Kena PHK, Ini Pelajaran Finansial yang Bisa Dipetik!

seorang karyawan kena pemutusan hubungan kerja

PT Indosar Ooredo Tbk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kepada 677 karyawannya. Manajemen Indosat Ooredoo menjelaskan PHK yang dilakukan bagian dari perubahan organisasi yang dirancang untuk membuat bisnis lebih lincah. 

Dengan PHK tersebut, mereka berharap perusahaan lebih fokus kepada pelanggan dan lebih dekat dengan kebutuhan pasar. 

Seperti diutarakan President Director & CEO Indosat Ooredoo, Ahmad Al-Neama, ada tiga perubahan vital terhadap bisnis Indosat Ooredoo.

Pertama, memperkuat tim regional agar lebih cepat mengambil keputusan dan lebih dekat dengan pelanggan.

Kedua, pengalihan penanganan jaringan ke pihak ketiga, penyedia jasa Managed Service, sejalan dengan praktik terbaik di industri.

Ketiga, menggelar rightsizing organisasi, menambah SDM untuk meningkatkan daya saing, dan meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan, serta merampingkan SDM di beberapa fungsi bisnis.

Pemutusan kerja para karyawan Indosat yang tengah ramai jadi perbincangan tentu memberikan pelajaran berharga untuk kita semua. Sebagai karyawan, tentu kita tidak ingin hal itu menimpa kita.

PHK selalu menjadi momok menakutkan bagi para pekerja. Pasalnya, diberhentikan kerja akan menyetop pemasukan. Sehingga akan membuat setiap para karyawan yang mengalami pemutusan kerja akan bingung bagaimana cara mengatur keuangan untuk bertahan hidup.

Belajar dari pemutusan kerja massal yang dialami para karyawan Indosat, yuk ketahui apa itu PHK, hak yang bisa diperjuangkan, dan pelajaran finansial yang bisa dilakukan. Simak di sini:

Apa Itu PHK

seorang karyawan sedang diberi peringatan oleh HRD
Apa Itu PHK (Shutterstock)

Hal penting yang harus diketahui semua pekerja ialah apa itu pemutusan hubungan kerja alias PHK yang telah diatur dalam Pasal 150 s/d Pasal 172 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang mendefinisikan PHK adalah “Pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha”. 

Dari penjelasan di atas, segala bentuk berakhirnya hubungan pekerja/buruh dengan perusahaan terkait dapat disebut PHK. Namun, secara normatif ada 2 tipe jenis PHK jika dilihat dari alasan yang melatarbelakanginya. 

Pemutusan hubungan kerja yang diakibatkan karena pengunduran diri tanpa paksaan dan tekanan, seperti habisnya masa kontrak, tidak lulusnya masa percobaan (probation), memasuki usia pensiun, atau buruh meninggal dunia dapat dikatakan PHK Sukarela.

Dengan kata lain segala bentuk pemutusan hubungan kerja diajukan sendiri oleh pekerja/buruh tanpa paksaan dan intimidasi, atau sesuai dengan Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, dan Perjanjian Kerja Bersama yang telah disepakati sebelumnya oleh kedua belah pihak, dalam hal ini pengusaha dan pekerja/buruh.

Sementara itu, semua bentuk pemutusan hubungan kerja yang diakibatkan karena pekerja/buruh melakukan  kesalahan berat, seperti melakukan pencurian, penipuan, menggelapkan uang perusahaan, melakukan tindak asusila dan perjudian di lingkungan kerja, atau mengancam, menganiaya, dan mengintimidasi teman kerja maupun pengusaha di lingkungan kerja dapat dikatakan PHK tidak sukarela. 

Segala bentuk kesalahan berat yang dilakukan pekerja/buruh telah diatur dalam Pasal 158 UU Ketenagakerjaan. Pasal ini pernah diajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. 

Dalam putusannya, Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa kesalahan berat yang dilakukan buruh harus dibuktikan dengan putusan peradilan pidana di pengadilan umum atau perusahaan tidak bisa main hakim sendiri dalam memutuskan kesalahan berat yang dilakukan pekerja/buruh. 

Sehingga dalam pembuktiannya harus didukung dengan hal-hak berikut, berdasarkan Pasal 158 ayat 1 yaitu : Pekerja/buruh tertangkap tangan Ada pengakuan dari pekerja/buruh yang bersangkutan ; Bukti lain berupa laporan kejadian yang dibuat oleh pihak berwenang di Perusahaan bersangkutan dan didukung sekurang-kurangnya 2 (dua) orang sanksi. 

Untuk konteks PHK tidak sukarela ini, hubungan kerja antara pengusaha dengan buruh baru berakhir setelah ditetapkan oleh Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PHI).  Putusan MK ini diperjelas kembali melalui Surat Edaran Menakertrans no. SE.13/MEN/SJ-HK/I/2005 tertanggal 7 Januari 2005 tentang putusan MK tersebut.

Hitung Seluruh Total Aset dan Pengeluaran Wajib 

seorang pria sedang menghitung pakai kalkulator
Hitung Seluruh Total Aset dan Pengeluaran Wajib (Shutterstock)

Ketika menjadi korban PHK, mengatur keuangan untuk bertahan hidup merupakan masalah di depan mata yang harus segera dilakukan.

Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan ialah menghitung total aset yang dimiliki. Termasuk, menghitung semua cicilan dan tanggungan per bulan.

Jumlah itu harus ditambah dengan pengeluaran sehari-hari selama sebulan. Dengan pendataan tersebut, maka kamu bisa merencanakan keuangan, mulai dari berapa besarannya maupun berapa lama estimasi waktu keuangan bisa bertahan.

Misalnya, Dhani salah satu korban PHK, memiliki pesangon dan total tabungan Rp 30 juta. Tapi, dia tidak memiliki utang atau tanggungan. Sehingga, Dhani harus cukup memenuhi kebutuhan hidupnya Rp 5 juta per bulan selama enam bulan. 

Tapi, tentu saja jumlah pengeluaran yang mepet dengan seluruh harta yang dimiliki tidak baik untuk kelangsungan hidup. Dhani harus segera mencari kerja baru atau membuka usaha.

Tentunya, kalau langsung mendapat pekerjaan baru bisa mengembalikan kondisi Dhani untuk mendapat penghasilan kembali. Namun, jika terpaksa harus membuka usaha, maka jangan ragu untuk menggadaikan aset yang dimiliki seperti properti atau kendaraan.

Lantas, bagaimana jika nasibmu tidak sebaik Dhani yang mendapat pesangon setelah di-PHK? Pasalnya, masih banyak perusahaan yang tidak bertanggung jawab dengan kabur dan tidak membayar pesangon para karyawannya yang di-PHK.

Jika kamu mengalami hal itu, maka tentunya harus memperjuangkan hak-hak yang harus diterima seperti yang sudah diutarakan sebelumnya di artikel ini.

Nah, kalau kamu tidak bisa memperjuangkan hak-hakmu karena perusahaan tempatmu bekerja sudah angkat tangan bahkan angkat kaki, maka hal paling pertama dapat dilakukan ialah segera membuka dana darurat.

Sebab dana ini memang diperuntukkan bagi hal-hal tak terduga seperti pemutusan kerja, dan dapat digunakan kapan pun saat butuh.

Pentingnya Dana Darurat

dana darurat
Pentingnya Dana Darurat (Shutterstock)

Dana darurat atau emergency fund adalah yang dana sangat penting dan akan menjadi sumber dana dalam kondisi tak terduga seperti pemutusan hubungan kerja.  

Idealnya dana darurat yang dianjurkan adalah enam kali pengeluaran bulanan. Jadi apabila terjadi sesuatu, hidup kita masih dapat bertahan hingga enam bulan.

Namun, pengalokasian dana darurat antara mereka yang sudah menikah dan belum berbeda. Untuk mereka yang masih sendiri alias belum berumah tangga, disarankan memiliki dana darurat sekitar 4 hingga 12 bulan dari jumlah pengeluaran. 

Sementara itu, untuk kamu yang sudah menikah, memerlukan dana darurat sebesar 6 hingga 12 bulan dari pengeluaran.

Misalnya, Rafi merupakan seorang karyawan swasta yang belum menikah dengan gaji per bulan Rp 10 juta dan pengeluaran setiap bulannya sebesar Rp 6 juta.

Maka, dana darurat yang perlu disiapkan Rafi adalah berkisar antara Rp 24 juta hingga Rp 72 juta. Minimal, Andi harus memiliki uang di tabungannya sebesar Rp 24 juta.

Sementara itu, berbeda dengan Lucky yang sudah menikah dan memiliki dua orang anak masih kecil. Setiap bulannya, Lucky mendapat penghasilan Rp 15 juta dengan pengeluaran bulanan Rp 12 juta.

Dengan begitu, Lucky harus mempersiapkan dana minimal sebesar Rp 72 juta hingga Rp 144 juta, baik disimpan dalam tabungan atau investasi saham, reksa dana, hingga logam mulia.

Untuk mengumpulkan dana darurat, memang bukan hal mudah. Tapi, kamu harus memaksakannya. Misalnya, menyisihkan uang Rp 20 ribu per hari, maka dalam satu bulan kamu bisa mengumpulkan Rp 600 ribu. Lalu, uang tersebut dapat kamu alokasikan ke berbagai instrumen di atas mulai dari tabungan hingga investasi.

Nah, itulah pelajaran finansial yang bisa kamu petik dari peristiwa PHK massal para karyawan Indosat. 

Semoga saja kita semua tidak pernah mengalami kondisi tersebut. Tapi, kalau sampai terjadi, kamu sudah bisa memetik pelajaran berharganya dengan menyiapkan berbagai elemen penting di atas. Semoga bermanfaat!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →