Bisa Diantisipasi Sejak Dini, Jangan Sampai Penyakit Kritis Kuras Tabungan Anda

Penyakit bisa datang kapan saja dan tidak dapat diprediksi oleh siapapun. Betapapun kita berusaha menjaga kesehatan tubuh dan gaya hidup, risiko terserang penyakit, termasuk penyakit kritis, tetap saja ada.

Mengacu data yang dihimpun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016, tercatat ada tiga jenis penyakit yang masuk peringkat tiga besar penyebab kematian terbesar di negara-negara Asia Tenggara. Pada peringkat pertama ada iskemia jantung, disusul stroke, dan infeksi saluran pernapasan bawah di urutan kedua dan ketiga.

Data yang tak kalah mengejutkan dari WHO, tercatat bahwa penyakit kardiovaskuler telah menyebabkan 17,9 juta kematian di seluruh dunia, juga pada tahun 2016. Sebanyak 75% dari mereka yang meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskuler berasal dari negara-negara miskin dan menengah ke bawah. 

Penyakit kardiovaskuler yang dimaksud di sini adalah penyakit-penyakit kritis seperti jantung koroner, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, dan beberapa lainnya.

Lantas, apa yang patut diperhatikan dari data-data tersebut? Apalagi jika bukan soal biaya. Menurut sebuah survei yang dirilis oleh lembaga survei Wilis Towers Watson menyebutkan bahwa kenaikan biaya kesehatan di tanah air lumayan tinggi, yakni di kisaran 10%-11% tiap tahunnya. 

Jika demikian, apa solusinya? Tidak lain dan tidak bukan, adalah dengan cara memiliki asuransi. Sayangnya, manfaat perlindungan terhadap penyakit-penyakit kritis tidak dimiliki semua produk asuransi kesehatan dan asuransi jiwa.

Berikut ini tips dari Lifepal.co.id merumuskan beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seseorang hendak memilih dan membeli asuransi yang memberikan manfaat perlindungan pada penyakit kritis.  

Santunan uang tunai sebagai salah satu manfaat dari produk asuransi yang menanggung penyakit kritis

Pastikan asuransi yang akan dibeli memberikan santunan tunai terhadap penyakit kritis. Uang dalam bentuk santunan ini diberikan ketika nasabah didiagnosis salah satu penyakit kritis yang tercantum dalam polis asuransi. Berbeda asuransinya, berbeda pula penyakit kritis yang ditanggung. 

Asuransi penyakit kritis ada beberapa jenisnya. Ada yang disebut asuransi penyakit kritis murni, yakni yang memang hanya menanggung asuransi kritis saja. Ada yang merupakan salah satu manfaat dari produk asuransi jiwa. Dan, ada pula yang bersifat sebagai rider.

Apabila bentuknya adalah rider, maka seseorang harus terlebih dulu membeli polis asuransi kesehatan atau jiwa tertentu. Baru setelah itu membeli rider penyakit kritis yang sifatnya sebagai tambahan proteksi. 

Usia juga menjadi salah satu hal yang diperhitungkan dalam asuransi penyakit kritis. Semakin muda usia nasabah atau tertanggung, semakin murah premi yang dibayarkan, dan demikian sebaliknya. 

Jangan sembarang pilih asuransi kritis

Tidak bisa asal pilih dalam membeli asuransi penyakit kritis. Pasalnya, makin beragam jenis penyakit yang dapat ditanggung oleh suatu produk asuransi penyakit kritis, semakin mahal pula besaran premi yang menjadi kewajiban Anda. 

Jika terlalu banyak manfaat penyakit kritis yang diambil, pengeluaran kita-lah yang akan terbeban. Sebaliknya, terlalu sedikit juga berpotensi membuat kita kurang terlindungi karena besar kemungkinan, penyakit kritis yang kita alami tidak masuk dalam daftar manfaat. 

Simak sejumlah hal yang sebaiknya diketahui sebelum seseorang memilih asuransi penyakit kritis tertentu. 

1. Jangan tunda untuk memiliki asuransi penyakit kritis

Penyakit kritis akan mudah menyerang seseorang yang usianya semakin tua. Di saat yang sama, makin tua makin mahal pula premi asuransi yang harus kita bayarkan untuk mendapatkan proteksi atas risiko keuangan dari penyakit ini. 

2. Kenali diri kita

Kenali dan pahami risiko yang kita miliki melalui gaya hidup, pola makan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan genetika. 

Dengan cara ini, kita dapat mengenali dengan baik penyakit turunan yang dapat kita idap. Penyakit turunan sejatinya berasal dari mutasi yang diwariskan dari salah satu atau kedua orangtua kepada anaknya.

Penyakit keturunan ini umumnya memang sulit dihindari dan bisa menyerang kita di kemudian hari. Tidak ada salahnya untuk memasukkan penyakit turunan yang pernah dialami orangtua kita ke dalam perlindungan asuransi penyakit kritis kita. 

3. Jangan sampai premi memberatkan, perhitungkan dengan baik 

Menyisihkan sebagian penghasilan bulanan untuk memitigasi risiko penyakit kritis memang penting dilakukan. Namun jika premi terlalu mahal tentu saja hal itu bisa membebani kita.

Anggaran dana yang disarankan untuk membayar premi asuransi adalah maksimal 10% dari penghasilan bulanan. Lebih hemat dari itu tentu lebih baik. 

Sebab, penghasilan yang kita terima tentunya disisihkan pula untuk keperluan lain. Misalnya saja untuk membayar pajak, utang, memenuhi kebutuhan pokok, dan berinvestasi untuk masa depan kita. 

4. Produk perusahaan asuransi terpercaya sebaiknya jadi pilihan utama

Belakangan, kita dapat dengan mudah menemukan perusahaan asuransi yang menawarkan produk dengan premi murah meriah dan iming-iming manfaat segudang. Namun, yakinkah Anda bahwa produk asuransi tersebut dapat memberikan manfaat terbaik bagi Anda?

Cek dulu perusahaannya dan bagaimana kondisi keuangannya. Perusahaan asuransi yang memiliki keuangan sehat tentu yang sebaiknya Anda pilih.

Tak terlalu perlu repot-repot untuk mengetahuinya. Cukup nilai kesehatan perusahaan asuransi dengan cara melihat rasio solvabilitas perusahaan tersebut atau yang awam disebut sebagai risk based capital (RBC) atau rasio pencapaian di laporan keuangan. 

RBC dapat dilihat melalui data yang dirilis secara berkala oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketentuan Risk Based Capital atau RBC minimum menurut OJK , berdasarkan POJK No. 71/POJK.05/2016, adalah 120 persen. Itu batas minimumnya, sehingga semakin besar rasio solvabilitas sebuah perusahaan asuransi, semakin sehat pula kondisi keuangannya.

Demikianlah hal-hal yang sebaiknya dipahami calon nasabah mengenai asuransi penyakit kritis. Pada dasarnya, tubuh yang sehat adalah dambaan setiap insan. Kendati demikian, kesehatan finansial pun harus dipertahankan dengan memiliki proteksi asuransi. Tanpa perlindungan finansial, penyakit kritis bisa saja menguras tabungan kita, bahkan merenggut kemapanan keluarga kita di masa yang akan datang. 

Salah satu produk yang memberikan perlindungan terhadap penyakit kritis adalah produk Aktif Plus dari Asuransi HEKSA. Asuransi ini memberikan manfaat perlindungan dari risiko meninggal dunia dengan tambahan manfaat penyakit kritis serangan jantung dan fasilitas “No Claim Bonus” jika tidak terjadi klaim hingga akhir masa asuransi.

Secara lengkap, berikut ini sederet manfaat yang diberikan oleh Asuransi HEKSA Aktif Plus:

  • Perlindungan jiwa dari risiko meninggal dunia sebab kecelakaan
  • Perlindungan jiwa dari risiko meninggal dunia sebab alami sakit
  • Perlindungan dari risiko menderita penyakit kritis serangan jantung
  • Manfaat “No Claim Bonus” apabila tidak melakukan klaim hingga akhir masa asuransi
  • Uang pertanggungan hingga maksimum Rp 500 juta per tertanggung.

Selain manfaat-manfaat menarik di atas, Asuransi HEKSA Aktif Plus merupakan produk digital dari Heksa Insurance dan dapat di akses secara online.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →