Gaji Rp 10 Juta Cicilan Rumah Rp 5 Juta? Jangan Pusing, Begini Cara Atur Keuanganmu

Seorang wanita bingung bagaimana cara membayar utang

Punya cicilan rumah, dan setelah dihitung-hitung jumlahnya 50 persen dari penghasilan bulanan! Waduh gimana ini, apakah ke depan bisa terancam miskin mendadak?

Cicilan utang yang ideal tentunya adalah 30 persen dari total penghasilan bulanan. Banyak perencana keuangan yang mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena kita masih butuh biaya untuk hidup. 

Namun bagi sebagian besar orang, memiliki rumah adalah impian yang harus segera direalisasikan karena harga properti terus naik seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, rumah juga merupakan salah satu kebutuhan pokok yang kerap disebut “papan.”

Gak heran kan kalau akhirnya, banyak orang yang nekat kredit rumah tanpa memperhitungkan cicilannya. Mungkin saja mereka berpikir, kalau gak nekat ya gak bakal dapat rumah.

Nah, khusus buat kamu yang memang harus membayar cicilan rumah yang  besarnya setengah kali gaji. Coba lakukan beberapa hal di bawah ini, agar kesehatan finansialmu tetap terjaga.

1. Hati-hati jika mau senang-senang

Pesta pora anak muda (Shutterstock).
Pesta pora anak muda (Shutterstock).

Dalam bujeting, biaya untuk keperluan gaya hidup seperti nonton, traveling, makan di resto mahal, nongkrong, atau belanja barang yang jadi hobimu memang ada. Besaran untuk biaya yang satu ini, umumnya adalah 10 persen dari penghasilan bulanan.

Lantas apa kabar jika cicilan rumah sudah setengah penghasilan bulanan. Otomatis kamu akan hidup dengan setengah gaji sampai cicilan itu lunas. 

Sebut saja, gaji kita sebulan adalah Rp 10 juta. Ketika cicilan yang sebesar setengah kali gaji, maka sisa uang kita hanyalah Rp 5 juta. Bayangkan saja, Rp 5 juta untuk makan, bayar tagihan listrik, air, internet, pulsa, dan transport. Apakah cukup?

Dalam situasi seperti ini, kesampingkan saja urusan gaya hidupmu. Atau jika memang sudah gak tahan, anggarkan maksimal 2,5 persen saja dari penghasilan bulanan atau Rp 250 ribu saja.  

Dengan Rp 250 ribu, bisa cukup kan buat nonton, belanja, atau nongkrong. Kalau dalam sebulan skip bersenang-senang, ya semua sudah cukup aman. 

2. Hemat-hemat biaya makan, dan beli saham blue chip

Grafik saham (Shutterstock).
Grafik saham (Shutterstock).

Dengan sisa uang Rp 5 juta, berapa kira-kira biaya makanmu dalam sehari? Atur saja, dalam satu hari (pagi, siang, dan malam) anggarkan biaya makan sebesar Rp 50 ribu. 

Maka dalam 30 hari, total biaya makanmu adalah Rp 1,5 juta. Kamu pun masih menyimpan uang Rp 3,5 juta di rekening, oleh karena itu manfaatkanlah untuk investasi demi menambah penghasilan pasif.

Mengingat kamu juga membutuhkan dana darurat yang cukup, maka alokasikan saja 7 persen dari penghasilan bulanan atau Rp 700 ribu untuk investasi tiap bulan. Itu juga sudah cukup. 

Dengan uang Rp 700 ribuan, kamu bisa membeli saham blue chip seperti BBRI, BBNI, atau perusahaan lain dengan fundamental yang baik. 

Bayangkan saja, setahun rutin menabung Rp 700 ribu dengan beli saham blue chip, maka total investasimu di portofolio mencapai Rp 8,4 jutaan. Jika capital gainnya adalah 15 persen, maka keuntunganmu sudah mencapai Rp 1,2 juta. Belum lagi jika ada keuntungan dari dividen lho.

Percaya deh, dalam setahun blue chip bisa menghasilkan keuntungan 15 hingga 20 persen. Bila ditarik mundur lima tahun yang lalu, mereka yang memegang saham BBRI ternyata sudah cuan 115 persen lho!

Sebut saja, kamu membeli saham dengan metode lumpsum Rp 8,4 juta di awal, dan lima tahun kemudian cuannya 100 persen. Maka keuntunganmu ya Rp 8,4 juta! Lumayan banget kan. 

3. Reksadana pasar uang juga harus punya

Reksadana salah satu jenis saham yang mudah dibeli (Shutterstock).
Reksadana salah satu jenis saham yang mudah dibeli (Shutterstock).

Menurut perhitungan di atas, jika biaya makan adalah Rp 1,5 juta perbulan dan biaya beli saham Rp 700 ribu, maka masih tersisa uang Rp 2,8 juta di rekening dong. Alokasikan saja Rp 300 ribu untuk menabung di reksadana pasar uang.

Investasi ini memang minim risiko dan mudah ditop-up kapan saja. Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit kok.

Selain itu, keuntungan reksadana dalam setahun juga bisa mencapai 7 persenan. Di samping itu, dengan adanya saham dan reksadana, kamu sudah melakukan diversifikasi investasi.

Jika pasar modal sedang ambruk, maka kamu masih bisa dapat keuntungan dengan adanya reksadana ini.  Oh ya, reksadana pasar uang juga bisa dijadikan salah satu tempat penyimpanan dana darurat lho. 

4. Alokasikan 10 persen dari penghasilan untuk dana darurat

Dana darurat (Shutterstock).
Dana darurat (Shutterstock).

Sudah punya saham blue chip dan reksadana pasar uang, dan masih ada sisa uang Rp 2,5 juta. Berapa dana darurat yang harus disisihkan?

Rp 1 juta atau 10 persen dari total penghasilan pun sudah cukup. Tujuan dari dana darurat ini tentu saja untuk mewaspadai adanya peristiwa-peristiwa yang tak terduga, seperti PHK dari pihak kantor, atau adanya musibah-musibah yang menimpa diri kita. 

Mengingat ada cicilan rumah, dana darurat tentunya bisa dimanfaatkan untuk mewaspadai kenaikan biaya cicilan mengingat bunga KPR di bank konvensional bersifat floating (naik turun). 

Sisa uang yang Rp 1,5 juta yang ada di rekening manfaatkan saja untuk bayar tagihan listrik, air PAM, pulsa telepon, dan paket internet. Jangan boros-boros paket ya.

5. Cari pekerjaan baru dan usahakan gaji naik minimal 30 persen

Seorang pria tengah melakukan wawancara kerja (Shutterstock).
Seorang pria tengah melakukan wawancara kerja (Shutterstock).

Upgrade karier saja, mulai sebar cv ke perusahaan-perusahaan lain demi penghasilan yang lebih baik. Usahakan saja gajimu di perusahaan baru itu naik 30 persen. Kalau sekarang gajinya Rp 10 juta nett, usahakan perusahaan yang siap menggajimu minimal Rp 13 juta nett. 

Cari kerja ini gampang-gampang susah. Pertimbangannya pun cukup banyak.

Pertama adalah faktor lokasi. Percuma kan gaji besar tapi lokasi kerja dan tempat tinggal terlampau jauh, ujung-ujungnya biaya transportasi bengkak.

Kedua adalah faktor atasan. Mencari kerja sejatinya gak semata mencari penghasilan yang lebih baik, namun juga mencari atasan yang juga lebih baik.

Percuma kan gaji besar tapi kerja kita sama sekali gak dihargai, atau malah dimaki-maki. Bukannya tenang, malah jadi stres. 

Itulah hal-hal yang harus diperhatikan bagi seorang yang terlanjur mengambil cicilan rumah sebesar 50 persen dari penghasilan. Intinya, cicilan sebesar 50 persen gaji memang bikin kita pusing, meski gaji kita sudah dua digit. Namun hal tersebut gak menjadi halangan untuk berinvestasi, dan ingat juga, yang kita cicil adalah aset untuk masa depan. 

Berikut ini adalah deskripsi soal alokasi keuangan kamu jika punya cicilan sebesar 50 persen penghasilan bulanan yang sebesar Rp 10 juta. 

Pengeluaran Presentase Nominal
Cicilan Rumah 50% Rp 5 juta
Biaya makan 15% Rp 1,5 juta
Nabung saham 7% Rp 700 ribu
Reksadana Pasar Uang 3% Rp 300 ribu
Dana darurat 10% Rp 1 juta
Air, Listrik, Telepon, Kuota Internet, transport 15% Rp 1,5 juta
Gaya hidup 2,5% Rp 250 ribu

Ingat deh, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. 

Selama belum dapat pekerjaan dengan gaji yang lebih baik, kurangi senang-senang demi keuangan yang sehat di masa depan. Dua bulan sekali rekreasi, masih bisa hidup kok. (Editor: Winda Destiana Putri).