Untung Gak ya Beli Emas buat Kado Natal? Simak Ulasannya Berikut Ini

kado natal berupa emas

Kasih emas sebagai kado Natal, gimana menurutmu? Apakah pilihan yang tepat atau justru sebaliknya? Seperti yang kita tahu, perayaan hari Natal 2019 tinggal beberapa hari lagi. Biasanya nih orang-orang di banyak negara melakukan tradisi memberi kado.

Begitu pun di Indonesia, tradisi memberi kado Natal juga dijalankan orang-orang yang merayakannya. Beragam barang bisa menjadi pilihan sebagai kado Natal, mulai dari produk-produk fashion, boneka, hingga gadget terbaru.

Gak ada salahnya juga kalau punya ide menghadiahkan emas sebagai kado Natal. Namun, ada baiknya mengetahui lebih dulu hal-hal berikut ini sebagai bahan pertimbangan, apakah menjadikan emas sebagai kado itu menguntungkan atau merugikan? Yuk, disimak ulasannya.

Baca juga: Rupiah Bakal Melemah, Emas Makin Dicari Orang!

Ini kelebihan dan kekurangan beli emas buat kado Natal, apa aja ya?

emas batangan
Ilustrasi emas batangan. (Shutterstock)

Sebagai logam mulia, emas itu punya nilai. Wajar aja banyak orang di dunia tertarik dengan emas. Bahkan, orang-orang di beberapa negara, termasuk Indonesia kalau bicara tentang investasi cenderung menyarankan emas.

Sejarahnya, emas itu berfungsi sebagai mata uang, termasuk koin Dinar yang mulanya digunakan Kekaisaran Romawi. Kemunculan uang kertas pun pada akhirnya menggantikan peran emas karena dianggap lebih efisien.

Kini emas punya peran sebagai lindung nilai (hedging) kekayaan bagi sebagian orang. Namun, sebagian orang lainnya menganggap emas lebih cocok sebagai instrumen investasi. Padahal, menjadikan emas sebagai bentuk investasi pun masih menjadi perdebatan lho.

Itulah sekilas informasi tentang emas. Nah, berikut ini adalah untung rugi emas sebagai kado Natal. Apa aja?

Kelebihan beli emas Kekurangan beli emas
Mudah didapat, baik online maupun offline. Harga emas berubah-ubah atau fluktuatif walaupun gak sefluktuatif saham.
Nilai emas dapat berlipat atau harganya bisa bertumbuh tinggi. Kenaikan harga emas sangat lambat. Dalam 5 tahun terakhir aja, persentase kenaikan emas sekitar 38 persen. Beda dengan saham BCA yang bisa tembus 186 persen.
Kebanyakan orang sepakat dengan nilai yang dikandung emas sehingga banyak orang yang senang hati menerima emas. Karena sifatnya yang fluktuatif, gak selamanya harga emas terus naik. Emas juga bisa mengalami penurunan nilai lho.
Emas dapat melindungi kekayaan agar gak tergerus inflasi. Menyimpan emas terbilang riskan. Kalau pun disimpan dalam safe deposit box, ada biaya yang harus dikeluarkan.
Harganya bertumbuh walau lambat dan terbilang aman walau fluktuatif, memiliki emas masih tergolong menguntungkan. Selisih (spread) harga beli dan harga jual emas terbilang jauh. Itu kenapa keuntungan emas cuma bisa dinikmati kalau menyimpannya dalam jangka panjang.

Baca juga: Harga Emas Alami Naik Turun, Kok Bisa Begitu Ya? Ini Lho Faktor Pemicunya

Kalau harga emas bisa turun, apakah saat-saat ini adalah waktu yang tepat membelinya?

harga emas 5 tahun terakhir
Grafik pertumbuhan harga emas dalam 5 tahun terakhir. (goldprice.org)

Seperti yang udah disinggung sebelumnya di atas, harga emas itu fluktuatif sama seperti harga saham ataupun komoditas lainnya. Dengan fakta tersebut, apakah membeli emas saat-saat ini menjadi waktu yang tepat?

Buat menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita menengok perkembangan harga emas dalam beberapa waktu belakangan ini dan mengetahui apa aja faktor-faktor yang memengaruhi harga emas.

Kalau menggunakan data yang disajikan Gold Price, pergerakan harga emas dalam lima tahun terakhir ini cenderung naik dengan persentase kenaikan sekitar 40 persen. Pada 2015, harga emas sekitar Rp 470 ribuan per gram. Kini harganya menurut Gold Price di kisaran Rp 660 ribuan per gram. Sementara itu, di Antam, harganya sekitar Rp 758 ribu per gram.

Dilihat secara global, harga emas belakangan ini cenderung menanjak sebagai konsekuensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Asal tahu aja, situasi tersebut menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor sehingga mereka mengamankan kekayaan mereka ke emas buat melindungi nilainya (hedging).

Namun, yang jelas nih harga emas dipengaruhi suku bunga acuan yang ditetapkan bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Kalau bank sentral AS menurunkan suku bunga acuan, dolar gak menarik bagi investor buat investasi. Emas pun kemudian dipilih buat mengalihkan kekayaan dan harganya pada akhirnya terdongkrak.

The Fed sejauh ini telah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali. Para investor pun bereaksi. Reaksi investor ini ditunjukkan dengan naiknya harga emas. Belum diketahui pasti apakah The Fed bakal pangkas kembali suku bunga atau gak.

Dengan mengacu pada pertimbangan suku bunga The Fed, membeli emas pada saat-saat seperti ini boleh dibilang kurang menguntungkan karena harganya yang telah naik. Namun, dengan mengacu pada histori harganya dalam lima tahun terakhir di Indonesia, sah-sah aja membeli emas asalkan telah siap dengan segala kemungkinan terburuk.

Itu tadi ulasan mengenai emas dan pertimbangan-pertimbangan apakah emas cocok sebagai kado Natal atau gak. Semoga bermanfaat ya! (Editor: Ruben Setiawan)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →