Optimalisasi Potensi Ekonomi Maritim Indonesia 2020

nelayan dan hasil laut

Sebagai negara kepulauan dengan luas laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi yang mana terdiri atas 3,1 juta kilometer persegi teritorial dan 2,7 juta kilometer persegi ZEE, Indonesia memiliki potensi ekonomi maritim yang sangat besar. 

Sayangnya, kondisi ekonomi maritim di Indonesia belum maksimal karena ternyata baru sekitar 25% dari potensi tersebut yang dimanfaatkan dengan baik.

Pengertian ekonomi maritim

Ekonomi maritim adalah seluruh aktivitas ekonomi yang berlangsung dan termasuk nilai-nilai ekonomis yang berada di wilayah pesisir dan lautan. Aktivitas dan nilai yang berada di daratan, namun menggunakan bahan baku yang berasal dari wilayah pesisir dan lautan, turut dikelompokkan ke dalam ekonomi maritim.

Sedangkan di wilayah Indonesia secara umum, ekonomi maritim mencakup beberapa sektor utama, antara lain:

  • Perikanan tangkap.
  • Perikanan budi daya.
  • Industri pengolahan perikanan dan hasil laut.
  • Industri bioteknologi kelautan.
  • Energi dan Sumber Daya Material (ESDM)
  • Pariwisata bahari.
  • Perhubungan laut.
  • Kehutanan.
  • Sumber daya pulau-pulau kecil.
  • Industri dan jasa maritim.
  • Sumber Daya Alam (SDA) nonkonvensional.

Sektor-sektor tersebut mampu menyumbang nilai total ekonomi sebesar US$1,5 triliun per tahun atau setara dengan 1,5 kali PDB, dengan potensi lapangan kerja bagi 45 juta orang atau 35% total angkatan kerja.

Contoh ekonomi maritim

ekonomi maritim indonesia

Jika dimanfaatkan dengan baik dan maksimal, beberapa contoh potensi ekonomi maritim berikut ini bisa menyumbang laju perekonomian Indonesia, baik berupa nilai ekonomi maupun lapangan kerja.

1. Tambak udang

Terdiri atas 17.504 pulau yang tiga perempat wilayahnya berupa lautan, Indonesia memiliki 3 juta hektar lahan pesisir yang cocok untuk dijadikan lokasi budidaya tambak udang jenis Vaname. 

Jika Indonesia mampu mengolah 500 ribu hektar lahan menjadi tambak udang, maka setidaknya bisa menghasilkan 20 juta ton udang setiap tahun dengan tingkat produktivitas rata-rata 40 ton/hektar per tahun.

Dengan harga udang Vaname mencapai US$5 per kilogram, nilai ekonomi yang akan dihasilkan berpeluang mencapai US$100 miliar setiap tahun atau sekitar 10% PDB saat ini dengan keuntungan bersih rata-rata Rp10 juta/ha/bulan.

Selain berupa nilai ekonomi, ribuan hektare tambak udang tersebut bisa menyerap tenaga kerja hingga 2 juta orang secara langsung (on farm) dan 1,5 juta orang secara tidak langsung (off farm). 

Ini baru keuntungan yang didapatkan dari budidaya udang Vaname dan masih ada komoditas lain yang juga memiliki nilai ekonomi sama tingginya, misalnya udang windu, ikan bandeng, nila salin, kerapu, kakap, bawal bintang, kepiting, lobster, gonggong, abalone, teripang, kerang mutiara, dan rumput laut.

2. Biofuel

Tidak hanya berupa hasil hewani, Indonesia juga memiliki potensi hayati berupa biofuel. Biofuel adalah bahan bakar yang dihasilkan dari bahan organik.

Berdasarkan penelitian IPB pada tahun 2012, ada empat spesies mikroalga laut yang dapat menghasilkan biofuel karena mengandung hidrokarbon sekitar 20% dari total berat keringnya. 

Jika Indonesia mampu memanfaatkan 0,3% total lautnya saja atau 2 juta hektar area laut dangkal untuk membudidayakan mikroalga ini, maka akan dapat menghasilkan sekitar 2 juta barel biofuel per hari.

Ini melebihi kebutuhan minyak mentah nasional sebesar 1,4 juta barel per hari. Artinya, kita bisa memenuhi kebutuhan secara mandiri dan tidak bergantung pada impor minyak.

3. Bioteknologi

Memiliki wilayah laut yang luas artinya mempunyai keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity) besar yang berpotensi dikembangkan menjadi industri bioteknologi kelautan. Industri ini meliputi tiga cabang industri, yakni:

  1. Genetic engineering guna menghasilkan bibit dan benih fauna serta flora yang unggul.
  2. Ekstraksi senyawa bioaktif dari organisme laut yang menghasilkan bahan baku mentah untuk berbagai industri seperti kosmetik, farmasi, pewarna, film, dan lain-lain.
  3. Bioremediasi lingkungan untuk perairan yang tercemar.

Agenda pembangunan ekonomi maritim

ekonomi maritim dan kelautan

Memiliki potensi ekonomi maritim yang besar namun belum dimanfaatkan dengan maksimal membuat pemerintah harus mengambil langkah tepat. Apalagi pemerintah sudah menjadikan kemaritiman sebagai salah satu fokus pembangunan dengan tagline Poros Maritim Dunia. 

Beberapa agenda pembangunan ekonomi maritim yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah sebagai berikut.

  1. Menyempurnakan dan mengimplementasikan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) secara terpadu di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional.  Ruang wilayah antara daratan pesisir dan laut sampai 12 mil harus dialokasikan minimal 30% untuk kawasan lindung berupa daerah pemijahan dan asuhan bagi biota perairan, sempadan pantai, lokasi rawan bencana, dan areal lain yang mesti dilindungi. Sedangkan 70% sisanya digunakan untuk budidaya perikanan tambak, budidaya laut, perikanan tangkap dengan ukuran kapal di bawah 30 GT, pariwisata bahari, pertambangan ramah lingkungan, kawasan industri ramah lingkungan, pemukiman, dan pelabuhan.
  2. Mengoptimalkan sektor perikanan tangkap dengan mengembangkan 10.000 armada kapal ikan modern dengan ukuran 50 GT hingga 500 GT untuk digunakan pada lahan yang masih underfishing yang selama ini menjadi area illegal fishing para nelayan asing.
  3. Meningkatkan kualitas dan sertifikasi seluruh Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang jumlahnya mencapai 61.603 unit di seluruh Indonesia supaya produk olahannya memiliki tambah dan berdaya saing tinggi sehingga laku di pasar domestik maupun ekspor.
  4. Meningkatkan budidaya komoditas kelautan yang memiliki nilai jual tinggi seperti udang windu, bandeng, nila salin, kepiting soka, kerapu lumpur, rumput laut Gracilaria spp, kerapu, kakap, dan lain-lain.
  5. Mengembangkan industri bioteknologi seperti industri makanan dan minuman sehat, farmasi, kosmetik, dan biofuel.
  6. Mengembangkan wisata bahari supaya mampu mendatangkan 10 juta orang wisatawan mancanegara dan menghasilkan devisa sedikitnya 10 miliar dolar AS per tahun. Ini juga harus dibarengi dengan pengembangan kualitas SDM pengelola wisata bahari maupun masyarakat lokal.

Pemerintah juga diharapkan untuk segera merevitalisasi seluruh usaha produksi, pengolahan, industri, maupun jasa maritim yang ada demi menjadikannya lebih produktif, efisien, inklusif, dan ramah lingkungan juga. 

Dengan begitu, potensi maritim Indonesia akan memiliki nilai lebih dan berdaya saing tinggi di tingkat internasional. Selain itu, strategi dan kebijakan pengembangan ekonomi maritim di Indonesia harus disusun dengan sebaik-baiknya agar membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.