Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal

Investasi halal

Investasi dalam Islam semakin menarik bagi masyarakat Indonesia seturut membaiknya literasi keuangan di negara kita. Jika dulu orang tua kita lebih suka ‘mendiamkan’ uangnya dengan cara menabung, generasi masa kini sudah lebih melek berinvestasi. Tujuannya tentu untuk mencari keuntungan dari investasi yang dilakukan.

Investasi juga salah satu cara untuk menyiapkan ketahanan finansial di masa depan. Misalnya, kamu punya target untuk membeli rumah, mobil, menyekolahkan anak, atau untuk sekadar berlibur. Selain mendapat pemasukan dari gaji, alangkah baiknya kalau kamu juga punya pendapatan dari berkembangnya nilai investasimu. Bebas finansial menjadi prinsip hidup yang mulai dibangun generasi milenial saat ini.

Hanya saja, tidak jarang terbersit pertanyaan di benak kita. ‘Memang boleh berinvestasi dalam Islam?’ Wajar saja pertanyaan ini muncul. Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar dunia. Islam juga punya tata cara tersendiri terkait praktik keuangan, termasuk soal investasi. Ada syariat yang perlu diperhatikan agar investasi yang kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Jangan khawatir, ada banyak opsi investasi syariah dan halal dalam Islam. Umat Muslim masih punya banyak peluang untuk aktif berinvestasi tanpa harus melawan ajaran agama.

Penasaran? Yuk, simak prinsip investasi dalam Islam dan pilihan investasi halal terbaik buat kamu!

Bagaimana investasi dalam Islam?

Investasi dalam Islam jelas dibolehkan. Islam juga mendukung umatnya untuk memiliki kemerdekaan dalam hal keuangan, termasuk dengan investasi. Dalam Islam, investasi disebut mudharabah, yakni menyerahkan sejumlah modal kepada orang yang ‘berdagang’ sehingga si investor mendapat bagi hasil dari keuntungan.

Pembeda utama investasi konvensional dan investasi syariah terletak pada pembagian keuntungan atau bagi hasil. Pada investasi konvensional, biasanya ada bunga yang besarannya diatur sepihak oleh pengelola dana. Sementara investasi dalam Islam menerapkan konsep bagi hasil atau nisbah. Dengan begitu, baik perusahaan atau nasabah saling menanggung risiko yang ada. Prinsip ini juga sering disebut sebagai ‘risk-sharing’.

Ulama pun sepakat bahwa sistem penanaman modal ini dibolehkan. Dasar hukumnya adalah ijma’, kesepakatan ulama dalam menetapkan sebuah hukum di dalam agama. Tentu tetap didasarkan pada Alquran dan hadist dalam memandang suatu masalah, termasuk soal investasi dalam Islam ini. 

Investasi dalam Islam mengenal pembagian keuntungan yang sesuai dengan syariat. Persentase keuntungan dibagikan secara merata, termasuk juga kerugian. Artinya, investasi dalam Islam berarti saling berbagi risiko kerugian dan keuntungan. 

Anjuran investasi juga tertuang dalam Alquran, surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Prinsip umum investasi dalam Islam

Seperti dijelaskan di atas, investasi di dalam Islam punya batas-batas yang perlu dipatuhi. Tidak semua jenis investasi sesuai syariat, namun cukup banyak pilihan yang tersedia bagi umat Muslim untuk berinvestasi. Jadi, investasi dalam Islam masih sangat luas. Apa saja prinsip umum investasi dalam Islam?

1. Hindari riba

Investasi dalam Islam jelas tidak mengenal riba. Riba adalah pengambilan tambahan atau bunga, baik dari transaksi jual-beli atau pinjam-meminjam, yang dilakukan secara batil atau bertentangan dengan syariat Islam. Riba adalah kelebihan yang tidak disertai dengan imbalan yang disyaratkan dalam jual-beli. 

Jadi kalau ingin berinvestasi dalam Islam, tentukan jenis investasi yang keuntungannya tidak menggunakan bunga. Pilihlah investasi yang ada prinsip pembersihan keuntungan, atau memisahkan antara halal dan haram. 

2. Hindari gharar

Investasi dalam Islam juga menghindari gharar. Gharar atau taghrir adalah keraguan, tipuan, atau tindakan yang bertujuan merugikan orang lain. Gharar bisa berupa akad yang mengandung unsur penipuan karena tidak ada kepastian, baik mengenai ada tidaknya objek akad, besar kecilnya jumlah, atau kemampuan menyerahkan objek yang disebut dalam akad. Gharar juga bisa disebut sebagai jual-beli yang tak jelas wujudnya.

Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal
Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal

Sederhananya, dalam berinvestasi janganlah membeli kucing dalam karung. Akad harus jelas. Akad dalam investasi syariah adalah wakalah dan mudharabah. 

3. Hindari maisir

Investasi dalam Islam juga menghindari maisir yang artinya judi atau bertaruh, baik dengan benda atau uang. Maisir juga bisa berwujud perbuatan mencari laba dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa usaha. Caranya dengan menebak atau mensyaratkan pembayaran lebih dulu. 

Investasi dalam Islam menekankan bahwa investasi bukan alat untuk berjudi atau ‘gambling’. Artinya, janganlah kamu berspekulasi dan berharap mendapat keuntungan cepat, sebab investasi lebih baik dilakukan secara jangka panjang.

Mau tahu lebih banyak tentang investasi syariah? Temukan di Tanya Lifepal yang dibahas para ahli di bidangnya.

Pilihan investasi halal sesuai syariat Islam

Nah, apa aja sih produk investasi syariah yang sesuai fatwa MUI? Yuk, simak enam pilihan berikut:

1. Investasi berbentuk properti

Kalau mau gampang, menghasilkan, dan sesuai pula dengan syariat Islam, investasi dalam bentuk properti sangat dianjurkan.

Investasi ini gak butuh pertimbangan yang ribet dengan segala perhitungannya. Yang kamu lakukan cukup membeli properti yang sesuai kemampuanmu.

Selanjutnya, kamu bisa memperoleh keuntungan di tahun-tahun mendatang saat harga properti memang bakal hampir pasti naik. Cara lainnya, kamu bisa sewakan properti tersebut pada orang lain. Investasinya jelas, gak ada riba, dan gampang pula!

Nah, yang penting proses pembelian properti tersebut nggak melibatkan sistem bunga. Maka dari itu, kamu bisa beli properti dengan cara tunai dibandingkan kredit.

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengambil KPR berbasis syariah Metodenya menggunakan sistem margin, bukan bunga. Jadi, dari awal, pihak bank syariah udah menetapkan persentase margin yang  harus kamu bayarkan, dan itu bersifat tetap hingga akhir cicilan.

2. Investasi emas

Nah, ini dia investasi yang paling dianjurkan oleh syariat Islam. Investasi emas lebih stabil karena harganya yang selalu naik secara progresif dari tahun ke tahun.

Buat berinvestasi emas, kamu pun gak memerlukan metode neko-neko. Cukup mulai tabungan emas dengan cara membelinya di gerai resmi seperti Antam dan Pegadaian.

Gimana kalau kamu melakukan kredit emas karena modal gak cukup?

MUI sudah mengeluarkan fatwa soal jual-beli emas secara gak tunai, kok. Pihak MUI memutuskan jual-beli emas secara kredit termasuk dalam perbuatan mubah atau diizinkan. Akan tetapi, ada syarat dan ketentuan yang mengikutinya, yaitu:

Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal
Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal
  • Harga jual gak boleh bertambah selama masa perjanjian.
  • Emas tersebut gak boleh dijadikan jaminan.
  • Emas tersebut juga gak boleh dijadikan objek akad lain yang bisa menyebabkan perpindahan kepemilikan.
  • Dibolehkan selama emas belum jadi alat tukar resmi.

3. Deposito bagi hasil

Beda deposito konvensional dengan deposito syariah adalah proses penetapan keuntungan.

Pada deposito konvensional, persentase keuntungan didasarkan pada bunga yang udah ditetapkan sejak awal. Sementara itu, pada deposito syariah, keuntungan yang kamu peroleh berasal dari bagi hasil yang menyesuaikan dengan keuntungan bersih pengelolaan dana.

Perjanjian tersebut disebut sebagai akad Mudharabah, yaitu perjanjian yang disepakati pihak pemilik modal dan pengelola modal.

Yang pasti, kalau kamu ingin berinvestasi dalam bentuk deposito syariah ini, kamu harus pilih bank syariah. Sebab, fatwa MUI membolehkan deposito syariah apabila sertifikat deposito tersebut diterbitkan oleh bank syariah.

4. Investasi syariah berupa reksadana

Sebenarnya reksadana termasuk salah satu instrumen investasi yang sesuai syariat Islam. Salah satu alasannya, modal yang ditanamkan dikelola secara produktif. Pengelolaannya pun sering kali dilakukan secara transparan.

Nah, yang perlu diperhatikan adalah gak ada riba dalam prosesnya, serta pengelolaannya gak mengandung unsur non-halal.

Perusahaan-perusahaan yang menghadirkan produk reksadana syariah bisa kamu cek di situs Bareksa dengan memanfaatkan fitur filter kategori.

5. SBSN (Surat Berharga Syariah Negara)

Investasi dalam Islam juga mengenai Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN. Instrumen ini adalah obligasi atau surat utang yang diatur menggunakan metode syariah. Itu artinya surat yang diperjualbelikan gak berasal dari proses jual-beli produk haram.

Dalam proses penyerahannya, data yang diberikan haruslah transparan.

6. Investasi tanah

Bentuk investasi ini mirip dengan investasi properti. Karena pada dasarnya, tanah dan properti itu sepaket. Tapi, bagi kamu yang belum ingin membangun properti atau rumah, investasi lahan atau tanah bisa menjadi solusi. Instrumen ini juga paling populer sebagai investasi dalam Islam.

Dibandingkan dengan properti, mencari pembeli untuk tanah juga lebih gampang. Hal ini karena fungsi lahan yang masih bisa berubah-ubah nantinya. 

Investasi tanah juga menggiurkan, antara kenaikan harga tanah dan bangunan rata-rata sebesar 15-20 persen setiap tahunnya. Menggiurkan bukan?

Tapi bagi kamu yang menghindari riba, tentu seluruh proses transaksi harus dilakukan sesuai syariat Islam. Pastikan transaksi pembelian tanah tanpa denda, tanpa bunga, tanpa pinalti, serta tanpa akad bermasalah atau bathil. 

Nah, investasi tanah secara syariah ini biasanya berbentuk kavling-kavling yang akan digunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya, untuk kebun buah, untuk peternakan, atau tujuan lainnya. 

Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal
Investasi dalam Islam – Penerapan dan Pilihan Produk Halal

Sederhananya, kita membeli kavling di suatu tempat dan akan ada pihak yang mengelola lahan tersebut. Untungnya, akan ada bagi hasil sesuai prinsip syariah. 

Tapi, hati-hati penipuan berkedok investasi tanah syariah! Tahun 2019 lalu kita sempat dihebohkan dengan investasi bodong ‘Kampoeng Kurma’.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa skema bisnis Kampung Kurma adalah menawarkan investasi unit lahan yang akan ditanami pohon kurma. Skemanya, satu unit lahan seluas 400m2 – 500m2 akan ditanami 5 pohon kurma dan akan menghasilkan Rp175 juta per tahun.

Nah, kemudian pohon kurma disebut mulai berbuah pada usia 4-10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia pohon 90-100 tahun. 

OJK mensinyalir bahwa modus seperti ini tidak rasional karena menjanjikan imbal hasil tinggi dalam jangka waktu singkat. Belum lagi, pihak pengelola tidak ada transparansi terkait penggunaan dana yang ditanamkan.

Kelebihan investasi halal berbasis syariah

Sebelum kamu mulai memilih jenis investasi syariah yang akan dilakoni, alangkah baiknya pahami dulu apa kelebihan investasi dengan skema syariah.

Jangan lupa lengkapi investasi syariah kamu dengan asuransi syariah!

Berikut beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, termasuk keuntungannya, sebelum memilih sebuah produk investasi berlabel syariah:

1. Sesuai syariat Islam

Investasi berskema syariah tentu berlandaskan tuntunan Alquran dan hadist. Dalam praktiknya, model investasi ini juga memenuhi syariat Islam, termasuk produk yang diinvestasikan tidak mengandung unsur haram, dikerjakan dengan cara halal, dan digunakan dengan cara yang halal juga.

2. Bebas riba

Investasi halal tentu nggak menggunakan praktik riba, melainkan bagi hasil dari profit hasil pengelolaan uang nasabah. Bagi kamu yang mungkin menghindari praktik riba dalam sistem keuangan konvensional, maka jenis investasi syariah bisa menjadi solusi.

3. Transparan

Kamu bisa lihat gimana cara pengelolaan dana yang sudah kamu tanamkan. Jadi begini, setiap investasi syariah harus menghindari ghahar atau pemberikan informasi yang kurang lengkap. Nah, praktik ghahar ini kerap menjadi modus bagi perusahaan ‘nakal’ untuk menyesatkan calon investor pemula. 

Investasi syariah juga menghindari hal-hal yang sifatnya maysir atau transaksi yang berbau ‘gambling’ atau akad yang tak jelas. Praktik seperti itu cenderung akan merugikan salah satu pihak.  

4. Terbebas dari unsur haram

Bisnis yang dijalankan buat mengelola dana bebas dari unsur-unsur haram, seperti perdagangan produk yang gak mengandung babi, alkohol, atau penipuan.

Berkaca dari poin-poin di atas, kamu bisa tentukan pilihan investasi yang cocok namun tetap aman secara agama buat kamu. Kamu juga bisa memilih, investasi halal jangka pendek atau yang sifatnya jangka panjang.

Perlu diingatkan juga, kamu yang ingin memulai investasi syariah sebaiknya nggak sembarang memilih jenis investasi. 

Bisa saja ada beberapa produk investasi yang berlabel syariah namun diterbitkan oleh bukan bank syariah. Di lain pihak, ternyata produknya berasal dari aktivitas pengelolaan dana dengan unsur non-halal.

Dengan mengetahui apa saja cakupan investasi halal yang sesuai syariat Islam, kini kamu lebih mudah buat memilih produk yang cocok, kan? Harta kamu bertambah, hati pun tetap tenang!

Nah, untuk mengetahui kondisi keuanganmu, yuk cek secara online di Lifepal financial checker.

Pertanyaan seputar investasi dalam Islam

Bagaimana Islam memandang investasi?

Islam membolehkan investasi karena pada prinsipnya Islam juga mengajarkan umatnya agar bisa merdeka secara finansial. Namun tidak semua jenis investasi sesuai dengan syariat Islam. Investasi dalam Islam harus disesuaikan dengan prinsip keuangan syariah, terutama riba atau bunga, gharar atau pertaruhan dan upaya merugikan orang lain, serta maisir atau judi.

Investasi dalam Islam apa saja contohnya?

Ada banyak opsi investasi dalam Islam. Seperti investasi properti, investasi emas, deposito, investasi surat berharga syariah negara, sampai investasi reksadana syariah. Investasi saham juga bisa dilakukan dengan memilih emiten yang masuk dalam daftar efek syariah.

Apa saham itu termasuk riba?

Dalam pasar modal, riba adalah tambahan transaksi dalam efek yang ditetapkan atau diperjanjikan di depan. Sedangkan dalam konteks pasar modal syariah, ada dua jenis transaksi yang menjadi sumber riba yakni transaksi utang-piutang (pinjam-meminjam) an transaksi jual-beli. 

DSN MUI sendiri menyebutkan bahwa riba adalah tambahan yang diberikan dalam pertukaran bawang ribawi dan tambahan yang diberikan atas pokok utang dengan imbalan penangguhan pembayaran secara mutlak. Dengan artian ini, maka saham dipastikan bebas riba.