5 Makanan Mahal di Dunia, Ada yang dari Indonesia

sup ayam hitam

Hidangan-hidangan yang kita bahas kali ini sering masuk dalam kategori menu makanan mahal di restoran. Uniknya, gak semua makanan mahal ini berasal dari Negara Barat, bahkan salah satunya berasal dari Indonesia!

Meski masuk kategori makanan mahal, gak sedikit crazy rich yang rela merogoh kocek dalam untuk menyantap hidangan satu ini. 

Lantas, apa sih sebenarnya yang membuat makanan ini jadi spesial? Pertama, tentu saja rasanya yang enak.

Tapi, enak belum tentu sehat. Kalau enak tapi gak cocok di badan dan membuat sakit, tentu kita sama saja bunuh diri pelan-pelan. 

Penasaran pengin tahu berapa harga makanan mahal di dunia yang dimaksud? Kita akan membahasnya serta mengetahui kandungan gizinya di bawah sini:

1. Caviar

semangkuk caviar lengkap dengan wine white
Caviar (Shutterstock)

Makanan mahal yang satu ini adalah telur ikan. Tapi, gak sembarang ikan lho ya, ikan yang dimaksud ialah ikan sturgeon yang berasal dari Laut Kaspia.

Makanan yang penampakannya mirip butiran di pearl tea ini populer sekali di Eropa dan sajikan dengan cara garnis atau ditabur. Harga perkilogramnya bisa mencapai US$ 5 ribu alias Rp 68 juta!

Mengapa mahal? Pertama tentu saja karena ini bukan telur ikan sembarangan, dan yang kedua adalah karena ketersediaannya yang makin sedikit.

Dilihat dari kandungan gizinya, makanan ini mengandung 42 kalori, 2,8 gram lemak, 0,64 karbohidrat, 3,9 gram protein, 240 miligram natrium, dan 94 miligram kolesterol.

2. Oyster

sepiring oyster siap disantap
Oyster (Shutterstock)

Sama seperti Caviar, hidangan ini adalah hidangan yang juga berasal dari laut. Oyster atau tiram yang sangat bergizi karena mengandung 68 gram kalori, 7 gram protein, Vitamin D, Vitamin B1, hingga Vitamin B12, dan zat besi.

Tiram ini harganya bisa mencapai Rp 2 juta per kilogram. Meski gak se-eksklusif caviar, tetap saja harga hidangan ini cukup mahal.

3. Daging Wagyu

seorang wanita tengah memotong daging
Daging Wagyu (Shutterstock)

Kita sebelumnya pernah membahas mengapa daging sapi Jepang yang satu ini mahal. 100 gram daging ini mengandung 286 kalori, 23,3 lemak, dan 17,8 gram protein! 

Harga daging ini pun mahal, yaitu mencapai Rp 300 ribuan untuk 200 gram. Kalau ada yang murah, dijamin itu adalah daging wagyu yang lemaknya sudah di-inject

Meski gak ada perbedaan yang mencolok antara sapi wagyu dan sapi-sapi biasa, karakteristik wagyu lain dari daging-daging sapi pada umumnya. Paling jelas terlihat adalah tekstur lemak (marbling) di daging ini yang khas banget. 

Pola lemak itu bisa didapat karena sapi-sapi yang disebut wagyu mendapat perawatan khusus di Negeri Sakura. Perawatan itu meliputi pakan yang berbeda, dan kerap dipijat agar gak stres. Sudah seperti manusia ya!

4. Saffron

sejumput saffron
Saffron (Shutterstock)

Pernahkah kamu menyantap bunga ini? Sejatinya ini bukan menu makanan ya, melainkan sebaga bumbu dapur mewah!

Saffron berasal dari bunga Crocus Sativus yang dalam bahasa Arab disebut Zafaran. Konon harganya mulai dari Rp 7 juta per 450 gram. 

Saffron terbukti memiliki kandungan anti-oksidan yang cukup tinggi. Kabarnya, saffron juga bisa membantumu menurunkan berat badan.

5. Ayam Hitam

ayam hitam
Ayam Hitam (Shutterstock)

Nah, ini makanan mahal yang berasal dari Indonesia. Apalagi kalau bukan ayam hitam alias ayam cemani. 

Satu ekor ayam berwarna hitam legam ini, harganya bisa tembus Rp 25 jutaan. Selain di Indonesia, ayam ini juga ada di India. 

Meski gak sedap di pandang mata, kabarnya ayam hitam ini punya kandungan protein yang sangat tinggi. 

Meski gak pernah ada informasi mengenai kadar gizinya, namun ayam cemani diklaim mengandung beberapa khasiat, di antaranya meningkatkan stamina, menjaga tumbuh kembang anak, hingga mencegah radang sendi. 

Satu hal lain yang membuat ayam ini mahal juga disebabkan populasinya.

Itulah lima makanan mahal di dunia yang sering kita dengar. Intinya, ada alasan kuat mengapa komoditas ini jadi mahal. Ada yang karena komoditasnya yang terbatas, ada juga yang karena khasiatnya. 

Namun, semahal dan senikmat apapun hidangannya, kita tentu harus fokus pada kandungan nutrisinya. Setuju gak? (Editor: Chaerunnisa)