FMCG: Memahami Pengertian, Jenis, dan Memanfaatkan Peluang

Pengertian

FMCG adalah produk yang terjual dengan cepat dengan biaya yang relatif rendah. Barang-barang ini juga disebut barang kemasan konsumen.

Istilah ini merujuk pada barang-barang yang dibeli dan sering dikonsumsi oleh konsumen. Artinya karakteristik FMCG umumnya cepat habis di pasar sehingga pihak produsen yang bergerak di FMCG memproduksi barangnya secara masal. 

Apa saja yang termasuk barang FMCG dan bagaimana karakteristiknya? Berikut informasi yang Lifepal rangkum. 

Jenis-Jenis Produk FMCG

Produk FMCG

Barang-barang konsumen adalah produk yang dibeli untuk dikonsumsi setiap hari. Berdasarkan sifat konsumsinya, kita mengonsumsi barang-barang dengan jenis sebagai berikut. 

  • Barang tahan lama, yaitu barang yang memiliki umur simpan yang panjang. Biasanya barang tersebut dapat disimpan selama tiga tahun atau lebih sejak dihasilkan. Contoh, ponsel dan gawai elektronik sejenisnya.  
  • Barang yang tidak dapat diperbaiki, yaitu barang yang memiliki umur simpan singkat. Biasanya barang ini hanya dapat disimpan kurang dari satu tahun. Barang-barang sejenis ini diberikan kategori nondurable. Contoh, makanan/minuman ringan, sabun, pulsa ponsel.
  • Layanan, yaitu proses pemenuhan kebutuhan yang didapat dari orang lain atau interaksi dengan orang lain. 

Hampir setiap orang di dunia menggunakan barang FMCG setiap waktu. Mereka adalah konsumen pada skala kecil mulai dari kios produksi, toko kelontong, supermarket, dan gudang. Pembeli barang grosiran yang menjual kembali barang yang dibeli pun termasuk kelompok penggunanya. 

Barang yang termasuk FMCG meliputi susu, makanan ringan, beras, buah dan sayuran, daging, kertas, sabun, pasta gigi, hingga obat-obatan bebas yang dijual di apotek.

Barang-barang tersebut menjadi pengeluaran hampir separuh dari belanja konsumen, namun dampak pembelian terhadap barang tersebut terhadap gaya hidup tidak terlihat secara kasat mata. Berbeda dengan barang berjenis tahan lama, seperti kendaraan dan ponsel, yang pembeliannya terlihat dan dapat meningkatkan status ekonomi. 

Ciri-ciri barang jenis FMCG 

Merujuk pada barang-barang yang dibeli dan sering dikonsumsi oleh konsumen di keseharian, kita bisa menelaah ciri-ciri barang FMCG sebagai berikut. 

  • Usia simpan yang pendek karena permintaan konsumen yang tinggi, contohnya minuman ringan, sereal, dan permen 
  • Mudah rusak, barang jenis FMCG rentan rusak apabila dalam penanganannya tidak tepat. Begitu juga apabila waktu penyimpanannya terlalu lama. seperti daging, produk susu, dan makanan yang dipanggang. 
  • Barang sering dibeli karena dengan cepat dikonsumsi oleh pembeli.  
  • Harga barangnya termasuk kompetitif atau murah.
  • Dijual dalam jumlah besar. 
  • Penjual barang FMCG memiliki omset tinggi sebab barang tersebut selalu habis di atas rak toko. 

Kategori barang FMCG

FMCG adalah jenis barang dengan kategori tidak dapat diperbaiki sehingga barangnya memiliki umur simpan yang singkat. Waktu penyimpanan barang ini sendiri umumnya dalam hitungan hari atau tahunan, tergantung kepada jenisnya. Berikut kategori barang-barang FMCG.

  1. Makanan olahan: Produk keju, sereal, dan pasta instan.
  2. Makanan siap saji: Mi instan, daging kaleng. 
  3. Minuman: Air kemasan, minuman berenergi, dan jus.
  4. Makanan yang dipanggang: Kue, croissant, dan bagel.
  5. Makanan segar, beku, dan barang kering: Buah-buahan, sayuran, kacang polong dan wortel, kismis, dan kacang-kacangan.
  6. Obat-obatan: Aspirin, pereda rasa sakit, dan obat-obatan lain yang dapat dibeli tanpa resep dokter.
  7. Produk pembersih: Soda kue, pembersih oven, dan pembersih jendela dan kaca.
  8. Kosmetik dan perlengkapan mandi: Produk perawatan rambut, concealer, pasta gigi, dan sabun.
  9. Perlengkapan kantor: Pena, pensil, dan spidol.

Memanfaatkan Peluang Industri FMCG

Peluang industri

Barang FMCG memang memiliki tingkat perputaran yang tinggi. Permintaan yang besar disertai jumlah konsumen yang luas membuat banyak pelaku usaha yang bermain di sektor ini. Industri FMCG pun menjadi sangat kompetitif dengan pelaku usaha yang banyak. Pelaku usaha tidak hanya datang dari perusahaan raksasa, tapi juga datang dari skala usaha kecil menengah hingga rumahan. 

Sejumlah perusahaan raksasa yang bergerak di industri FMCG meliputi Unilever, Coca Cola, Nestle, Lifebuoy, Indofood, Wings, dan masih banyak lainnya. Jumlah produk FCMG memang dijual dalam jumlah besar sehingga dianggap sebagai sumber pendapatan yang andal. Volume penjualannya memang tinggi, tapi untuk mendapatkan profit margin tinggi pun sama beratnya. 

Diambil dari sudut pandang investor, saham perusahaan yang bergerak di FMCG cukup menjanjikan. Meski harga sahamnya rendah, namun tetap berpeluang tinggi untuk terus berkembang. 

Maka, sebagai wadah investasi, saham FMCG dinilai sebagai risiko yang aman dengan margin yang dapat diprediksi. Pembagian dividen dapat dipastikan dilakukan secara reguler. 

Bisnis FMCG lewat e-commerce

Para pembeli di seluruh dunia saat ini memilih untuk berbelanja barang-barang yang dibutuhkan secara online. Metode ini dirasa lebih mudah, cepat, efisien dan menawarkan lebih banyak reward. Cukup memilih dan membayar melalui ponsel, barang pesanan langsung dikirim ke rumah kita. 

Kemudahan inilah yang mendisrupsi kegiatan berbelanja secara konvensional. Hasil riset pasar saat ini menunjukkan masyarakat modern menyukai berbelanja secara online atau digital. 

IRI, sebuah perusahaan big data asal Amerika Serikat dalam laporan risetnya menyoroti peluang pertumbuhan baru untuk pengecer dan produsen FMCG online. Meski begitu, masih ada sebagian masyarakat yang masih memilih supermarket sebagai tujuan utama berbelanja barang-barang FMCG. 

Seperti dikutip dari Netimperative, IRI merinci ada delapan tren utama dalam e-commerce FMCG. Kemudahan pembelian hanya dengan pesan dan klik dari gawai dan selanjutnya barang dikirim ke alamat tujuan. 

Pangsa pasar FMCG online di Indonesia memang terbilang masih rendah dibandingkan sektor lain, namun mengambil sampel dari sejumlah negara di Eropa, tren ini telah mencatat pertumbuhan penjualan yang pesat. 

Data dari IRI mencatat pertumbuhan penjualan online FMCG di Italia mencapai 42 persen, Spanyol 29 persen, dan selanjutnya menyusul Prancis serta Jerman. 

Penjualan makanan dan barang perawatan pribadi disebut paling banyak dilakukan secara online. Berkaca pada kondisi saat ini, plus perubahan angkatan kerja yang datang dari generasi milenial yang melek teknologi, bukan tidak mungkin pertumbuhan penjualan lewat e-commerce akan mencapai 54 persen dalam waktu dekat. 

Lantas bagaimana dengan nasib FMCG tradisional? Tentu akan terjadi disrupsi atas kondisi tersebut, namun tetap diyakini tidak lantas membuat pasar tradisional tergilas oleh teknologi. Peluang bagi industri tradisional untuk melayani kebutuhan konsumen tetap ada, terutama pada kondisi saat e-commerce sedang mengalami gangguan.  

Tidak menutup kemungkinan dengan adanya pembentukan kemitraan baru dalam membangun saluran distribusi yang baru. Peluang tersebut bisa terjadi saat e-commerce menggandeng mitra-mitra tradisional, misalnya melalui sebuah bentuk layanan kurir belanja. 

Kemajuan teknologi memang tidak terhindarkan. Kita pun tidak lantas berdiam diri sebagaimana idealnya pun kita harus mampu memanfaatkan berbagai layanan digital terbaru untuk menunjang keberlangsungan bisnis kita.

Mudah-mudahan ulasan ini bermanfaat dalam memperkaya wawasan kita di lini usaha terkait, ya. Semoga sukses!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →