Kisruh Pemegang Saham dan Pihak Garuda Terkait Laporan Keuangan 2018

Maskapai penerbangan plat merah, Garuda Indonesia (Instagram).

Maskapai penerbangan plat merah, Garuda Indonesia (Instagram).

Maskapai penerbangan berplat merah Garuda Indonesia kini tengah menerima sorotan. Pasalnya berbagai media arus utama di Indonesia memberitakan bahwa ada kejanggalan yang terdapat di dalam laporan keuangan Garuda tahun 2018.

Kejanggalan tersebut mengakibatkan dua komisaris perusahaan menolak untuk menandatangani laporan keuangan. Gak cuma itu saja, ada rumor yang beredar berita tersebut membuat beberapa pekerja Garuda mogok kerja.

Sebenarnya apa sih yang terjadi di Garuda Indonesia belakangan ini?

Baca juga: Ini yang Perlu Dilakukan Milenial untuk Membangun Kekayaan dengan Cepat

Laporan keuangan yang janggal

Maskapai penerbangan plat merah, Garuda Indonesia (Instagram).
Maskapai bintang lima, Garuda Indonesia (Instagram).

Laporan keuangan maskapai Garuda Indonesia tahun 2018 menuai polemik belakangan ini. Beberapa pemegang saham menilai ada yang janggal di laporan tersebut.

Dilansir dari Kompas.com yang dipersoalkan oleh pemegang saham yaitu, di laporan keuangan tersebut piutang dimasukkan ke dalam pendapatan terkait dengan transaksi layanan konektivitas PT Mahata Aero Teknologi.

Oleh karenanya, Chairul Tanjung dan Dony Oskaria selaku pemilik saham sebesar 28 persenan dan komisaris PT Garuda Indonesia enggan menandatangani laporan keuangan tersebut. Artinya, keduanya pun berpotensi untuk mengabaikan saham PT Garuda.

Padahal, transaksi kerja sama terkait hiburan di pesawat antara PT Mahata beserta PT Citilink Indonesia tersebut merupakan kerja sama selama 15 tahun dengan nilai yang sangat besar yaitu sekitar US$ 239,9 juta atau sekitar Rp 3,4 triliunan.

Tapi, di dalam laporan keuangan Garuda, jumlah tersebut dimasukkan ke dalam pendapatan tahun 2018. Oleh karenanya laporan keuangan Garuda mendapat laba bersih yang lumayan besar yaitu Rp 72 miliaran. Padahal, selama tiga bulan terakhir pada tahun 2018, Garuda mengalami kerugian hingga Rp 1,64 triliun.

Tapi kemudian pihak manajemen menilai hal itu tidak melanggar Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 23. Pembelaan ini kemudian juga didukung oleh auditor eksternal BDO International, yang menilai pendapatan tersebut dapat dibukukan meski kasnya sendiri belum diterima.

Menteri BUMN juga menyebut ada kejanggalan

Senada dengan pihak Garuda dan auditor BDO International, Menteri BUMN Rini Soemarno juga menyebut pencatatan tersebut hal yang wajar. Ia menyebut meski kerja sama tersebut berjangka, tapi laporan komitmennya hanya dicatatkan di tahun 2018 saja, untuk tahun-tahun berikutnya tidak akan dicatatkan ke dalam pendapatan.

Dikutip dari CNN, pemegang saham baik CT maupun Dony beranggapan bahwa laporan janggal tersebut bisa berdampak pada kas perusahaan. Salah satunya adalah menimbulkan kewajiban perpajakan baik Pajak Penghasilan maupun Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya belum waktunya. Hal ini tentu berdampak langsung pada beban arus kas perusahaan.

Baca juga: Pengin Investasi dari Barang Koleksi Pribadi? Bisa Aja Kok! Mudah Banget

Rumor pilot Garuda yang mogok kerja

Maskapai penerbangan plat merah, Garuda Indonesia (Instagram).
Rumor pilot mogok juga sudah tersebar (Instagram).

Sikap dua komisaris tersebut ternyata mendapat respons dari para karyawan Garuda Indonesia. Beredar di media sosial pernyataan para asosiasi mulai dari Serikat Karyawan Garuda Indonesia, Asosiasi Pilot Garuda, dan Dewan Pimpinan Cabang Awak Kabin yang berencana melakukan aksi mogok kerja.

Dalam surat tersebut mereka menuangkan kekhawatirannya terhadap polemik laporan keuangan tersebut. Mereka menilai hal tersebut bisa merusak kepercayaan publik terhadap harga saham Garuda dan memengaruhi kepercayaan pelanggan.

Tapi hingga kini aksi mogok tersebut belum juga dilakukan. Dikutip dari Okezone, Presiden Asosiasi Pilot Garuda Capt Bintang Hardiono membantah isi surat tersebut dan menyatakan surat tersebut hanya hoax belaka.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sendiri mengaku mengirimkan surat kepada pihak Garuda Indonesia untuk mengatasi rumor tersebut. Meski hanya berita bohong, Menhub tetap mengimbau para pekerja untuk tetap tenang terhadap polemik laporan keuangan. (Editor: Winda Destiana Putri).