5 Instrumen Pasar Modal dari Saham hingga Derivatif [Plus Manfaatnya]

Instrumen pasar modal

Tertarik berinvestasi di instrumen pasar modal atau pasar uang? Banyak hal nih yang perlu kamu pelajari agar bisa mencetak banyak untung. Kuncinya cuma satu, yaitu harus paham.

Sebenarnya, apa sih pasar modal itu? Sering kali disebut-sebut, tapi beberapa dari kita mungkin masih belum paham atau malah gagal paham. 

Daripada bingung sendiri, gimana kalau kenalan dulu yuk sama instrumen investasi ini.

Apa itu instrumen pasar modal?

Sederhananya, pasar modal adalah penghubung antara investor dan perusahaan publik. Dalam pasar modal, terjadi sebuah penawaran umum dan perdagangan efek dari perusahaan publik itu sendiri.

Transaksi efek itu sudah terjadi di tahun 1880. Namun, tanpa organisasi resmi sehingga catatannya gak rapi dan lengkap. 

Sebut saja ketika tahun 1882, perusahaan perkebunan Cultuur Maatschappij Goalpara di Batavia telah menawarkan 400 lembar saham dengan harga per lembarnya yang mencapai 500 Gulden. 

Seperti yang tercantum di Wikipedia, keterangan pembelian ini sama sekali gak ada. Bahkan, ada yang bilang kalau sahamnya ada di bursa Amsterdam, sementara investornya di Batavia, Semarang, dan Surabaya.

Tapi, peristiwa itu menunjukkan ke kita semua bahwa transaksi saham memang sudah ada sejak tahun 1880an. 

Setelah kamu paham soal pasar modal, ada lagi investasi lain di pasar yang berbeda yaitu pasar uang. 

Dalam investasi, ada dua istilah penting yang investor pemula harus paham, yaitu pasar uang dan pasar modal. Dua hal ini berbeda lho ya, dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas seputar pasar modal saja.

Ini 5 instrumen pasar modal

Berikut ini Lifepal mau berbagi informasi apa saja instrumen pasar modal dan bagaimana keuntungannya. Cek daftar instrumen pasar modal berikut ini.

  • Saham
  • Surat utang atau obligasi
  • Reksadana
  • Exchange Traded Fund (ETF)
  • Derivatif

1. Saham

Pastinya kamu sudah cukup akrab dengan namanya instrumen pasar modal yang satu ini. Pasalnya, kalau bicara investasi, banyak orang yang menyangkut-pautkannya dengan saham. 

Makanya, gak heran kalau saham itu cukup populer di telinga banyak orang sebagai pilihan investasi.

Dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham adalah tanda penyertaan modal seseorang atau badan usaha ke perusahaan. Singkatnya, saham ini menjadi bukti kalau kamu menyuntikkan dana sebagai modal ke suatu perusahaan.

Dengan memiliki saham, itu berarti kamu punya hak atas perusahaan. Kamu pun berhak atas keuntungan-keuntungan yang didapat perusahaan. Sebagai investor saham, kamu bakal mendapat keuntungan dari dividen dan capital gain.

Dividen adalah keuntungan yang dibagikan perusahaan ke investor yang asalnya dari keuntungan perusahaan. Sementara capital gain adalah keuntungan yang didapat dari selisih harga beli dan harga jual.

Jadi, ketika kamu beli saham di harga Rp 300 per lembar lalu menjualnya di harga Rp 400 per lembar, di situlah kamu mendapat capital gain.

Meski untung dari saham disebut lebih besar ketimbang investasi emas dan deposito, ada risiko-risiko yang mengiringi perkembangan saham. Di investasi saham kamu harus siap menghadapi capital loss dan risiko likuidasi.

Capital loss bisa dibilang kebalikan dari capital gain. Capital loss adalah kerugian karena dari selisih harga beli dan harga jual. Jadi, ketika kamu beli saham Rp 400 per lembar, kamu menjualnya Rp 300 per lembar karena pergerakan saham tersebut terus menurun.

Kalau risiko likuidasi adalah hilangnya modal karena perusahaan yang sahamnya kamu beli bangkrut alias tutup. 

Syukur-syukur masih ada yang bisa dibagikan, misalnya sisa hasil penjualan aset perusahaan. Kamu bisa klaim sisa hasil tersebut.

Di sinilah para investor dituntut buat terus mengikuti perkembangan perusahaan. Kalau sewaktu-waktu terjadi hal yang gak diinginkan, investor bisa ambil langkah cepat dan tepat.

2. Surat utang atau obligasi

Kalau kamu pernah beberapa kali mendengar Obligasi Negara Ritel (ORI), itu adalah salah satu dari instrumen pasar modal yang ada di Indonesia. Pemerintah menawarkan ORI dengan tujuan meraih pendanaan dari masyarakat buat pembangunan negara.

Surat utang atau obligasi adalah surat pernyataan utang dari penerima pinjaman yang diberikan ke pemberi pinjaman. 

Nah, penerima pinjaman ini yang menerbitkan obligasi sebagai bukti peminjaman. Biasanya kalau bukan pemerintah, perusahaan  yang bakal terbitkan obligasi.

Isi obligasi memuat janji pembayaran utang dan bunganya pada periode tertentu. Penerbit obligasi juga berjanji bakal melunasi pokok utang pada waktu yang udah ditentukan.

Obligasi ini punya jangka waktu menengah hingga panjang dan bisa diperjualbelikan. Jadi, kamu bisa dapat keuntungan dari capital gain selain bunga obligasi.

Sama seperti saham, obligasi juga dicatat di bursa. Ada beberapa obligasi yang bisa kamu dapat di bursa, yaitu obligasi korporasi, investasi sukuk, Surat Berharga Negara (SBN), hingga Efek Beragun Aset (EBA).

Risiko instrumen pasar modal ini gak sebesar saham. Apalagi memiliki obligasi negara, dijamin sama sekali gak ada risikonya alias modalmu gak bakal hilang. 

Meski begitu, kamu harus tetap waspada adanya potensi gagal bayar dari perusahaan yang terbitkan obligasi.

3. Reksadana

Inilah instrumen pasar modal yang gak bakal bikin kamu pusing dan menyita banyak waktumu. Soalnya dengan memilih investasi ini, kamu tinggal mempercayakan danamu kepada manajer investasi.

Reksadana adalah instrumen pasar modal yang digunakan manajer investasi buat menghimpun dana dari para investor yang nantinya diinvestasikan beberapa instrumen.

Untungnya lagi dari reksadana, kamu gak harus menyediakan modal besar. Kamu udah bisa berinvestasi reksadana dengan modal Rp 100 ribu.

Namun, reksadana bukan tanpa risiko. Kamu bisa aja mengalami risiko berkurangnya nilai unit penyertaan, pengembalian dana oleh manajer investasi apabila sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali, dan perusahaan asuransi yang gak bayar ganti rugi.

Reksadana terbagi ke beberapa jenis, yaitu reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham, dan campuran. Perbedaan di antara investasi tersebut terletak pada penempatan modalnya.

  • Reksa dana pasar uang menempatkan dana 100 persen di instrumen pasar uang, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Deposito Berjangka, dan Obligasi yang jatuh tempo di bawah 1 tahun.
  • Reksa dana pendapatan tetap menempatkan dananya sebesar 80 persen dalam bentuk utang atau obligasi dan sisanya dalam bentuk instrumen pasar uang.
  • Reksa dana saham menempatkan dana sebesar 80 persen di instrumen saham.
  • Reksa dana campuran menempatkan dana di saham, pasar uang, dan obligasi.

4. Exchange Traded Fund (ETF)

Sebagaimana dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Exchange Traded Fund (ETF) adalah reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek layaknya saham.

ETF termasuk produk investasi yang menggabungkan pengelolaan dana pada reksadana dan transaksi jual beli pada saham.

Dibandingkan instrumen lain, ETF menawarkan keunggulan sebagai berikut:

  • Transaksi jual beli bisa dilakukan kapan pun selama jam perdagangan, baik melalui ponsel maupun PC.
  • Cakupan yang luas yang mana memiliki 1 ETF sama dengan memiliki puluhan saham unggulan.
  • Management fee yang rendah dibanding reksadana dan biaya transaksi yang juga rendah di pasar sekunder karena sesuai komisi broker.
  • Risiko yang rendah karena adanya jaminan likuiditas, serta adanya pengawasan dari BEI, BAPEPAM-LK dan KSEI
  • Informasi mengenai ETF dan saham-sahamnya sangat transparan serta dapat diakses kapan pun dan di mana pun

5. Derivatif

Instrumen derivatif adalah perjanjian atau kontrak antara dua pihak atau lebih untuk menjual atau membeli aset pada waktu tertentu di masa mendatang dengan harga yang disepakati saat ini.

Ada pun nilai atau peluang keuntungan dari kontrak tersebut terkait dengan kinerja aset lain yang disebut underlying assets.

Aset yang ditransaksikan dalam derivatif bisa berupa finansial ataupun komoditas, yang nilainya di masa mendatang sangat dipengaruhi instrumen induk yang ada di spot market.

Derivatif yang terdapat di bursa efek adalah derivatif keuangan yang mana variabel yang mendasarinya bisa berupa mata uang, obligasi, indeks obligasi, saham, indeks saham, tingkat suku bunga, atau instrumen lain.

Manfaat pasar modal

Instrumen pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Setelah mengetahui berbagai instrumen pasar modal, kamu harus tahu apa saja manfaat pasar modal bagi kamu yang ingin berinvestasi.

Selain untuk mendapatkan keuntungan, baik kupon, capital gain, maupun dividen, pasar modal membuka peluangmu untuk menguasai sebagian besar saham suatu perusahaan.

Melalui investasi di pasar saham, kamu sebagai investor bisa meminimalkan risiko kerugian.

Hal ini karena sifat pasar modal yang terbuka memungkinkan investor untuk melihat rekam jejak sebuah emiten sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Kamu juga bisa memperluas jaringan bisnismu lho.

Selain manfaat di atas, masih banyak lagi manfaat pasar modal, antara lain:

  • Menjadi sarana bagi perusahaan ataupun institusi untuk mendapatkan modal jangka panjang.
  • Menjadi alternatif investasi dengan potensi keuntungan dan kerugian yang dapat dihitung melalui keterbukaan, likuiditas, dan keragaman investasi.
  • Menjadi sarana untuk menciptakan iklim investasi, yang memungkinkan terciptanya keanekaragaman produk
  • Menjadi indikator utama tren ekonomi suatu negara.

Sampai sini udah tahu ‘kan manfaat pasar modal dan apa aja instrumen pasar modal yang bisa dimanfaatkan buat investasi? Tinggal disesuaikan aja nih, sama tujuan investasi dan profil keuangan kamu. 

Mana yang kira-kira paling pas jadi pilihan kamu berinvestasi? Semoga informasi di atas bisa membantu!