Kata Siapa Investasi Properti Pasti Untung Terus? Begini Faktanya

Investasi properti disebut-sebut sebagai investasi yang paling menguntungkan serta minim risiko. Masyarakat percaya harga properti selalu naik dan kenaikannya selalu lebih tinggi daripada kenaikan inflasi. Betul gak?

Yah, bayangkan saja, tanah yang tersedia semakin lama jumlahnya berkurang sementara populasi penduduk meningkat. Alhasil, permintaan atas tanah dan properti semakin meningkat, bahkan mungkin lebih tinggi dari persediaan yang ada. Harganya? Tentu jadi makin melonjak dong.

Oleh karenanya gak heran jika banyak investor berbondong-bondong menanamkan modal di bidang properti agar hartanya tak tergerus inflasi. Bahkan, hampir setiap miliarder dunia pun pasti memiliki instrumen investasi yang satu ini. Mulai dari Jeff Bezos, orang terkaya seantero raya hingga Mukesh Ambani, salah satu crazy rich asians.

Ternyata, gak sedikit juga selebriti tanah air terkenal tajir yang menjadikan properti sebagai salah satu pundi kekayaannya. Sebut saja Nikita Willy yang memiliki sederet bisnis apartemen atau pasangan Raffi-Nagita yang menyewakan apartemen.

Investasi properti memang punya sejumlah keuntungan yang menggiurkan. Tapi, jangan sampai lupa bahwa tak ada instrumen investasi yang sempurna, apalagi tanpa risiko.

Tanpa ilmu yang memadai, investasi apa pun bisa merugi, termasuk investasi properti. Sekalipun terlihat sederhana: beli-disewakan-dapat passive income atau beli-jual lagi lalu dapat untung besar. Nyatanya, gak sedikit juga yang mengalami kebangkrutan karena gak bisa menjalaninya.

Selain itu, ada pula risiko-risiko lain yang bisa menggerus keuntungan sehingga manisnya investasi properti tak lagi dapat dirasakan. Berikut diantaranya.

Biaya perawatan relatif mahal

 

 

Biaya perawatan rumah relatif mahal (ilustrasi).

Harga sewa atau jual properti seperti rumah, apartemen atau bangunan lain memang cenderung meningkat. Tapi, kalau sebagian besar bangunan rusak dan tampak tak terawat, bukan tak mungkin harganya jadi terjun bebas.

Cara menyiasatinya mau tak mau harus mengalokasikan bujet khusus buat perawatan bangunan.

Misalnya, untuk investasi properti berupa rumah yang disewakan, beberapa jenis perawatan ini perlu rutin dilakukan:

  • Memastikan tak ada kebocoran air

Pada setiap sudut rumah khususnya kamar mandi dan dapur harus dipastikan tidak mengalami kebocoran. Pipa air dan keran yang rusak pun harus segera diganti yang baru untuk menghindari kerusakan yang lebih parah. Tangki penyimpanan air juga perlu dibersihkan secara teratur agar tidak mengalami kebocoran.

  • Memastikan jaringan listrik bebas masalah

Gangguan listrik dapat menyebabkan sejumlah masalah. Mulai dari menghambat aktivitas dalam rumah hingga kemungkinan terjadinya kebakaran.

  • Bebas hama

Jangan sampai terdapat rayap dan tikus di dalam bangunan. Pasalnya, kedua hama ini sering membuat kerusakan furnitur di dalam rumah.

Kemungkinan penghasilan pasif tersendat

Penghasilan tersendat (Ilustrasi).

Rumah yang tak terawat juga membuat orang jadi gak berminat untuk melirik. Alhasil, risiko kekosongan sangat mungkin terjadi. Jika berlangsung selama bertahun-tahun, bukannya untung kamu malah bisa rugi. Sebab, pemasukan pasif tak didapat, namun tetap harus mengeluarkan energi dan bujet untuk perawatan rumah

3. Risiko likuiditas

Rumah dijual/disewakan (Ilustrasi).

Investasi ini memiliki risiko likuiditas yang cukup tinggi. Secara sederhana likuiditas adalah kemudahan instrumen investasi diuangkan. Semakin likuid instrumen investasi, semakin mudah dijual atau ditukar dengan uang.

Sementara properti tak bisa diuangkan dengan cepat saat dibutuhkan. Coba saja lihat di sekitar lingkunganmu, biasanya ada saja satu atau dua rumah yang telah lama memasang plang “dijual” namun tak kunjung laku.

Selain itu, biaya transaksi yang perlu dikeluarkan pun terbilang tinggi. Biaya ini meliputi pajak seperti PPH dan BPHTB. Pajak PPH sebesar 5 persen ditanggung penjual dan BPHTB sebesar 5 persen ditanggung pembeli.

4. Penyusutan bangunan

Penyusutan bangunan (Ilustrasi).

Harga tanah mungkin meningkat dari tahun ke tahun sebagai dampak kelangkaan seperti yang disebutkan di atas. Namun, bangunan pada dasarnya memiliki masa waktu alias usia. Umumnya bangunan dapat berumur 20 hingga 40 tahun tergantung kualitas dan konstruksi bangunan.

Setelah melewati usia tersebut, bangunan dapat mengalami penyusutan atau pengurangan nilai. Selain usia, penyusutan juga bisa dipengaruhi oleh keadaan bangunan.

Jadi, apakah investasi properti sudah pasti untung terus?

Tentu saja tak ada jaminan 100 persen investasi akan selalu menguntungkan. Kemungkinan untung harus diterima lengkap dengan risiko-risiko yang mungkin juga dialami. Meski begitu, kerugian tetaplah bisa dihindarkan jika kamu menguasai ilmunya.

Tulisan ini tak bertujuan membuatmu mundur teratur buat investasi properti, melainkan untuk lebih waspada dan mempersiapkan segala kemungkinan biar cuan bisa didapatkan.