbeda karena:

  • Perusahaan induk tidak mendaoatkan dana tunai dari spin-off seperti pada penjualan.
  • Pemegang saham awal dari divisi yang dipisahkan tetap sama dengan pemegang saham perusahaan induk.

3. Metode carve-out

Metode ini berarti perusahaan induk mengubah sebuah divisi menjadi entitas yang terpisah. Tidak seperti dalam spin-off di mana entitas masih satu buku akuntansi dengan perusahaan induk, dalam metode ketiga ini saham entitas akan dijual ke masyarakat.

Artinya, pemegang saham bukan hanya pemilik saham pada perusahaan induk di awal, tetapi menambah jumlah pemilik saham. Umumnya nih, pemegang saham perusahaan induk mempertahankan kepemilikan mayoritasnya di entitas baru tersebut.

4. Metode tracking stock

Dalam metode terakhir ini diartikan sebagai cara menerbitkan tracking stock yang bertujuan menelusuri kinerja divisi tertentu dalam perusahaan. Contohnya pembagian dividen yang jumlahnya tergantung pada kinerja divisi tersebut.

Divisi yang memiliki tracking stock tetap menjadi bagian dari perusahaan induk, meskipun sahamnya diperdagangkan secara terpisah dengan perusahaan induk.

Dampak Divestasi

kelebihan dan kekurangan divestasi

Divestasi yang dilakukan khususnya oleh perusahaan berdampak langsung pada penerimaan kas. Namun dampak ini masuk kategori dampak jangka pendek.

Suatu perusahaan yang melakukan divestasi biasanya akan membukukan hasil penjualan dalam laporan keuangan. Nantinya, dalam laporan laba/rugi penjualan tersebut masuk pos penjualan lainnya dan akan meningkatkan laba bersih perusahaan.

Berikut ini dua dampak lain dari divestasi bagi perusahaan.

1. Rebalancing pada neraca keuangan

Ketika perusahaan melakukan divestasi lini bisnis usaha, perusahaan juga menyerahkan sejumlah nilai aset kepada pembeli lini bisnis usaha tersebut. Sehingga, aset perusahaan akan berkurang.

Di sisi lain, utang yang dibawa perusahaan juga akan berpindah tangan kepada perusahaan lain yang membeli lini bisnis tersebut. Namun, kondisi ini dikecualikan jika ada pernyataan dalam kontrak antara kedua belah pihak terkait utang lini bisnis.

2. Perusahaan kehilangan potensi pendapatan

Kalau yang ini sudah pasti menjadi dampak jangka panjang bagi perusahaan yang melakukan divestasi. Perusahaan yang melakukan divestasi akan kehilangan potensi pendapatan di masa depan.

Perusahaan hanya mendapatkan uang dari hasil divestasi berupa penjualan. Selain itu kemungkinan utang perusahaan juga berkurang. Tetapi, otomatis pendapatan dari lini bisnis yang dijual tidak akan didapatkan lagi.

Tips Investasi di Perusahaan yang Melakukan Divestasi

tips divestasi

Menjadi investor tentunya harus pilih-pilih. Terutama jika menjadi investor pada instrumen investasi berupa saham dan obligasi. Kita wajib melihat kondisi keuangan perusahaan, aksi korporasi yang bakal dilakukan ke depan, hingga laporan keuangannya.

Selain itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan berinvestasi pada perusahaan yang telah atau akan melakukan divestasi. Berikut beberapa poin pentingnya.

1. Teliti motif perusahaan melakukan divestasi

Seperti penjelasan sebelumnya, motif perusahaan melakukan aksi korporasi ini bermacam-macam. Salah satunya adalah kebutuhan dana. Kalau alasannya seperti ini sebaiknya kita menahan dulu investasi di perusahaan tersebut.

Dengan alasan kebutuhan dana untuk ekspansi atau membayar utang ada kemungkinan keuangan perusahaan tersebut kurang baik. Di samping itu, kita harus mempertanyakan kenapa perusahaan tidak meminjam di bank. Jangan-jangan karena tidak dipercaya atau sudah tidak memiliki aset yang bisa dijaminkan untuk melakukan pinjaman.

Begitupun pertimbangan ketika kita hendak membeli sebuah perusahaan atau lini bisnisnya. Apakah murni karena ingin fokus di satu bisnis saja, atau justru ada alasan lain yang kurang sehat. Kalau sudah begini, bisa meminta bantuan akuntan eksternal untuk memberikan penilaian yang objektif terhadap perusahaan tersebut terutama dalam arus kas dan utang.

2. Ketahui kontribusi bisnis perusahaan

Ketika akan berinvestasi di suatu perusahaan yang melakukan pengurangan aset, maka pertimbangan lain yang harus diketahui adalah dampak kehilangan keuntungan. Contohnya pada kasus PT Unilever Tbk yang melakukan divestasi. Kontribusi pendapatan dari lini bisnis yang dilepas hanya 1,5 persen.

Artinya, 1,5 persen itu bisa dikatakan tidak signifikan terhadap total pendapatan Unilever. Dengan contoh ini, sangat penting bagi investor mengetahui kontribusi pendapatan dari aksi korporasi ini karena bakal terkait dengan dividen dan capital gain yang akan diperoleh.

3. Lepas saham perusahaan

Dampak divestasi bagai dua sisi mata uang, menguntungkan dan merugikan. Tetapi, untung dan rugi ini juga tergantung pada pengelolaan hasilnya oleh perusahaan. Jika manajemen buruk, maka perusahaan tidak mendapatkan penghematan dan tambahan dana yang maksimal.

Jika kita tidak yakin dengan dampak divestasi tersebut, sebaiknya tidak perlu menahan lama kepemilikan saham atas perusahaan tersebut. Namanya investasi tentu kita mau untung, bukan?

Divestasi yang menjadi kebalikan investasi tidak selamanya menjadi hal negatif, ya! Kalau masih belum bersedia melakukan divestasi dalam lini bisnis perusahaan, coba lakukan penghematan waktu dan uang.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →