Investasi Reksa Dana, Ini Biaya-Biaya yang Harus Dikeluarkan!

Investasi reksa dana menjadi salah satu instrumen investasi yang kini tengah dilirik banyak orang, terutama untuk mereka yang baru ingin memulai berinvestasi. Kenapa?

Pasalnya, dana yang kamu gelontorkan akan dikelola manajer investasi yang memang sudah ahli di bidangnya.

Jadi kamu gak perlu tuh ribet memantau pergerakan pasar setiap waktu. Kamu hanya perlu melakukan aktivitas seperti biasa sembari menunggu uangmu terus berkembang biak. Asyik banget kan?

Gak cuma itu saja, kini kamu juga sudah bisa mulai terjun ke investasi reksa dana hanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 10 ribu saja lho.

Enaknya lagi, para investor juga bisa memilih jenis reksa dana yang sesuai dengan profil risikonya. Kalau pengin yang santai-santai saja, kamu bisa memiliki reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. 

Tapi, kalau ingin dapat return besar dengan catatan risikonya juga gede, kamu bisa menggelontorkan uang ke reksa dana saham.

Selain keuntungan dan risikonya, kamu juga perlu tahu nih apa saja sih biaya yang harus kamu tanggung di investasi reksa dana, bagaimana cara kerjanya hingga perhitungan return-nya. Yuk simak ulasannya langsung di bawah ini:

Biaya Investasi Reksa Dana

seorang wanita sedang menghitung memakai kalkulator
Biaya Investasi Reksa Dana (Shutterstock)

Berikut ini beberapa biaya investasi reksa dana yang harus ditanggung oleh investor:

1. Biaya pembelian unit penyertaan atau selling fee

Biaya pembelian unit penyertaan alias selling fee biasanya dilakukan oleh saat investor membeli produk reksa dana. Namun biaya ini terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Transaksi subscription, yakni biaya yang dikeluarkan investor saat pertama kali membuka akun reksa dana.
  • Transaksi penambahan dana (top up), yakni biaya saat investor ingin menambah dana reksa dana. Untuk nominalnya tergantung dari masing-masing manajer investasi, ada yang yang menetapkan minimum top up dan ada pula yang jumlahnya lebih besar dari subscription awal.
  • Transaksi auto debit, yakni penambahan dana investasi yang dilakukan dengan sistem otomatis setiap bulannya.

2. Biaya pengalihan unit penyertaan atau switching fee

Biaya pengalihan unit penyertaan atau switching fee baru akan ditanggung oleh investor saat ia melakukan pengalihan atau switching reksa dana.

Maksudnya di sini adalah investor ingin memindahkan investasi dari satu jenis reksa dana ke reksa dana yang lain.

Akan tetapi, transaksi switching belum dapat dilakukan oleh semua reksa dana. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi sebaiknya tanyakan terlebih dahulu ke manajer investasi perihal switching fee ini.

3. Biaya penjualan kembali unit penyertaan atau redemption fee

Redemption fee atau biaya penjualan kembali unit penyertaan juga menjadi salah satu biaya yang harus ditanggung investor. Untuk besarannya tergantung dari kebijakan perusahaan manajer investasi.

Akan tetapi redemption fee hanya berlaku untuk investor yang memiliki reksa dana hingga tahun tertentu saja. Sedangkan buat para investor yang sudah lama, maka tidak akan dikenakan biaya penjualan kembali unit penyertaan.

4. Biaya transfer bank

Biaya transfer bank akan ditanggung investor jika rekening yang ia miliki berbeda dengan bank produk reksa dana. Jadi jika kamu membeli produk reksa dana dengan sistem transfer, maka akan dikenakan biaya transfer antar bank.

Hal tersebut juga berlaku, saat kamu mencairkan reksa dana, maka dana hasil investasi yang kamu miliki akan dipotong untuk biaya transfer antar bank. Untuk nominal besarannya disesuaikan dengan kebijakan bank yang terkait.

Nah, untuk nominal biaya yang ditanggung investor umumnya berada di kisaran angka 0 persen hingga tiga persen dari nilai transaksi.

Jenis Investasi Reksa Dana

ilustrasi investasi reksadana
Jenis Investasi Reksa Dana (Shutterstock)

Setelah mengetahui biaya-biaya yang harus ditanggung oleh investor, selanjutnya adalah memilih jenis investasi reksa dana yang sesuai dengan profilmu. Apa saja? Berikut empat di antaranya:

1. Reksa dana pasar uang

reksa dana pasar uang mayoritas menggelontorkan dananya ke deposito dan surat berharga yang jatuh temponya di bawah satu tahun.

Meski return-nya tak sebesar reksa dana pendapatan tetap maupun saham. Tapi nominalnya lebih besar ketimbang deposito yang bunganya terus tergerus.

2. Reksa dana pendapatan tetap

Investasi reksa dana pendapatan tetap mayoritas dananya dialihkan ke obligasi milik pemerintah dan swasta. Sisa dananya baru dialokasikan ke instrumen pasar uang yang memang pergerakannya lebih stabil.

Bunga yang diperoleh dari reksa dana pendapatan tetap bahkan bisa mencapai di atas 10 persen dalam kurun waktu satu tahun. Menariknya, risikonya terbilang cukup kecil.

3. Reksa dana campuran

Instrumen reksa dana campuran akan membagi dananya ke beberapa sektor yakni saham, obligasi dan pasar uang.

Itulah mengapa reksa dana campuran sangat cocok untuk para investor yang ingin meraup untung dari pasar saham tapi gak mau kehilangan momentum di obligasi. Untuk return, lebih besar dari pendapatan tetap tapi lebih rendah daripada saham.

4. Reksa dana saham

Seperti namanya reksa dana saham, berarti mayoritas dananya akan dialokasikan ke saham. Namun, jenis reksa dana yang satu ini dikenal dengan return dan risknya sama-sama tinggi. Artinya keuntungan dan risiko sama besarnya.

Cara Kerja Investasi Reksa Dana

dua orang sedang membahas investasi
Cara Kerja Investasi Reksa Dana (Shutterstock)

Investasi reksa dana memang memiliki risiko yang relatif lebih kecil, tapi bukan hanya karena hal itu yang membuat produk tersebut populer.

Pasalnya, reksa dana gampang diakses oleh masyarakat dan imbal hasilnya juga terbilang cukup besar.

Nah, kamu juga bisa langsung beli produk tersebut di lembaga pengelola dan penerbit produk reksa dana atau yang lebih familiar dengan nama manajer investasi.

Berikut step by step cara kerja reksa dana secara garis besar:

  • Manajer investasi menghimpun dana dari nasabah.
  • Dana dari investor kemudian dialihkan ke sejumlah instrumen investasi yang sudah dipilih oleh investor.
  • Nasabah akan mendapatkan laporan dari manajer investasi secara berkala yang isinya berupa kinerja produk, komposisi aset dan juga portofolio efek.

Perhitungan Return Investasi Reksa Dana

seorang pria sedang hitung-hitungan investasi
Perhitungan Return Investasi Reksa Dana (Shutterstock)

Sebelum menghitung return dari investasi reksa dana, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, yaitu:

  • Nilai Aktiva Bersih (NAB).
  • Unit Penyertaan (UP).

Reksa dana itu diproses berdasarkan NAB per UP-nya. NAB itu adalah jumlah dana yang dikelola dalam suatu reksa dana. 

Nah, NAB itulah yang kemudian dipecah-pecah ke instrumen investasi yang dikelola reksa dana itu yang disebut sebagai Unit Penyertaan (UP).

Berikut simulasi perhitungan imbal hasil investasi reksa dana:

Citra membeli reksa dana ABC sebesar Rp 100.000 saat NAB per UP 1.000. Berarti Citra mendapatkan Rp 100.000/1.000 yaitu 100 UP.

Jika dalam kurun waktu tiga bulan NAB per UP reksa dana ABC naik menjadi 1.500 dan Citra menjual seluruh UP-nya, maka dia akan mendapat:

1.500 x 100 UP = Rp 150.000

Dengan begitu disimpulkan dalam waktu tiga bulan, Citra sudah meraup keuntungan sebesar Rp 150.000 – Rp 100.000 yaitu Rp 50.000.Itulah beberapa biaya yang harus kamu gelontorkan saat terjun ke investasi reksa dana dan estimasi perhitungan imbal hasil yang kamu peroleh. (Editor: Chaerunnisa)