Apa Itu IHSG? Ini Pengertian, Manfaat, dan Cara Hitungnya

IHSG adalah indeks harga saham gabungan

Apa itu IHSG? IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Secara internasional disebut juga dengan Indonesia Composite Index (ICI) dan ada juga yang menyebutnya dengan IDX Composite.

Dengan kata lain, IHSG adalah indeks pasar saham yang digunakan Bursa Efek IndonesiaIndeks saham berisi daftar semua saham yang diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

IHSG biasanya digunakan sebagai gambaran untuk melihat kenaikan atau penurunan pasar investasi secara global, dalam hal ini tentu saja pasar saham di Indonesia. 

Manfaat IHSG adalah sebagai pertimbangan investor dan trader

Walaupun IHSG hanyalah poin rata-rata, mengamati pergerakan IHSG sangat bermanfaat untuk mengetahui kondisi ekonomi di Indonesia. 

Ada banyak saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tidak mungkin para investor melihat satu per satu pergerakan saham setiap harinya. Di sinilah peran penting IHSG

Para investor akan tahu kapan mereka dapat menggelontorkan dana tambahan untuk perusahaan tertentu atau juga malah menarik dana mereka dengan menjual saham yang mereka miliki. 

Apa manfaat memahami IHSG bagi investor dan trader? Bagi para investor dan trader, manfaat IHSG adalah sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan investasi dan trading. IHSG biasanya menjadi cerminan dari pergerakan saham-saham yang masuk dalam LQ45. 

Memang tidak selamanya IHSG turun, saham A atau B juga ikut turun. Namun, sering kali IHSG menjadi patokan yang akurat terkait pergerakan saham-saham likuid tersebut.

Cara menghitung IHSG

Metodologi perhitungan IHSG adalah sama dengan cara menghitung indeks bursa saham lainnya di seluruh dunia, yaitu menggunakan rata-rata berimbang berdasarkan jumlah saham di bursa atau Market Value Weighted Average Index.

Rumus IHSG: Indeks = (Nilai Pasar / Nilai Dasar) x 100

  • Nilai Dasar dalam IHSG adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar dikali dengan harga pada hari dasar.
  • Nilai Pasar dalam IHGS adalah kumulatif jumlah saham yang tercatat dikali dengan harga pasar.

Berikut ini cara mencari nilai pasar: 

Rumus Nilai Pasar: Nilai Pasar = p₁q₁ + p₂q₂ + … + piqi + pnqn

Keterangan: 

  • p= harga yang terjadi untuk emiten ke-i.
  • q= jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks untuk emiten ke-i
  • n= jumlah emiten yang tercatat di bursa efek. 

Cara Kerja IHSG

Cara kerja IHSG bisa dilihat dari posisinya yang naik turun. Posisi tersebut dipengaruhi beragam faktor, mulai dari berita ekonomi sampai aksi korporasi. 

Contoh dari berita ekonomi yang memengaruhi cara kerja IHSG adalah misalnya kondisi ekonomi Indonesia terganggu karena Covid-19.

Diperkirakan daya beli dan daya jual akan menurun dan para investor menyikapinya dengan melakukan aksi jual saham. Akibatnya, harga saham-saham bergerak turun seperti yang terjadi pada Maret – April 2019 lalu. 

Bagaimana IHSG dapat berfluktuasi?

Pengertian sederhana dari poin IHSG adalah nilai rata-rata dari semua saham yang melantai di pasar saham. Karena itu, poin IHSG akan naik dan turun seiring dengan pergerakan harga saham di bursa. 

Harga saham sangat terpengaruh dengan kondisi internal dan eksternal perusahaan.

  • Internal: cashflow perusahaan pada laporan keuangan tercatat minus.
  • Eksternal: kebijakan pemerintah memberi dampak negatif terhadap sektor perusahaan.

Tentu saja penurunan harga saham juga dapat memengaruhi penurunan poin IHSG. 

Cara membaca IHSG

Membaca tren pergerakan IHSG adalah penting untuk menentukan keputusan-keputusan dalam berinvestasi saham. 

Dengan pergerakan itu, kamu bisa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membeli dan kapan waktu yang tepat untuk menjual saham.

Beberapa cara yang paling mudah adalah dengan melihat tren apabila IHSG naik secara tajam dalam sehari. Ada baiknya hindari membeli saham saat momen tersebut. 

Namun, sebaliknya, jika tren IHSG menurun tajam, kamu sangat disarankan untuk melakukan pembeliaan saham, tapi dengan melakukan analisis fundamental terlebih dahulu.

Daftar 10 saham penggerak IHSG

Terdapat 10 saham yang berkontribusi besar sebagai penopang IHSG. Saham-saham itu memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan sebagian besar diisi perusahaan-perusahaan perbankan.

Daftar saham dalam IHSG adalah sebagai berikut.

Kode Emiten Kapitalisasi Pasar Sektor
BBCA Bank Central Asia, Tbk. Rp815 triliunan Perbankan
BBRI Bank Rakyat Indonesia, Tbk. Rp537 triliunan Perbankan 
TLKM Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Rp393 triliunan Telekomunikasi
BMRI Bank Mandiri, Tbk. Rp354 triliunan Perbankan
UNVR Unilever Indonesia, Tbk. Rp320 triliunan Industri barang konsumsi
ASII Astra Internasional, Tbk. Rp280 triliunan Industri manufaktur
HMSP H.M Sampoerna, Tbk. Rp244 triliunan Industri barang konsumsi
TPIA Chandra Asri Petrochemical, Tbk. Rp185 triliunan Industri kimia
BBNI Bank Negara Indonesia, Tbk. Rp144 triliunan Perbankan
BRPT Barito Pacific, Tbk. Rp134 triliunan Industri kimia

Sebelum memulai berinvestasi saham, coba ketahui terlebih dahulu profil resiko investasimu dengan mengikuti kuis berikut ini:

Data IHSG 10 Tahun Terakhir

Selama 10 tahun terakhir, data IHSG adalah sebagai berikut. 

Tahun  Tertinggi Terendah
2010 3,788.56 2,431.84
2011 4,195.72 3,217.95
2012 4,381.75 3,635.28
2013 5,251.30 3,837.74
2014 5,262.57 4,161.19
2015 5,524.04 4,033.59
2016 5,491.70 4,408.80
2017 6,368.32 5,228.29
2018 6,693.47 5,557.56
2019 6,636.33 5,288.37

Istilah-istilah seputar IHSG

Beberapa istilah yang terkait dengan IHSG adalah sebagai berikut.

1. BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah gabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) atau Bursa Efek Surabaya (BES). Dengan tujuan untuk efektivitas operasional dan transaksi, kedua bursa tersebut akhirnya digabungkan dan mulai beroperasi tanggal 1 Desember 2007 sebagai Bursa Efek Indonesia (BEI). 

2. Saham likuid

Saham yang likuid dalam IHSG adalah saham yang mudah diperjualbelikan. Dengan kata lain, saham likuid adalah saham yang sering diperjualbelikan. Saham likuid biasanya selalu memiliki antrean pembeli pada harga berapa pun saham ini diperdagangkan.

3. Bubble

Bubble dalam istilah ekonomi digunakan untuk menggambarkan kenaikan harga saham yang sangat cepat (bisa dalam beberapa bulan saja). 

Terkadang harganya sangat tidak wajar, bahkan melebihi dari kondisi fundamental perusahaan. Bubble bisa terjadi karena pasar terlalu percaya pada kondisi tertentu. 

4. Fluktuasi

Seperti arti fluktuasi dalam KBBI, dalam saham pun, istilah ini berarti naik dan turunnya harga saham. Fluktuasi harga saham dalam IHSG adalah akibat adanya mekanisme jual beli saham. Tentu saja ini merupakan hal yang wajar. 

5. Portofolio

Portofolio saham dalam IHGS adalah kumpulan aset investasi yang berupa saham yang dimiliki perorangan atau perusahaan. 

Apakah perusahaan juga bisa memiliki saham dari perusahaan lain? Tentu saja bisa.

Salah satu perusahaan Sandiaga Uno, Saratoga Investama misalnya, yang memiliki saham dari perusahaan lain, seperti Adaro, RS Awal Bros, Deltomed, dan lain sebagainya.

6. Likuiditas

Likuiditas saham dalam IHSG adalah ukuran jumlah transaksi saham di pasar modal dalam periode tertentu. Semakin tinggi frekuensi saham diperjualbelikan, likuiditas saham akan semakin tinggi. 

7. Buyback

Seperti terjemahan harfiahnya, buyback berarti membeli kembali. Jadi, buyback saham dalam IHSG adalah aksi pembelian kembali saham-saham perusahaan yang sudah dilepas ke publik. 

Buyback dilakukan perusahaan karena beberapa alasan, misalnya untuk memperbesar modal perusahaan. Karena jika saham yang telah dilepas ke publik dimiliki kembali ke perusahaan, saham-saham tersebut tidak perlu mendapatkan dividen. 

Hasilnya, tentu saja laba bersih perusahaan pun naik. Laba naik tentu akan membuat investor tertarik dan saham perusahaan pun ikut naik.

8. Cut loss

Tindakan menjual kembali saham yang dimiliki dalam kondisi rugi disebut cut loss. Tujuannya untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Lawan kata dari cut loss adalah hold

9. Bullish 

Bullish sering kali disandingkan dengan kata bearish yang berarti tren naik dan turunnya harga saham dalam periode tertentu yang ditandai dengan optimisme atau pesimisme para investor di pasar saham. 

Indeks saham lainnya selain IHSG

Indeks saham selain IHSG adalah sebagai berikut.

1. Indeks LQ45

Indeks yang mengukur performa 45 saham dengan likuiditas tinggi. Tidak semua emiten bisa masuk ke dalam LQ45. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk masuk ke dalam indeks ini. 

Salah satu persyaratannya adalah saham tersebut harus masuk dalam daftar 60 saham yang paling likuid di BEI, memiliki kinerja dan prospek yang bagus, dan memiliki kapitalisasi pasar di BEI minimal dalam kurun waktu 1 tahun. 

2. Indeks Saham Kompas 100

Mengukur 100 indeks saham yang memiliki likuiditas baik dan kapitalisasi pasar yang besar. Indeks Saham Kompas 100 adalah kerja sama BEI dengan perusahaan media Kompas Gramedia.

3. Indeks Saham Sri Kehati

Indeks yang berisi daftar saham perusahaan (emiten) yang memiliki perhatian terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan. Indeks Sri Kehati dikelola bersama BEI dengan bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati.

4. Indeks Saham Pefindo25

Indeks ini hanya mengukur 25 emiten kecil dan menengah, tapi memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas tinggi. Indeks Saham Pefindo25 adalah hasil kerja sama antara BEI dengan PT Pemeringkat Indonesia (PEFINDO).

5. Indeks Saham Sektoral

Indeks yang mengukur performa harga saham berdasarkan sektor industri yang terdapat pada Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA). 

6. Indeks Papan Pencatatan (Board Index)

Indeks ini mengukur performa saham yang tercatat sesuai dengan papan pencatatannya. Ada dua indeks dalam Board Index, yaitu Papan Pencatatan Utama dan Papan Pencatatan Pengembangan.

Perbedaan kualifikasi keduanya adalah pada kinerja keuangan, ukuran perusahaan, jumlah saham yang diperjualbelikan, dan lain sebagainya. 

Pertanyaan-pertanyaan seputar IHSG

Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan terkait IHSG adalah sebagai berikut.

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan, yang diartikan sebagai daftar indeks pasar saham yang tercatat dan digunakan Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG memiliki kegunaan untuk penanda kondisi pasar investasi secara global.

Salah satu fungsi utama dari IHSG adalah untuk menunjukkan adanya kenaikan atau penurunan pasar investasi secara nasional. Pergerakan di IHSG bisa dijadikan acuan untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi.

IHSG akan berfluktuasi, bisa turun bisa naik. IHSG akan menunjukkan tanda-tanda kenaikan bila iklim pasar saham dan kondisi ekonomi di suatu negara mengalami kemajuan.

Selain itu, aksi-aksi korporasi yang positif juga turut bisa berkontribusi terhadap peningkatan angka IHSG.

IHSG juga bisa mengalami penurunan yang tajam bila sentimen ekonomi nasional tengah goyah dan penuh ketidakpastian. Biasanya saat IHSG turun, harga-harga saham perusahaan-perusahaan di Indonesia juga mengalami penurunan.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →