Mau Keuntungan Reksadana yang Tinggi, Pelajari Ilmunya di Sini

reksadana untuk pemula

Investasi reksadana kini memang tengah populer dan banyak dilirik masyarakat karena caranya yang cukup mudah. Apalagi, produk yang satu ini sekarang bisa dibeli di e-commerce. 

Bicara soal instrumen investasi yang satu ini memang gak ada habisnya. Hal itu disebabkan karena produk reksadana cukup banyak, dan jenisnya pun berbeda-beda.

Risiko investasi ini juga bervariasi. Ada yang benar-benar rendah risiko, ada yang moderat, dan ada juga yang tinggi risiko.

Nah, buat kamu yang belum tahu soal investasi ini, cara kerja reksadana, dan bagaimana cara membelinya. Lifepal bakal memberimu ulasan yang super lengkap. 

Kita akan kupas tuntas definisi dan cara menghitung keuntungan reksadana di artikel ini. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini biar makin paham.

Apa itu investasi reksadana?

Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, seperti yang dikutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), reksadana merupakan salah satu wadah yang digunakan masyarakat untuk menghimpun dana.

Penjelasannya cukup sederhana. Masyarakat melakukan urunan dana dan setelah terkumpul, dana tersebut lantas akan dikelola sebagai bentuk investasi oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek. 

Portofolio efek itu di antaranya meliputi kumpulan surat berharga, seperti saham, obligasi, deposito dan lain sebagainya.

Sesuai dengan asal katanya, “reksa” berarti pelihara. Sementara itu, “dana” ya jelas sekali artinya adalah uang. Ini adalah uang yang dikumpulkan dan dikelola (dipelihara) bersama, untuk suatu kepentingan. 

Kelebihan yang dimiliki oleh investasi ini adalah memungkinkan adanya diversifikasi investasi. Artinya, investasi yang dilakukan akan dipecah ke dalam beberapa instrumen.

Tiga pihak penting yang berperan dalam investasi ini adalah investor, manajer investasi, dan bank kustodian.

Manajer investasi adalah pihak yang menerbitkan produk reksadana dan mengelola portofolio efek di dalamnya. Sementara itu bank kustodian akan memberikan jasa penitipan efek dan harta lainnya yang berkaitan dengan efek (dividen, bunga, dan lain sebagainya). 

Dalam hal ini, manajer investasi juga tidak memegang dana investor. Bank kustodian-lah yang memegangnya. 

Reksadana di Indonesia

Instrumen ini mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1995 lebih tepatnya saat muncul UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Salah satu pelopor dari investasi ini adalah PT BDNI Securities.

Sayangnya, reksadana yang dijual PT BDNI Securities adalah yang bersifat tertutup. Di mana setelah melakukan penawaran umum, transaksi jual belinya dilakukan lewat bursa seperti transaksi saham.

Namun mulai tahun 1996, investasi ini terus berkembang dengan munculnya peraturan pelaksanaan Reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif oleh Bapepam. Adalah PT Danareksa yang menjadi pelopor dalam menawarkan investasi ini ke publik. 

Tapi di tengah berkembangnya investasi baru ini, Indonesia diterpa krisis ekonomi. Imbasnya, gak sedikit pula perusahaan manajer investasi yang terpaksa ditutup.

Usai pasar membaik, kinerja investasi ini pun juga ikut membaik. Di tahun 2001, peminatnya makin banyak, bahkan salah satu manajer investasi (MI) sukses menghimpun dana masyarakat sebesar Rp8 triliun pada saat itu.

Hingga tahun 2002, MI di Indonesia sukses mengumpulkan dana masyarakat sebesar Rp40 triliun, dan hingga akhir 2003, total dana yang terkumpul adalah Rp69,5 triliun. Dari Rp69,5 triliun itu, 83 persennya masuk di reksadana pendapatan tetap, 11,2 persen di pasar uang, 5,1 persennya di campuran, dan 0,7 persennya di saham.

Mengenal jenis reksadana

Jenis reksadana itu sejatinya banyak. Namun di Indonesia, yang umum diketahui orang ada empat. 

Masing-masing jenis menawarkan keuntungan reksadana dan cara kerja yang berbeda-beda. Karena itu, sebelum kamu memutuskan untuk menggelontorkan uang ke salah satu jenis reksadana, ada baiknya kamu mengetahui lebih detail tentang masing-masing jenis reksadana tersebut. Apa saja? Berikut ini penjelasan lengkapnya.

1. Reksadana pasar uang (RDPU)

Reksadana pasar uang ini menempatkan investasinya 100 persen pada produk efek pasar uang. Efek pasar uang adalah efek yang berjangka waktu kurang dari satu tahun.

Contohnya adalah deposito, Sertifikat Bank Indoneisa, dan efek utang (surat utang) lainnya yang memiliki waktu jatuh tempo kurang dari satu tahun saja.

Oleh karena itu RDPU kerap menjadi reksadana yang risikonya paling rendah di antara yang lain. Meski demikian, potensi keuntungannya juga terbatas, dan gak terlalu tinggi.

2. Reksadana pendapatan tetap (RDPT)

RDPT atau reksadana pendapatan tetap menginvestasikan uang para investor sekurang-kurangnya 80 persen dari portofolio ke instrumen berupa surat utang jangka panjang (obligasi). Sementara itu, 20 persennya ke instrumen pasar uang.

Salah satu keuntungan investasi di RDPT adalah kebebasan pajak. Coba saja kalau kamu menjadi pemegang obligasi, kamu pasti bakal dikenakan pajak untuk setiap kupon yang didapatkan.

Namun hal ini gak berlaku di RDPT. 

3. Reksadana saham (RDS)

Reksadana saham menyimpan risiko yang paling tinggi di antara yang lain. Meski demikian imbal hasilnya juga paling tinggi.

Reksadana saham memiliki underlying asset (aset dasar) berupa saham, sementara itu 20 persen aset lain yang ada dalam investasi ini adalah instrumen pasar uang.

Lain dengan membeli saham langsung, seseorang yang membeli reksadana saham gak bisa menikmati hak dividen layaknya pemegang saham. Namun, tingkat risikonya memang lebih terukur karena adanya instrumen lain di reksadana pasar uang.

Meskipun demikian, di saat saham di portofolio RDS ini harganya naik, maka RDS pun bakalan naik.

4. Reksadana campuran (RDC)

Sesuai dengan namanya, reksadana campuran atau RDC bisa melakukan investasinya baik pada efek utang di pasar uang, dan pasar modal maupun efek ekuitas dengan alokasi investasi yang fleksibel. Namanya juga campuran.

Mengingat ada saham di dalam RDC, maka RDC punya risiko yang lebih tinggi ketimbang RDPU dan RDPT. Namun karena komposisi sahamnya gak sebanyak RDS, maka risikonya masih lebih rendah ketimbang RDS.

RDC pun dikategorikan sebagai salah satu reksadana dengan tingkat risiko dan imbal hasil yang moderat. 

5. Reksadana lainnya

Selain RDPU, RDPT, RDS, dan RDC, sejatinya masih ada beberapa produk reksadana yang mungkin belum pernah kamu dengar namanya. Sebut saja seperti:

Reksadana terproteksi

Dikenal dengan istilah Capital Protected Fund (CPF), produk ini memberikan proteksi untuk nilai investasi awal si investor apabila investor memegang produk CPF hingga tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Secara periodik CPF juga melakukan pembagian hasil investasi dalam bentuk dviden.

Reksadana indeks

Tingkat kompleksitas dari reksadana indeks memang cukup tinggi. Intinya, produk ini dikelola 

untuk mendapatkan hasil investasi yang mirip dengan suatu indeks yang dijadikan acuan, baik itu indeks obligasi maupun indeks saham.

Di Indonesia sendiri, produk ini sudah ada tapi masih kalah pamor dengan RDPU, RDPT, RDS, dan RDC. Indeks yang mereka gunakan adalah indeks saham IDX30, LQ45, dan lainnya. Jika saham-saham di Indeks itu hijau, maka reksadananya juga hijau. 

Reksadana dengan penjaminan

Produk ini juga dikenal dengan nama Capital Guaranteed Fund. Intinya, produk ini akan menggaransi nilai investasi awal investor.

Mekanisme garansi dilakukan dengan melakukan perjanjian dengan guarantor. Yang bertindak sebagai guarantor adalah perusahaan asuransi.

Cara investasi reksadana

Tidak ada yang rumit dalam investasi reksadana. Berikut ini beberapa tahap membeli produk reksadana yang bisa kamu ikuti.

1. Unduh aplikasi agen penjual reksadana

Cukup dengan ponsel pintar, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengunduh aplikasi agen penjual reksadana di Google Play store atau AppStore. 

Seperti yang dijelaskan di atas, produk ini memang bisa dibeli di beberapa e-commerce. Namun e-commerce tersebut gak menyediakan banyak produk unggulan. 

2. Lakukan registrasi

Lakukanlah registrasi di platform tersebut, dan sertakan kelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Dokumen yang dimaksud adalah KTP dan NPWP.

Terkadang, kamu juga akan diminta menyertakan fotokopi buku tabunganmu. Tujuannya adalah untuk mempermudah proses transaksi.

3. Dapatkan Single Investor Identification (SID) Investor Reksadana

Nomor ini akan otomatis didapatkan setelah kamu melakukan proses registrasi. Pada umumnya, SID ini akan dikirimkan langsung via email.

Setelah SID jadi, maka kamu sudah tercatat sebagai investor reksadana nih. Sudah bisa melakukan transaksi.

4. Beli produk yang kamu inginkan

Agen penjual tentu memiliki lebih dari satu produk yang tersedia di pasaran. Carilah produk yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasimu.

Pilih produknya, lakukan transfer, dan tunggu sehari. Jika transaksimu dilakukan sebelum pukul 13.00, maka reksadana itu akan masuk ke portofoliomu di keesokan harinya.

Nilai aktiva bersih per Unit Penyertaan (NAB/UP)

Nilai aktiva bersih atau NAB merupakan komponen penting yang harus diketahui untuk memahami operasional sebuah produk reksadana. Di luar negeri, NAB dikenal dengan istilah NAV (net asset value).

NAB menggambarkan total kekayaan bersih sebuah reksadana setiap harinya. Nilai kekayaan bersih atau aktiva bersih, bisa diartikan sebagai nilai pasar setiap jenis aset investasi seperti saham, obligasi, surat berharga pasar uang, serta deposito, dividen saham, kupon obligasi hingga biaya operasional reksadana (biaya MI, biaya Bank Kustodian, dan biaya lain-lain).

Sementara itu selain ada NAB, ada pula Unit Penyertaan atau UP. Produk reksadana dijual dalam satuan unit, sama seperti emas yang dijual dalam satuan gram sementara itu saham dijual dalam satuan lembar.

Nilai NAB/UP dari reksadana lah yang harus diperhatikan. Sebab, harga ini bakal terus naik dan turun seiring dengan berjalannya waktu.

Perubahan nilai NAB/UP juga disebabkan karena transaksi harian dari produk ini. 

Sebut saja kamu membeli produk RDS dari PT ABC Asset Management pada Januari 2018 saat harga NAB/UPnya masih Rp1,150,88. Tepat pada Maret 2018, harga NAB/UP dari RDS yang kamu beli ternyata sudah naik jadi Rp1.575,32. Kalau kamu memutuskan untuk jual pada Maret 2018, tentunya kamu sudah untung.

Menghitung kinerja reksadana

Bagi sebuah perusahaan manajer investasi, menjanjikan keuntungan ke investor adalah hal yang dilarang. Sebagai investor, yang bisa kita lihat adalah kinerja dari produk yang ingin kita beli, agar bisa menjadi gambaran luar kita.

Situs-situs agen penjual reksadana telah memiliki daftar produk-produk tersebut berdasarkan jenis dan performanya.

Kamu bisa menggunakan fitur-fitur di situs itu untuk melihat kinerja RDPU, RPDS, RDS, dan RDC di sana secara harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan.

Cara yang paling mudah dilakukan adalah melihat grafik yang ditunjukkan. Tapi jangan lupa juga, pahami aset-aset investasi seluruh reksadana yang ingin kamu beli, dengan cara membaca prospektusnya. 

Apa keuntungan reksadana ketimbang instrumen lain?

tips investasi reksadana

Pada kesimpulannya, apa sih yang jadi keuntungan dari reksadana ketimbang berinvestasi langsung dengan membuka deposito, beli obligasi atau sukuk, serta beli saham? 

Kelebihan dan kekurangannya sudah tercantum di tabel di bawah ini. 

Indikator

Instrumen 
Obligasi Sukuk Saham Deposito

Reksadana

Jatuh tempo

V V X V X
Kupon /

bunga

V X X V

X

Imbal hasil /

nisbah

X V X X X
Dividen X X V X

X

Potensi

Capital gain

V V V X V
Jaminan negara (SBN) V V X V

X

Likuiditas

di pasar sekunder

V V V X

V

Manajer investasi reksadana terbaik beserta produknya

Dalam urusan pengelolaan, kamu wajib mengetahui dan memilih manajer investasi mana yang tepat dan dapat dipercaya sehingga bisa memberikan keuntungan investasi reksadana yang bagus. Sebagai pemegang peran penting dalam menyukseskan investasimu, kehati-hatian sangatlah dibutuhkan dalam memutuskan manajer investasi.

Berikut 6 manajer investasi yang layak kamu pertimbangkan.

1. PT Danareksa Investment Management (DIM)

Sebagai reksadana pertama di Indonesia yang lahir pada Juli 1996, PT Danareksa Investment (DIM) sudah mengelola lebih dari 30 reksadana. Anak usaha dari PT Danareksa (Persero) ini tercatat pada 2018 telah memiliki dana kelolaan (AUM) reksadana sebesar Rp19,16 triliun. Berikut produk reksadana yang ditawarkan DIM.

Danareksa Seruni Pasar Uang II Dengan modal minimal Rp100 ribu, kamu sudah bisa membeli saham di produk reksadana DIM. Produk yang dirilis pada 8 Februari 2008 ini sudah mengelola dana hingga Rp925,85 miliar. Tercatat pada 2019, keuntungan reksadana yang diperoleh sebesar 71,26%.
Danareksa Syariah Berimbang Sejak peluncuran di Desember 2000 hingga 2019, Danareksa Syariah Berimbang telah memberi keuntungan sebanyak 513%. Jumlah dana yang sudah dikelola per September 2019 sebesar Rp83,47 miliar dengan modal minimum pembelian hanya Rp100 ribu.
Danareksa Gebyar Indonesia II Sejak peluncuran, April 2008, Danareksa Gebyar Indonesia II berhasil mengelola dana sebesar Rp392,5 miliar dengan total keuntungan 118,85% sejak peluncurannya. Sama dengan produk DIM yang lain, minimum pembelian saham di Danareksa Gebyar Indonesia II Rp100 ribu.

2. PT Schroder Investment Management Indonesia

Sejak mengantongi izin dari OJK pada 1997 hingga tahun lalu, tercatat PT Schroder Investment Management Indonesia sudah mengelola reksadana sebesar Rp46,29 triliun. Berikut beberapa produk reksadana andalan Schroder Indonesia.

Schroder Dana Prestasi Dana yang sudah dikelola Schroder Dana Prestasi sebesar Rp4,9 triliun sejak kehadirannya pada Mei 1997. Keuntungan yang sudah dihasilkan sebesar 3.760,45%. Minimal investasi hingga Rp100 ribu.
Schroder Dana Prestasi Plus Dengan modal Rp100 ribu, kamu sudah bisa membeli reksadana di Schroder Dana Prestasi Plus. Sejak dirilis pada September 2000, kinerja produk ini tercatat sudah memiliki keuntungan sebesar 3.046,38% dengan dana kelola sebanyak Rp14,54 triliun per September 2019.
Schroder Syariah Balanced Fund Produk reksadana yang satu ini campuran dengan reksadana syariah dengan keuntungan 153,25% sejak peluncurannya pada April 2009. Dana yang sudah dikelola per akhir September 2019 sebanyak Rp263,19 miliar. Cukup mengeluarkan uang Rp100 ribu, kamu dapat membeli reksadana di Schroder Syariah Balanced Fund.

3. PT Mandiri Manajemen Indonesia (MMI)

Sejak memisahkan diri dari PT Mandiri Sekuritas dan membentuk manajer investasi pada Desember 2004, Mandiri Manajemen Indonesia (MMI) sudah mencatatkan dana kelola reksadana sebesar Rp42,03 triliun (pada periode 2008). Aliansi dari PT Bank Mandiri Persero ini tercatat sebagai manajer investasi nasional terbesar dan sudah terdaftar resmi di OJK. Berikut ini beberapa produk reksadana yang patut kamu pertimbangkan.

Mandiri Investasi Cerdas Bangsa (MICB) Dirilis pada Juli 2008, Mandiri Investasi Cerdas Bangsa (MICB) sudah memberi keuntungan sebesar 147,53% dan total dana kelola per September 2019 sebesar Rp921,96 miliar. Minimum pembelian reksadana hingga Rp50 ribu.
Mandiri Pasar Uang Syariah (MPUS) Dengan modal Rp100 ribu, kamu sudah bisa membeli reksadana di Mandiri Pasar Uang Syariah (MPUS) dengan tingkat risiko yang rendah. Rilis sejak Oktober 2017, MPUS sudah mengantongi keuntungan sebesar 11% dengan total dana kelola hingga Rp252,86 miliar.
Mandiri Investa Dana Utama (MIDU) Mandiri Investa Dana Utama merupakan jenis produk reksadana tetap yang memiliki tingkat risiko rendah-menengah untuk investor dengan minimum pembelian Rp50 ribu. Hadir sejak September 2007, MIDU memiliki keuntungan sebesar 144,58% dengan total dana kelola reksadana sebesar Rp452,91 miliar.

4. PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM)

Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) membukukan total dana kelola reksadana sebesar Rp40,34 triliun. Inilah produk reksadana yang ditawarkan BPAM.

Batavia Dana Kas Maxima Kamu bisa berinvestasi di Batavia Dana Kas Maxima dengan modal awal investasi sebesar Rp100 ribu. Produk reksadana yang dirilis pada Februasi 2007 ini memiliki nilai aktiva bersih mencapai Rp3,11 triliun dengan keuntungan hingga 119,89% sejak peluncurannya.
Batavia Dana Obligasi Ultima Produk selanjutnya adalah Batavia Dana Obligasi Ultima. Reksadana jenis pendapatan tetap ini memberikan keuntungan sebesar 163,67% sejak peluncurannya, Februari 2007. Total nilai aktiva bersih hingga Rp132,23 miliar. Minimum pembelian reksadana sebesar Rp100 ribu.
Batavia Dana Saham Syariah Rilis di Juli 2007, Batavia Dana Saham Syariah sudah memiliki total nilai aktiva bersih sebesar Rp137,51 miliar. Adapun keuntungan yang dicapai sejak peluncurannya sebesar 101,39%. Kamu cukup membeli reksadana sebesar Rp100 ribu sebagai nilai investasi awal.

5. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)

Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengantongi izin dari OJK sebagai manajer investasi pada 1997, tepat satu tahun setelah berdirinya Manulife Aset Manajemen. Dan, di tahun 2018, MAMI berhasil mendapatkan izin sebagai penasihat investasi. Tercatat sudah RP27,79 triliun dana yang dikelola MAMI. Sebanyak 24 produk reksadana ditawarkan, dan berikut tiga produk reksadana andalan MAMI.

Manulife Dana Saham (MDS) Dirilis pada Agustus 2003, MDS sudah mengelola dana hingga Rp1,41 triliun per September 2019. Jenis reksadana saham ini sudah mengantongi keuntungan sebesar 16,23%. Modal yang perlu kamu keluarkan untuk berinvestasi di MDS bisa dimulai dari Rp10 ribu saja, lho.
Manulife Pendapatan Bulanan (MPB) II Sama halnya dengan MDS, kamu bisa berinvestasi di Manulife Pendapatan Bulanan (MPB) II dengan modal minimum Rp10 ribu. Sejak peluncurannya pada Januari 2009, kinerja keuntungan yang tercatat sebesar 6,39% dengan total dana kelola mencapai Rp1,02 triliun. MPB II merupakan jenis reksadana pendapatan tetap.
Manulife Dana Kas Syariah (MDKS) Manulife Dana Kas Syariah (MDKS) rilis pada Agustus 2018 dan sudah mengantongi keuntungan sebesar 6,01%. Total dana kelola  mencapai Rp40,49 miliar. Tak tanggung-tanggung, minimum pembelian MDKS sebesar Rp10 ribu.

6. PT Bahana TCW Investment Management

Dengan usia seperempat abad, Bahana TCW Investemnt Management ini pantas masuk ke dalam jajaran industri reksadana terbaik di Indonesia. Sepanjang 2018, dana kelola manajer investasinya mencapai Rp40,34 triliun. Inilah beberapa produk andalan Bahana TCW.

Bahana Dana Likuid (BDL) Sejak peluncurannya pada April 2004 hingga September 2019, BDL sudah mengelola dana sebesar Rp4,42 triliun. Tercatat keuntungan yang diperoleh sebesar 152,6%. Adapun prosentase keuntungan per tahunnya sebesar 6,05%.
Bahana MES Syariah Fund Bahana MES Syariah Fund rilis pada November 2016. Telah menghasilkan kinerja keuntungan sebesar 19,9% dan prosentase keuntungan per tahunnya sebesar 14,70%. Total dana kelola per Agustus 2019 sebanyak Rp54,88 miliar.
Bahana Pendapatan Tetap Makara Prima (MP) Sejak peluncurannya pada November 2004, MP sudah memberikan keuntungan sebesar 160,3% dengan prosentase keuntungan per tahunnya sebesar 13,48%. Adapun total dana kelola per September 2019 mencapai Rp200,83 miliar.
Kehati Lestari Produk reksadana jenis reksadana pendapatan tetap ini berhasil meraup total dana kelola hingga Rp982,53 miliar. Sejak peluncurannya pada April 2007, tercatat sudah mengantongi keuntungan sebesar 119,5%. Adapun prosentase keuntungan per tahunnya sebesar 16,14%.

Istilah-istilah dalam reksadana 

Sama seperti investasi saham, banyak sekali istilah-istilah dalam investasi reksadana. Pahamilah dengan baik istilah-istilah ini dan jangan sampai gagal paham.

Investor

Investor merupakan perorangan atau institusi yang berinvestasi dengan membeli produk reksadana di pasar.

Manajer Investasi

Manajer investasi adalah yang dipercaya oleh investor untuk mengelola dana suatu reksadana  untuk diinvestasikan pada portofolio efek.

Bank kustodian

Bank kustodian bertugas mencatat dan mengadministrasikan aset yang terkumpul dalam reksadana yang dikelola oleh Manajer Investasi. Bank Kustodian biasanya merupakan bank umum yang telah mendapat persetujuan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Kustodian, yaitu memberikan jasa penitipan Efek dan harta lain yang berkaitan dengan Efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi Efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.

Agen Penjual Reksa Dana (APERD)

APERD adalah badan atau perusahaan yang telah memperoleh Surat Tanda Terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dari OJK.

Prospektus

Pernyataan yang dicetak atau informasi tertulis yang digunakan untuk Penawaran Umum  sebuah produk reksadana yang diberikan ke calon pembeli produk reksadana tersebut. Prospektus berisi informasi detail mengenai sebuah produk reksadana, mulai pembentukan reksadana hingga tata cara pembelian dan penjualan unit penyertaan reksadana serta pembubaran atau likuidasi reksadana.

Kontrak investasi kolektif (KIK)

Kontrak antara manajer investasi dan bank kustodian yang mengikat Pemegang Unit Penyertaan (investor).

Portofolio efek

kumpulan dari efek atau surat-surat berharga milik seseorang ataupun suatu badan.

Unit penyertaan (UP)

Sebuah satuan ukuran yang menunjukkan bagian kepentingan setiap pihak dalam portofolio investasi kolektif. Reksadana diterbitkan dalam satuan unit penyertaan, yang nilai awalnya adalah Rp1000 (seribu rupiah). Investor yang membeli unit penyertaan disebut Pemegang Unit Penyertaan.

Nilai aktiva bersih (NAB)

Nilai pasar yang wajar dari suatu efek dan kekayaan lain dari reksadana dikurangi seluruh kewajibannya. NAB dihitung dan diumumkan setiap hari bursa, sementara itu NAB/UP kerap disebut harga dari suatu reksadana. Harga NAB/UP akan berubah setiap harinya.

Asset Under Management (AUM)

Total kelolaan dana pada reksadana mengacu pada total nilai dari investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi.

Pada kesimpulannya adalah, keuntungan reksadana ternyata beragam sesuai dengan jenis-jenisnya dan merupakan salah satu instrumen investasi yang terbilang likuid. Proses aplikasinya juga tergolong mudah, modal ponsel saja bisa dan gak perlu ke luar rumah untuk melakukan registrasi. 

Itu sebabnya mengapa instrumen investasi yang satu ini memang pas buat para pemula sebelum akhirnya mereka terjun ke investasi lain, seperti membeli obligasi langsung atau saham di Bursa Efek Indonesia

Tertarik mencoba?