Investasi Halal, Ini 6 Pilihan Produknya [Disetujui MUI]

Investasi halal

Buat kamu yang ingin menjalankan syariat Islam, memilih investasi halal jadi kendala tersendiri. Padahal, sebenarnya kalau kamu mau sediakan waktu buat riset, cukup banyak investasi halal syariah yang bisa kamu pilih.

Dalam Islam, investasi tentu gak salah. Malah kamu dianjurkan buat berinvestasi agar masa depan terjamin.

Yang jadi pembeda antara investasi halal dengan investasi konvensional terletak pada metode pembagian keuntungan atau bagi hasil.

Investasi konvensional biasanya menerapkan bunga yang diatur oleh sepihak, yaitu biasanya pihak perusahaan. 

Sementara itu, investasi halal dengan konsep syariah menerapkan metode bagi hasil atau nisbah. Dengan begitu, baik perusahaan maupun nasabah udah saling mengerti bahwa mereka sama-sama menanggung risiko.

Mau tahu lebih banyak tentang investasi syariah? Temukan di Tanya Lifepal yang dibahas para ahli di bidangnya.

Nah, apa aja sih produk investasi syariah yang sesuai fatwa MUI? Yuk, simak enam pilihan berikut:

1. Investasi berbentuk properti

Investasi halal

Kalau mau gampang, menghasilkan, dan sesuai pula dengan syariat Islam, investasi dalam bentuk properti sangat dianjurkan.

Investasi ini gak butuh pertimbangan yang ribet dengan segala perhitungannya. Yang kamu lakukan cukup membeli properti yang sesuai kemampuanmu.

Selanjutnya, kamu bisa memperoleh keuntungan di tahun-tahun mendatang saat harga properti memang bakal hampir pasti naik. Cara lainnya, kamu bisa sewakan properti tersebut pada orang lain. Investasinya jelas, gak ada riba, dan gampang pula!

Nah, yang penting proses pembelian properti tersebut nggak melibatkan sistem bunga. Maka dari itu, kamu bisa beli properti dengan cara tunai dibandingkan kredit.

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengambil KPR berbasis syariah Metodenya menggunakan sistem margin, bukan bunga. Jadi, dari awal, pihak bank syariah udah menetapkan persentase margin yang  harus kamu bayarkan, dan itu bersifat tetap hingga akhir cicilan.

2. Investasi emas

Nah, ini dia investasi yang paling dianjurkan oleh syariat Islam. Investasi emas lebih stabil karena harganya yang selalu naik secara progresif dari tahun ke tahun.

Buat berinvestasi emas, kamu pun gak memerlukan metode neko-neko. Cukup mulai tabungan emas dengan cara membelinya di gerai resmi seperti Antam dan Pegadaian.

Gimana kalau kamu melakukan kredit emas karena modal gak cukup?

MUI sudah mengeluarkan fatwa soal jual-beli emas secara gak tunai, kok. Pihak MUI memutuskan jual-beli emas secara kredit termasuk dalam perbuatan mubah atau diizinkan. Akan tetapi, ada syarat dan ketentuan yang mengikutinya, yaitu:

– Harga jual gak boleh bertambah selama masa perjanjian.

– Emas tersebut gak boleh dijadikan jaminan.

– Emas tersebut juga gak boleh dijadikan objek akad lain yang bisa menyebabkan perpindahan kepemilikan.

– Dibolehkan selama emas belum jadi alat tukar resmi.

3. Deposito bagi hasil

Beda deposito konvensional dengan deposito syariah adalah proses penetapan keuntungan.

Pada deposito konvensional, persentase keuntungan didasarkan pada bunga yang udah ditetapkan sejak awal. Sementara itu, pada deposito syariah, keuntungan yang kamu peroleh berasal dari bagi hasil yang menyesuaikan dengan keuntungan bersih pengelolaan dana.

Perjanjian tersebut disebut sebagai akad Mudharabah, yaitu perjanjian yang disepakati pihak pemilik modal dan pengelola modal.

Yang pasti, kalau kamu ingin berinvestasi dalam bentuk deposito syariah ini, kamu harus pilih bank syariah. Sebab, fatwa MUI membolehkan deposito syariah apabila sertifikat deposito tersebut diterbitkan oleh bank syariah.

4. Investasi syariah berupa reksadana

Sebenarnya reksadana termasuk salah satu instrumen investasi yang sesuai syariat Islam. Salah satu alasannya, modal yang ditanamkan dikelola secara produktif. Pengelolaannya pun sering kali dilakukan secara transparan.

Nah, yang perlu diperhatikan adalah gak ada riba dalam prosesnya, serta pengelolaannya gak mengandung unsur non-halal.

Perusahaan-perusahaan yang menghadirkan produk reksadana syariah bisa kamu cek di situs Bareksa dengan memanfaatkan fitur filter kategori.

5. SBSN (Surat Berharga Syariah Negara)

Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN adalah obligasi atau surat utang yang diatur menggunakan metode syariah. Itu artinya surat yang diperjualbelikan gak berasal dari proses jual-beli produk haram.

Dalam proses penyerahannya, data yang diberikan haruslah transparan.

6. Investasi tanah

Bentuk investasi ini mirip dengan investasi properti. Karena pada dasarnya, tanah dan properti itu sepaket. Tapi, bagi kamu yang belum ingin membangun properti atau rumah, investasi berupa lahan atau tanah bisa menjadi solusi. 

Dibandingkan dengan properti, mencari pembeli untuk tanah juga lebih gampang. Hal ini karena fungsi lahan yang masih bisa berubah-ubah nantinya. 

Investasi tanah juga menggiurkan, antara kenaikan harga tanah dan bangunan rata-rata sebesar 15-20 persen setiap tahunnya. Menggiurkan bukan?

Tapi bagi kamu yang menghindari riba, tentu seluruh proses transaksi harus dilakukan sesuai syariat Islam. Pastikan transaksi pembelian tanah tanpa denda, tanpa bunga, tanpa pinalti, serta tanpa akad bermasalah atau bathil. 

Nah, investasi tanah secara syariah ini biasanya berbentuk kavling-kavling yang akan digunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya, untuk kebun buah, untuk peternakan, atau tujuan lainnya. 

Sederhananya, kita membeli kavling di suatu tempat dan akan ada pihak yang mengelola lahan tersebut. Untungnya, akan ada bagi hasil sesuai prinsip syariah. 

Tapi, hati-hati penipuan berkedok investasi tanah syariah! Tahun 2019 lalu kita sempat dihebohkan dengan investasi bodong ‘Kampoeng Kurma’.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa skema bisnis Kampung Kurma adalah menawarkan investasi unit lahan yang akan ditanami pohon kurma. Skemanya, satu unit lahan seluas 400m2 – 500m2 akan ditanami 5 pohon kurma dan akan menghasilkan Rp175 juta per tahun.

Nah, kemudian pohon kurma disebut mulai berbuah pada usia 4-10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia pohon 90-100 tahun. 

OJK mensinyalir bahwa modus seperti ini tidak rasional karena menjanjikan imbal hasil tinggi dalam jangka waktu singkat. Belum lagi, pihak pengelola tidak ada transparansi terkait penggunaan dana yang ditanamkan. 

Sebelum memulai investasi, ketahui terlebih dahulu profil resiko investasimu dengan mengikuti kuis berikut ini:

Kelebihan Investasi Halal-Syariah

Sebelum kamu mulai memilih jenis investasi syariah yang akan dilakoni, alangkah baiknya pahami dulu apa kelebihan investasi dengan skema syariah.

Jangan lupa lengkapi investasi syariah kamu dengan asuransi syariah!

Berikut beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, termasuk keuntungannya, sebelum memilih sebuah produk investasi berlabel syariah:

1. Sesuai syariat Islam

Investasi berskema syariah tentu berlandaskan tuntunan Alquran dan hadist. Dalam praktiknya, model investasi ini juga memenuhi syariat Islam, termasuk produk yang diinvestasikan tidak mengandung unsur haram, dikerjakan dengan cara halal, dan digunakan dengan cara yang halal juga.

2. Bebas riba

Investasi halal tentu nggak menggunakan praktik riba, melainkan bagi hasil dari profit hasil pengelolaan uang nasabah. Bagi kamu yang mungkin menghindari praktik riba dalam sistem keuangan konvensional, maka jenis investasi syariah bisa menjadi solusi.

3. Transparan 

Kamu bisa lihat gimana cara pengelolaan dana yang sudah kamu tanamkan. Jadi begini, setiap investasi syariah harus menghindari ghahar atau pemberikan informasi yang kurang lengkap. Nah, praktik ghahar ini kerap menjadi modus bagi perusahaan ‘nakal’ untuk menyesatkan calon investor pemula. 

Investasi syariah juga menghindari hal-hal yang sifatnya maysir atau transaksi yang berbau ‘gambling’ atau akad yang tak jelas. Praktik seperti itu cenderung akan merugikan salah satu pihak.  

4. Terbebas dari unsur haram

Bisnis yang dijalankan buat mengelola dana bebas dari unsur-unsur haram, seperti perdagangan produk yang gak mengandung babi, alkohol, atau penipuan.

Berkaca dari poin-poin di atas, kamu bisa tentukan pilihan investasi yang cocok namun tetap aman secara agama buat kamu. Kamu juga bisa memilih, investasi halal jangka pendek atau yang sifatnya jangka panjang.

Perlu diingatkan juga, kamu yang ingin memulai investasi syariah sebaiknya nggak sembarang memilih jenis investasi. 

Bisa saja ada beberapa produk investasi yang berlabel syariah namun diterbitkan oleh bukan bank syariah. Di lain pihak, ternyata produknya berasal dari aktivitas pengelolaan dana dengan unsur non-halal.

Dengan mengetahui apa saja cakupan investasi halal yang sesuai syariat Islam, kini kamu lebih mudah buat memilih produk yang cocok, kan? Harta kamu bertambah, hati pun tetap tenang!

Nah, untuk mengetahui kondisi keuanganmu, yuk cek secara online di Lifepal financial checker. (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →