Kalau Mampunya Kredit Mobil Bekas, Kenapa Paksakan Beli yang Baru

Pilihan harga mobil baru di bawah Rp 200 juta. (Shutterstock)

Mau beli mobil bekas atau baru ya? Terus, mau cara kredit atau tunai ya? Kalau membeli secara kredit, berapa besar cicilan mobil yang sesuai kemampuan sehingga tidak membebani pengeluaran tiap bulan? Lalu ada lagi lanjutannya, mana yang lebih nyaman dan mudah dalam proses kredit, apakah perusahaan leasing ataukah bank?

Biasanya rentetan pertanyaan itu muncul saat berniat membeli mobil. Belum lagi dipusingkan dengan begitu banyaknya penawaran produk kemudahan kepemilikan kendaraan dari pihak leasing atau bank. Ada yang mengiming-imingi bunga kredit mobil yang rendah maupun cicilan mobil murah.

Sudah terbayangkan jika membeli mobil jelas bukan perkara mudah. Situasi ini tetap tak menyurutkan orang membeli mobil.

Mobil dianggap kebutuhan mendesak yang mesti dipenuhi saat ini demi menunjang mobilitas sekaligus gaya hidup. Padahal di sisi lain, tingginya minat memiliki mobil kadang tak ditopang budget yang tersedia. Atas dasar itulah, membeli mobil secara kredit lebih diminati daripada tunai.

Jika kondisi keuangan tak memungkinkan menebus mobil idaman secara tunai, memang tak masalah menentukan opsi kredit. Tinggal bagaimana membangun komitmen keuangan jangka panjang saja.

Perlu ditekankan, seringkali program kredit mobil baru ini bermasalah di tengah pembiayaan karena sempoyongan memenuhi cicilan mobil.

Biar tak sampai kejadian seperti itu, sebaiknya perhatikan dulu profil keuangan yang jujur. Hitunglah dari segi kemampuan dan beban berdasarkan penghasilan saat ini. Setelah mendapatkan nominal pasti dari penghasilan bersih, barulah menakar besaran harga mobil yang pantas dibiayai.

Lazimnya, seseorang disarankan membagi penghasilannya dalam pos-pos pengeluaran yang porsinya sudah ditentukan. Banyak pakar perencana keuangan menyarankan agar menyisihkan 10 persen penghasilan untuk tabungan, 30 persen untuk living cost (biaya hidup bulanan), lalu sisanya dibagi rata untuk kredit mobil atau kredit rumah.

Selain kemampuan membayar cicilan tiap bulan, hal lain yang perlu disiapkan adalah uang muka yang besarannya minimal 30 persen dari harga mobil. Besaran itu sesuai aturan main dari Bank Indonesia yang  mengatur besaran Loan To Value (LTV) alias Down Payment (DP) Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). (*Ref 1)

Makin besar uang muka bikin kamu leluasa buat nyicil

Contohnya, siapkan uang muka sekitar Rp 60 juta jika ingin memboyong mobil seharga Rp 200 juta. Itu belum termasuk tambahan biaya lain seperti biaya administrasi, asuransi, dan lain sebagainya. Makin tinggi uang muka, biasanya bisa leluasa menentukan besaran cicilan.

Kadang besaran uang muka cukup menentukan pilihan seseorang apakah membeli mobil baru atau mobil bekas. Jika keuangan keluarga memang tak memungkinkan menebus kredit mobil baru, tak ada salahnya mencari alternatif kredit mobil bekas.

Biasanya pihak leasing atau bank memiliki simulasi kredit mobil bekas yang bisa dipilih. Syukur-syukur jika ada penawaran kredit mobil bekas murah atau kredit mobil bekas tanpa dp. Umumnya, penawaran yang disebut terakhir ini hanya soal mekanismenya saja karena besaran dp diangsur bertahap bersamaan dengan cicilan.

Satu hal lagi sebagai catatan, pilihlah mobil bekas yang tahun produksinya masih di bawah 10 tahun. Ini terkait dengan perawatan kendaraan. Makin uzur usia kendaraan, biaya perawatannya pun makin besar. Lebih baik lagi bila mobilnya juga diasuransikan.

Untuk tips cermat dengan uang Anda, nantikan terus update dari Blog DuitPintar.com!

*Ref 1: http://www.bi.go.id/id/peraturan/perbankan/Documents/faq_se_154013a1.pdf

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →