Nunggak Utang Bisa Bikin Angka NPL Membengkak, Itu Maksudnya Apa Ya?

Nunggak utang bisa bikin kredit macet dan angka NPL membengkak. (Shutterstock)

Sebagai debitur alias penerima pinjaman, membayar cicilan tiap bulan udah menjadi kewajiban yang gak boleh dilupakan. Namanya juga punya utang, ya harus dibayar dong. Masa mau terimanya aja, bayarnya gak mau? Asal tahu aja nih, kebiasaan telat bayar atau nunggak bisa bikin terjadinya kredit macet lho.

Kredit macet tentu aja bukan hal yang bagus, apalagi buat keuangan. Salah satu penyebab keuangan bisa gak sehat selain karena sifat boros, juga disebabkan macetnya pembayaran kredit.

Tiap kali kamu menunggak, utangmu terus menumpuk dan bertambah besar. Lama-lama karena menumpuk utang, kamu bisa alami gagal bayar. Soalnya, kamu gak punya cukup uang buat melunasi kreditmu.

Bank atau perusahaan pemberi pinjaman yang lain juga kena dampak buruk gara-gara kredit macet ini. Angka non-performing loan atau NPL pun jadi tinggi.

Buat bank, tingginya NPL menjadi pertanda jelek. Sebab bank dengan angka NPL yang tinggi dicap sebagai bank yang gak sehat. Kenapa bisa begitu ya? Ini dia penjelasannya.

NPL itu sama aja dengan kredit bermasalah

Ilustrasi non performing loan. (Shutterstock)
Ilustrasi non performing loan. (Shutterstock)

Bank punya NPL. Itu berarti adanya kredit bermasalah di bank tersebut. NPL menjadi hal yang gak terhindarkan dalam urusan penyediaan kredit.

Dari banyaknya debitur, pasti ada yang pembayaran kreditnya bermasalah alias NPL. Dikutip dari Bank Indonesia (BI), non-performing loan atau NPL adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet.

Kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet ini yang menjadi hasil penilaian dari kolektibilitas kredit. Nantinya data kolektibilitas kredit debitur yang bermasalah dikumpulkan dan menjadi informasi bersama antarbank atau perusahaan pemberi pinjaman.

Informasi kolektibilitas yang dihimpun tersebut bakal dipakai sebagai bahan pertimbangan bank atau perusahaan pemberi pinjaman buat memutuskan apakah si calon debitur layak dikasih pinjaman atau gak.

Rasio NPL maksimal 5 persen

Ilustrasi non performing loan harus di bawah 5%. (Shutterstock)
Ilustrasi non performing loan harus di bawah 5%. (Shutterstock)

Ada batas NPL yang berlaku dan harus dipatuhi bank dan perusahaan pemberi pinjaman. Batas ini bertujuan agar bank jangan sampai kolaps gara-gara dana yang dikucurkan gak ada yang balik.

Seperti yang kamu tahu, bank menggunakan dana simpanan sebagai dana kredit yang disalurkan ke debitur. Coba bayangkan gimana jadinya kalau dana yang gak balik itu jumlahnya besar? Bank bakal kesulitan mengembalikan dana ke nasabah

Melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI), rasio kredit bermasalah atau NPL ditetapkan maksimal 5 persen. Kurang dari rasio tersebut, NPL masih dikategorikan aman. Sementara lebih dari itu, bank berada dalam kondisi gak aman.

Buat mengetahui seberapa besar persentase NPL ini, ada rumusnya, yaitu:

Rasio NPL = (Total Kredit Bermasalah atau NPL : Total Kredit) X 100 persen

Bank-bank atau perusahaan pemberi pinjaman yang kedapatan memiliki NPL lebih dari 5 persen bakal mendapat peringatan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga pengawasan ini juga meminta bank-bank yang punya NPL tinggi buat meningkatkan dana pencadangan.

Dengan adanya dana pencadangan atau Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) ini, bank bisa mengantisipasi dampak yang ditimbulkan dari kredit macet.

Pentingnya punya dana darurat agar terhindar dari NPL

Ilustrasi dana darurat. (Shutterstock)
Ilustrasi dana darurat. (Shutterstock)

Seperti yang udah diterangkan di atas, NPL terjadi gara-gara ada yang susah bayar cicilan alias kredit macet. Alokasi dana yang terbagi ke banyak pengeluaran menjadi sebab kenapa dana buat bayar cicilan gak tersedia.

Kurangnya penghasilan yang masuk juga menjadi faktor penyebab yang mendorong terjadinya NPL. Bisa aja kan kredit yang diambil ternyata bunganya mengambang alias bunga floating.

Mau gak mau saat suku bunga acuan naik, siap-siap aja suku bunga kredit juga ikutan naik. Imbasnya, besaran cicilan pun juga ikut naik. Sialnya, naiknya cicilan ini belum tentu diimbangi dengan besarnya penghasilan yang diperoleh tiap bulan.

Makanya, buat mengantisipasi agar jangan sampai terjadi NPL, penting banget buat kamu mempersiapkan dana darurat (emergency fund).

Walaupun sifatnya sementara karena nilainya yang gak besar-besar amat, seenggaknya pembayaran cicilan kamu tetap lancar berkat adanya dana darurat ini.

Lagipula, mempersiapkan dana darurat gak sulit kok. Menyisihkan 20 persen penghasilan tiap bulan sampai terkumpul dana sebanyak 6-9 kali pengeluaran pokok udah cukup kok sebagai dana darurat.

Gimana? Sampai di sini udah paham kan soal NPL ini? Intinya, NPL itu gak bagus, bisa bikin kamu kesulitan dapat pinjaman nanti. Sebab, bank bakal ragu sama kamu karena sebelumnya pernah nunggak cicilan. Jadi, kalau punya utang, selalu disiplin ya bayarnya! (Editor: Ruben Setiawan)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →