Harta Kekayaan Bisa Menyusut Gara-Gara 6 Hal Ini

seorang wanita tengah belanja

Sudah tahu cara menghitung jumlah harta kekayaan bersihmu? Cara menghitung harta kekayaan mudah kok, dan umumnya hal ini selalu dilaporkan tiap tahun saat kamu lapor pajak.

Harta kekayaan bersih itu gak cuma berasal dari uang yang ada di rekening, melainkan juga dari aset-aset yang kamu miliki seperti rumah, mobil, saham, surat berharga, logam mulia, dan lainnya.

Cara mudah menghitungnya adalah menjumlahkan nilai-nilai aset tersebut dengan uang kas di rekening, lalu dikurangi total utang. 

Seiring berjalannya waktu, tentu harapan kita harta kekayaan yang dimiliki terus bertambah. Tapi, pada kenyataannya, nilai itu justru tergerus karena beberapa kesalahan kita sendiri.

Ingin tahu faktor-faktor apa saja yang bisa mengurangi jumlah kekayaan bersih kita? Yuk, cek di bawah sini:

1. Beli Kendaraan dengan Harga “Kemahalan”

seseorang membeli mobil
Beli Kendaraan Kemahalan (Pixabay)

Mahal itu relatif, ada yang bilang Rp 200 juta itu mahal, dan ada juga yang bilang murah. Namun, intinya semua tentu setuju mobil atau motor adalah aset yang mengalami depresiasi harga dan bisa memengaruhi total harta kekayaan bersihmu.

Seiring berjalannya waktu, nilai dari aset yang satu ini bakal terus menyusut. Bayangkan saja kalau kita membelinya di harga yang melebihi kemampuan. Selain harganya turun, kas kita juga akan berkurang karena biaya kepemilikan kendaraan itu. 

Mau beli pake kredit? Silakan saja, tapi utangnya nambah juga! 

2. Jumlah Utang yang Menggunung

sepasang suami istri tengah menghitung utang mereka
Jumlah Utang Menggunung (Shutterstock)

Ingat kan rumus menghitung harta kekayaan bersih? Total aset dikurangi utang. 

Meski asetmu banyak dan tampak menggunung, dengan utang yang menggunung pula, maka nilai kekayaan bersihmu sama sekali tak terlihat. 

Karena itu, biasakan menyesuaikan jumlah utang dengan total pendapatan perbulan kita. Sebisa mungkin untuk gak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan.

3. Kebiasaan Telat Bayar Cicilan Utang

seorang pria membuka dompetnya yang kosong
Kebiasaan Telat Bayar Cicilan (Shutterstock)

Masih seputar utang nih, namun yang satu ini lebih spesifik. Telat bayar utang tentu bisa merugikan diri sendiri.

Mengapa? Karena ada denda yang harus dibayarkan ketika kita telat membayar kewajiban satu ini. 

Besaran dendanya pun cukup beragam, dan bisa memperbesar pengeluaran kita. Lambat laun, kas berkurang karena pengeluaran yang besar di pos ini.

4. Minimum Payment Kartu Kredit

seorang wanita tengah belanja online memakai kartu kredit
Minimum Payment Kartu Kredit (Pixabay)

Nah, ini juga masih berkaitan dengan yang namanya “utang.” Gak sedikit kok pejabat yang punya utang kartu kredit dalam jumlah menggunung, hal itu pun tertera di Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara yang bisa kita akses secara online

Salah satu fitur yang mengasyikkan di kartu kredit adalah minimum payment, di mana kamu bisa membayar tagihan itu dengan nominal 10 persen dari total tagihan. 

Tapi, jangan salah, total tagihan itu gak lantas hilang begitu saja, melainkan bakal ditagihkan lagi di bulan depan plus bunga kartu kreditnya. 

Membayar dengan minimum payment itu cuma enak di awal, bulan depan tagihan bisa jadi makin mahal. Itu artinya, utangmu juga bisa bertambah besar dengan adanya fitur ini.

Patut dicatat, minimum payment hanya digunakan bagi mereka yang lagi “kepepet”, namun pada bulan depannya dia sudah “bisa” membayar tagihan kartu kredit itu secara penuh. 

Kepepet dalam artian gak punya dana darurat “sama sekali” untuk membayar utang. Selama masih ada uang, hindari fitur satu ini! 

5. Gak Punya Investasi Sama Sekali

seorang wanita tengah memandangi celengan babi
Gak Punya Investasi Sama Sekali (Pixabay)

Sekecil-kecilnya investasi, tetap saja akan ada returns yang bisa kamu dapatkan di masa depan. Setuju?

Tanpa investasi, uang kas yang ada di rekeningmu ya bisa saja habis terpakai. Lebih baik disimpan saja dalam bentuk surat berharga, logam mulia, saham, dan lainnya. 

Selain berguna untuk mengamankan nilai kekayaan bersih, nilai aset-aset investasi ini juga akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

6. Memiliki Saham dalam Jumlah Terlampau Banyak

seorang wanita tengah bertransaksi saham lewat ponselnya
Memiliki Saham dalam Jumlah Terlampau Banyak (Pixabay)

Investasi saham itu bagus. Namun, saham merupakan investasi tinggi risiko karena harganya mengalami fluktuasi seiring dengan berjalannya waktu.

Kamu tentu sering mendengar kabar soal kekayaan miliuner A merosot atau malah melonjak tiga kali lipat. Pasalnya jumlah saham di portfolio-nya sangat besar.

Di satu sisi, ketika rugi memang bakal rugi bandar. Tapi, ketika harga sahamnya naik, mereka jadi miliuner dalam sekejap.

Buat kita yang punya belum jadi miliuner seperti mereka, penting sekali untuk melakukan diversifikasi investasi, agar nilai kekayaan bersih kita gak tergerus dengan mudah karena kondisi pasar yang gak menentu. Pilihlah tiga jenis investasi berdasarkan risiko dan jangka waktu investasi.

Seperti halnya, 40 persen di saham, 40 persen reksadana pasar uang, dan 20 persen di logam mulia. 

7. Terlalu Banyak Barang Mewah

beberapa pria memakai jam tangan mewah
Terlalu Banyak Barang Mewah (Pixabay)

Jam tangan mewah, tas mewah, aksesori mewah, sneakers mahal, lukisan mahal, benda seni bersejarah, dan lainnya, tentu gak bisa dikatakan sebagai investasi.

Meski ada yang mengungkapkan barang ini bisa dilelang, gak ada jaminan benda-benda tersebut masih bisa terjual mahal di masa depan. Malah bisa jadi sebaliknya.

Daripada mengoleksi barang mewah seperti ini, baiknya beli aset lain saja deh seperti properti, logam mulia, atau saham dalam jumlah wajar. 

Boleh saja sih memiliki saham dalam jumlah yang besar, asalkan kas untuk pengeluaran harian serta persediaan dana daruratmu juga cukup memadai.

Itulah tujuh hal yang tentunya bisa menggerogoti harta kekayaan bersihmu. Intinya, jangan lupa sama rumus menghitung nilai kekayaan yaitu total aset dikurangi total utang. Semakin besar utangnya, semakin mengecil pula nilai kekayaan bersihmu.

Selain itu, gak semua aset nilainya bakal naik di masa depan. Nilai aset kendaraan justru bakal menyusut. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →