Investasi Logam Mulia Bujet Rp 1 Juta per Bulan, Gimana Keuntungannya?

Investasi logam mulia bisa untung atau gak?

Hari ini, investasi logam mulia masih menjadi pilihan bagi masyarakat di Indonesia dan dunia untuk mempertahankan nilai kekayaannya dari inflasi. Salah satu alasannya kenapa masih banyak yang memilih investasi ini adalah cara memulainya mudah dan gak ribet.

Untuk kamu yang memiliki gaji di angka Rp 10 juta per bulan pasti pengin hasil kerja keras sehari-hari gak hilang begitu saja untuk kebutuhan dan belanja. Apalagi melihat biaya hidup di kota besar seperti Jakarta yang semakin besar setiap tahunnya.

Logam mulia sendiri secara umum terdapat 4 jenis yang bisa kamu beli yakni emas, perak, platinum dan palladium. Namun dari keempat jenis tersebut, masing-masing logam mulia memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri untuk dijadikan investasi.

Nah, mending kita simak langsung aja yuk panduan singkat mengenai cara berinvestasi logam mulia dengan bujet terbatas berikut ini agar gak salah langkah.

Gunakan metode pengelolaan keuangan 50/30/20

Pengelolaan keuangan dengan menggunakan metode ini bisa lho

Sebelum membahas tentang investasi logam mulia, ada baiknya kita sedikit membahas tentang pengelolaan keuangan bulanan kamu terlebih dahulu supaya gak memberatkan isi dompet. Agar pengelolaan keuangan maksimal, gunakan metode 50 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 30 persen untuk hiburan dan lifestyle serta 20 persen untuk investasi dan tabungan.

Nama Presentase Jumlah
Kebutuhan 50 persen Rp 5 juta
Hiburan 30 persen Rp 3 juta
Investasi dan tabungan 20 persen Rp 2 juta

Jadi, misalkan kamu mempunyai gaji di angka Rp 10 juta per bulannya, maka sisihkan sekitar Rp 5 juta (50 persen) untuk biaya transportasi, makan dan beli kuota internet. Lalu Rp 3 juta (30 persen) untuk membeli kopi kekinian, nongkrong bareng teman dan belanja online shop. Perlu kamu ketahui yang gak boleh ketinggalan sebesar Rp 2 juta (20 persen) untuk investasi dan tabungan, di mana masing-masing sebesar Rp 1 juta.

Dengan begitu, kamu gak perlu bingung dan khawatir uang bulanan habis atau hilang entah ke mana karena penggunaan yang kurang diatur secara bijak. Lalu setelah menggunakan metode tersebut baru deh kita mulai tentang bahas investasi logam mulia.

Jenis-jenis logam mulia

Ini jenis-jenis logam mulia yang bisa kamu jadikan investasi

Seperti sempat dijelaskan di atas, terdapat 4 jenis logam mulia yang bisa kamu temukan di pasaran dan relatif umum diketahui masyarakat. 

Logam mulia emas

Pertama ada emas yang sudah diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. Di Tanah Air, emas sering dijadikan sebagai mahar saat menikah. Selain itu ada juga yang membeli emas murni dalam bentuk batangan untuk diinvestasikan.

Logam mulia perak

Selanjutnya ada perak, logam mulia yang satu ini juga memiliki kepopuleran yang gak kalah tenar dari emas. Mirip dengan emas, perak juga sering digunakan sebagai mas kawin dalah pernikahan seseorang serta dijadikan barang investasi.

Logam mulia platinum

Belum pernah mendengar jenis logam mulia yang satu ini? Gak usah khawatir, karena kamu bakal mendapatkan penjelasan, apa sih logam mulia platinum. Platinum sendiri sering dipakai untuk perhiasan lantaran memiliki warna yang mengkilap sehingga menarik perhatian banyak orang.

Namun untuk dijadikan sebagai investasi, platinum bisa dikatakan kurang ideal karena relatif susah untuk dibeli dan susah dijual. Berbeda dengan perak dan emas.

Logam mulia palladium

Terakhir ada palladium yang juga sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan cincin pernikahan serta pertunangan. Sifatnya yang kuat dan tahan korosi membuat logam mulia satu ini gak gampang mengalami kerusakan. 

Sama seperti platinum, palladium sendiri bisa dikatakan kurang cocok digunakan sebagai investasi karena sedikit sulit dicari dan dijual ketika kamu membutuhkan uang.

Jadi kalau ngomongin investasi logam mulia, emas dan perak relatif lebih cocok untuk kamu beli. 

Dengan bujet Rp 1 juta per bulan, mending investasi logam mulia emas atau perak?

Nah kalau udah begini mendingan investasi yang mana ya?

Yang namanya investasi, kita gak ada yang tahu apakah harga suatu barang kita beli itu bakal naik atau turun di masa akan datang. Tapi kita bisa belajar dari tren nilai yang sudah terjadi di masa lalu. 

Hitungan investasi logam mulia emas

Dengan bujet sekitar Rp 1 juta per bulan, kamu udah cukup untuk mengumpulkan keuntungan yang besar lho! Yuk simak ilustrasinya berikut ini:

Rp 1.000.000 (dana investasi per bulan) – Rp 810.000 per gram (harga emas tanggal 27 Februari 2020) = Rp 190.000

Rp 190.000 x 12 bulan = Rp 2.280.000 (sisa dana investasi emas)

Jadi setidaknya kamu bakal memiliki 12 gram emas setiap tahunnya jika rutin membeli emas 1 gram per bulannya dan dapat kelebihan dana sekitar Rp 2.280.000 yang bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

Sedangkan untuk potensi keuntungannya sendiri bisa dilihat dari kenaikan harga emas dalam 2 tahun terakhir angkanya meningkat sekitar Rp 150 ribuan. Jadi potensi keuntungan yang bisa kamu dapatkan adalah:

Rp 150.000 (kenaikkan harga dalam 2 tahun) x 12 gram = Rp 1.800.000 (keuntungan) 

Lumayan banget, bukan?  Dalam kurun waktu 2 tahun kamu bisa mendapatkan uang sebesar Rp 1,8 juta. Tentunya harga tersebut hanya ilustrasi dan bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi. 

Hitungan investasi logam mulia perak

Selanjutnya ada perak, secara tren harga, perak sedikit lebih fluktuatif dibandingkan dengan emas yang relatif lebih stabil mengingkat harganya dari tahun ke tahun. Yuk kita simak ilustrasinya berikut ini:

Rp 1.000.000 (dana investasi per bulan) – Rp 770.000 per 50 gram (harga perak tanggal 27 Februari 2020) = Rp 230.000

Rp 230.000 x 12 bulan = Rp 2.760.000 (sisa dana investasi perak)

Perhitungan tersebut dengan asumsi kamu rutin menabung emas sebanyak 50 gram selama satu tahun, maka dalam 1 tahun tersebut kamu berhasil mengumpulkan seberat 600 gram perak. Ditambah dengan sisa sekitar Rp 2,7 jutaan yang bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

Berdasarkan data dari Goldprice.org, dalam 2 tahun terakhir, harga perak mengalami kenaikan sebesar Rp 1.000 per gram dari awal 2018 hingga awal 2020. Maka keuntungan yang bisa kamu dapatkan sekitar:

Rp 1.000 (kenaikkan harga dalam 2 tahun) x 600 gram = Rp 600.000 (keuntungan) 

Perbandingkan keuntungan investasi logam mulia emas dan perak

Jika mengambil data dari analisis di atas, maka berinvestasi emas memiliki untung lebih besar dibandingkan dengan perak dengan margin sebesar:

Rp 1.800.000 (emas) – Rp 600.000 (perak) = Rp 1.200.000 (margin)

Sekali lagi, hitung-hitungan tersebut hanya ilustrasi berdasarkan harga emas dan perak dalam kurun waktu 2 tahun terakhir.

Tips berinvestasi logam mulia

Ini tips investasi berupa logam mulia yang ada saat ini

Supaya keuntungan yang kamu dapatkan bisa maksimal, sebaiknya kamu memperhatikan tips-tips berikut ini agar gak salah langkah:

Memantau harga logam mulia secara rutin 

Buat kamu yang berkomitmen berinvestasi, udah sepantasnya untuk memantau harga pasar dalam periode tertentu. Gak perlu setiap hari, kamu bisa melakukannya setiap seminggu sekali atau 2 minggu sekali. 

Rutin berinvestasi logam mulia

Selanjutnya kamu juga perlu konsisten untuk membeli emas atau perak minimal sebulan sekali. Alasannya supaya keuntungan yang bisa kamu dapatkan di masa yang akan datang bisa maksimal nih, sayang kalau kamu membelinya saat lagi pengin aja.

Memahami tren pergerakan logam mulia

Logam mulia seperti emas dan perak memiliki pola yang terbentuk akibat respon pasar. Tren tersebut bisa kamu pelajari supaya kedepannya bisa jadi bahan pertimbangan membeli produk di saat yang tepat.

Gunakan tabungan digital

Beberapa e-commerce Tanah Air seperti Bukalapak dan Tokopedia sudah menyediakan tabungan logam mulia digital berupa emas. Kamu gak perlu lagi nabung emas dalam bentuk fisik, cukup beli sesuai dengan keinginan dan kemampuan kamu. Jadi, sekarang gak ada alasan lagi buat kamu untuk gak mulai berinvestasi. 

Nah itulah sedikit informasi tentang panduan investasi logam mulia khususnya emas dan perak untuk kamu yang punya bujet terbatas di angka Rp 1 juta per bulan. Semoga sukses! (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).