Alexander Fridman, Anak Konglomerat yang Tinggal di Apartemen Murah Sewaan

Gak semua anak konglomerat di dunia ini hidup bergelimang harta, foya-foya, dan masih bergantung dengan orangtua. Beberapa di antara mereka justru memilih hidup sederhana seperti putra dari orang terkaya ke-11 di Rusia versi Bloomberg Business Index.

Nama Alexander Fridman mungkin asing di telingamu. Pria berusia 19 tahun ini merupakan putra Mikhail Fridman, seorang konglomerat Negeri Beruang Merah pendiri Alfa Group.

Mikhail Fridman mengantongi aset senilai US$ 13,7 miliar atau setara dengan Rp 187 triliunan. Pria ini mendirikan Alfa bersama teman kuliahnya, German Khan and Alexey Kuzmichev, saat sistem pemerintahan komunis Uni Soviet runtuh.

Menurut pemberitaan di Bloomberg dan NDTV, Alexander Fridman juga memiliki usaha dan sukses. Namun, kesuksean itu didapat tanpa sokongan sang ayah. 

Ingin tahu seputar fakta anak konglomerat satu ini? Yuk, simak ulasannya di sini:

1. Gak Bakal Dapat Warisan

seorang cowok berkaus merah memakai kaca mata hitam
Gak Bakal Dapat Warisan (Instagram/@alexander_fridman)

“Ayah saya mengatakan, bahwa di negara kami, bisnis dan politik memang saling terhubung satu sama lain. Dia memang berniat mentransfer seluruh asetnya untuk amal, dari situlah saya paham bahwa saya gak akan mewarisi apa pun darinya,” ungkap Alexander Fridman di NDTV.

Fridman mungkin jadi salah satu anak konglomerat yang gak dapat warisan. Karena hal serupa juga bakal dialami anak Michael Bloomberg, Warren Buffet, dan Bill Gates di kemudian hari. 

Para miliuner itu mungkin berpendapat, lebih baik untuk memberikan uang mereka kepada yang membutuhkan. 

Mikhail Fridman pernah mengungkapkan, dia cukup pede Alexander lebih baik hidup tanpa harta warisan. Karena masih ada yang lebih berharga daripada uang, tanah, gelar, atau takhta.

2. Huni Apartemen Kecil dengan Biaya Sewa Rp 6,8 Juta per Bulan

seorang pria berjas sedang mewawancarai pria lain
Huni Apartemen Kecil dengan Biaya Sewa Rp 6,8 Juta per Bulan (Instagram/@alexander_fridman)

Boro-boro punya hunian mewah, Alexander Fridman tinggal di sebuah apartemen sewaan berukuran kecil. 

Lokasinya terletak di pinggiran Kota Moskow, dan biaya sewanya adalah US$ 500 atau Rp 6,8 jutaan per bulan. Padahal, dia merupakan anak orang kaya berharta Rp 187 triliun lho

Tapi, itulah Alexander yang memang gak pernah bergantung dengan sang ayah. Setiap hari, dia berangkat kerja dengan menggunakan MRT. 

“Saya makan, tidur, beli pakaian pakai uang sendiri,” papar  pria 19 tahun itu.

3. Sudah Berbisnis Sejak Lulus SMA 

seorang pria memakai jas sedang berjalan
Sudah Berbisnis Sejak Lulus SMA (Instagram/@alexander_fridman)

“Ayah saya selalu berpesan, saya memiliki partner dalam setiap proyek bisnis. Kalau mau mendapatkan keuntungan, kita harus berbagi (proyek dengan mereka),” ujar Alexander.

Usai lulus SMA, Alexander pun mendirikan SF Development, sebuah perusahaan distribusi yang memiliki lima karyawan. Laba yang berhasil dikeruk perusahaan ini mencapai US$ 405 ribu atau Rp 5,5 miliar. Lumayan banget!

Dia juga memiliki bisnis lain sebagai suplier shisha ke restoran-restoran di Moskow. Selain itu, ada BloggerPass yang berbasis teknologi.

Seperti yang disebutkan di atas, gak ada satu pun bisnis miliknya yang didanai sang ayah. Sang ayah cuma membantu putranya dengan memberikan jaringan bisnis. SF Development bekerja sama dengan perusahaan ritel milik ayahnya, dan beberapa kliennya. 

“Saya punya teman yang merupakan jebolan Universitas Yale, dia berusia 23 tahun dan sanggup menghasilkan US$ 80 ribu (Rp 1 miliar) hingga US$ 100 ribu (Rp 1,3 miliaran) dengan bekerja 16 jam sehari. Intinya kamu bisa mendapatkan uang lebih banyak dengan kerja yang lebih cerdas,” imbuh Alexander.

Itulah tiga fakta tentang Alexander Fridman, anak konglomerat terkaya ke-11 di Negeri Beruang Merah. 

Kisah hidup Fridman tentu jadi pelajaran berharga buat kita bahwa sebagai anak konglomerat gak semerta-merta bisa menikmati semua uang yang dimiliki sang ayah. Karena semua tergantung dari didikan.

Bila kita jadi Mikhail Fridman, belum tentu juga mau melihat anak kita berjuang tanpa bantuan dana. Tapi itulah resep mencetak generasi muda yang kuat, mandiri, dan cerdas. 

Jadi, sebagai anak konglomerat saja masih harus berusaha mencetak kesuksesan, kenapa kita enggak? Yuk, terus meraih sukses dengan jalan sendiri tanpa embel-embel orang lain! (Editor: Chaerunnisa)