Bakal Jadi IPO Terbesar di Dunia, Saham Aramco Dibanderol Rp 119 Ribu per Lembar

Aramco Bakal Pecahkan Rekor IPO Dunia (Shutterstock)

Aramco Bakal Pecahkan Rekor IPO Dunia (Shutterstock)

Penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco diproyeksi bakal menjadi yang terbesar dalam sejarah. Pasalnya, Aramco menawarkan harga saham sebesar US$ 8,53 atau sekitar Rp 119 ribu per lembar saham.

Mengutip dari Katadata.co.id, Aramco bakal meraup dana IPO US$ 25,6 miliar atau sekitar Rp 359,24 triliun. Nilai dana tersebut mengalahkan rekor Alibaba Group Holding Ltd’s sebesar US$ 25 miliar pada 2014.

Pada level tersebut, nilai valuasi Aramco dipatok sebesar US$ 1,7 triliun atau senilai Rp 2.484 triliun. Menyalip nilai valuasi Apple Inc sebagai perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia.

Meski begitu, nilai valuasi Aramco masih lebih rendah dari harapan Putra Mahkota Arab Saudi sebesar US$ 2 triliun. Hingga kini Aramco belum menyatakan kapan tepatnya IPO dimulai.

Namun, dua sumber Reuters menyatakan IPO dijadwalkan pada 11 Desember 2019 mendatang. Arab Saudi bakal mengandalkan investor domestik dan regional untuk bisa menyerap 1,5 persen saham perusahaan.

Ini lantaran investor asing tidak tertarik membeli saham Aramco bahkan setelah valuasi dipangkas menjadi US$ 1,7 triliun. Permintaan dari investor institusi termasuk perusahaan pendanaan Arab Saudi diproyeksi mencapai US$ 106 miliar.

Sedangkan permintaan investor ritel mencapai US$ 12,6 miliar. Penasihat Aramco menyatakan mereka mungkin menggunakan sebagai atau sepenuhnya opsi 15 persen greenshoe untuk meningkatkan kesepakatan maksimum sebesar US$ 29,4 miliar.

Perusahaan Paling Menguntungkan di Dunia

IPO itu merupakan puncak dari upaya bertahun-tahun untuk menjual perusahaan paling menguntungkan di dunia. IPO Saudi Aramco juga merupakan langkah untuk membantu Kerajaan Arab Saudi memiliki bisnis yang berbeda selain minyak dan menciptakan pekerjaan bagi populasi yang terus meningkat.

“Nilai yang didapat dari IPO itu relatif mengandung ukuran ekonomi dan pendanaan jangka menengah untuk rencana transformasi,” ujar Chief Economist Abu Dhabi Commercial Bank Monica Malik seperti dikutip dari Reuters.

Aramco pun menargetkan deviden US$ 7,5 miliar pada 2020. Deviden tersebut lima tahun lebih besar dari pembayaran Apple, yang saat ini sudah termasuk 500 perusahaan terbesar.

Biarpun begitu, berinvestasi di Aramco merupakan taruhan karena harga dan pertumbuhan permintaan minyak diproyeksi melambat mulai 2025. Ini sejalan dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan penggunaan kendaraan listrik yang meningkat.

IPO juga beresiko politik karena pemerintah Arab Saudi yang mengontrol perusahaan. Selain itu, pemerintah Arab Saudi juga bergantung pada keuntungan Aramco.

 

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis