Kalkulator Inflasi – Simulasi Kenaikan Harga Masa Depan

Kalkulator inflasi membantu kamu dalam membuat perencanaan keuangan yang tepat sehingga nilai aset atau uangmu terjaga dan terhindar dari penyusutan yang disebabkan inflasi.

Kamu pun dapat memperkirakan kenaikan harga di masa depan secara tahunan dan memutuskan ke mana aset atau uang milikmu sebaiknya diinvestasikan agar nilainya tetap bisa mencukupi seluruh kebutuhan pada masa mendatang.

Fungsi kalkulator inflasi

Berikut ini sejumlah fungsi kalkulator inflasi terkait perencanaan keuangan.

1. Sebagai kalkulator finansial atau kalkulator keuangan

Tujuan keuangan menjadi fokus utama dalam perencanaan keuangan. Tujuan keuangan dicapai dengan melakukan akumulasi uang yang nantinya dibelanjakan untuk membeli aset riil, keinginan konsumtif, hingga mempersiapkan dana masa depan.

Menghitung besaran uang yang diakumulasi harus memasukkan inflasi sebagai komponen perhitungannya. 

Manfaatkan kalkulator inflasi di atas sebagai kalkulator finansial atau kalkulator keuangan untuk memproyeksikan seberapa besar dana yang harus terkumpul sehingga jelas ke mana uang harus diinvestasikan.

2. Sebagai cara menghitung future value

Future value adalah nilai aset saat ini yang nantinya berkembang di masa mendatang yang dihitung berdasarkan asumsi pertumbuhan (bunga). Future value biasanya bersanding present value. Present value adalah nilai jumlah uang saat ini.

Cara menghitung future value menggunakan rumus: Future Value = Jumlah Uang yang Diinvestasikan x (1 + (Bunga x Jumlah Tahun)).

Memanfaatkan kalkulator inflasi di atas juga cukup membantu dalam menghitung future value dari aset yang dimiliki. Misalnya aja aset milikmu bertumbuh dengan bunga 7 persen, kamu bisa mengubah persentase inflasi untuk menghitung future value.

Daftar inflasi secara umum dari tahun ke tahun

Inflasi atau yang dipahami sebagai kenaikan harga secara umum belum tentu selalu sama tiap tahunnya. Persentase inflasi terkadang naik, terkadang turun.

Sekalipun dipahami sebagai kenaikan harga secara umum, inflasi harus terukur dan dijaga tetap berada di kisaran persentase tertentu. Tugas bank sentral bersama Pemerintah menjaga inflasi yang notabene menjaga daya beli masyarakat.

Di bawah ini data inflasi yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) dari tahun ke tahun yang diukur berdasarkan indeks harga konsumen (IHK).

Inflasi 2011 – 2019

2019 2018 2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011
Inflasi 2,72% 3,13% 3,61% 3,02% 3,25% 8,36% 8,38% 4,30% 3,79%

Inflasi 2001 – 2010

2010 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 2002 2001
Inflasi 6,96% 2,78% 11,06% 6,59% 6,60% 17,11% 6,40% 5,06% 10,03% 12,55%

Inflasi 1991 – 2000

2000 1999 1998 1997 1996 1995 1994 1993 1992 1991
Inflasi 9,35% 2,01% 77,63% 11,05% 6,47% 8,64% 9,24% 9,77% 4,94% 9,52%

Pertanyaan-pertanyaan seputar inflasi


Menurut Bank Indonesia (BI), inflasi adalah naiknya seluruh harga dan berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Perlu diingat, satu atau dua barang yang harganya naik gak serta merta memicu kenaikan tingkat inflasi.

  • Tingkat inflasi yang terus-menerus naik dapat menggerus nilai mata uang. Kalau Rp 300 juta itu harga rumah sekarang, inflasi bisa membuat menjadi Rp 500 juta di masa mendatang.
  • Uang yang disimpan dalam deposito berkembang seiring naiknya inflasi karena Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebagai langkah meredam laju inflasi.
  • Inflasi yang tinggi membuat orang-orang menahan diri buat berbelanja karena naiknya harga-harga sehingga daya beli dan daya jual turun dan berakibat pada lesunya ekonomi.
  • Inflasi yang tinggi mendorong Pemerintah mengambil kebijakan buat menaikkan pajak penghasilan.
  • Inflasi yang terukur berdampak pada turunnya angka pengangguran. Sebab inflasi yang terukur bisa menjaga daya beli dan daya jual.
  • Inflasi turut memengaruhi nilai tukar rupiah. Banyaknya rupiah yang ditukarkan ke dolar berakibat pada melemahnya nilai rupiah yang juga membuat inflasi naik.

 

  • Supply dan demand: permintaan yang tinggi terhadap produk atau jasa, tetapi pasokannya rendah membuat inflasi tinggi.
  • Naiknya ongkos produksi di dunia usaha berperan dalam kenaikan inflasi sebab ongkos produksi yang naik membuat pengusaha menaikkan harga jual.
  • Naiknya penghasilan atau gaji termasuk kenaikan ongkos produksi. Karena itu, harga barang atau jasa naik karena naiknya penghasilan yang otomatis mendorong kenaikan ongkos produksi.
  • Banyaknya uang yang beredar di tengah-tengah masyarakat berdampak pada naiknya inflasi.


Bank Indonesia (BI) membagi inflasi ke dalam dua jenis, yaitu:

  • Inflasi inti
  • Inflasi Non-Inti

Selain itu, inflasi juga dibagi dalam beberapa jenis menjadi:

  • Demand-pull inflation
  • Cost-push inflation


Di Indonesia inflasi dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK). Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung IHK dengan memasukkan barang atau jasa yang ditentukan berdasarkan Survei Biaya Hidup (SBH).

Berikut ini rumus hitung inflasi: Tingkat Inflasi = ((IHK 2 – IHK 1) / IHK 1) x 100. IHK 2 adalah IHK periode berjalan (bisa tahun ini atau bulan ini) dan IHK 1 adalah IHK periode sebelumnya (bisa tahun ini atau bulan ini).


Untuk mengetahui informasi lebih lengkap tentang inflasi, kamu bisa membacanya di artikel lifepal.co.id/media/pengertian-inflasi-begini-penjelasannya/.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →