Amankah Pakai KTA Buat Modal Biaya Nikah? Berikut Analisanya

Bagi para calon pengantin, biaya nikah bisa bikin stres berkepanjangan. Gimana gak, buat melangsungkan pesta pernikahan, terutama di kota-kota besar, dibutuhkan biaya yang gak sedikit.

Sekalipun kita bisa menahan keinginan buat menyelenggarakan resepsi yang sederhana, orangtua bisa jadi punya keinginan yang bertentangan. Maklum aja, di Indonesia pernikahan bukan cuma buat dua individu, tapi juga dua keluarga besar.

Jangan lupakan prosesi adat yang juga bisa bikin biaya semakin membengkak.

Tapi, menunda pernikahan dengan alasan belum cukup dana resepsi juga gak mudah buat dilakukan. Gimana kalau calon keburu digaet orang yang lebih mapan?

Alhasil, fasilitas pinjaman dari bank tanpa agunan alias KTA pun tampak sebagai satu-satunya solusi. Telepon berbagai sales bank yang menawarkan pinjaman puluhan juta yang biasanya diabaikan kini perlahan diladeni.

“Yah, gak apalah pinjam dulu, toh nanti bisa bayar cicilannya sama-sama setelah menikah,” begitu kira-kira yang ada di benak si peminjam.  

Tapi, benarkah “aman-aman” aja mengambil pinjaman KTA buat biaya nikah? Buat tahu jawabannya, yuk kita analisa bersama.

Mitos: setelah menikah bisa mudah bayar cicilan

Punya pekerjaan dengan penghasilan lumayan terus dipotong cicilan utang tiap bulan tentu aja gak bakal jadi soal. Apalagi jika pasangan sama-sama bekerja.

Bisa bayar utang bersama pasangan, lambat laun cicilan utang KTA biaya nikah yang telah berlalu bakal terlunasi juga.

Eits, tunggu dulu!

Penghasilan yang besar gak menjamin kondisi finansial bakal lancar jaya ya, apalagi kalau dipotong banyak cicilan utang.

Udah menghitung kebutuhan lainnya?

Fakta: setelah menikah kebutuhan dan tanggungan jadi lebih banyak

Sekalipun sama-sama bekerja dan punya penghasilan, kebutuhan berumah tangga juga bakal semakin tinggi. Setelah menikah bakal timbul kebutuhan-kebutuhan baru.

Setelah menikah pengin dong punya rumah sendiri? Udah siap penghasilan dipotong cicilan KPR tiap bulannya? Biaya punya rumah gak cuma DP dan cicilan lho, biaya “isi” rumah seperti perabotan juga bisa menguras tabungan keluarga.

Setelah berumah tangga, pengin segera punya momongan? Udah siap sama biaya persalinan yang jumlahnya gak sedikit itu? Mulai dari biaya check up rutin sampai biaya popok bayi? Punya anak berarti harus siap juga dengan dana pendidikan.

Jangan lupa, kepala keluarga wajib punya asuransi jiwa jika pengin kelangsungan hidup anak tetap terjamin dan mencegah hal-hal gak diharapkan terjadi.

Usia semakin bertambah, udah persiapkan dana pensiun belum? Gak pengin kan masa tua jadi beban anak? Masa gak tertarik menikmati hari tua melakukan hal yang kamu pengin, tanpa bingung cari biaya sementara tenaga udah gak sebanyak waktu muda dulu?

Belum lagi biaya sehari-hari, mulai dari konsumsi dan transportasi. Belum lagi jika punya keinginan lain seperti liburan dan segudang kebutuhan lainnya. Waduh!

Jika penghasilan setelah menikah masih dipangkas buat lunasi biaya nikah, alokasi duit buat tujuan-tujuan lain seperti di atas pasti terhambat lah.  

Udah paham penerapan bunga KTA?

Sekalipun ada bank yang menawarkan suku bunga KTA yang cukup kompetitif, namun besarannya tetap relatif lebih tinggi dibanding jenis kredit lain.

Di Indonesia, besaran suku bunga KTA berkisar antara 0,99 persen hingga 2,5 persen per bulan.

Perbankan di Indonesia menerapkan tiga jenis bunga kredit, yaitu bunga flat, bunga efektif, dan bunga anuitas. Bunga pinjaman yang paling sering diberlakukan adalah flat. Secara perhitungan bunga flat terbilang sederhana, tapi kerugian yang ditanggung cukup besar.

Pada bunga flat, jumlah cicilan per bulan yang harus dibayarkan bersifat tetap. Suku bunga bakal dihitung berdasarkan pokok pinjaman.

Contohnya seperti pada simulasi kasus di bawah ini.

Raisa memiliki pinjaman KTA sebesar Rp 10 juta dengan suku bunga flat 1,25 persen per bulan atau 15 persen per tahun. Tenor kredit selama tiga tahun atau 36 bulan. Maka perhitungannya, sebagai berikut:

Besar biaya bunga: (pokok pinjaman x bunga x tenor )/ bulan

(Rp 10 juta x 15 persen x 3)/26 = Rp 125 ribu

Cicilan per bulan: ( Rp 10 juta /36)+ Rp 125 ribu = Rp 402.777

Dengan kata lain, total cicilan selama tiga tahun menjadi Rp 14,5 juta. Atau selisih sekitar Rp 4,5 juta dari pinjaman pokok yang cuma Rp 10 juta. Lumayan besar, kan?

Jadi, bijakkah menikah pakai dana KTA?

Biaya nikah bermodalkan utang pada dasarnya gak disarankan. Buat mengumpulkan biaya kebutuhan pernikahan, cara yang paling bijak adalah dengan menabung dari jauh-jauh hari.

Selain itu, sesuaikan juga pesta pernikahan dengan kondisi dompet. Gak perlu malu atau termakan gengsi karena ujung-ujungnya beban utang kita yang nanggung sendiri.

Tapi, jika kamu merasa gak punya pilihan lain selain mengambil KTA, pastikan telah memahami produk KTA yang pengin diambil. Tentunya cari produk KTA dengan suku bunga terendah. Pahami juga nilai tambah dari masing-masing produk.

Selain itu, sebaiknya ajukan pinjaman buat biaya nikah sekecil mungkin dengan jangka waktu yang pendek. Ingat, dana yang diambil cuma menutupi kekurangan yang diperlukan. Jangan karena ada dana KTA, jadi timbul berbagai keinginan baru yang sebelumnya gak ada.