Kredit Tanpa Agunan: Kalau Malas Hitung-Hitung, Ya Pantas Saja Jadi Galau

berbisnis bareng keluarga

“Jadi gimana, Bob? Setuju ambil KTA?” Bobby langsung galau usai baca pesan WhatsApp dari Lorena. Dia masih maju mundur dengan tawaran Lorena, sohibnya yang kerja di sebuah bank swasta nasional. Masalahnya, dia perlu perhitungan matang sebelum memutuskan ambil KTA meski lagi butuh duit banyak untuk renovasi rumahnya.

 

Mungkin bukan cuma Bobby saja yang galau sama KTA. Masih banyak orang lain yang ragu-ragu ambil produk personal loan ini. Meski prosesnya gampang, tapi tetap saja itu namanya utang.

 

Waspada sama utang hukumnya wajib. Jangan sampai niat mencari solusi keuangan dengan cara ini malah bikin hidup terjerat utang.

 

Harus diakui sih, fasilitas KTA banyak dipilih sebagai jalan keluar ketika butuh dana mendesak. Apalagi di saat bersamaan, bank lagi getol-getolnya menawarkan KTA. [Baca: Mengenal KTA dari Dua Sisi, Bank dan Nasabah]

 

Nah, KTA sendiri di dunia perutangan masuk golongan unsecured loan. Maksudnya, bank tak perlu mensyaratkan agunan atau jaminan untuk pencairannya. Tapi ada konsekuensinya, beban bunga jenis utang ini rada besar.

 

KTA adalah pinjaman perorangan yang ditujukan untuk berbagai kebutuhan. Bisa buat konsumtif atau produktif. Lamanya pinjaman dari setahun sampai lima tahun.

 

Sedangkan limit pinjaman bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Bisa dari jutaan rupiah sampai miliaran, tergantung dari besaran penghasilan si peminjam.

 

Bikin Simulasi KTA

sempoa kalkulator
Hitung-hitung terus enggak masalah pakai kalkulator atau malah sempoa. Hehehe…

 

Biar tenang ambil keputusan, Bobby lantas merasa perlu untuk mengkalkulasi sejauh mana KTA mempengaruhi keuangan bulanannya. Caranya adalah bikin simulasi sebagai gambaran ‘seberapa kuat’ pendapatan bulannya menalangi utang KTA.

 

Cowok yang kerja sebagai asisten manager di sebuah hotel ini paham betul kalau KTA mengenal suku bunga flat atau fixed. Dengan begitu, tiap bulan angsurannya selalu sama, bunganya sama, dan beban cicilan pokoknya sama. Jadi, jumlah besaran pembayaran pokok dan bunganya setiap bulan sama besarannya.

 

Bagaimana menghitungnya?

Bobby pun lantas mencoret-coret simulasi di kertas. Andaikan dia mengambil KTA sebesar Rp 20 juta dengan tenor 24 bulan. Lalu besaran bunga pinjamannya 11 persen per tahun. Bobby lantas  menghitung beban cicilan per bulannya.

 

Pinjaman : Rp 24.000.000

Bunga : 11%

Tenor : 24 bulan

 

Cicilan pokok = Rp 24.000.000 / 24 = Rp 1.000.000

Bunga = Rp 24.000.000 x 11% / 12 bulan = : Rp 220.000

 

Total angsuran = Cicilan pokok + bunga

= Rp 1.000.000 + Rp 220.000

= Rp 1.220.000

 

Artinya, kalau Bobby jadi ajukan KTA senilai Rp 24 juta dengan jangka waktu kredit 24 bulan, maka beban angsuran tiap bulan yang mesti dibayar adalah Rp 1,220 juta. Dengan gajinya sebesar Rp 10 juta per bulan, tentu saja nilai angsuran itu kecil, cuma 10 persen lebih dikit saja.

 

Jika Punya Utang Lain

pepatah pelesetan utang
Masih ingat pepatah (pelesetan) ini? Jangan sampai kejadian yaaa..

 

Tapi, bukan itu saja pertimbangan Bobby. Di saat bersamaan, dia juga punya utang kredit lain yakni KPR dan motor. Belum lagi sama tagihan kartu kreditnya yang digunakan untuk belanja bulanan. Maka itulah, dia perlu juga  tahu rasio beban utangnya lagi kalau ditambah jadi mengajukan KTA.

 

Jangan sampai gaji bulannya tergerus habis hanya untuk utang. “Kalau semua buat bayar utang, gue mau hidup pake apa?” celetuk Bobby.

 

Biar aman, maka Bobby memutuskan agar rasio beban utangnya itu maksimal 40 persen dari penghasilannya. Dia pun coret-coret kertas lagi.

 

Penghasilan = Rp 10.000.000/bulan

Rasio aman utang = 40% x Rp. 10.000.000 = Rp 4.000.000

 

Beban utang

KPR : Rp 2.000.000/bulan

Angsuran motor : Rp 500.000/bulan

Kartu kredit : Rp 500.000/bulan

 

Jumlah utang : Rp 3.000.000/bulan

 

Dari perhitungan itu, Bobby tahu kalau masih punya ruang untuk berutang lagi maksimal Rp 1 juta. Dengan total utang Rp 4 juta tiap bulannya, penghasilan Bobby masih aman karena rasio utangnya hanya 40 persen dari saja dari gaji yang diterima.

 

 

Simulasi inilah yang membuat Bobby akhirnya mantap ambil KTA. “Tinggal balas WhatsApp ke Loren saja kalau jadi ambil KTA,” ucapnya dalam hati.

 

Toh, dia tak perlu dipusingkan dengan berbagai persyaratan pengajuan KTA. Dengan kartu kredit yang dimilikinya sudah cukup jadi senjata agar bank meloloskan pengajuan KTA. [Cekidot Infographic: Mengenal Proses KTA Lewat Gambar]

 

Maklumlah, kartu kredit memudahkan bank untuk melacak sejarah kredit seseorang. Lagi pula selama ini rekam jejaknya dalam pembayaran tagihan kartu kredit tak pernah bermasalah. Begitu pun dengan angsuran KPR juga lancar jaya. [Baca: Status ‘Layak Dipinjami’ di Mata Bank]

 

 

Image credit:

  • http://4.bp.blogspot.com/_oMdT-eY4o9c/THN6g0DyJuI/AAAAAAAAAiQ/TPQ3dz7KnF8/s1600/chinese+sempoa+calculator2.jpg
  • http://kalimatkata.com/wp-content/uploads/2014/04/kata-kata-lucu-mati-meninggalkan-utang-300×300.jpg

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis