Lika-Liku Prof Sukamdani Mendirikan Hotel Sahid dan Bisnis Indonesia

bisnis indonesia

Kalian pastinya tahu dong dengan Surat Kabar Bisnis Indonesia. Surat kabar itu ternyata didirikan pendiri Hotel Sahid, yakni Prof Dr Sukamdani Sahid Gitosardjono. Wuih keren banget ya, sudah profesor terus doktor, dan pengusaha sukses pula.

Pada 2014 silam, pria yang wafat pada 21 Desember 2017 ini disinyalir punya kekayaan sebesar US$ 400 juta atau Rp 5,8 triliun. Dan sebagai pengusaha, Prof Sukamdani juga pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) selama dua periode, yaitu pada 1982 hingga 1985, dan 1985 hingga 1988.

Kayaknya udah bukan sukses lagi ya Prof Sukamdani ini. Beliau tentunya juga sangat terhormat!

Tapi jangan salah lho, di balik kesuksesan tersebut ternyata masa lalu pria kelahiran 1928 sangat silam. Saat merintis karir sebagai pegawai negeri, gajinya tergolong sangat kecil. Dia pun terpaksa pindah-pindah kerja demi penghasilan yang layak.

Penasaran dengan kisah hidup sang pendiri Bisnis Indonesia ini? Yuk simak ulasan lengkapnya.

1. Sempat jadi karyawan

View this post on Instagram

FOTO ARSIP: @antarafotocom Ketua LVRI Letjen (Purn) Achmad Tahir menganugrahkan tanda kehormatan Bintang LVRI kepada Sukamdani S. Gitosardjono, pada peringatan HUT LVRI ke 36 di Jakarta, Sabtu (2/1/1993) . Pengusaha korporasi Sukamdani Sahid Gitosardjono meninggal dunia hari ini (21/12), Kamis pukul 09.15 WIB di rumah duka Jalan Imam Bonjol No 50, Jakarta Pusat . Sukamdani Sahid pernah menjabat sebagai ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia selama dua periode, yakni 1982 hingga 1985, serta 1985 hingga 1988 . Saat ini, unit usaha yang berada di bawah Grup Sahid meliputi Harian Bisnis Indonesia, jaringan Hotel Sahid, Rumah Sakit Sahid Sahirman, Universitas Sahid, dan berbagai sektor properti. #rip #sukamdanisahid #FotoArsip #antarafoto #sahidgroup

A post shared by ANTARA News (@antaranewscom) on

Prof Sukamdani tumbuh dewasa pada masa perang. Awalnya, dia pernah bekerja sebagai pamong praja yang berdinas di kecamatan.

Pada era revolusi, pria kelahiran Surakarta ini bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok tentara. Mulai dari peralatan, pakaian, hingga makanan.

Bisa dibilang jabatan ini adalah jabatan strategis pada saat itu. Namun berhubung perekonomian Indonesia masih morat-marit, ya mau gak mau Sukamdani pindah kerja ke NV (Naamlooze Vennootschap) Harapan Masa, yang berada di bawah Persatuan Guru Republik Indonesia.

Di perusahaan ini, karier Sukamdani muda tampaknya cukup bersinar. Dia pun dipercaya menjadi Kepala Bagian Administrasi.

Selain bekerja, Sukamdani ternyata masih meluangkan waktu untuk kuliah di Akademi Perniagaan Indonesia. Hebat pastinya, emang dari pas muda udah keliatan ada bibit professor pada diri pak Sukamdani ini. Dia pun lulus di tahun 1955.

2. Terjun ke bisnis percetakan

Karena cukup ngelotok untuk urusan percetakan, Sukamdani pun memberanikan diri untuk buka usaha tersebut, dengan modal Rp 25 ribu dari pinjaman mertua dan bantuan pemerintah melalui Program Banteng –bantuan usaha bagi pengusaha lokal.

Wah, zaman dulu Rp 25 ribu bisa buat modal usaha yah. Kalau sekarang sih paling sudah habis untuk makan McD.  

Dengan modal tersebut, Sukamdani berhasil membuat usaha percetakan kecil. Puncaknya, pada 1958, usaha percetakan Sukamdani yang berbasis di Solo laris manis lantaran memenangi tender dari Departemen Dalam Negeri dan Departemen Keuangan.

Singkat cerita, dia pun mengembangkan usaha hingga ke Jakarta. Tentunya usahanya ya sama yaitu, percetakan juga. Alhasil, dari bisnis tersebut dia berhasil membeli rumah di Jalan Sudirman yang kini menjadi Hotel Sahid.

3. Mendirikan PT Sahid Trading & Industrial Co

Sang professor ini tampaknya nggak puas hanya dengan usaha kecil. Dia pun mengembangkan usahanya dengan mendirikan PT Sahid Trading & Industrial Co di Solo pada 1960. Lewat perusahaan tersebut, Sukamdani mengembangkan usaha ke sektor perhotelan.

Dan ternyata, bisnis itu juga membuahkan hasil yang manis bagi Sukamdani. Pada 1965, dia mendirikan Hotel Sahid di Solo. Nama Sahid tentu saja diambil dari namanya sendiri.

Peresmian hotel itu digelar besar – besaran dan dihadiri oleh para pembesar negeri. Mulai Menteri Urusan Funds & Forces/Ketua Umum Bamunas, Notohamiprojo, Menteri Asuransi/Sekjen Bamunas Drs Soetjipto S Amidarmo, tokoh pengusaha dari Jakarta, Gubernur Jawa Tengah Mochtar dan Muspidanya, serta Wali Kota Solo, serta tokoh-tokoh setempat.

Karena hotel ini dibangun saat Indonesia berada di tengah masa krisis ekonomi, Sukamdani pun diberikan apresiasi. Salah satu yang memuji Sukamdani adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sukamdani pun menjadi pengusaha terkenal pada saat itu. Pada era Orde Baru, bisnis Hotel Sahid juga ikut berkembang. Dan Sukamdani juga aktif di Yayasan Mangadeg yang dipimpin oleh bu Tien Soeharto.

Tepat pada 1974, Sukamdani mendirikan Hotel Sahid di Jakarta yang kamarnya berjumlah 439 unit. Presiden Soeharto-lah yang meresmikan hotel itu hingga akhirnya, bermunculan pula hotel-hotel lain yang berada di bawah Sahid Group. Pada tahun 1995, sudah berdiri 15 Hotel Sahid dengan total kamar 3.021.

4. Jadi orang nomor satu di Kadin dan mengembangkan gurita bisnis

View this post on Instagram

Innalillahi, Sukamdani Sahid Gitosardjono Meninggal Dunia Pagi Ini Jenazah Prof. Sukamdani dimakamkan di Ponpes Modern Sahid selepas asar. Harianjogja.com, JAKARTA – Prof. Dr. Sukamdani Sahid Gitosardjono meninggal dunia hari ini, Kamis (21/12/2017) pukul 09.15 WIB. Jenazah Prof. Dr. Sukamdani dimakamkan di Modern Sahid setelah asar dan akan disemayamkan di rumah duka Jl. Imam Bonjol. No. 50 Jakarta Pusat. “Innalilahi wa innailaihi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Suami, Ayahanda, Mertua, Eyang Kakung, Eyang Buyut tercinta kami Bapak Prof. DR.H. KPH. SUKAMDANI SAHID GITOSARDJONO. Wafat, Kamis, 21 Desember 2017, jam 09.15. JENAZAH disemayamkan di Rumah Duka, Jl. Imam Bonjol no 50 Jakarta Pusat. Pemakaman ba’da Ashar,di Pondok Pesantren Modern Sahid, jl. Dasuki Bakri Km 6, kecamatan Pamijahan. Bogor. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan kekhilafan almarhum dan semoga almarhum Khusnul Khatimah,” demikian pesan yang diterima dari keluarga almarhum seperti dikutip Solopos.com dari Bisnis.com, Kamis pagi WIB. Pengusaha kelahiran Solo 14 Maret 1928 ini dikenal sebagai pengusaha senior di tanah air. Almarhum adalah pemilik jaringan Hotel Sahid dan Hotel Sahid Jaya International. Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia selama 2 periode, yakni pada tahun 1982 hingga 1985 dan 1985 hingga 1988. Dikutip dari Wikipedia, Kamis, Sukamdani mampu membawa Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) disegani secara legal dan formal menjadi mitra pemerintah. Dia dipercaya sebagai ketua umum Kadin pada 1982 dan terpilih lagi pada 1985. Dia lantas dipercaya sebagai Ketua Umum Kadin Asean 1987-1988. Keberhasilannya yang menonjol adalah memprakarsai, merintis dan melaksanakan pembukaan kembali hubungan dagang Indonesia-Tiongkok yang terputus sejak 1967. Jaringan hotel Sahid milik Sukamdani termasuk terbesar di Indonesia. 📝Jafar Sodiq Assegaf/JIBI/Solopos.com #sukamdani #sukamdanisahid #bisnisindonesiagroup #kabarduka #harianjogja #hotelsahid #hotelsahidjaya

A post shared by Harian Jogja (@harianjogja) on

Sebagai pengusaha, tentu saja Sukamdani aktif di Kadin. Dia juga berhasil membawa Kadin menjadi mitra Pemerintah Indonesia. Alhasil pada tahun 1982 di dilantik menjadi Ketua Kadin.

Dan lewat Yayasan Sahid Jaya yang didirikan pada 1976, berdirilah Universitas Sahid. Tentu familiar dong sama kampus yang terkenal dengan jurusan perhotelan ini.

Pada 1985, dia pun berkongsi dengan Ciputra, Anthony Salim, dan Eric Samola dalam mendirikan PT Jurnalindo Aksara Grafika (PT. JAG). Dari PT JAG inilah lahir sebuah suratkabar terkenal yaitu Bisnis Indonesia.

Asal kamu tahu, Bisnis Indonesia dulunya bermarkas di bengkel reparasi mesin jahit Singer di Jalan Kramat 5 Nomor 8 Kenari, Senen, Jakarta Pusat. Walaupun didirikan oleh para konglomerat, kenyataannya ya seperti itu deh.

Tapi, berkat banyaknya perusahaan yang melantai di Bursa Efek pada 1987 silam dan maraknya kebijakan Paket Oktober 1988, Suratkabar Bisnis Indonesia makin laris. Tentu saja, bos-bos perusahaan, investor, atau kelas menengah ke atas yang update akan perkembangan ekonomi, pasti membeli suratkabar itu.

Di tahun 1992, Bisnis Indonesia merilis suratkabar versi Bahasa Inggris. Namun akhirnya di tutup. Dan saat ini, kamu juga bisa baca Bisnis Indonesia versi online yaitu Bisnis.com.

5. Solopos dan Harian Jogja

Meski demikian, pada 1997 lahirlah Solopos yang berada di bawah naungan PT Aksara Solo Pos tentu saja ini masih satu grup dengan Bisnis Indonesia. Dan dari perusahaan itu, lahir pula PT Solo Grafika Utama, Radio Solo Pos 103.00 FM dan Tabloid Olah Raga Arena.

Nggak hanya di kampung halamannya sendiri lho. Bisnis Indonesia juga meluncurkan Harian Jogja. Tentu saja, berita-berita di Harian Jogja ya isinya tentang isu lokal setempat.

Seperti itulah perjalanan sang pendiri Hotel Sahid dan Suratkabar Bisnis Indonesia dalam membangun usaha. Bisa dibilang di akhir perjalanannya, beliau sudah meninggalkan banyak bisnis.

Kabarnya selain perhotelan dan media, dia juga memiliki usaha di bidang tekstil hingga keuangan lho. Dan selain universitas, Yayasan Sahid Jaya juga mengelola sebuah pesantren. Sukamdani pun dimakamkan secara militer di Pesantren Modern Sahid yang terletak di Bogor.

 

Intinya, salut deh sama profesor yang satu ini. Beliau sudah berhasil membangun banyak lapangan kerja buat masyarakat Indonesia.

 

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →