Investasi Emas, Dicicil atau Tunai?

Investasi Emas Enaknya Dicicil atau Tunai Ya? Sejak zaman baheula sampai sekarang, pamor emas tetap tak pernah padam. Logam mulia warna kuning ini terus menjadi indikator kekayaan seseorang. Makin bertumpuk emas, makin kayalah dia. Tak ada yang meragukan dalam hal ini.

Lagi pula sifatnya yang likuid menjadikan emas dipilih orang sebagai simpanan dana darurat (emergency fund). Plus, emas adalah investasi yang tepat sebagai sarana lindung nilai (hedging) dan lebih kebal inflasi. (Ref 1)

Lantaran sifatnya sebagai aset yang bisa mengerek nilai kekayaan inilah membuat investasi emas tetap dirilik. Berinvestasi emas belakangan ini makin mudah. Banyak bermunculan skema kepemilikan emas yang bisa dicicil. [Baca: Untung Rugi Beli Emas Kredit atau Tunai]

Selain itu, satuan beratnya pun makin beragam. Mulai kepingan 5 gram, 10 gram, sampai 100 gram.  Pihak yang menyodorkan skema kepemilikan emas dengan cara mencicil ini antara lain Pegadian, perbankan syariah, toko emas, dan lain sebagainya. Durasi cicilannya pun juga bisa disesuaikan dengan keinginan. Bisa dalam rentang enam bulan sampai 24 bulan.

Cuma pertanyaannya, apakah bijak berinvestasi emas dengan cara mencicil? Hal ini mengingat penawaran cicilan dari berbagai lembaga itu, mulai dari Pegadaian, perbankan, dan perusahaan swasta, selalu menyertai beban biaya bunga dan administrasi.

Memang harus diakui, skema mencicil terlihat lebih meringankan. Hanya, kalau dihitung-hitung besaran bunganya tak beda jauh dengan kredit tanpa agunan (KTA).

Berapa persen suku bunga mencicil emas?

Dari data yang dilansir sebuah media, biasanya beban suku bunga mencicil emas di kisaran mulai 9 persen sampai 24 persen. Cukup besar bukan?

Belum lagi pikirkan juga risiko yang mungkin timbul selama masa cicilan itu. Sebut saja risiko terkena pinalti karena gagal bayar, telat bayar, atau di tengah jalan memutuskan untuk tak meneruskan cicilan. Ini juga harus menjadi pertimbangan dalam mengambil cicilan emas.

Potensi kerugian lainnya yang mesti dipikirkan adalah fluktuasi harga emas. Bisa jadi harga pembelian emas di masa depan lebih murah ketimbang harga yang berlaku sekarang. Dari penjelasan itu bisa ditarik kesimpulan alangkah bijaknya memiliki emas tanpa harus melalui skema cicilan.

Jawaban ini lazimnya juga terlontar dari sejumlah pakar perencana keuangan. Mereka justru menganjurkan lebih baik menabung dulu untuk menggenapi harga emas dengan satuan berat tertentu.  Atau emas bisa dibeli saat mendapat bonus tahunan atau gaji ke-13 sudah cair.

Opsi lainnya adalah menabung emas dengan satuan berat yang terkecil, mungkin dalam hal ini 5 gram. Ketika memiliki dana yang cukup untuk menebus emas seberat 5 gram, lebih baik segera alokasikan. Begitu seterusnya.

Lalu tetapkan pula tujuan dari investasi ini. Investasi emas dikenal sebagai instrumen untuk jangka menengah. Misalnya saja untuk keperluan biaya pendidikan anak dan lain sebagainya. [Baca: Orangtua Lebih Memilih Tabungan Pendidikan]

http://eprints.undip.ac.id/35695/1/JURNAL_SATSYA_YOGA_BASWARA.pdf

 

 

 

 

 

 

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →