Jenis Obligasi Berbagai Kategori, dari SBN, ORI, hingga Sukuk

jenis obligasi

Jenis obligasi cukup banyak di pasar modal, dari obligasi yang diterbitkan pemerintah hingga obligasi perusahaan swasta. Sebelum membahas jenis obligasi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu pengertian obligasi.

Obligasi adalah surat utang berjangka yang dapat diperjualbelikan dan jenis obligasi itu ada banyak lho. Obligasi sendiri berisi janji dari pihak yang menerbitkan efek untuk membayar imbalan bunga (kupon) pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada saat jatuh tempo.

Jenis obligasi itu beragam, disesuaikan dengan berbagai kategori yaitu berdasarkan penerbit, pembayaran bunga, hak penukaran, kolateral, nilai nominal, dan perhitungan imbal hasil.

Dari kategori jenis-jenis obligasi tersebut, setidaknya ada 16 jenis surat utang di pasar modal yang perlu kamu tahu sebelum berinvestasi pada instrumen ini. 

Jenis obligasi ini dijabarkan dalam buku Strategi Jitu Investasi Obligasi Korporasi:Sudut Pandang Investasi dari Seorang Analis yang ditulis Setyo Wijayanto.

Lindungi nilai investasi kamu dari risiko tidak terduga dengan asuransi kesehatan terbaik!

 

Jenis obligasi berdasarkan penerbitnya

Setiap badan hukum sebenarnya bisa menerbitkan obligasi. Namun, ada aturan yang mengikat penerbitannya agar tidak merugikan investor yang membeli obligasi dan perusahaan atau lembaga yang menerbitkan obligasi.

Itu sebabnya, terdapat tiga lembaga badan hukum yang berhak merilis surat utang berdasarkan penerbitnya.

1. Obligasi pemerintah (government bonds)

Obligasi pemerintah adalah surat utang yang diterbitkan negara. Surat utang ini sah secara hukum dan dilindungi berbagai peraturan, termasuk undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri keuangan (PMK), dan lainnya.

Itu sebabnya obligasi pemerintah menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diincar investor karena cenderung lebih aman dari risiko gagal bayar. 

Dalam obligasi pemerintah, ada beberapa jenis obligasi, yaitu Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SukRi), serta Saving Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Negara Tabungan (ST). Surat utang dengan nama depan sukuk berarti surat utang tersebut berbasis syariah.

2. Obligasi korporasi (corporate bonds)

Sesuai namanya, surat utang ini diterbitkan perusahaan tertentu, yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi swasta. Biasanya obligasi korporasi ini jatuh tempo cenderung pendek, minimal satu tahun.

Sebab dikeluarkan pihak nonpemerintah, risikonya akan lebih tinggi ketimbang obligasi pemerintah, tergantung kondisi perusahaan penerbitnya, pasar, atau bahkan kondisi politik negara tempat perusahaan tersebut berdomisili.

3. Obligasi pemerintah daerah (municipal bonds

Obligasi ini diterbitkan pemerintah daerah guna membiayai proyek-proyek daerah. Tujuannya adalah supaya daerah mandiri dalam pembiayaan pembangunan dan perkembangan daerah agar tidak tergantung pada pemerintah pusat.

Meski sama-sama diterbitkan pemerintah, obligasi municipal ini berbeda dengan obligasi pemerintah, seperti ORI dan SBR. Bahkan, risiko obligasi municipal ini jauh lebih tinggi daripada obligasi pemerintah pusat karena risiko gagal bayarnya lebih tinggi.

Jenis obligasi berdasarkan pembayaran bunga

Berikut ini tiga jenis surat utang berdasarkan pembayaran bunga.

4. Obligasi tanpa bunga (zero coupon bonds)

Obligasi tanpa bunga adalah surat utang yang gak ada bunga atau tidak memberikan kupon secara berkala.

Investor yang membeli surat utang ini dapat keuntungan dari selisih harga jual diskonto dan nilai yang tampak saat surat ini diperdagangkan. 

Obligasi ini ada yang jatuh temponya pendek, di bawah satu tahun (seperti treasury bill) ataupun panjang (di atas 10 tahun).

5. Obligasi kupon tetap (fixed coupon bonds)

Obligasi kupon tetap (fixed coupon bonds) adalah surat utang yang menawarkan tingkat suku bunga tetap kepada investornya hingga jatuh tempo surat utang tersebut. Artinya, investor sudah bisa memastikan imbal hasil yang bakal diterima.

6. Obligasi kupon mengambang (floating coupon bonds)

Obligasi kupon mengambang adalah surat utang yang menawarkan kupon yang bisa berubah besarannya mengikuti indeks pasar uang. 

Dalam obligasi ini terdapat batas minimal yaitu kupon pertama yang ditetapkan menjadi besaran kupon (bunga) minimal yang berlaku hingga jatuh tempo.

Jenis obligasi berdasarkan hak penukaran

Pada kategori ini terdapat empat jenis obligasi berdasarkan hak penukaran.

7. Obligasi konversi (convertible bonds)

Obligasi konversi adalah surat utang yang memungkinkan bagi pemegang surat utang untuk mengonversinya menjadi saham perusahaan penerbit obligasi dengan rasio penukaran yang sudah disepakati sebelumnya.

Obligasi ini merupakan obligasi yang biasanya mempunyai tingkat kupon yang rendah lantaran investor dianggap telah diberi privilege untuk mengubah surat utangnya menjadi surat kepemilikan alias saham.

8. Obligasi tukar (exchangeable bonds)

Obligasi tukar hampir serupa obligasi konversi. Bedanya pada obligasi tukar adalah pemegang surat utang bisa mengubah obligasi menjadi saham afiliasi penerbitnya. Misalnya, saham milik anak ataupun induk perusahaan.

9. Obligasi opsi beli (callable bonds)

Obligasi opsi beli adalah surat utang yang memberikan hak kepada penerbit obligasi untuk membelinya kembali dari tangan investor sesuai harga yang disepakati. 

Artinya, investor bisa menawarkan harga lebih tinggi dari kupon yang dijanjikan pada saat pembelian obligasi tersebut.

Dengan pembelian kembali ini, pihak penerbit bisa melaksanakan haknya untuk melunasi utang lebih awal, misalnya di kala tingkat suku bunga menurun.

10. Putable bonds

Obligasi ini lebih “tegas” dalam kewajiban membeli kembali obligasi dari tangan investor. Pada obligasi ini, investor punya hak untuk mengharuskan emiten atau penerbit obligasi untuk membeli kembali surat utangnya.

Jenis obligasi berdasarkan kolateral (jaminan)

Terdapat dua jenis surat utang dalam kategori kolateral.

11. Secured bonds

Secured bond adalah obligasi yang dijaminkan dengan kekayaan milik penerbit atau bisa dijaminkan pihak ketiga. Jenis obligasi ini dibagi tiga, yaitu:

  • Mortgage bonds: surat utang dengan jaminan berupa gedung atau bangunan.
  • Collateral trust bonds: surat utang yang dijaminkan dengan saham atau obligasi milik penerbit.
  • Equipment trust certificate: surat utang yang digunakan untuk mendanai berbagai aset, seperti pesawat, gerbong kereta, atau truk. Dana penjualan obligasi akan digunakan untuk membeli aset tersebut lalu aset dipinjamkan ke perusahaan.

12. Unsecured bonds

Obligasi jenis ini berarti tidak dijaminkan dengan menggunakan kekayaan milik penerbit. Obligasi ini dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Debentures: surat utang yang hanya diterbitkan perusahaan yang sudah terpercaya.
  • Subordinated debentures: obligasi ini tidak akan dibayar jika obligasi yang lebih senior dibayarkan.
  • Income bonds: surat utang diterbitkan yang mana perusahaan membayar bunga ketika memperoleh laba. Obligasi ini biasa untuk mereorganisasi perusahaan yang dianggap kurang berhasil.

Jenis obligasi berdasarkan nilai nominal

Pada kategori ini terdapat dua jenis obligasi, yaitu:

13. Obligasi konvensional (conventional bonds)

Obligasi konvensional adalah surat utang yang mempunyai satuan nominal yang besar, kurang lebih Rp1 miliar per lot. 

Obligasi konvensional adalah surat berharga yang menunjukkan bahwa penerbit obligasi meminjam sejumlah dana kepada masyarakat dan memiliki kewajiban untuk membayar bunga secara berkala, dan kewajiban melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi.

14. Obligasi ritel (retail bonds)

Obligasi ritel adalah kebalikan dari konvensional, yaitu surat utang yang mempunyai nilai nominal kecil, misalnya Rp1 juta. Obligasi ini biasanya diterbitkan pemerintah walaupun korporasi juga bisa menerbitkannya.

Jenis obligasi berdasarkan perhitungan imbal hasil

Terdapat dua jenis surat utang berdasarkan perhitungan imbal hasil.

15. Obligasi konvensional (conventional bonds)

Obligasi ini diartikan sebagai surat berharga yang diterbitkan pihak tertentu untuk mendapatkan pinjaman sebagai tambahan modal dengan perjanjian memberikan bunga kepada pihak investor dalam jangka waktu tertentu.

Dalam kategori ini, beberapa surat utang yang dijelaskan sebelumnya bisa masuk kategori obligasi konvensional. 

Pasalnya, rata-rata obligasi yang ada menawarkan bunga atau kupon sebagai salah satu persyaratan perjanjian utang.

16. Obligasi syariah (sharia bonds)

Obligasi syariah dikenal dengan nama sukuk adalah surat utang yang memberikan imbal hasil berupa uang sewa yang perhitungannya berdasarkan prinsip syariah Islam yang tidak mengandung unsur riba.

Imbal hasil ini juga dibayarkan secara berkala dalam periode tertentu dan kemudian peminjam akan melunasi pokok utang di tanggal jatuh temponya.

Keuntungan membeli obligasi

Berikut ini beberapa keuntungan yang bakal kamu dapat dari investasi obligasi. Walau potensi untung tidak sebesar saham, obligasi lebih aman. Berikut ini beberapa keuntungannya.

  • Mendapatkan kupon atau nisbah secara periodik dari efek bersifat utang yang dibeli. Tingkat kupon atau nisbah lebih tinggi dari bunga Bank Indonesia (BI Rate). Jadi, jelas sekali keuntungan surat utang adalah lebih besar ketimbang deposito.
  • Memperoleh capital gain (keuntungan dari penjualan aset modal yang harganya lebih tinggi).
  • Tingkat imbal hasil sudah diperhitungkan pada awal investasi.
  • Banyak pilihan seri efek bersifat utang yang bisa dipilih investor di pasar sekunder (efek yang dijual lagi oleh investor di BEI).
  • Jika yang kamu miliki surat utang negara, sudah pasti terjamin sehingga kamu tak perlu khawatir soal keamanannya. Semua tercantum di UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara atau UU Nomor 24 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. Untuk itu, pasti dibayar kembali ditambah dengan return (kupon).
  • Kupon obligasi memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keuntungan bunga deposito. Hal ini bisa bikin kamu memilih berinvestasi lewat surat utang karena keuntungannya maksimal.
  • Surat utang bisa kamu jadikan sebagai jaminan dan agunan. Jadi, kamu bisa gunakan untuk mengambil pinjaman ke bank atau beli saham di bursa efek.

Risiko obligasi

Berikut ini beberapa kekurangan obligasi sebagai investasi yang perlu kamu pertimbangkan sebelum membeli investasi dari surat utang.

  • Risiko likuiditas terhadap obligasi swasta ataupun pemerintah. Meski surat utang pemerintah lebih aman, bukan gak mungkin lho obligasinya kurang likuid atau susah untuk dijual kembali di pasar sekunder karena jarang ada investor yang mau. 
  • Risiko maturitas yang lebih sering terjadi pada obligasi korporasi terkait masa jatuh tempo obligasi. Semakin lama jatuh tempo obligasi, semakin tinggi risiko tersebut. Cara menyiasatinya, investor bisa meminta maturitas premium atau surat utang yang jatuh temponya lebih pendek misalnya tiga tahun lagi.
  • Risiko default yang hanya terjadi pada obligasi korporasi. Berbeda dari SUN, obligasi korporasi gak dijamin pemerintah. Nah, investor harus menyadari risiko default atau gagal bayar seandainya perusahaan bangkrut.

Punya pertanyaan tentang obligasi atau investasi lainnya? Ajukan kepada tim ahli di Tanya Lifepal!

Cara kerja obligasi

Surat utang diterbitkan ketika perusahaan atau entitas lain perlu mengumpulkan uang untuk membiayai proyek terbaru, mempertahankan operasi yang sedang berjalan, atau membiayai utang yang ada.

Penerbit (perusahaan atau entitas lain) menerbitkan obligasi yang mencakup persyaratan pinjaman, pembayaran bunga yang akan dilakukan, dan waktu di mana dana pinjaman (pokok obligasi) harus dibayar kembali (tanggal jatuh tempo).

Pembayaran bunga (kupon) merupakan bagian dari pengembalian yang diperoleh pemegang obligasi karena meminjamkan dana mereka kepada penerbit. Tingkat bunga yang menentukan pembayaran disebut tingkat kupon.

Harga awal sebagian besar obligasi biasanya ditetapkan pada nilai nominal ketika ditawarkan kali pertama. 

Sementara harga pasar aktual suatu obligasi tergantung pada sejumlah faktor seperti kualitas kredit penerbit, lamanya waktu hingga kedaluwarsa, dan tingkat kupon dibandingkan dengan lingkungan suku bunga pada saat itu.

Sebagian besar obligasi dapat dijual pemegang obligasi awal kepada investor lain setelah diterbitkan. 

Dengan kata lain, investor obligasi tidak harus memegang obligasi sampai tanggal jatuh tempo. Biasanya obligasi dibeli kembali oleh peminjam jika suku bunga menurun, atau jika kredit peminjam membaik, dan obligasi itu dapat diterbitkan kembali dengan biaya lebih rendah.

Faktor-faktor yang memengaruhi harga obligasi

Dengan diperdagangkannya efek bersifat utang, akan terjadi pembentukan harga efek bersifat utang. 

Sama seperti prinsip perdagangan, yang memengaruhi harga obligasi adalah permintaan dan penawaran efek itu sendiri.

Adapun dasar-dasar yang dapat memengaruhi harga wajar efek bersifat utang yang diperdagangkan di bursa, antara lain:

  1. Interest rate adalah besaran suku bunga yang menjadi acuan bagi pembeli efek utang sebagai perbandingan dasar untuk mengetahui tingkat pengembalian yang diharapkan. Tingkat suku bunga pasar dalam hal ini yaitu suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
  2. Faktor risiko yaitu kemampuan penerbit efek bersifat utang dalam melakukan pembayaran bunga atau pelunasan pokok secara tepat waktu sesuai jatuh temponya. Ini bisa dilihat dari peringkat secara berkala yang diterbitkan Lembaga Pemeringkat Efek. Ketika peringkat efek bersifat utang mengalami penurunan, mengindikasikan tingkat risiko Penerbit dalam memenuhi kewajibannya menjadi lebih rendah yang pada akhirnya dapat berpotensi gagal bayar.
  3. Jatuh tempo yaitu tenggat waktu pelunasan pokok dan bunga yang wajib dipenuhi penerbit obligasi. Pada umumnya, harga efek bersifat utang berbanding terbalik dengan jangka waktu obligasi. Semakin pendek jangka waktu efek bersifat utang, akan semakin kecil tingkat ketidakpastian (risiko) atas efek bersifat utang tersebut. Di samping itu, semakin efek bersifat utang tersebut mendekati tanggal jatuh temponya, harga efek tersebut akan semakin mendekati nilai nominalnya (par).

Cara membeli obligasi?

Membeli surat utang sejatinya bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu lewat mekanisme pasar perdana dan melalui pasar sekunder. 

Terkait pasar perdana, kamu sama saja dengan membeli langsung pada agen atau perusahaan sekuritas yang ditunjuk secara resmi. 

Namun, untuk pembelian di pasar sekunder, berarti kamu membelinya melalui mekanisme bursa atau perbankan.

Bagi kamu yang tertarik berinvestasi pada obligasi bisa berpedoman pada hal-hal berikut.

  • Membuka rekening melalui perusahaan sekuritas atau agen penjual, perbankan, dan lainnya.
  • Pahami produk surat utang agar kamu gak mudah tertipu soal instrumen investasi ini. 
  • Coba analisis kondisi finansial, kupon surat utang, dan pembayaran jatuh tempo sebelum memutuskan berinvestasi di obligasi.
  • Selektif dalam memilih wali amanat (trader atau broker) karena mereka yang akan membeli surat utang sesuai jenis, anggaran, dan keinginan kamu.

Cara menghitung imbal hasil obligasi

Sebelum membeli investasi surat utang, pertimbangan utama investor pasti imbal hasil (yield). Dalam dunia obligasi, terdapat beberapa rumus untuk menghitung imbal hasil, namun rumus sederhana dan populer ini yang paling sering digunakan.

  • Nominal yield adalah Metode menghitung coupon rate (tingkat suku bunga) yang memperlihatkan return pendapatan, yang diperoleh para investor. Rumus Nominal Yield = (Coupon/Nominal) x 100%.
  • Current yield dihitung berdasarkan jumlah kupon yang diterima selama setahun terhadap harga surat utang tersebut. Rumus Current yield = penghasilan bunga tahunan : harga pasar obligasi.
  • Yield to maturity (YTM) digunakan untuk menghitung tingkat imbal hasil yang diperoleh investor jika menahan surat utang hingga jatuh tempo. Rumus YTM lebih disukai investor karena menggambarkan imbal hasil secara menyeluruh. Rumus YTM = (C+((F-P)/n)) : ((F + P)/2).
    Keterangan:
    C: pembayaran bunga surat utang tiap bulan (kupon)
    F: nilai nominal surat utang (face value)
    P: harga surat utang yang dibayarkan untuk membeli surat utang (price)
    n: berapa kali bunga dibayar selama masa jatuh tempo obligasi

Apakah obligasi sesuai profil kamu?

Investasi pada surat utang belum tentu sesuai dengan profil kamu lho! Kamu bisa cek investasi yang sesuai dengan profil kamu dengan Kuis Profil Risiko Investasi berikut.

Perbedaan obligasi dengan unit link

Obligasi dan unit link memiliki persamaan sebagai salah satu instrumen investasi. Tetapi, perbedaan paling utama yang terlihat dari unit link adalah proteksi jiwa yang memberikan jaminan santunan atau uang pertanggungan jiwa (UP jiwa) jika nasabah meninggal dunia. Obligasi tidak memiliki proteksi demikian.

Agar kamu gak salah pilih, simak perbedaan masing-masing instrumen investasi tersebut dari beberapa indikator berikut ini.

Perbedaan Obligasi Unit Link
Minimal pembelian Rata-rata Rp1 juta Rata-rata Rp400 ribu/bulan
Jatuh tempo menengah-panjang >20 tahun

(sesuai kontrak polis)

Proteksi asuransi Tidak ada Ada
Perantara Sekuritas Manajer investasi terikat dengan perusahaan asuransi
Imbal hasil Bunga (kupon) Tergantung unit link yang dipilih

Istilah populer dalam obligasi

Biar memahami surat utang dengan lebih baik, ada baiknya kamu juga harus memahami istilah-istilah dalam bonds. Bukan cuma tahu bahwa obligasi adalah surat utang.

  • Nilai nominal atau nilai par (par value); nilai pokok yang diperoleh pemegang surat utang saat jatuh tempo.
  • Tingkat bunga (kupon); imbal hasil dalam nilai nominal dan wajib dibayar penerbit obligasi. Kupon dibayar setiap periode sesuai ketentuan seperti per kuartal atau per semester.
  • Waktu jatuh tempo (maturity date); jatuh tempo pengembalian dana sesuai nominal dari penerbit surat utang kepada pemegang obligasi.
  • Penerbit atau emiten (issuer); korporasi atau pemerintah yang menerbitkan surat utang dengan kata lain sebagai pihak yang berhutang kepada investor.
  • Klaim aset dan pendapatan; salah satu cara yang dilakukan penerbit surat utang ketika mengalami kebangkrutan. Biasanya, perusahaan menjual aset dan memberikan hasil penjualan kepada pemegang surat utang tersebut.
  • Wali amanat; pihak yang mewakili pemegang bonds. Dalam hal ini mereka disebut trader atau broker dengan tugas utama melindungi investor dari kerugian.

Sudah makin tertarik sama investasi ini? Coba saja dengan membeli ORI, SBR, dan lainnya terlebih dulu. Informasi-informasi penawaran surat utang Pemerintah bisa dipantau di www.djppr.kemenkeu.go.id/site/home.

Pada intinya, instrumen investasi ini memang cocok untuk digunakan sebagai alternatif investasi jangka panjang untuk para investor dengan profil konservatif (menghindari risiko tinggi). 

Selain karena imbal hasilnya lebih tinggi ketimbang deposito, risikonya juga gak setinggi saham. Selamat mencoba!

Tanya jawab

Apa itu obligasi?

Obligasi adalah surat utang berjangka yang dapat diperjualbelikan dan jenis obligasi itu ada banyak lho. Obligasi sendiri berisi janji dari pihak yang menerbitkan efek untuk membayar imbalan bunga (kupon) pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada saat jatuh tempo.

Ada berapa jenis obligasi pemerintah?

Beberapa jenis obligasi pemerintah yaitu Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SukRi), serta Saving Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Negara Tabungan (ST). Surat utang dengan nama depan sukuk berarti surat utang tersebut berbasis syariah.

Lebih untung obligasi atau saham?

Obligasi dan saham memiliki banyak perbedaan. Potensi untung lebih besar terletak pada saham. Tetapi, risiko investasi saham juga lebih tinggi.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →