Berawal dari Toko di Garasi Rumah, Ini Cerita Kecap Bango Rajai Pasar

Telah Ditinjau: Avatar Aulia Akbar
Kecap Bango (indonesiatripnews.com)

Nama Kecap Bango pasti gak asing bagi ibu rumah tangga dan mereka yang hobi masak atau kulineran. Bango merupakan salah satu brand kecap tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1928.

Sejatinya masih ada tiga kecap lagi yang lebih tua daripada Bango yaitu Kecap Cap SH (1920), Kecap Cap Orang Jual Sate (1889), dan Kecap Benteng (1882). Tapi Kecap Bango-lah yang paling laris. Bahkan, kecap ini pun akhirnya diakuisisi oleh PT Unilever Indonesia.

Di balik kesuksesan Bango, ternyata ada kisah menarik dan inspiratif yang bisa kamu petik. Tentunya, hal itu bisa berguna bagi kamu yang bermimpi memiliki bisnis yang mendunia di masa depan.

Penasaran dengan cerita kecap terlaris ini? Berikut ulasannya.

1. Berawal dari toko kecil di garasi

Rumah Pemilik Kecap Bango, Tjoa Pit Boen, di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta, Selasa, 9 September 2009. [TEMPO/ Novi Kartika]
Rumah Pemilik Kecap Bango, Tjoa Pit Boen, di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta, Selasa, 9 September 2009. [TEMPO/ Novi Kartika]
Sama seperti kecap-kecap legendaris lainnya, Kecap Bango merupakan produk rumahan. Tjoa Pit Boen mendirikan usaha ini di rumahnya yang terletak di kawasan Benteng, Tangerang.

Jangankan pabrik, kecap ini justru diracik dan dijajakan di garasi kecil. Dan sejak dulu, nama kecap ini adalah Bango yang ternyata punya makna tersendiri.

Filosofi burung Bangau dari Kecap Bango adalah karena visi pendirinya yang ingin produknya terbang tinggi ke mancanegara. Itu saja, gak ada embel-embel lain.

2. Kenikmatan dan kualitasnya tersebar dari mulut ke mulut

Di tahun itu, boro-boro ada internet. Segala bentuk promosi yang bisa diandalkan cuma promosi mulut ke mulut saja.

Beruntungnya, pada saat itu banyak sekali orang yang memang mengakui kalau Kecap Bango itu enak. Kabar itu pun tersebar kemana-mana hingga akhirnya nama kecap ini jadi tenar.

Tentu saja, kecap ini jadi perbincangan orang berkat konsistensi sang pendiri dalam menjaga kualitas produknya.

3. Dari usaha rumahan jadi perseroan terbatas

Lambat laun, usaha yang digawangi Tjoa Pit Boen ini pun mengalami perkembangan. Dia memindahkan pabrik kecapnya yang dulu di Tangerang ke Asem Lama  di kawasan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Sejak saat itulah, kecap Bango populer di Ibu Kota. Lambat laun, usaha rumahan ini berubah jadi perseroan terbatas alias PT.

Perusahaan pemegang merek Bango yang pertama adalah PT Anugerah Indah Pelangi dan PT Anugerah Damai Pratama. Mereka juga mendirikan pabrik besar di wilayah seluas 8 hektar di Subang, Jawa Barat.

Singkat cerita, muncul satu perusahaan bernama PT Anugerah Setia Lestari yang disebut sebagai produsen Kecap Bango. Kisah berdirinya PT Anugerah Setia Lestari juga minim di media. Tapi kabarnya, semenjak dikelola perusahaan inilah Bango kian dikenal dan laris manis.

4. Menerima pinangan Unilever

Sejatinya di tahun 1992, perusahaan raksaa consumer goods asal Inggris Unilever sudah melirik Bango. Kelarisan Bango di Indonesia tampaknya berhasil memikat hati Unilever pada saat itu.

Namun, baru pada tahun 2001, Bango secara resmi diakuisisi oleh Unilever. Unilever pun mengubah desain, tampilan merek, hingga kemasan. Bisa dibilang Bango merupakan satu merek yang dimanjakan oleh Unilever saat awal diakuisisi.

Maka gak heran dong, dengan kekuatan Unilever, produk ini pun makin laris di kemudian hari.

Seperti itulah cerita singkat tentang Kecap Bango yang melegenda dan laris hingga saat ini. Meskipun usia kecap ini sudah berusia 90 tahun, tapi Bango tetap eksis di pasaran dan jadi pilihan banyak orang.

Meski demikian, kabar mengenai Tjoa Pit Boen sendiri justru masih jadi misteri. Sempat tersiar kabar, ketika melakukan akuisisi, Unilever memegang 65 persen saham Bango sementara itu keluarga Tjoa Pit Boen 35 persen. Namun pada 2007, perusahaan asal Inggris ini mengakuisisi seluruh saham milik Tjoa Pit Boen.

Kisah Bango tentu mengajari kita tentang pentingnya menjaga kualitas produk dan mempertahankan eksistensinya hingga masa depan.

Tidak mudah bagi seseorang mendirikan bisnis yang sifatnya long lasting seperti Kecap Bango. Banyak di antara mereka yang gagal di tengah jalan dan ambruk.

Ketika bisnis sudah membesar, bersiap-siaplah, karena gak sedikit yang ingin meminang bisnismu. Buatlah keputusan bijak soal hal ini.

Selain itu, kisah ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya makna dari sebuah merek. Jangan salah, walaupun cuma burung bangau, hewan ini punya arti yang mendalam buat Kecap Bango. Alhasil kecap itupun laris dan punya pangsa pasar signifikan di Indonesia.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →