Ternyata Ini Perbedaan Mencolok Rumah Syariah dan Konvensional

properti syariah

Properti syariah memang punya pasar tersendiri dan gak dipungkiri bahwa developer-developernya pun sedang naik daun belakangan ini. Namun, berita mengenai penipuan berkedok rumah syariah juga terlihat ramai di media.

Bukan rahasia lagi, Indonesia adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tak heran kalau properti yang sifatnya syariah memang jadi pilihan, karena proses transaksi dan lain sebagainya memang dinilai lebih amanah.

Properti syariah juga terbebas dari embel-embel “riba” dan gimmick marketing lain yang sifatnya mencari keuntungan dalam jumlah besar. Itulah sebabnya properti yang satu ini memang cukup menarik.

Satu hal yang harus kamu ketahui, properti bersifat syariah yang ada di artikel ini beda dengan KPR syariah lho ya. Untuk penjelasannya nanti akan dibahas di bawah. 

Buat kamu yang belum tahu seputar konsep-konsep properti syariah, yuk simak. 

Baca juga: KSEI Sudah Dapat Fatwa Syariah, Investasi Pasar Modal Jadi Makin Berkah

1. Untuk siapa saja

properti syariah
Ilustrasi rumah syariah. (Shutterstock)

Apakah properti syariah ini hanya untuk mereka yang beragama Islam? Tentu saja tidak. Properti ini adalah untuk siapa saja.

Yang dimaksud syariah tentunya berkaitan dengan mekanisme transaksinya yang sesuai dengan syariat Islam. 

Hal utama yang penting diketahui adalah akadnya. Baik penjual dan pembeli harus menyepakati harga di awal dan cicilan yang sesuai dengan tenornya.

Baca juga: Harganya Ada yang di Bawah Ceban, Ini 3 Saham Bank Syariah Wajib di Koleksi

2. Harga jualnya gak berubah

properti syariah
Harga jual gak berubah. (Shutterstock)

Setelah harga ditetapkan dan akad berlangsung, maka jumlah cicilan pun akan disepakati dua belah pihak. Cicilannya juga sifatnya tetap.

Jadi intinya, transaksi yang terjadi di sini adalah transaksi jual beli sesuai dengan harga yang ditetapkan. Gak ada yang berubah satupun dari transaksi ini.

Masalah harga itu pun sudah ditetapkan dalam sebuah perjanjian yang disepakati kedua belah pihak.

Dalam Islam, salah satu prinsip jual beli adalah suka sama suka. Intinya adalah, sebuah perdagangan akan dihalalkan ketika penjual maupun pembeli sama-sama suka dan rela tanpa ada paksaan.

Baca juga: Gak Mau Lagi Kredit Mobil yang Ada Ribanya? Pilih Aja Kredit Mobil Ini

3. Tidak kenal bunga, tidak kenal bank?

properti syariah
Tidak kenal bank, tidak kenal bunga. (Shutterstock)

Sama seperti konsep bank syariah pada umumnya, properti syariah juga gak mengenal istilah bunga melainkan sistem bagi hasil atau marjin. Karena balik lagi di poin kedua, harga memang sudah disepakati di awal, gak akan ada perubahan. 

Kalau konsepnya konvensional dengan mengacu pada suku bunga bank, maka cicilan pun bakal berubah-ubah di tahun tertentu bukan? Hal itulah yang akhirnya dianggap “riba” oleh para pegiat bisnis properti ini. 

Jangankan gak kenal bunga, sebagian besar dari developer bisa blak-blakan bilang kalau konsep transaksinya “tanpa bank.” Serius lho, “tanpa bank,” termasuk bank-bank syariah. 

Waduh terus pakai apa ya? Bayar tunai aja gitu? Kalau cicilannya Rp 10 jutaan gimana?

Lifepal akhirnya menghubungi salah satu developer rumah Syariah yang berbasis di Bekasi, Jawa Barat. Menurutnya, konsep tanpa bank itu bukan berarti semuanya serba tunai. 

Intinya, bank hanya dimanfaatkan sebagai penyedia jasa layanan pembayaran saja. Bukan sebagai perantara atau pihak yang melakukan pembiayaan terhadap kepemilikan rumah. 

Gak sedikit juga dari mereka yang beranggapan bahwa, mekanisme bagi hasil yang dilakukan bank syariah dinilai gak memenuhi syariat Islam. 

Jadi, bukan berarti transaksi ini sepenuhnya tanpa bank. Hanya saja, bank memang tidak dilibatkan dalam proses transaksinya.. 

4. Risiko developer rumah syariah cukup besar

properti syariah
Risiko developer tinggi. (Shutterstock)

Dalam konsep syariah, risiko developer rumah tentunya memang sangat besar, terutama kalau pembeli memilih metode cicilan. Kok bisa? 

Jelas saja, ketika bank sama sekali gak dilibatkan, maka proses transaksi sepenuhnya ada pada developer dan pelanggan yang bersangkutan. Ketika terjadi gagal bayar, maka developer yang harus menanggung kerugiannya. 

Kalau sudut pandang ini sih lebih menyoroti ke developer ya ketimbang ke pembeli. 

5. Gak ada asuransi

properti syariah
Gak ada asuransi. (Shutterstock)

Ketika kita membeli rumah dengan menggunakan KPR konvensional, tentunya akan ada asuransi yang ditawarkan. Asuransi itu berupa asuransi rumah atau bisa saja jiwa, yang ditujukan untuk memitigasi risiko apapun yang terjadi.

Nah, dalam konsep properti atau rumah syariah, asuransi itu gak berlaku. Jelas saja, asuransi itu sendiri kerap dianggap seperti judi, dan lagi-lagi dinilai gak sesuai dengan syariat Islam.

Oleh karena itu, proteksi asuransi tentu gak akan pernah ada dalam properti syariah. 

6. Gak ada sita atau denda

properti syariah
Gak ada sita atau denda. (Shutterstock)

Salah satu yang mungkin menguntungkan bagi pembeli properti ini adalah ketiadaan denda atau mekanisme sita rumah jika gagal bayar. 

Wajar saja, denda itu dianggap layaknya riba. Sementara itu, sita-menyita karena tak sanggup bayar cicilan juga demikian.

Lantas gimana dong kalau gak ada sanksi ini? Seperti yang dijelaskan di atas, itulah sebabnya mengapa risiko developernya memang besar.

Untuk memitigasi persoalan ini, developer harus membantu pembeli yang bersangkutan untuk menjual rumahnya ke orang lain. Setelah rumah itu terjual, maka sebagian keuntungannya bisa digunakan untuk membayar utang ke developer. 

Itulah serba-serbi yang harus kamu ketahui seputar properti syariah. Jadi tertarik gak nih beli properti yang seperti ini? Atau malah tertarik sama bisnisnya? (Editor: Ruben Setiawan)